This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 08 Agustus 2017

GERHANA BULAN, MURKANYA SANG HYANG BATHARA KALA


photo: satujam




Kahyangan senja itu merekah. Aroma kembang wijayakusuma dari taman langit menyeruak. Mengelindap. Semerbak. Kemudian angin membawanya terbang mengelilingi dua dewa-dewi yang sedang kasmaran di sana. Bathara Guru, sang Mahadewa, raja dari para Dewa bercengkerama dengan permaisurinya, Bathari DurgaMeski jati diri aslinya adalah seorang danawa----raksasa, Bathari Durga memiliki paras yang cantik jelita.

Sekejap kemudian, keduanya berkelana di atas samudera dengan menaiki tunggangan bernama Lembu Andini. Dalam kelana itu, Bathara Guru terpesona oleh kecantikan sang permaisuri, sehingga timbul hasrat untuk berpadu asmara. Bathari Durga malu dan menolak. Jatuhlah benih dari Bathara Guru, lalu menetes ke lautan.

Samudera di Nusatembini bergolak! Gelombang pasang tiba-tiba datang mengamuki semua makhluk yang ada di sana.

Benih sang Mahadewa berubah menjadi bara api. Air laut seketika mendidih. Seluruh penghuni lautan gempar dan lari tunggang langgang.

Karena kedigdayaan Bathara Guru, benih yang jatuh di tengah lautan itu hidup dan tumbuh menjadi sosok makhluk menakutkan. Kian lama kian besar hingga berwujud raksasa. Naiklah ia ke Kahyangan Suralaya untuk menemui para Dewa.

Dia diterima oleh Bathara Guru dan diakui sebagai anaknya, lalu diberi nama Kalarandya karena lahirnya bersamaan datangnya candikkala----senjakala. Dia dipanggil dengan sebutan Bathara Kala.

Suatu hari ketika sedang memasak, jari Bathari Durga teriris hingga tak sengaja darahnya menetes ke makanan yang ia masak. Bathara Kala segera menolong membalut luka itu, lalu sebisanya membersihkan darah yang tercampur masakan.

Ketika makanan itu disajikan ke putranya, Bathara Kala melahapnya tak tersisa.

“Masakan ibunda hari ini terasa istimewa, ada sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.”

“Oh, aku tahu ini karena tetesan darah tadi!” Berarti darah itu rasanya enak! Mulai sekarang aku akan memangsa manusia!” muncul niat buruk dari Bathara Kala.

“Jangan putraku! Kamu tidak boleh memangsa manusia!” Cegah Bathari Durga.

Bathara Kala tetap bersikukuh ingin segera turun ke bumi untuk mencari mangsa manusia. Bathari Durga pun melaporkan kejadian itu kepada Bathara Guru.

Untuk mengelabuhi dan mencegah tindakan putranya, Bathara Guru memberi nasehat dan syarat bahwa tidak semua manusia boleh dimangsa. Hanya manusia yang termasuk jenis sukerta yang boleh dimakan oleh Bathara Kala. Sang penguasa Kahyangan juga memberi tanda dengan menuliskan rajah pada dahi, punggung dan rongga mulut putranya sebelum turun ke bumi.

“Engkau boleh memangsa manusia sukerta hanya saat surya tumumpang arka----matahari tepat diatas kepala atau tengah hari!” tutur Bathara Guru.

"Ingat-ingat Kala, jika ada seseorang yang bisa membaca rajah yang telah kutulis di dahi, punggung dan rongga mulutmu, engkau harus tunduk, karena dia adalah utusanku. Sekarang pulanglah ke Nusatembini, tempatmu dilahirkan. Tinggallah disana!" tutur Bathara Guru.

Budhal----berangkat!”

Bathara Kala menyanggupi wewaler----aturan----yang disyaratkan kepadanya. Dia pun langsung melesat turun ke bumi untuk memburu jenis-jenis manusia sukerta yang disebutkan oleh Bathara Guru.

Menyadari bahwa tindakan putranya salah, Bathara Guru menyuruh Bathara Narada agar memerintahkan Bathara Wisnu menyusul turun ke bumi untuk mencegah tindakan Bathara Kala. 

Bathara Wisnu menyamar menjadi seorang dalang wayang kulit dengan nama Kandhabuana, Sejati, dan SampurnajatiDia juga ditemani oleh Bathara Narada yang menyamar sebagai panjak kendang----penabuh kendang----dan Bathara Brahma yang menyamar sebagai panjak gender----penabuh salah satu jenis gamelan Jawa.

Sampai di Arcapada, dalang Khandabuana bersama rombongan mempromosikan diri sebagai orang yang bisa menolak bala atau kala----kesialan, bencana, musibah----bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan mereka.

-o0o-

Tersebutlah mbok rondo----janda tua----yang tinggal di desa Medang Kawit. Dia memiliki seorang anak tunggal bernama Joko Jatusmati. Pada surya tumumpak arka----tengah hari, atas perintah ibunya, pergilah Joko Jatusmati ke danau Madirda.

Di tengah perjalanan, Joko Jatusmati bertemu Bathara Kala. Karena termasuk jenis manusia sukerta, Bathara meminta agar Joko Jatusmati bersedia dijadikan mangsa.

Joko Jatusmati pun lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Dalam pelarian, pemuda Medang Kawit itu bersembunyi diantara sekelompok orang-orang yang sedang bekerja mendirikan rumah. Tetapi Bathara Kala bisa menemukan. Lalu terjadi kejar-kejaran di dalam rumah itu hingga roboh.

Joko Jatusmati kembali melarikan diri. Pemuda itu bersembunyi di sebuah dapur orang, disinipun kembali terjadi kejar-kejaran sehingga menyebabkan dandang----panci untuk menanak nasi----roboh.

Kembali Joko Jatusmati lari keluar rumah. Dalam usahanya mengejar pemuda itu, Bathara Kala terjatuh karena terlilit batang waluh----jenis tanaman sayuran----yang tumbuh di halaman. Dia pun kehilangan jejak buruannya.

Bersamaan dengan itu, tak jauh dari Medang Kawit ada sebuah pertunjukan wayang kulit oleh dalang Kandhabuana. Dia sedang menggelar pentas atas permintaan seorang penduduk bernama Buyut Wangkeng yang sedang meruwat----membersihkan bala atau kesialan----putrinya bernama Rara Pripih yang baru saja cerai dari suaminya di saat usia pernikahannya baru terhitung beberapa hari.

Pada pagelaran wayang kulit itu, banyak sekali orang yang menonton. Diantara kerumunan penonton, tampak pula Joko Jatusmati dan juga Bathara Kala.

Misi dari Bathara Wisnu untuk menarik perhatian Bathara Kala berhasil. 

Bathara Kala hendak memangsa Joko Jatusmati, tetapi dicegah oleh dalang Kandhabuana. Terjadi debat antara jelmaan Bathara Wisnu dengan putra Bathara Guru,”Kau boleh memakan manusia itu, tetapi berikan aku waktu untuk memberitahumu tentang satu hal!”

“Apa itu?”

“Di dahimu tertulis kawruh sejatine urip----pelajaran tentang hakikat kehidupan, rajah itu adalah penanda bahwa engkau tercipta dari hawa nafsu yang tidak bisa dikendalikan. Akibatnya, engkau tumbuh menjadi sosok yang senantiasa membikin musibah di muka bumi, karena mengedepankan nafsu angkara. Pulanglah sekarang, kulup!”

Bathara Kala ingat pesan Bathara Guru. Dia menyadari bahwa sedang berhadapan dengan utusan ayahnya dari Kahyangan.

Sesaat kemudian, turun pula Bathari Durga ikut membujuk putranya agar mau kembali ke asalnya. Samudera di Nusatembini.

Aku jaluk sangu----aku minta bekal!” ucap Bathara Kala sebelum lenyap meninggalkan Medang Kawit.

-o0o-

Sekembalinya dari Bumi memburu manusia jenis sukerta, Bathara Kala berhasrat mendapatkan Tirta Amerta Sari----air keabadian, karena ingin menjadi Dewata yang hidup kekal seperti yang lain.

Keinginan Bathara Kala tidak disetujui oleh ayahnya, Bathara Guru. Alasan sang penguasa kahyangan itu adalah putranya tercipta dari sifat buruknya yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu atas pesona Bathari Durga, sehingga Bathara Kala berperingai buruk pula.

Bathara Kala kecewa. Diam-diam, dia menyusup ke telaga Tirta Amerta Sari yang terletak di tengah jarak matahari dan bulan.

Bathara Kala berhasil mendapatkan air keabadian. Nahas, di tengah perjalanan, Bathara Surya dan Bathari Candra memergokinya. Dewata penguasa matahari dan bulan itu langsung melaporkan perbuatan Bathara Kala kepada ayahnya.

Bathara Guru segera memerintahkan Bathara Wisnu untuk merebut Tirta Amerta Sari sebelum Bathara Kala meminumnya.

Tak mau menunda-nunda waktu, Bathara Wisnu segera menyisir seluruh wilayah kahyangan dan akhirnya bertemu Bathara Kala di balik awan hitam.

Saat itu Bathara Kala baru saja meminum Tirta Amerta Sari. Sebelum air keabadian sampai di tenggorokan dan tertelan, Bathara Wisnu melemparkan senjata Cakra dan tepat mengenai leher Bathara Kala.

Maka terpenggallah kepala Bathara Kala. Tubuhnya jatuh ke bumi dan hancur berkeping-keping, sedangkan kepalanya gentayangan di langit dan abadi karena sudah sempat terkena Air Keabadian. Sejak saat itu hingga sekarang, Bathara Kala di-visual-kan sebagai sosok kepala tanpa leher dan badan.

Bathara Kala lalu bersumpah akan memangsa Bathara Surya dan Bathari Candra jika kelak bertemu. Namun, ketika matahari atau bulan ditelan melalui mulut Bathara Kala, keduanya akan dapat keluar lagi melalui leher yang sudah putus.

Heru Sang Mahadewa
Member of One Day One Post

Catatan :
Samudera Nusatembini, kini dipercaya sebagai wilayah Karimun Jawa. 

Saat terjadi gerhana, konon Bathara Kala sedang melampiaskan murkanya kepada dewata penguasa bulan atau matahari. Dia menelan utuh-utuh ketika bertemu salah satu dari Bathara Surya dan Bathari Candra. Namun, karena hanya tinggal kepala, mereka pun akan keluar lagi melalu leher Bathara Kala yang telah terpotong.

gambar: petouring

Ketika bulan atau matahari mengalami fase penumbra, saat itulah Bathara Kala mulai menggigit, disusul fase umbra, di mana bulan atau matahari telah tertelan ke mulut putra sang Bathara Guru.

Sedangkan fase akhir umbra dan fase akhir penumbra adalah momen ketika bulan atau matahari telah keluar dari leher Bathara Kala.

Belive it or not?

Banyak makna siningit----tersembunyi----dari mitologi orang-orang Jawa.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Di Ujung Napas

photo: keajaiban dunia


di ujung napas
yang tinggal seutas
tanpa desah
seperti pasrah 
saat jiwa lemah merebah

di ujung napas
yang tinggal seutas
berlintasan bayangan
ahangkara kekuasaan 
saat suksma hendak berpamitan

ingin kembali pada napas awal
namun jalan nyaris dibuntu ajal
langit terlihat menggelap
tertutup lengan-lengan bersayap
yang ia rentangkan hendak mendekap

mari, aku tuntun, Kangjêng
munuju istana yang langgêng
menaiki kuda suci bernama syahadat
ia merintih, "tiba saat aku mangkat."
terucap ketika malaikat kian mendekat

asyhadu an laa illaaha illallah
wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah

...........

17:00
2017
Agustus
Kota Sidoarjo

(Heru Sang Mahadewa)

Puisi ilustrasi islamisasi Bathara ring Wilwatikta (raja di Majapahit) oleh Rahadyah Santi Kusumah (Kangjêng Susuhunan Kalijaga) ketika hendak dijemput kematian.

Jumat, 04 Agustus 2017

Kupu-Kupu Cantik di Hati Dion (Review Cerpen Tita Dewi)



https://terminalceritaku.wordpress.com


Penulis: Tita Dewi
Cerpen: Teenlit
Genre: Romance



"Ulat yang pemalu itu sekarang telah menjelma menjadi kupu-kupu yang indah."

Kalimat itu yang membekas dalam ingatan saya, ketika selesai membaca cerpen dari mbak Tita Dewi. Dari seluruh rangkaian kisah, bagian inilah yang menjadi penegas terhadap judul Kupu-Kupu Cantik di Hati Dion. Sepertinya, si penulis sengaja memberikan penekanan di ending cerita.

Mbak Tita Dewi mencoba mengangkat tokoh sentral bernama Dion. Dia seorang ketua OSIS, cakep dan supel dalam bergaul. Seperti cerpen teenlit bergenre romance pada umumnya, setting yang digunakan adalah kehidupan anak-anak berseragam putih abu-abu. Si tokoh utama, Dion, menjadi pusat perhatian teman-teman cewek di sekolahnya, terutama tokoh bernama Cindy, anak orang berada. Sementara, Dion justru lebih menaruh hati kepada cewek lain, Nayla, cewek pemalu dengan penampilan lugu, gigi memakai behel, plus berkacamata tebal.

Pada bagian inti cerita, pembaca di bawa ke konflik utama, bagaimana kemudian Cindy meneror Nayla sebagai puncak kebencian karena cemburu atas perhatian Dion kepada si cewek pemalu itu. Hingga suatu waktu, Nayla sakit sehingga tidak masuk sekolah selama beberapa hari.

Ending cerita memunculkan sebuah kejutan. Dion melihat seorang cewek berpenampilan wah dengan model ala artis. Ketika si tokoh utama menyangka bahwa cewek itu murid baru, ternyata dia adalah Nayla yang telah melakukan operasi mata selama tidak masuk sekolah beberapa hari.

Mbak Tita Dewi menuturkan rangkaian kisah Dion, Nayla dan Cindy dengan alur yang apik. Kalimatnya mudah dicerna, tanpa menonjolkan diksi yang menyentak ala bermain majas.

Cerpen Kupu-Kupu Cantik di Hati Dion menunjukkan bahwa si penulis jeli memanfaatkan trend. Teenlit bergenre romance memang masih memiliki daya pikat kuat untuk merebut hati pembaca remaja di Indonesia. Berbeda dengan genre horor, komedi dan sejarah.

Secara keseluruhan, cerpen karya Mbak Tita Dewi ini sudah sangat layak mendapatkan tempat di hati pembaca. Saya yang bukan pecinta teenlit dan romance, bisa terbawa dalam suasana sangat menikmati mulai dari prolog hingga ending.

Sementara, sedikit kelemahan dari cerpen Kupu-Kupu Cantik di Hati Dion adalah kurang kuatnya si penulis mengangkat karakter tokoh utama. Saya belum menemukan identitas khas, seperti apa sebenarnya sosok Dion dalam kisah ini. Ketika membaca judulnya, saya sempat membayangkan Dion adalah sosok ala Roy dalam serial Balada Si Roy karya mas Gol A Gong, atau Kang Giwa dalam novel perdana member ODOP, mbak Indri B, Kang Giwa Sang Kesatria. Bukan watak dan sifatnya, tetapi kedua tokoh itu begitu kental karakternya di dalam kisah yang ditulis beliau-beliau. 

Kelemahan lainnya, kisahnya mudah ditebak. Cindy yang antagonis akhirnya kalah oleh Nayla. Saya sempat berharap ada terobosan, misalnya di akhir cerita, Dion justru jatuh hati dan berlabuh ke Cindy, bukan Nayla. Satu lagi, opening paragrap juga belum memiliki daya pikat untuk menghipnotis pembaca agar terhanyut ke bait kedua, ketiga, dan seterusnya. 

Tetapi, terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan, cerpen ini mbois----keren----kata arek Jatim, sangat sayang untuk dilewatkan. Baca cerita selengkapnya [DI SINI ]

Heru Sang Mahadewa
Member of One Day One Post

Follback blog saya di:
https://dloverheruwidayanto.blogspot.co.id

Bahagia Mati Sebagai Anjing (Review Cerpen Uncle Ik)



http://uncleik.blogspot.co.id


Judul: Bahagia Mati Sebagai Anjing
Penulis: Uncle Ik (Ahmad Ikhtiar)
Genre: Satire

"Suara letusan dari tulang tengkorak yang remuk memunculkan suasana baru."

Kalimat itu yang membuat saya bergidik, ketika membaca cerpen Uncle Ik. Sejak bait pertama, adrenalin sudah dipaksa ikut berpacu mengikuti rangkaian kata demi kata yang tajam, menyayat, perih dan sadis! Puncaknya adalah pada adegan tokoh ‘aku’ bersama kawan-kawannya yang dilindas panser. Mati.

Seperti biasanya, Uncle Ik selalu menyajikan sebuah tulisan dengan pesan kemanusiaan dan kritik sosial. Termasuk dalam cerpen Bahagia Mati Sebagai Anjing ini. Penulis mengambil setting sebuah peristiwa perang, kejadian kelam yang kemudian berdampak pada kesengsaraan, kelaparan dan penindasan.

Dihadirkanlah segmen ketika sepasukan tentara yang dikiaskan sebagai algojo dan malaikat pencabut nyawa sedang memaksa sekawanan tawanan perang (selanjutnya di-analogi-kan sebagai anjing) untuk membuka mulut (analisa saya adalah untuk berkhianat, membocorkan rahasia, atau membelot ke kubu lawan). Tokoh ‘Amran’ dan ‘aku’ menjadi bagian dari tawanan itu. Puncak dari sadisme cerpen Bahagia Mati Sebagai Anjing ini adalah ketika kekukuhan prinsip kawanan anjing itu membawa mereka pada kematian.

Seperti itulah kisah yang dituangkan Uncle Ik ke dalam cerpennya. Tetapi, membaca tulisan-tulisan anak muda yang memiliki kemampuan dan pengetahuan luar biasa di dunia literasi ini, tidak bisa hanya dengan lawaran (mata atau pikiran telanjang----bahasa Jawa). Iya, tulisan Uncle Ik memiliki kesamaan dengan sastra kuno Jawa. Semacam Serat dan Kakawin. Bukan gaya menulisnya, tetapi terletak pada pesan dan makna siningit----tersembunyi----yang harus digali, dicermati dan dipecahkan untuk memahaminya. Sulit? Tentu saja.

Selesai membaca cerpen Bahagia Mati Sebagai Anjing ini, saya menduga-duga bahwa ada pesan siningit yang ingin disampaikan Uncle Ik. Tidak bisa hanya dengan membaca kisah, plot dan endingnya. Tetapi harus dipecahkan dari kacamata pikiran yang berbeda, bukan sekedar menikmati rangkaian diksinya.

Ada beberapa kemungkinan yang mencoba diangkat Uncle Ik, analisa saya adalah:

Pertama, kisah ini benar-benar perang yang sebenarnya, dimana kematian tokoh ‘aku dan Amran’ yang dihabisi oleh sekawanan tentara adalah tawanan perang. Jika begitu, berarti cerpen ini lawaran, tidak perlu digali pesan dan maknanya.

Kedua, setting perang yang diangkat hanyalah kiasan. Bisa jadi ia adalah retorika dari keadaan negeri yang semakin carut marut. Perang dalam cerpen ini merupakan kritikan atas kisruh elit politik, kemudian berdampak pada kesengsaraan dan penindasan kepada kalangan bawah. Kalangan orang-orang pinggiran yang dikiaskan sebagai ‘anjing terhormat’.

Ketiga, pesan siningit dari cerpen Bahagia Mati Sebagai Anjing justru bukan dari kemungkinan pertama dan kedua di atas. Ada makna lain lagi, yang belum dan tidak bisa saya gali.

Iya, membaca cerpen ini, mengingatkan saya kepada kontroversi multi tafsir sastra Jawa. Banyak makna sesungguhnya yang belum tertangkap oleh para pembaca literasi kuno. Uncle Ik, mampu menempatkan diri seperti pujangga-pujangga Jawa di masa lalu itu.

Sedikit catatan terhadap cerpen Bahagia Mati Sebagai Anjing, tidak ada clue berupa nama tempat, waktu kejadian yang ditampilkan agar pembaca bisa mudah menangkap pesan dan kritik sosial dari tulisan Uncle Ik ini. Misalnya sebuah kalimat yang mengungkapkan bahwa ‘aku dan Amran’ yang digilas panser, sebelumnya digiring ke jalan Merdeka Barat, dekat Monas, atau waktu itu adalah Mei 1998, dan sebagainya.

Terlepas dari semua itu, cerpen ini memang layak mendapat predikat di atas rata-rata. Selain gaya menulisnya sudah menunjukkan Uncle Ik banget, rangkaian kalimat demi kalimat mulai prolog hingga ending selalu membuat pembacanya bergidik.

Sudah tentu, sayang jika dilewatkan. Baca cerita selengkapnya [ DI SINI ]

(Heru Sang Mahadewa)
Member of One Day One Post

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *