This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 18 Desember 2017

YERUSSALEM, KOTA TUA DI NEGERI DONGENG






Kota itu telah dihancurkan, dibangun kembali, dihancurkan dan dibangun lagi. Yerussalem bagai maniak seks tua yang mencekik pecinta demi pecintanya sampai mati. Sebelum melepas pecintanya yang masih ingin penetrasi, ia melepas laba-laba beracun yang melahap pecintanya.

(Amoz Os)

Dongeng usang dari kota tua itu sudah di-babar bangsa-bangsa kuno yang lebih dulu menghuninya sejak ribuan tahun sebelum masehi. Jauh sebelum muncul tiga kubu yang kini memperebutkannya; Yahudi (Nasrani fanatik, garis keras), Kristen Abangan (Nasrani liberal yang condong menginginkan Yerussalem menjadi wilayah netral), dan Islam (seluruh golongan).

Yerussalem sendiri adalah nama yang diberikan oleh orang-orang yang pertama kali datang dari arah tenggara kota itu. Mereka berasal dari Levant (Suriah sekarang). Yerussalem berasal dari bahasa Summeria; Yeru yang berarti pemukiman, dan Shalem yang diambil dari nama Dewa sesembahan bangsa mereka: Kana’an. Secara harfiah, Yerussalem bermakna sebagai pemukiman bangsa Kanaan.

Selama lima ratus tahun, bangsa Kanaan menjadi penghuni tunggal Yerussalem. Selanjutnya, secara silih berganti, kota itu jatuh ke tangan satu bangsa ke bangsa lainnya.

Yerussalem Dari Masa Ke Masa.
Setelah bangsa Kana’an mendatangi wilayah di dekat laut Mati itu, lima ratus tahun kemudian, atau sekitar 2000 tahun SM, datanglah bangsa Amorit. Suku bangsa ini dikenal juga sebagai suku Martu, Tidnum, Aunumm, dan Emori. Bangsa Amorit sebelumnya menempati wilayah sebelah barat sungai Eufrat.

Tak lama kemudian, masih dalam zaman yang sama, bangsa Fenisia juga mulai memasuki Yerussalem. Fenisia adalah suku bangsa yang sebelumnya menghuni pesisir timur Laut Tengah.

Delapan abad kemudian, yaitu 1200 SM, datang bangsa Filistin ke Yerussalem. Mereka adalah suku yang sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno. Bangsa Filistin menempati bagian selatan Yerussalem.

Meski banyak sejarawan yang menyangkal, tetapi jika dianalisa dari toponimi, sangat kuat dugaan bahwa Filistin adalah cikal bakal dari penyebutan nama Palestina.

Masih pada abad yang sama, suku Bani Israel keluar dari Mesir bersama Moses (versi Nasrani) atau Nabi Musa Allaihis Salam (versi Islam). Suku bangsa ini lalu bermukim di bagian timur Laut Mati. Kedatangan mereka inilah yang akhirnya mengukuhkan diri sebagai pemimpin wilayah itu dalam rentang waktu cukup lama, sekaligus mendesak keberadaan suku bangsa Kanaan.

Selama 1025 SM – 586 SM praktis Yerussalem berada dibawah kekuasaan raja-raja dari suku bangsa Israel.

Pada 1010 SM terjadi perlawanan oleh suku bangsa penghuni Yerussalem lainnya. Bangsa Filistin berhasil mengalahkan Raja Saul, lalu merampas Tabut Perjanjian, sebuah lempeng logam yang diturunkan Tuhan kepada Musa.

Zaman 1010 SM ini sekaligus menjadi tonggak pecahnya perang demi perang yang menandai perebutan kota Yerussalem. Secara runtut dari masa ke masa, pertumpahan darah itu adalah sebagai berikut:

1000 SM
Raja David (Nabi Daud Allaihis Salam versi Islam) menaklukkan Israel. Pada masa kekuasaan raja ini, Yerussalem dijadikan ibu kota kerajaan Israel.

962 SM
Raja Salomo (Nabi Sulaiman Allaihis Salam versi Islam) mendirikan kuil pertama yang disebut Bait. Di tempat inilah konon Tabut Perjanjian disimpan. Dalam perjalanan sejarah, kelak orang-orang Yahudi, keturunan Yehuda, putra Yakub (Nabi Ya'qub Allaihis Salam versi Islam) menjadikan Bait pertama ini sebagai kiblat dalam beribadah.

Dalam literasi Islam, Nabi Sulaiman Allaihis Salam dikisahkan sebagai raja yang menguasai juga seluruh bangsa binatang dan Jin. Tidak pernah diceritakan sedikitpun Tabut Perjanjian dan Bait pertama.

722 SM - 586 SM
Gabungan pasukan Kerajaan Asuriah (besar kemungkinan adalah Suriah, Syiria sekarang) dan Babilonia menggempur Yerussalem di bawah kekuasaan Yudea. Raja Nebuchadnezzar II, penguasa Babilonia Baru dari Dinasti Kasdim menawan orang-orang Yahudi dan membawanya ke Babilonia.

587 SM
Bait Pertama dihancurkan oleh Raja Nebuchadnezzar II, orang-orang Yahudi dibuang ke pengasingan (belum ada literasi di mana daerah pengasingan ini).

539 SM
Kerajaan Babilonia dikalahkan oleh Cyrus dari Kerajaan Persia. Bukan hanya itu, Cyrus juga menaklukkan Cheldania (Irak sekarang) dan Yerussalem.

Kemenangan Persia atas Babilonia sekaligus mengakhiri masa pengasingan orang-orang yahudi yang dulu ditawan Raja Nebuchadnezzar II. Oleh Cyrus, mereka diperbolehkan kembali ke Yerussalem.

Pada masa inilah, Bait Kedua kembali dibangun oleh orang-orang Yahudi.

332 SM
Kerajaan Persia takluk oleh serangan Kerajaan Makedonia yang dipimpin Raja Alexander Yang Agung (Iskandar Zulkarnaen atau Nabi Zulkarnain Allaihis Salam dalam versi Islam). Yerussalem pun tak luput dari penguasaan mereka.

166 SM
Orang-orang Yahudi mendirikan kerajaan di kota Yerussalem.

35 SM
Bangsa Romawi dibawah kekuasaan Dinasti Herodes menguasai Yerussalem.

Ketika itu, Romawi masih menyembah Dewa Zeus (Jupiter), Ares (Mars), Aprodite (Venus), dan Dewa-Dewa lainnya. Tetapi justru di masa Herodes, orang Yahudi diberi keleluasaan dan bantuan untuk membangun lebih besar lagi Bait kedua.

Dalam perjalanan sejarah, Bait yang semakin besar itu dikenal sebagai Bait Allah.

6 SM
Maria melahirkan Yesus Krestus di Bethlehem yang hanya berjarak 10 km dari kota lama Yerussalem. Literasi Islam menyebutnya sebagai Nabi Isa Allaihis Salam.

33 SM
Yesus Kristus wafat dan dibangkitkan kembali (versi Nasrani).

Peristiwa ini sekaligus menjadi tonggak munculnya golongan Yahudi Mesianik/Kristus. Golongan inilah yang dalam perjalanan sejarah tumbuh menjadi agama baru bernama Kristen (pengikut Kristus, pengikut Mesiah, pengikut juru selamat).

Tahun 70 Masehi
Raja Titus dari Kekaisaran Romawi kembali menginvasi Yerussalem.

Berbeda dengan Herodes yang memberi angin segar kepada Yahudi, Raja Titus justru melakukan penghancuran besar-besaran terhadap Bait Allah. Bangunan itu akhirnya hanya menyisakan dinding di sebelah barat.

Kini, orang-orang mengenalnya sebagai Tembok Ratapan.

Tahun 117 – 138 Masehi
Kekaisaran Romawi melakukan pembersihan terhadap rencana makar orang-orang Yahudi.

Semua bangunan buatan Yahudi diluluh-lantakkan. Sebagian besar orang Yahudi tewas, tersisa beberapa persen saja yang melarikan diri keluar Yerussalem.

Tahun 313 Masehi
Kekaisaran Romawi kian mengukuhkan kekuasaan di Yerussalem. Agama Kristen yang lahir dari golongan Yahudi Mesianik diberi keleluasan selebar-lebarnya untuk berkembang.

Agama Kristen sempat ditentang ketika Romawi dipimpin Kaisar Julian, tetapi kembali berjaya pada masa pemerintahan Konstantin Agung. Bahkan, Kristen dijadikan agama resmi imperium Romawi.

Pada masa ini, Ratu Helena, ibunda Konstantin Agung yang sedang berziarah ke Yerussalem memerintahkan pendirian Gereja Makam Yesus. Kejadian ini dilhami oleh penemuan kayu bekas salib dan paku bekas penyaliban Yesus.

Konon, kayu salib itu bisa digunakan untuk menggerakkan jenazah manusia yang telah mati. Sedangkan paku bekas penyaliban Yesus, konon pula dilebur untuk dijadikan mahkota raja-raja penguasa Eropa kelak.

Ratu Helena dan Konstantin Agung sekaligus menciptakan babak baru dalam teologi Kristen modern.

Tahun 614 Masehi
Yerussalem dibawah Kekaisaran Romawi Heraclius (614 – 641 M) ditaklukkan oleh pasukan Persia. Kota ini kembali dihancurkan.

Tahun 627 Masehi
Kaisar Heraclius berbalik menyerang tentara Persia dan berhasil merebut kembali Yerussalem.


Yerussalem Pada Masa Kekhalifahan Islam.
Catatan terhadap Yerussalem setelah direbut kembali Heraclius terputus. Berlanjut ke masa kepemimpinan Islam.

Tahun 636 Masehi
Khalifah Umar bin Khattab memasuki Yerussalem. Patriach Yerussalem (pemimpin umat Kristen Yerussalem) menyerahkan kunci kota Yerussalem kepada Umar bin Khattab yang menjadi tanda tunduknya Yerussalem kepada Islam dengan jalan tanpa pertumpahan darah.

Praktis, sejak tahun 636 hingga abad X (1099 Masehi), Yerussalem menjadi bagian tak terpisahkan dari Islam.

Tahun 1099 Masehi
Orang-orang Kristen Eropa mulai berupaya merebut Yerussalem. Terjadi Perang Salib yang akhirnya dimenangkan orang-orang Kristen.

Yerussalem kembali dihancurkan. Terjadi pembunuhan sistematis (genosida) terhadap umat Islam. Tentara Salib juga mengusir orang-orang Yahudi untuk memasuki Yerussalem.

1190 Masehi
Tentara Islam dibawah kepemimpinan panglima perang yang tersyohor, Shalahuddin Al-Ayyubi menggempur Tentara Salib. Yerussalem berhasil dikuasai kembali.

Pada masa inilah, Shalahuddin Al-Ayyubi menghapus larangan orang Yahudi memasuki dan tinggal di Yerussalem. Semua agama, termasuk Kristen dan Yahudi, diizinkan beribadah di kota itu.

1244 Masehi
Pasukan Tatar Kharezmia (Tar-Tar), penguasa Tiongkok dari Dinasti Mongol, pemeluk agama Islam, menaklukkan Yerussalem. Kembali terjadi pembersihan terhadap orang-orang Kristen dan Yahudi. Mereka kembali diusir keluar Yerussalem.

1260 Masehi
Yerussalem ditaklukkan Kesultanan Mesir dibawah kekuasaan kaum Mamluk.

Hingga tahun 1517 Masehi, perang antara kaum Mamluk melawan Tentara Salib dan Tatar tidak pernah reda.

Tahun 1517 Masehi
Kesultanan Turki Ustmani (Kekhalifahan Otoman) menaklukkan Yerussalem. Hampir empat abad lamanya, seiring kejayaan Turki, Yerussalem tidak pernah lepas dari Islam.

Tahun 1917 Masehi
Kekhalifahan Turki Ustmani kalah dalam Perang Dunia I dan II. Hal ini diperparah dengan tingkat korupsi yang merajalela oleh birokratnya.

Turki terpecah menjadi negara-negara kecil di semenanjung Arab seperti yang kita kenal sekarang; Arab Saudi, Lebanon, Yordania, Suriah, Irak, dll.

Yerussalem menjadi wilayah tanpa penguasa. Kota tak bertuan.

Atas mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1922, Yerussalem menjadi bagian dari Britania Raya. Dalam perjalanan sejarah, kita mengenalnya sebagai Mandat Palestina.

Tahun 1947 Masehi
Inggris sebagai pemimpin Britania Raya menyerahkan kembali mandat kepada PBB. Hal ini dipicu oleh tidak adanya kesepakatan antara pihak-pihak yang terus bertikai di sana; pengungsi Yahudi dan negara-negara (kerajaan) Arab tentang pembagian pemukiman.

Pada tahun ini, perang mulai pecah lagi. Kelompok pro Arab (Islam) mulai menyerang kantong-kantong Yahudi. Perang saudara pun tak terhindarkan ketika Yahudi mulai bertindak ofensif.

Runtuhnya perekonomian kaum Arab (Palestina) menjadikan posisi mereka lemah. Sekitar 250.000 warga Palestina diusir, sebagian melarikan diri.

Tahun 1948 Masehi.
PBB membagi wilayah konflik itu menjadi dua bagian; bagian barat untuk orang-orang Yahudi, dan bagian timur untuk orang-orang Arab.

Sehari paska pembagian wilayah, orang-orang Yahudi langsung memproklamirkan berdirinya negara Israel. Kejadian ini memancing situasi kembali memanas. Gabungan negara-negara Arab; Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon, dan Irak menyerang Israel.

Untuk kali pertama, pecahlah Perang Arab – Israel.

Peristiwa ini menjadi tonggak dimulainya perang panjang antara Israel dan negara-negara Islam (Arab).

Dalam perjalanan sejarah, Israel mendapat sokongan (dalam tanda kutip) dari Amerika Serikat, negara adidaya yang tidak (belum) ada bangsa yang berani menandinginya, kecuali Libya di era Muammar Khaddafi dan Korea Utara dibawah Kim Jong Ill yang notabene atheis.

Lalu, siapa sebenarnya yang berhak mengklaim diri sebagai pemegang hak atas kota tua Yerussalem?

Setiap orang boleh menyimpulkan sendiri dari uraian sejarah panjang di atas.


(Heru Sang Mahadewa)
Member of One Day One Post

Diolah dari berbagai kisah dongeng:
Sejarah Purba Yerussalem
A Tale of Love and Darkness
Dan lain-lain.

Sumber gambar: viva.co.id


Jumat, 15 Desember 2017

TRAGEDI 12 MEI






Tak pernah terbayangkan dalam pikirannya, negeri yang katanya paling toleran, menjunjung tinggi pluralisme, tempat ia lahir dan dibesarkan, mendadak tak ada bedanya dengan neraka. Harga sebuah nyawa, lebih murah dari seekor tikus got. Kota yang ditempatinya, ternyata lebih sadis dari Rakhine, Sarajevo dan kota-kota di Kamboja pada masa kekuasaan junta militer.

Dari pojok sebuah halte, ia memandang ke seberang jalan dengan tatapan mata hampa. Di depannya, juga di jalan-jalan lain di kotanya, sudah tiga hari ini dipenuhi orang-orang yang mengibarkan bendera, menenteng poster dan spanduk, lalu berteriak-teriak penuh amarah, “Hidup Pribumi … usir Aseng … usir Aseng!”

Di seberang jalan yang lain, ia melihat puluhan anak muda melempari sebuah pos penjagaan polisi. Papan kayu bertuliskan ‘Melindungi Dan Mengayomi Masyarakat’ mereka copot dari teras bangunan berukuran dua meter persegi itu, lalu diinjak-injak.

“Hancurkan ... hancurkan!” Teriak mereka bersahut-sahutan.

“Bakar saja!” Terdengar suara dari arah lain.

Nampak seorang lelaki memakai cadar  penutup mulut, berlari mendekat, lalu melemparkan bom molotov. Tak ayal lagi, dalam sekejap mata, pos yang sudah ditinggalkan penjaganya itu musnah dilalap si jago merah.

Hanya beralaskan sandal jepit buntung, ia berjalan meninggalkan halte, lalu menerobos kerumunan orang-orang yang meneriakkan kata-kata menuntut keadilan.

Kini, pandangan matanya menyorot tajam. Puluhan lelaki berbadan gempal, memukuli dua kuli toko milik seorang etnis yang dicap sebagai perebut kesejahteraan kaum pribumi. Sekedip kemudian, pelayan-pelayan yang sudah babak belur itu diseret ke jalanan. Belasan lelaki lainnya berhamburan masuk, mengangkat televisi, kulkas, dan benda apa saja yang bisa dijarah. Sebuah papan bertuliskan toko Pelangi Electronica tak luput dari amukan; dicopot lalu dibakar.

Lima lelaki menerobos masuk lebih ke dalam lagi. Terdengar jeritan minta tolong, mohon ampun, dan memelas dari mulut orang-orang bermata sipit. Satu-satunya lelaki yang ada di ruangan itu, dihujani dengan puluhan bogem mentah, lalu dikepruk kepalanya dengan sebatang balok hingga tersungkur tak berdaya.

“Enyah kalian, penjajah!”

“Ini tanah kami!”

“Pulanglah kalian ke negeri leluhurmu!”

“Pelorot celananya!”

“Gagahi ... gagahi ... gagahi!!!”

Dalam hitungan menit, ia melihat belasan lelaki menumpahkan nafsu binatangnya kepada dua perempuan yang menggigil ketakutan di kolong tempat tidur. Perempuan pertama telah paruh baya. Satu lagi, perempuan kedua, masih bau kencur. Berusia sekitar empat belas tahunan.

Apakah Tuhan telah meninggalkan kota ini?

Belasan binatang yang telah puas dengan lampiasan birahinya meninggalkan begitu saja dua perempuan yang telah terkapar. Perempuan pertama diakhiri hidupnya dengan sebuah keprukan pipa besi di tengkuk. Sementara, perempuan kedua, amoy yang tak tahu apa dosa dia dan keluarganya, meregang nyawa setelah kehabisan darah, akibat benda tumpul yang mengoyak organ intimnya paska ia digagahi bergantian.

“Biadab ... dasar anjing!”

Akhirnya ia mengeluarkan kata-kata makian juga.

Belasan orang menoleh, satu di antaranya bergumam, “Orang gila halte?”

Kerikil-kerikil berukuran sebiji salak menghujani tubuhnya. Dua orang mencoba menghalau sambil menyumpal hidung. “Pergi ... pergi kau, orang gila!” Satu orang lainnya mendorong dengan keras, “Sial ... tubuhnya lebih busuk dari bau tai di peternakan bebek pinggir kota!”

Setengah berlari, ia berjalan tertatih-tatih menuju halte. Kembali ke tempat tinggalnya. Halte yang sudah dihuninya selama bertahun-tahun. Yang lekat dengan aroma pesing bercampur busuk.

Jakarta, Mei 1998

Heru Sang Amurwabhumi
Member of One Day One Post

Catatan:
Kisah ini diangkat dari tragedi kelam Mei 1998. Krisis financial Asia merambah Indonesia. Ribuan orang turun ke jalan, lalu menduduki gedung parlemen untuk menuntut reformasi pemerintah dan pengunduran diri Presiden Soeharto.

Peristiwa itu dinodai oleh tewasnya tiga mahasiswa Universitas Trisakti paska pecahnya kerusuhan massa. Etnis Tionghoa menjadi sasaran penjarahan, pemerkosaan, dan pembunuhan ketika itu.

Selasa, 05 Desember 2017

IZINKAN SAYA LENGSER





Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang saya hormati, founder One Day One Post, Bang Syaiha. Dewan Penasehat yang senantiasa saya kagumi; Bapak Suparto, Ibu Nur Hidayati, dan Uncle Achmad Ikhtiar. Segenap jajaran pengurus periode I One Day One Post yang saya banggakan. Serta para penulis hebat dan calon penulis besar yang tergabung sebagai member One Day One Post mulai angkatan ke-1 hingga angkatan ke-4, yang selalu memberi saya banyak inspirasi.

Segala puja dan puji syukur, patut kita lantun-langitkan ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Gusti Ingkang Makarya Jagad, yang telah melimpahkan karunia berupa ide, gagasan, ketegaran, kekuatan pikiran, serta kemampuan meluangkan waktu, sehingga pengurus periode I One Day One Post bisa menyelesaikan masa bhakti yang sangat singkat ini.

Sholawat dan salam patut pula dihadiahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad S.A.W. sebagai uswatun hasanah, suri tauladan terbaik sepanjang zaman. Kegigihan syiar Kangjeng Rasul, sangat perlu kita contoh sebagai motivasi dalam mewujudkan mimpi menjadi seorang penulis.

Segenap ODOPer yang saya banggakan. Sebelum mempertanggungjawabkan kepengurusan di bawah kepemimpinan saya, ijinkan saya sedikit bercerita.

Perjalanan kepengurusan periode I tidak sesempurna harapan banyak pihak. Ketika terbentuk, misi kami sebenarnya hanya sederhana; menyelamatkan kapal layar bernama One Day One Post yang sedang terombang-ambing di tengah samudera raya, pada saat gelombang besar dan hujan badai sedang mengamuk.

Ketika itu, sebelum kapal berlayar, Bang Syaiha sebagai nahkoda telah berpamitan untuk tetap di daratan. Beliau harus menunaikan tugas mulia, tinggal di sebuah pulau bernama Pesantren Rumah Muda Indonesia. Mau tidak mau, kami hanya mengandalkan seorang juru mudi yang diambil dari awak kapal. Uncle Achmad Ikhtiar yang punya bekal kepiawaian, mampu membawa kapal One Day One Post berlayar kembali.

Nahas, di tengah pelayaran, nahkoda baru kami harus menunaikan tugas mulia pula. Beliau singgah dan berlabuh di sebuah pulau harapan. Praktis, kapal layar One Day One Post mengarungi samudera raya tanpa nahkoda.

Hanya berjarak beberapa mil setelah sang juru mudi yang menjadi panutan itu menepi, kapal disergap gelombang mahadasyat. Di tengah malam yang gelap gulita, hujan dan badai menghajar kami. Kapal oleng, bahkan nyaris karam.

Kapal harus diselamatkan!

Iya, akhirnya saya berani mengambil resiko ini untuk menyelamatkan kapal. Tunda perjalanan, lalu turunkan layar, agar kapal tetap bisa bertahan di tengah samudera raya.

Dua hari dua malam, kapal terombang-ambing melawan badai dan gelombang. Beberapa muatan terpaksa harus diturunkan untuk mengurangi beban. Hingga sebuah kerlip di ujung langit, akhirnya menandai berakhirnya perjuangan kami. Kerlipan yang kemudian disusul pendar cahaya lainnya. Nun jauh di sebelah selatan, nampak rasi bintang Pari berkedap-kedip. Kami tidak serta merta percaya, lalu menoleh ke belahan langit lainnya. Nampak rasi bintang Biduk juga sedang memamerkan keindahan gugusannya. Pertanda bahwa cuaca telah cerah. Badai dan amuk gelombang telah berlalu.

Begitulah, ODOPer sekalian. Waktu dua hari dua malam di atas adalah analogi dari fase karantina siswa One Day One Post batch 4. Sekaligus menjadi program kerja utama dari kepengurusan saya.

Selama dua bulan lebih dua minggu sejak masa pre One Day One Post, kami berbagi ilmu kepenulisan dengan para member. Baik fiksi maupun non fiksi. Dalam beberapa pertemuan, pemateri dari luar yang telah memiliki jam terbang tinggi di dunia literasi, juga kami hadirkan.

Pada akhirnya, kami berhasil meluluskan 47 member. Angka yang sebenarnya sangat jauh jika mengacu jumlah pendaftar sebanyak 200 saat open recruitment.

Program lain di luar ODOP batch 4 yang masih berjalan adalah penulisan Buku Antologi. Fiksi dan Non Fiksi. Kedua buku yang digarap member batch 1 hingga 3 ini, sedang dalam tahap editing naskah. Target akhir Desember tahun ini akan diajukan ke penerbit.

ODOPer, saya sadar, sebagai nahkoda di kapal One Day One Post, kemampuan untuk membawa berlayar lebih jauh, sangatlah minim. Saya hanya sanggup untuk membuat kapal ini selamat dan mampu bertahan di tengah samudera raya.

Sekarang, cakrawala sudah terbentang begitu indah. Riak gelombang di lautan yang kita arungi, juga menari-nari dengan gemulai, lembut membelai lambung kapal. Tiba saatnya One Day One Post memiliki nahkoda baru, yang tampil dengan stamina, spirit, gagasan dan misi yang baru pula.

Selamat atas terbentuknya kepengurusan baru. Jajaran pengurus periode II inilah yang saya harapkan akan mampu membawa One Day One Post semakin maju dan berkembang. Berlayar menuju pulau harapan.

Tiada gading yang tak retak. Saya menghaturkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan kepengurusan periode I. Terima kasih atas segala kerja keras Pengurus, Penanggung Jawab, bimbingan Founder dan Dewan Penasehat.

Dengan ini, saya menyatakan demisioner dari posisi Ketua Umum One Day One Post.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip pitutur----nasehat----pujangga Jawa, Raden Ngabehi Ronggowarsito, tentang himbauan menulis:

Ujaring panitisastra; Awewarah asung peling; Ing jaman keneng musibat; Wong ambeg jatmika kontit; Mengkono yen niteni; Pedah apa amituhu; Pawarta lolawara; Mundhuk angreranta ati; Angurbaya angiket cariteng kuna.

Terjemahan:
Kata sastrawan; yang telah memberi peringatan bahwa di jaman yang penuh musibah ini, orang yang berbudi luhur justru akan ditinggalkan. Begitu pula jika kita cermati, apa manfaatnya percaya pada berita-berita bohong. Hanya akan membuat sakit hati. Lebih baik kita menulis yang baik tentang kisah-kisah lama.
(Serat Kalatidha – padha IV).


Nyuwun agunging samodra pangaksami.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam bahagia,
(Heru Sang Mahadewa)
Ketum ODOP Demisioner


Contact Us

Nama

Email *

Pesan *