Selasa, 20 Juni 2017

SLAMETAN, STRATEGI SUNAN BONANG MENANDINGI RITUAL BHAIRAWA TANTRA


disporbudpar.cirebonkota.go.id


Sebelum Islam marak di tanah Jawa, terdapat beberapa aliran keyakinan seperti pemuja Syiwa, Wisnu (Hindu), Sogata (Budha) dan Kapitayan. Seiring waktu, muncul sinkretisme keyakinan-keyakinan itu. Salah satunya adalah Bhairawa Tantra. Sebuah sekte sempalan dari sinkretisme Syiwa dan Mahayana.

Bhairawa Tantra adalah bentuk aliran pangiwa (kiri) dari interpretasi ajaran Tantrayana. Sekte ini menyimpang dari ajaran Pancamakara pada Kitab Kali Mantra.

Salah satu ritual dari Bhairawa Tantra dikenal dengan nama Pancamakarapuja. Saat melakukan upacara Pancamakarapuja, para penganut pangiwa itu berkumpul di sebuah tempat pembuangan mayat yang disebut Ksetra. Mereka membentuk sebuah cakra atau lingkaran. Lalu, akan dilakukan 5 ritual yang disebut Mo Limo, yaitu :

Mamsa (daging)
Matsya (ikan)
Mada (mabuk)
Maithuna (bersetubuh)
Mudra (meditasi)

Ritual Pancamakarapuja akan diawali dengan prosesi memakan daging dan ikan secara ramai-ramai. Kemudian mereka menari-nari dan minum hingga mabuk. Dalam keadaan sakau, para penganut Bhairawa Tantra akan melakukan persetubuhan secara massal. Upacara diakhiri dengan meditasi, ketika tubuh mereka telah kehilangan nafsu birahi.

Pada tingkatan khusus, daging, ikan dan minuman dalam ritual Pancamakarapuja digantikan dengan mayat, ikan suro dan darah manusia yang dibunuh sebagai persembahan.

Salah satu tokoh legendaris yang menjadi penganut Bhairawa Tantra adalah Adityawarman. Dia uparaja Majapahit yang berkuasa di wilayah Swarnadipa. Adityawarman dinobatkan menjadi pemimpin Pagaruyung (Minangkabau) setelah berhasil menyelesaikan tugas ekspansi Majapahit ke Bali bersama Gajah Mada.

Arca ritual Bhairawa Tantra - foto museum nasional


Pada abad IV, Islam semakin menancapkan pengaruhnya di tanah Jawa. Pelan namun pasti, ajaran Rasul yang disebarkan ulama-ulama yang tergabung dalam Majelis Wali (Wali Sangha, Walisongo) mulai mampu meng-Islamkan penduduk pribumi. Namun, keyakinan-keyakinan lama peninggalan moyang mereka, belum sepenuhnya tergusur.

Ketika itu, Bhairawa Tantra masih marak di daerah Daha (Kediri, Jawa Timur, sekarang). Maulana Makdum Ibrahim atau Kanjeng Susuhunan (manusia mulia, diucapkan Sunan) Bonang, putera Sayyid Ali Rahmad atau Kanjeng Susuhunan ing Ngampeldenta (Sunan Ampel) tergerak untuk menghilangkan aliran sekte Bhairawa Tantra.

Dari Tuban, Kanjeng Sunan Bonang berjalan ke arah selatan hingga sampai di tepi bengawan Brantas. Daha, basis penganut Bhairawa Tantra berada di sebelah timur Brantas.  Sedangkan tempat yang menjadi persinggahan salah satu anggota Majelis Wali itu berada di sebelah barat Brantas, bernama kabuyutan Singkal (Desa Singkal Anyar, Kecamatan Prambon, Nganjuk, Jawa Timur sekarang).

Beberapa waktu lamanya, Kanjeng Sunan Bonang menetap di kabuyutan Singkal. Ketika penganut Bhairawa Tantra di seberang timur bengawan Brantas melakukan ritual Pancakamarapuja, sebuah upacara tandingan juga dilakukan di seberang barat bengawan Brantas.

Kanjeng Sunan Bonang mengumpulkan seluruh penduduk laki-laki Singkal, lalu mengarahkan mereka untuk duduk membentuk sebuah cakra atau lingkaran. Berbagai makanan seperti nasi golong, daging ayam, dan sebagainya juga turut disiapkan di sana. Slametan, begitu sang auliya mengenalkannya kepada orang-orang kabuyutan Singkal. Diambil dari bahasa Arab yaslamu-salamun yang artinya selamat. Menyelamatkan orang-orang Daha dari ajaran menyimpang Bhairawa Tantra. Beliau juga menyebutnya sebagai Kendurenan, diadopsi dari bahasa Persia, Kanduri yang berarti upacara makan-makan.

Selanjutnya, slametan atau kendurenan yang digagas Kanjeng Sunan Bonang dengan cepat merebak ke kabuyutan-kabuyutan sekitar Singkal. Dalam kurun waktu beberapa tahun, prosesi sedekah makanan yang di-islamisasi niat dan doanya itu kian marak di hampir seluruh tanah Jawa. Pancamakarapuja orang-orang Bhairawa Tantra pun menjadi tersudut oleh ritual tandingan itu.

slametan atau kendurenan - foto nuonline

slametan atau kendurenan - foto kompasiana


Tidak berhenti sampai di situ, Kanjeng Sunan Bonang terus melanjutkan syiar islamnya dalam memerangi aliran pangiwa Bhairawa Tantra. Mo Limo dalam Pancamakarapuja di-islamisasi menjadi lima pantangan bagi masyarakat Jawa, jika ingin menemui kemuliaan dalam perjalanan hidupnya.

Pantangan hidup Mo Limo atau lima lafal “M” yang digubah Kanjeng Sunan Bonang adalah berikut:

Maling (mencuri)
Madhat (menghisap candu)
Minum (mabuk minuman beralkohol)
Main (berjudi)
Madon (bermain perempuan)

Filosovi pantangan Mo Limo dan slametan atau kendurenan berhasil mengikis habis aliran Bhairawa Tantra. Kanjeng Sunan Bonang pun dikenal juga dengan nama lain Sunan Wahdat Cakrawati atau Sunan Wahdat Anyakrawati. Berasal dari kata Cakra yang artinya lingkaran, representasi dari posisi melingkar pada tradisi slametan atau kendurenan.

Begitulah awal dari slametan atau kendurenan, sebuah tradisi yang hingga sekarang masih dilestarikan kaum muslim Jawa.

Ayu, hayu, rahayu wilujeng.


(Heru Sang Mahadewa)
Member of One Day One Post

9 komentar:

  1. Wow ngeri banget iku ajaran tantra.

    Dan baru tahu sejarahnya slametan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah, mbakyu.
      Kalau jaman sekarang, mungkin semacam sekte terlarang begitu.

      Hapus
  2. mas abad ke 15 ditulisnya XV bukan IV

    BalasHapus
  3. Menambah wawasan.. di tengah popularitas youtube, blog masih tetap menawan..

    BalasHapus
  4. bairawa tantra telah menginsfirasi mereka membuat betoro sukma....yang pada perjalanannya melahirkan ilmu bgmn mengajak sukma mencuri (ngepet).mengundang perempuan (pelet).dan membunuh orang (santet).

    BalasHapus
  5. dengan ini, orang akan tau sejarah...

    sejarah akan mengantarkan orang pada makna secara dhohir (syariat) dan bathin (hakikat)

    rahayu...

    BalasHapus
  6. Ilmu baru, baru tau asal usulnya slametan atau kenduren, tulisannya keren mas 🌸🌸

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *