Selasa, 25 Juli 2017

RAHADIAN KUSEN, SANG PENAKLUK SUNAN NGUDUNG

ilustrasi gambar: jxmcqluntai.com

Serat Pararaton (kitab para raja Tumapel Majapahit) pada bagian akhir mencatat bahwa pada tahun saka 1400 yang disimbolkan dengan sengkalan sirna ilang kertaning bhumi atau 1478 Masehi terjadi kudeta di keraton Majapahit.

Bhre Pandan Salas anjeneng ing Tumapel, anuli prabhu i caka brahmana-naga-kayu-tunggal, 1388, prabhu rong tahun. Tumuli sah saking kadaton. Putranira sang Sinagara, bhre Koripan, bhre Mataram, bhre Pamotan, pamungsu bhre Kertabhumi, kapernah paman, bhre prabhu sang mokta ring kadaton i caka cunya-nora-yuganing-wong, 1400.

Terjemahan bebas versi Heru Sang Mahadewa:

Baginda di Pandan Salas menjadi raja (bawahan) di Tumapel, lalu menjadi Baginda Prabu (raja Majapahit) pada tahun saka Pendeta Ular Tindakan Tunggal, atau 1388. Dia menjadi prabu (raja) selama dua tahun. Selanjutnya pergi dari istana (mangkat). Anak-anak Sang Sinagara diantaranya Baginda di Kahuripan, Baginda di Mataram, Baginda di Pamotan dan si bungsu yaitu Baginda Kertabhumi, ini (yang mereka serang) adalah paman mereka yang (akhirnya) wafat di dalam istana pada tahun saka Sunyi Tidak Jaman Orang (sirna ilang kertaning bhumi), atau 1400. 

(Pararaton Pupuh XVIII) 

Empat putra Sang Sinagara (Rajasawardhana Dyah Wijayakumara) yaitu Wijaya Parakrama Dyah Samarawijaya (Sang Munggwing Jinggan), Girindrawardhana Dyah Wijayakarana, Singawardhana Dyah Wijayakusuma dan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya menyerang Antawulan dan berhasil menduduki keraton.

Ketika itu, yang menjadi Bathara Ring Wilwatikta (raja di Majapahit) adalan paman mereka, Singawikramawardhana Dyah Suraprabhawa. Dalam peristiwa itu, sang raja tewas beserta seorang putra Sang Sinagara yang menyerang, Wijaya Parakrama Dyah Samarawijaya.

Kudeta ini, berdampak pada meruncingnya hubungan kotaraja Antawulan (Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur) dengan kadipaten Demak yang kala itu mulai menggeliat dengan maju pesatnya kekuatan laskar Islam mereka. Panembahan Patah, adipati di Demak, saudara tiri dari Bathara Ring Majapahit, Singawikramawardhana Dyah Suraprabhawa yang dikudeta, tidak tinggal diam.

Atas dukungan para Susuhunan (manusia mulia, dipendekkan menjadi Sunan) yang tergabung dalam Majelis Wali, Demak melepaskan diri dari Majapahit.

Sepak terjang pertama Demak adalah mengirimkan pasukan Islam untuk menggempur kota Antawulan. Laskar pertama ini dipimpin oleh panglima perang yang juga anggota Majelis Wali, yaitu Sunan Ngudung. 

Antawulan tidak kalah cerdik. Ditugaskanlah adipati Terung yang juga seorang muslim untuk menandingi panglima perang Demak. Rahadian Kusen (Raden Husein) diangkat menjadi senopati Majapahit.

Rahadian Kusen (Kin San) sendiri adalah saudara seibu dari Panembahan Patah (Rahadian Fattah/Hasan/Jimbun). Keduanya sama-sama putra Retno Subanci (Siu Ban Ci atau Tan Eng Kian), seorang wanita China bekas selir Kertawijaya yang kemudian dinikahi adipati Palembang, Arya Damar.

Laskar Demak dihadang pasukan dari kadipaten Terung di Wirasaba (Mojoagung, Jombang, Jawa Timur sekarang). Terjadi bentrokan yang akhirnya menyebabkan pasukan Majapahit dari dwaja Terung mundur hingga ke Antawulan. 

Perang besar pun pecah di kotaraja Majapahit. Rahadian Kusen bertarung satu lawan satu melawan Sunan Ngudung. Tombak dari sang adipati Terung berhasil merobek perut panglima perang Demak. Nahas, senjata itu tidak bisa dicabut hingga Sunan Ngudung tewas. 

Konon, beliau dimakamkan beserta tombak dari Rahadian Kusen.

Kegagalan laskar Demak membuat Panembahan Patah memimpin sendiri laskar kedua yang diberangkatkan ke Antawulan. Pertarungan dua orang putra Siu Ban Ci pun tak terelakkan.

Mengetahui bahwa panglima perang kedua pasukan adalah saudara kandung, Panembahan Patah serta merta memeluk adiknya, Rahadian Kusen. Begitu pula sebaliknya, adipati Terung mencium tangan dan kaki sang kakak, sembari menghaturkan sembah bhakti.

Pada waktu yang bersamaan, laskar Demak berhasil menghancurkan pertahanan pasukan Majapahit. Kotaraja Antawulan jatuh. Tiga putra Sang Sinagara beserta punggawanya berhasil meloloskan diri dan lari ke Dahanapura (Kediri, Jawa Timur, sekarang). Sejak itu, kotaraja Majapahit pindah ke kota bekas pusat pemerintahan Panjalu.

Panembahan Patah akhirnya didaulat sebagai pemimpin baru Kesultanan Demak, bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurrahman Panembahan Sayidin Panatagama, dikenal juga sebagai Sultan Syah Alam Akbar atau Sultan Surya AlamRahadian Kusen menyatakan berbhakti dan mendukung sang kakak. Hingga mangkat, dia tetap diangkat menjadi adipati Terung.

-o0o-

Hingga sekarang, di Makam Troloyo (sebuah kompleks pemakaman islam jaman Majapahit) yang berada di Trowulan, Jawa Timur terdapat sebuah makam panjang. Pusara ini tak lain adalah makam Kangjêng Susuhunan Ngudung (Sunan Ngudung) yang dikubur bersama tombak lawannya, Rahadian Kusen. Itu sebabnya, pusara sang panglima laskar Demak memiliki ukuran sangat panjang.

Sementara, berjarak sekitar 25 km ke arah timur dari Trowulan, tepatnya di Desa Terung Kulon, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, juga terdapat makam dari sang adipati Terung, Rahadian Kusen (Raden Husein). 


Makam adipati Terung, Rahadian Kusen: foto koleksi pribadi


Masjid Baitur Rohman, Desa Terung Kulon, Krian, Sidoarjo: foto koleksi pribadi


Makam Rahadian Kusen berada di samping Masjid Baitur Rohman, Terung. Terdapat dua makam di sana. 

Makam pertama, yang berukuran besar adalah makam sang adipati Terung. Sedangkan makam kedua, dengan ukuran lebih kecil, dipercaya sebagai tempat mengubur ceceran darah Sunan Ngudung yang membasahi baju perang Rahadian Kusen.


(Heru Sang Mahadewa)
Member of One Day One Post

5 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *