Senin, 04 Juni 2018

WASPADAI SINDIKAT CYBER CRIME





Kejahatan terjadi bukan hanya karena adanya kesempatan dan kelengahan korban, tetapi juga disuburkan oleh kemajuan tehnologi yang mengikuti perkembangan zaman.

Dua hari yang lalu, tepatnya 2 Juni 2018, ada sebuah pesan masuk di akun gmail saya. Karena pengirim menggunakan user dan domain asing, sedikitpun saya tidak tertarik untuk membukanya.

Pesan dari orang-orang asing dan domain tak lazim memang banyak berseliweran di beberapa akun saya, baik surat elektronik (email) maupun media sosial. Tentu saja hal ini membuat saya jengah untuk menanggapinya.

Namun, berbeda dengan kebiasaan sebelumnya, hari ini saya buru-buru membuka pesan yang terjaring sebagai spam dua hari silam di akun saya tersebut. 

Diamput! Benar dugaan saya bahwa ada upaya penipuan yang mencoba menguji keluguan saya.

Hello,

I am Kim Leang and a personal Accountant/Executive board of Directors with Foreign Trade Bank of Cambodia (FTB).

it is with good spirit of heart i opened up this great opportunity to you A deceased client of mine that shares almost the same name as yours died as a result of heart-related condition on march 2005.His heart condition was duo to the death of the members of his family in the tsunami disaster on the 26 December 2004 in Sumatra Indonesia where they all lost their lives

There is a draft account opened in my bank in 1999 by a long-time client our bank,a national of your country.he was a CEO/a textile company owner,business man,a miner at kruger mining company here in Cambodia. he was a geologist and consultant to several other mining conglomerates operating in Cambodia,China,Taiwan,Japan,Indonesia,Pakistan,Vietnam all in Asia,before he passed away on 12th march 2005 leaving nobody as the next of kin of his account after his death.

The amount in this account is currently $32,640,000 (Thirty Two Million Six Hundred and Forty Thousand United States Dollars) I want to present you as a beneficiary,I will use my position and influence in our bank to make they release this money to you for us to share.If i wait for days and i do not hear from you,I shall look for another person.

Kindly get back to me for more details

Yours sincerely,
Kim Leang
Board member
Foreign Trade Bank of Cambodia
Phnom Penh
-------------------

Apa yang saya lakukan di atas, sebenarnya adalah tindak lanjut setelah seorang sahabat bercerita bahwa ia baru saja kena tipu uang sejumlah hampir tujuh juta rupiah melalui akun milknya.

Saya terperanjat. Bagaimana bisa?

Dengan raut muka sedih dan penuh penyesalan, sahabat saya mengutarakan isi hatinya seputar musibah yang ia alami.

Ternyata, kejadian yang menimpa sahabat saya itu tidak ia alami secara serta merta. Ada tahapan demi tahapan yang telah dilakukan pelaku untuk memuluskan modus penipuannya. Media yang digunakan adalah akun sosmed.

Bagaimana cara pelaku melakukan penipuan melalui sosial media itu?

Beberapa waktu yang lalu, boleh dikatakan cukup lama, sahabat saya meng-konfirmasi sebuah permintaan pertemanan dari seseorang asal Bali yang saat ini tinggal di luar negeri. Dalam kurun waktu sejak mereka berteman hingga hari ini, tidak ada yang aneh dengan pertemanan mereka. Semua berjalan normal layaknya kita bersosialita pada umumnya. Ada like, coment, reply dan seterusnya terhadap aktivitas keduanya.

Sesekali, sahabat saya juga terlibat percakapan via inbox atau chating dengan temannya itu.

Nah, dari sinilah malapetaka yang menimpa sahabat saya berawal.

Pada titik puncak chating keduanya, si perempuan Bali menceritakan bahwa suaminya telah mengalami kecelakaan pesawat beberapa tahun silam hingga meninggal. Sesuai konsukuensi yang berlaku di manapun, sebagai ahli waris, ia menerima santunan asuransi dan dana bantuan dari perusahaan tenpat suaminya bekerja.

Masalah datang, ketika pihak keluarga suaminya juga mengincar uang santunan tersebut. Singkat kata, ia berniat menyelamatkan uang dalam bentuk dollar itu dengan mengalihnamakan kepada seseorang di Indonesia.

Bermodal bujuk rayu, sahabat saya dibisiki bahwa profilnya sangat mengundang simpati dan menurut si perempuan Bali, layak dipercaya sebagai orang yang menerima kiriman dollar darinya. Untuk mengelabuhi tuduhan money laundry, dollar akan dikirim melalui kargo.

Finally, sahabat saya dihubungi agen pengiriman barang luar negeri yang mengaku berposisi di bandara XX, bahwa kiriman dengan tujuan atas namanya telah sampai. Namun, ada pajak yang harus segera dibayar sebesar hampr tujuh juta agar kiriman segera diantar ke alamat sahabat saya.

Begitu polos, lugu, dan barangkali saking gembiranya (seperti kejatuhan bulan) bakal mendapat peti berisi dollar, sahabat saya tanpa ragu melakukan transfer uang ke rekening agen kargo.

Kelar sudah nasib sahabat saya! Karena setelah itu, tak ada kontak dan akun yang bisa dihubungi lagi.

***

Facebooker, apa yang dialami sahabat saya sebenarnya persis dengan spam yang dikirim oleh Kim Leang yang mengaku sebagai seorang pejabat di Foreign Trade Bank Of Cambodia.

Si brengsek King Leang itu mencoba mempengaruhi saya dengan iming-iming akan menyelamatkan uang seorang nasabahnya yang ia dapatkan dari santunan bencana. Posisinya sebagai orang berpengaruh di Bank Kamboja, akan menjadi jaminan saya mendapatkan bagian uang itu.

Gak ngiler piye, Ndes? Oleh duit telung puluh papat juta dollar Amerika jare.

Beruntung, sedikitpun saya tidak tergiur. Atau lebih tepatnya belum tergiur.

Dari peristiwa musibah yang menimpa sahabat saya di atas, hendaknya bisa kita jadikan pelajaran berharga. Bahwa modus kejahatan berupa penipuan, telah merambah berbagai segmen kehidupan. Termasuk bisa melalui di dunia maya.

Lalu, apa yang harus kita waspadai agar tidak terjerat penipuan serupa?

Berikut adalah beberapa tips sederhana dari saya untuk menghindari kejahatan cyber:

Hati-hati dalam memilih pertemanan.
Jangan gampang menyetujui permintaan pertemanan, meski akun yang add kita bermodal wajah cakep, ganteng, cantik dan sexy. Itu sengaja mereka ciptakan saat membuat akun anonim, demi menemukan mangsa kelak.

Katakan Tidak Untuk Cinta Dunia Maya.
Pelaku kejahatan cyber, kebanyakan memuluskan modus operandi dengan menebar bujukan cinta. Bermodalkan profil yang menawan tadi, tak jarang mereka berhasil mengambil simpati dan hati teman-teman sosmednya.

Hati-hati, jangan tergiur asmara dunia maya.

Jangan Pernah Menuruti Permintaan Transfer Uang.
Sedekat apapun pertemanan anda dengan seseorang di dunia maya, jangan pernah menuruti permintaan mereka untuk melakukan transfer sejumlah uang. Meski alibinya adalah sedang terkena musibah. Butuh bantuan ini itu, dan sebagainya. Sepeser pun jangan.

Semakin dekat dengan Lebaran Idul Fitri, semakin banyak kebutuhan. Dampaknya, pelaku kejahatan kian nekad pula. Copet, jambret, gendam, dan sejenisnya sudah bukan zamannya lagi. Sekarang adalah era Cyber Crime. Kriminalitas lintas dunia maya.

So, marilah kita bersosial media dengan sehat dan cerdas.


Heru Sang Mahadewa
Member of One Day One Post

Ditulis atas permintaan beberapa teman yang turut prihatin atas musibah yang menimpa sahabat kami. Semoga peristiwa ini menjadi vaksin baginya untuk semakin tegar.

3 komentar:

  1. sudah banyak cerita penipuan seperti ini, cuma dasarnya pribadi yang masih lengah. atau kurang mawas mas

    BalasHapus
  2. aku juga sering dapat email itu..
    nggak pernah kubaca..

    BalasHapus
  3. Iya, di email saya juga sering masuk email sejenis itu, biasanya langsung masuk spam sih, dan beruntungnya bahasa inggris saya masih cetek, jadi gak pernah kutanggepin email begitu. Langsung ta' delete. 😁

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *