This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 26 September 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (25)


ilustrasi gambar: Yayasan Wacana


PUPUH XIV
PANGKUR 1
Wahai semua pasukanku, akan menjadi lebih baik takdir ini, juga tidak khawatir andai gugur, terkena senjata. Meski pucat namun kita masih mampu. Jangan merasa goyah dalam batin, justru kita akan lebih makmur lagi.

PANGKUR 2
Ayo semua membubarkan diri, bukalah lebar-lebar pintu maaf kalian, kasihanilah kepadaku, pulanglah semua, ke rumah masing-masing. Sedangkan imbalan dariku, gunakanlah dalam jalan hidup menafkahi istri dan anak-anak kalian.

PANGKUR 3
Aku pulang ke Mataram, menghadap kepada kakang prabu raja Mataram, menyerahkan hidup dan matiku, dan kangmas adipati, telah gugur dalam perang melawan ulama sepuh, yang dibantu seorang mualaf asal China, yang datang ke tanah Jawa.

PANGKUR 4
Senjata mereka hanya sederhana, para santri membunyikan genderang, datang dari lubuk kalbu, membualkan kebutaan, tiada yang tegar dan tangguh, banyak darah yang tumpah, mengalami luka hingga gugur.

PANGKUR 5
Yang tersisa hatinya telah hancur, hilang sudah keberaniannya. Semua ini salahku, menanggung malu, sakit dan matiku dan kangmas (Pangeran Pekik) kutanggung, janganlah ikut-ikut. Sudahlah, semoga kalian selamat dan sejahtera.

PANGKUR 6
Mendengar Kangjeng Ratu Pandhansari meratap, semua punggawa berkata, dengan cucuran air mata yang berderai. Duh gusti panutan kami, janganlah paduka buru-buru pulang. Lihatlah pasukan paduka, semua berbhakti untuk Surabaya.

PANGKUR 7
Dan keinginan kami para prajurit, tunggulah. Jika nanti (dia) benar-benar sakti, biarlah habis sekalian semua orang Surabaya, hingga tewas semua prajurit Surabaya. Bukan mimpi di siang hari, jika takut mati.

PANGKUR 8
Perasaan paduka, jika kecewa, lebih baik tumpas seluruh prajurit. Hidup pun apa yang bisa kami perbuat, tidak becus memberikan apa-apa di hadapan gusti yang datang tidak berjodoh. Jika hidup boleh berkata, dasar manusia tidak patut.

..................

BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

Senin, 25 September 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (24)


ilustrasi gambar: Yayasan Wacana


PUPUH XIII
SINOM 13
Jika bisa diperbaiki, hamba yang akan memperbaiki. Terkejut Pangeran Surabaya, mendengar ucapan sang istri. Bertanyalah dia dengan pelan, duh pujaanku, ratu paling bijak, ratu paling manis sebumi, bagaimana itu bisa menjadi keinginanmu.

SINOM 14
Prajurit kita sudah banyak yang gugur, yang tersisa sudah ciut nyalinya. Berkata dengan manis Kangjeng Ratu, besok Kangmas juga akan merelakan, andai saja, akan bisa memulihkan (tekad dan) kemauan. Maka begitu mendengarnya, Kangjeng Ratu dipeluk dengan lembut, sungguh adinda jimatnya Surabaya.

SINOM 15
Apa yang menjadi keinginanmu, aku pasrah, nantinya hanya sebagai darma, semua mendukung kepadamu adinda, apapun yang terjadi, kita siap menyerahkan jiwa raga. Tidak dikisahkan bagaimana berjalannya malam itu hingga pagi datang. Ratu Pandhansari telah berkumpul dengan suaminya.

SINOM 16
Di tenda-tenda yang dibangun pasukan Surabaya, Kangjeng Ratu Pandhansari berkata lembut, wahai semua prajuritku, tujuanku menghimpun pasukan ini, diutus kakanda Raja, dibekali busana dan uang, delapan ribu riyal lebih, banyak pakaian yang bagus-bagus beraneka warna.

SINOM 17
Semua itu kuberikan untuk kalian, bagilah yang merata. Semua prajurit pun telah mendapat bagian uang dan pakaian. Mereka bersuka cita, hati mereka menjadi besar kembali. Kangjeng Ratu Pandhansari kembali berkata, semua prajuritku yang telah menerima penghargaan.

SINOM 18
Telah terlihat kemantaban kalian, sungguh kehendak Gusti, ikut berjuang dalam perang, siap kalah dan terluka. Tujuan yang tak pernah tertinggal, sengsara dalam perjalanan (hidup), tak ada yang menunjukkan keberatan hati. Karena kemuliaan kalian itu, aku balas seratus kali lipat pun juga belum setara.

SINOM 19
Berpamrihlah untuk berani, permohonanku hanya penuhilah, tujuan sebagai kemuliaan, tanpa mengharap dalam mengabdi, memberi welas asih, sungguh itu sifat tidak luhur. Anak-anak Surabaya, sudah terbiasa menjadi simbol kemuliaan negara, meski harus terbawa dalam kesengsaraan dan penderitaan.

SINOM 20
Sungguh seperti memikul tugas yang berat, membela Gusti yang kita kasihi. Semakin mengalami kesengsaraan, diri kita justru bertemu, membawa ke dalam hal yang sebenarnya tidak baik. Jahat sekali diriku ini. Kalian yang sedang beruntung dan mulia menjadi rakyat, bahagia melihat anak-anak berkeluarga, tiba-tiba aku datang mengajak kalian untuk melakukan pekerjaan yang sengsara dan menyedihkan.

SINOM 21
Akhirnya menemui kesusahan, membujuk kalian untuk memenuhi kewajiban berperang, berapa yang mati tak terhitung, begitu inginnya berbhakti, membalas kepada Gusti, tak mendapat apa-apa kalian, aku dan Kakangmas (Pangeran Pekik), itu yang bersalah, berkelanan dalam membela kekuasaan.

SINOM 22
Andai saja jawaban kalian, telah menjalankan (kewajiban) dan memenuhi, akulah yang berhutang pada, tanda ketika perang, bertarung melawan para santri, dan prajurit sakti, seorang China yang menjadi mualaf, hingga kewibawaannya mengungguli, para prajurit Surabaya.

SINOM 23
Terkena kewibawaan, semua roboh. Sungguh aku terharu dalam hati, tak ada yang salah dari kalian, mungkin sudah kehendak dari Allah S.W.T. Nantinya Surabaya, dibuat berbeda dan butuh waktu lama untuk mampu bersuara (disegani) di Brang Wetan (Jawa belahan Timur), sepak terjang para prajurit, dan para punggawa pasukan Surabaya.

SINOM 24
Jiwa-jiwa yang setia, tidak pernah berhitung (takut) sakit dan kematian, tegar di medan perang, teguh tanpa memilih musuh, bantengnya tanah Jawa, telah mundur. Itu hanya sebutan di jaman dulu. Sedangkan sekarang, banyak yang enggan untuk berjuang hidup mati, seperti jaman dulu itu.

..................

BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

Jumat, 22 September 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (23)


ilustrasi gambar: Yayasan Wacana



PUPUH XIII
SINOM 1
Dalam perang sehari itu, kalah pasukan Surabaya, mundur dan terus dikejar, hingga tertutup gelapnya malam, orang Giri yang mengejar, semua telah pulang, orang-orang Giri bersorak gembira, sambil berjoget.

SINOM 2
Endrasena beserta semua pasukan Giri, menghadap ke sang pemimpin ulama di Giri, menghaturkan sembah dan melaporkan, bahwa pasukan Surabaya, telah mundur ketakutan, tak bisa menang, banyak yang meninggal, pemimpin mereka tidak jelas nasibnya.

SINOM 3
Sang pemimpin ulama, bahagia perasaannya, kian besar hatinya, merasa ikhlas kepada Allah, yang telah mengayomi, seluruh tanah Jawa, terlontar lantang ucapnya, muncul kesombongan hatinya, sifat keulamaan akhirnya tertutup kemenangan.

SINOM 4
Maka berkata pelan, syukur Alhamdulillah, wahai nak, Endrasena, ini jadi pertanda, betapa sulit memijit butiran biji buah yang kecil, butuh kerja keras untuk mengupas mentimun (maksudnya tidak mudah menaklukkan kawula kecil), tapi aku kecewa, tidak tertangkapnya Pangeran Pekik, andai tertangkap, mirislah perasaan orang-orang Mataram.

SINOM 5
Endrasena berkata dengan congkak, tadi tertimpa datangnya malam, pasukan hamba sudah lelah, juga telah tiba waktu Maghrib, esok hari, pasti akan hamba ringkus, meskipun lari ke Mataram, hamba tidak gentar, syukur bila (berhasil kutuntaskan) dalam perang, sehingga tidak perlu kerja dua kali.

SINOM 6
Cukup sekali hamba bawa, jadi tidak perlu bolak-balik, (antara mencari dan menemui) Pangeran Pekik dan Kangjeng Sultan, menghadap kepada sang penguasa. Sang ulama berkata pelan, iya kudoakan nak, jika masih namamu (yang menjadi senapati Giri), engkau jangan khawatir, nantinya di Giri akan kuberi nama.

SINOM 7
Iya negeri Sokaraja (Sukorejo), para punggawa menjadi saksi, nanti malam panjatkanlah syukur, bulan Maulud kita lantunkan dzikir, untuk membahagaikan para prajurit kecil, berilah imbalan sepantasnya, yang telah kembali dari medan perang, agar bertambah keberanian mereka, begitu pula engkau, jangan ketinggalan mendapat penghargaan itu.

SINOM 8
Jika besok, musuhmu kembali, Endrasena dan punggawanya,  berkata kepada sang ulama, semua telah kabur, miris, tidak berniat kembali, tanpa menunggu gusti mereka, pasukan mereka telah berkemas, besok pasti terlihat bersama-sama melaporkan kepada Kangjeng Sultan.   

SINOM 9
Malam harinya diadakan pesta kemenangan, pasukan Giri bersukacita. Berganti kisah ke yang lari mundur dari medan perang, Kangjeng Pangeran Surabaya dan istrinya Kangjeng Ratu Pandhansari, telah berkumpul dengan para prajuritnya. Kangjeng Pangeran sangat bersedih, hatinya hancur oleh kekalahan pasukannya.

SINOM 10
Ki Sepanjang, panglima perang, berkata kepada Pangeran Pekik, gusti saya laporkan hidup dan mati, para abdi Surabaya, sungguh miris, Endrasena dan pasukannya berperang dengan keberanian luar biasa, tidak takut mati dan mengamuk bagai banteng yang terluka.

SINOM 11
Para abdi Surabaya, semua telah mengaku, merasa sudah tidak sanggup, tak ada yang menang, dalam hati mereka telah miris semuanya. Seketika ikut miris Kangjeng Pangeran, mendengar pengakuan punggawanya, semakin runtuh perasaannya, hingga tak mampu berkata-kata.

SINOM 12
Maka Kangjeng Ratu Pandhansari, istrinya, ikut prihatin, gusar dalam hatinya tak bisa lagi ditahan, (melihat suaminya) tak bisa berucap. Kangjeng Ratu berkata lembut, memohon kepada suaminya, duh pembimbingku, lelakiku, jika begini jadinya pasukan, rusaknya barisan perang, hamba mohon kerelaan.


..................

BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *