Jumat, 10 November 2017

JUGUN IANFU




Surabaya, 1942.
Hawa panas di Surabaya menggila. Sudah beberapa bulan ini, hujan tak kunjung turun. Kasmoeri dibuat bercucuran peluh oleh sengatan matahari, kala dia mengayuh sepeda onthel dari Kapasan menuju Jagalan. Hampir setiap dua minggu sekali, seorang gadis pemilik rambut panjang dan digelung, selalu datang berbelanja ke toko juragannya, Koh Akhiong. Setiap itu pula, Kasmoeri harus mengantarkan sekarung beras ke rumah si gadis.
“Kalau boleh tahu, siapa namamu, Ning?”
Ucap Kasmoeri, lelaki muda bertubuh ceking, kulit hitam dan rambut berombak, mencoba mengakrabi si gadis siang itu.
“Soendari, Cak.”
“Kasmoeri!”
Kasmoeri mengulurkan tangan. Dadanya sontak bergemuruh ketika Soendari menyambut dengan salaman lembut. Sesaat Kasmoeri menahan tangan itu, hingga Soendari cepat-cepat menarik tangan, lalu menunduk.
Dengan semangat berlipat-lipat, Kasmoeri mengayuh lagi sepeda onthel, membelah jalan kampung Jagalan, kembali ke Kapasan.
Sampai di depan toko Koh Akhiong, dia dikejutkan suara ribut-ribut dari dalam toko. Nampak juragannya sedang duduk bersimpuh di pojok ruangan sambil meratap minta ampun.
Segerombolan orang mengacung-acungkan senapan ke arah Koh Akhiong. Logat bahasanya terdengar berbeda meski mereka sama-sama bermata sipit. Gerombolan itu terus membentak-bentak dengan dialek Surabaya yang dipaksakan.
Beberapa orang terlihat mengangkut semua beras yang ada di gudang, lalu menaikkan ke atas truk. Kasmoeri bersembunyi dari balik pohon asam di seberang jalan. Setelah gerombolan itu pergi, barulah dia buru-buru menghampiri juragannya.
“Sudah habis semua hartaku, Kas!” rintih Koh Akhiong meratapi nasib.
“Siapa orang-orang itu?
“Mereka mengaku sebagai saudara tua kita. Semua beras milikku disita. Katanya akan digunakan untuk modal perang. Mereka yang akan membebaskan kita dari cengkeraman bangsa Londo.”
“Saudara?” Dahi Kasmoeri berkerut. “Saudara dari mana, Koh?”
“Mereka bangsa Nipon. Sebaiknya kamu segera pulang. Nipon juga menangkap paksa para pemuda seusiamu, Kas.”
“Bukan itu saja. Banyak juga gadis-gadis yang diangkut ke atas truk untuk dijadikan Jughun Ianfu!”
“Soendari?”
Tiba-tiba Kasmoeri teringat gadis yang baru saja membuat hatinya berbunga-bunga. Seketika itu pula dia segera berlari meninggalkan Koh Akhiong tanpa berpamitan.
Jangan-jangan benar omongan Koh Akhiong bahwa Soendari juga diangkut orang-orang bermata sipit itu tadi?
Batin Kasmoeri berkecamuk.
-o0o-
Siapa yang tak kenal Soendari, anak Soegondo, penjual lontong balap yang kecantikannya menjadi buah bibir pemuda sekampung Jagalan. Gadis manis yang selalu ramah kepada siapa saja yang dijumpai. Senyumnya tak pernah lepas dari bibir.
Soendari berusia dua puluh tahun ketika orang-orang bermata sipit yang mengaku sebagai saudara tua dan Pemimpin Asia mendarat di Surabaya. Ibarat bunga, Soendari sedang merekah-merekahnya kala itu.
Dia adalah putri sulung dari dua bersaudara. Soegondo memiliki seorang putri lagi yang masih berusia tiga belas tahun, Moeryati. Keduanya sama-sama berparas jelita. Bedanya, Moeryati masih bau kencur, sedangkan Soendari seperti buah yang sudah jauh lebih ranum.
“Ada apa, Cak?”
“Tidak ada apa-apa, Ning. Aku hanya ingin menemuimu. Sing ati-ati yo, Ning. Nipon mblader tuk endi-endi!” jelas Kasmoeri. “Sementara ini, kamu jangan sering keluar rumah. Mereka menangkapi pemuda dan gadis seusia kita!”
“Siapa yang kamu maksud, Cak?”
“Saudara tua kita. Nipon.”
“Nipon?”
“Koh Akhiong yang cerita. Kalau mereka datang ke sini, kamu harus bersembunyi, Ning.”
“Oh iya… suwun, Cak.” Soendari menatap dalam-dalam wajah Kasmoeri. “Jaga dirimu juga ya, Cak.”
Suara Soendari terdengar lirih. Ada nuansa kekhawatiran. Diam-diam, hati Soendari mulai luluh oleh perhatian kuli di toko Koh Akhiong itu.
“Aku pulang dulu. Aku harus berkelit kesana-kemari, bersembunyi sambil mencari jalan menghindari patroli Nipon.” Pamit Kasmoeri. Hati lelaki muda bertubuh ceking itu berbunga-bunga. Meski belum terucap kata suka, tetapi dia yakin bahwa Soendari telah mengalami gejolak rasa yang sama dengan dirinya.
-o0o-
Soegondo yang sedang duduk di teras rumah, tiba-tiba ditodong dengan sebatang besi dingin yang menempel di lehernya.
“Di mana anak-anakmu?”
Seorang laki-laki berkepala plontos dengan kelopak mata nyaris tidak bisa terbuka saking sipitnya membentak-bentak. Terdengar beberapa kali letusan dan suara jeritan para wanita dari tetangga Soegondo. Gerombolan yang lain rupanya juga menjarah semua rumah penduduk Jagalan.
“Ampun, Ndoro. Kulo mboten gadah yoga putri,” ratap Soegondo.
“Jangan bohong! Banyak yang mengatakan bahwa kamu memiliki dua anak gadis!” Kembali lelaki berkepala plontos membentak. “Serahkan pada kami!”
“Tolong ampuni kami Ndoro!” timpal Roeminah, istri Soegondo, ketika melihat beberapa orang Nipon menerobos masuk ke dalam rumah.
“Tolongggggg!!!” Terdengar jeritan dari dalam kamar.
Beberapa saat kemudian, Moeryati dan Soendari digelendeng paksa oleh empat orang Nipon.
“Ampun Ndoro… jangan bawa kami!” Soendari meretap dengan tubuh menggigil.
“Kumohon bawa saja aku. Jangan ambil anak-anakku, Ndoro!” Soegondo bersimpuh sembari menangis di hadapan lelaki Nipon berkepala plontos.
Prakk! Prakk!
Moncong dari besi mengkilap yang sejak tadi ditempelkan ke leher Soegondo, kini mendarat di pelipis dan dan dahinya. Soegondo jatuh tersungkur di hadapan Roeminah. Mereka tak kuasa menahan kepergian Soendari dan Moeryati yang diangkut ke atas truk. Entah dibawa ke mana oleh segerombolan tentara Nipon.
-o0o-
Kamar itu tanpa jendela. Hanya memiliki angin-angin berukuran dua puluh centimeter persegi. Udara pengap dan bau tidak sedap dari ceceran mani tentara Nipon bertebaran ke segala sudut ruang.
Soendari tergolek lemas di atas balai-balai kayu. Air matanya sudah habis untuk dia keluarkan lagi. Darah yang terus bergulir dari luka di keningnya akibat pukulan sebatang besi, sudah tak menyisakan perih.
Hati Soendari jauh lebih perih ketika dengan sekuat tenaga, dia tak mampu berontak dari perbuatan biadab manusia-manusia yang mengaku sebagai saudara tua bangsanya. Hari itu, tiga orang tentara Nipon telah menggagahinya. Merenggut kesucian dan mencabik-cabik kehormatannya sebagai seorang wanita.
Soendari merasa dirinya kini sangat hina dan menjijikkan. Kembang kampung Jagalan itu telah pupus. “Aku tak ubahnya seperti wanita pelacur,” batinnya.
Perlahan-lahan, Soendari bangkit dari pembaringan. Rasa sakit mulai terasa di bagian bawah perutnya. Cepat-cepat dia membetulkan kain jarit yang masih acak-acakan membalut tubuh. Terdengar suara gemeletuk dari lubang pintu kamar.
“Duh Gusti Allah… ambil saja nyawaku sekarang. Aku sudah tak sanggup kalau harus dipaksa lagi.” Dalam hati, Soendari kembali menangis kepada Tuhannya.
Dua lelaki Nipon memasuki ruangan. Salah satu dari mereka berpostur tegap dan memiliki sorot mata bengis. Di dada sebelah kiri lelaki itu, tergantung dua keping logam berbentuk bintang. “Pasti tuan ini adalah pemimpin mereka,” pikir Soendari.
“Bawa wanita ini keluar. Aku menginginkan adiknya!”
Lelaki yang diperintah, nampak membungkuk-bungkuk tanda hormat.
“Adikku!”
Soendari menjerit. Dia baru teringat jika Moeryati juga sempat ditangkap bersamanya. Namun, mereka belum pernah bertemu lagi semenjak diturunkan dari truk, lalu digelendeng ke petak-petak ruangan yang tak ubah seperti neraka.
“Ning!!!”
Terdengar teriakan Moeryati dari depan pintu. Gadis bau kencur itu sedang digelendeng dua lelaki berpakaian tentara Nipon.
“Tolong... tolong... aku takut, Ning!” tangis Moeryati kembali pecah saat tubuhnya didorong masuk ke dalam ruangan. Sementara seorang lelaki lainnya menyeret Soendari keluar.
Asu!
Akhirnya keluar juga kata-kata kotor dari bibir Soendari. Amarahnya seketika meledak, ketika mengetahui adik semata wayangnya akan diinjak-injak juga kehormatannya. Moeryati masih bocah ingusan. Hanya binatang yang mempunyai nafsu sebiadab ini.
Cuh!
Ludah Soendari melayang ke wajah tentara Nipon yang menyeret tubuh Moeryati.
Prak! Prak!
Keprukan gagang besi mengkilap akhirnya mengakhiri perlawanan Soendari. Tubuh moleknya jatuh tersungkur ke lantai.
Ketika tersadar, Soendari melihat samar-samar beberapa wanita sedang mengerumuninya. Ada yang menyeka luka di pelipis. Ada juga yang memijit-mijit kaki Soendari.
“Sabar, Ning”
Seorang wanita berpakaian kebaya dengan rambut digelung rapi, mencoba menguatkan hati Soendari. Wanita itu terlihat paling dewasa diantaranya teman-temanya. Soendari menerka-nerka, barangkali mereka adalah wanita-wanita yang senasib dengannya. Ditangkap paksa dari rumah, lalu dibawa ke tempat ini untuk dijadikan budak syahwat tentara Nipon. Jugun Ianfu.
-o0o-
Kasmoeri adalah anak semata wayang Roemini. Ayahnya sudah meninggal saat dia masih balita. Untuk menyambung hidup, Roemini terpaksa harus mencarikan Kasmoeri pekerjaan di saat usia bocah itu belum layak untuk menjadi kuli. Dititipkanlah Kasmoeri kecil kepada pemilik toko beras yang tinggal di kawasan pecinan Kapasan. Koh Akhiong.
Kasmoeri tak pernah mengenyam bangku Sekolah Rakyat. Ketika itu, hanya anak-anak orang berada; seperti bangsawan, pegawai; dan pedagang yang bisa bersekolah. Sedangkan rakyat jelatah seperti Roemini hanya bisa menyuruh anaknya mengaji di langgar kampung. Setidaknya bisa membaca dan menulis huruf Hijaiyyah.
Sepuluh tahun menjadi pekerja Koh Akhiong, Kasmoeri tumbuh menjadi sosok pemuda yang mulai bergejolak jiwa ketertarikannya pada lawan jenis.
Soendari, anak Soegondo, pelanggan beras di toko Koh Akhiong yang telah menggelorakan jiwa muda Kasmoeri. Namun belum sempat Kasmoeri mengutarakan perasaan pada Soendari, kedatangan bangsa Nipon di Surabaya merubah segalanya.
Semenjak kejadian pagi itu, saat Soendari dan adiknya ditangkap Nipon, Kasmoeri kelimpungan. Dia mencari kesana-kemari. Setiap orang yang dijumpai selalu ditanya; apakah pernah melihat segerombolan Nipon mengangkut gadis-gadis Surabaya?
Tak ada satupun yang mengetahui dimana keberadaan para Jugun Ianfu. Ada yang mengatakan mereka dibawa ke tangsi di daerah Lowokwaru, ada pula desas-desus yang mengatakan gadis-gadis itu dikirim ke Semarang dan Jakarta.
Pencarian Kasmoeri terhadap keberadaan Soendari akhirnya berujung pada rasa dendam dan amarah. Dia bersumpah akan membuat perhitungan dengan orang-orang Nipon pada suatu hari nanti.
Kasmoeri memutuskan bergabung dengan ajakan seorang guru ngaji untuk ikut berperang melawan bangsa asing yang menduduki dan menindas orang-orang Surabaya. Guru Kasmoeri, Cak Durrokhim mengatakan bahwa Mbah Hasyim Asy’ari, panutan mereka telah memberikan lampu hijau bahwa tak lama lagi beliau akan menyerukan Resolusi Jihad Fisabilillah melawan penjajahan bangsa asing.
-o0o-
Surabaya, Agustus 1945.
Kabar menyerahnya Jepang kepada Amerika Serikat dan sekutunya langsung tersebar ke segala penjuru negara-negara yang menjadi jajahannya, termasuk di Surabaya. Berita penandatanganan penyerahan tanpa syarat oleh Kaisar Hirohito menjadi perbincangan orang-orang.
“Nipon menyerah setelah negara mereka di bom oleh Amerika.” Ucap Koesno, teman Kasmoeri, ketika mereka berkumpul di rumah Cak Durrokhim.
“Apa nama kota yang dibom itu?” tanya Kasmoeri
Nogosakti.
“Seperti nama keris ya. Nogosakti.”
“Bersiaplah, Kas. Kita bergabung dengan arek-arek yang akan berangkat ke Koblen. Mblejeti bedhile Nipon!
Siang hari yang panasnya sungguh menggila itu, Koblen menjadi sasaran pelampiasan dendam penduduk Surabaya, atas penindasan Nipon selama tiga setengah tahun. Kasmoeri termasuk pemuda yang kesetanan. Dia berada di barisan terdepan, mengobrak-abrik bangunan peninggalan Belanda itu. Beruntung, dia selamat dari para penembak Nipon, meski teman-temannya banyak yang terluka dan meninggal dalam penyerbuan itu.
Gejolak mereda setelah melalui siaran radio, terdengar suara Bung Karno dan Bung Hatta di Jakarta meproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Sontak kata-kata MERDEKA membahana dimana-mana. Hampir di seluruh pelosok kampung di Surabaya, semua orang memekikkan kata itu. Cengkeraman dari bangsa-bangsa yang kejam dan biadab selama tiga setengah abad telah berakhir.
-o0o-
Matahari baru saja menampakkan diri di langit timur Surabaya. Kabut masih menyelimuti jalan-jalan yang lengang. Tetapi, sepagi itu, Kasmoeri sudah berjalan kaki dari rumahnya di Keputran hendak menemui Koh Akhiong di Kapasan. Sampai di Tunjungan, dia melihat ratusan orang sudah berkerumun di depan bangunan megah yang ditempati orang-orang Belanda. Di puncak sebuah tiang, terlihat sedang berkibar bendera merah putih biru. Orang-orang menjadi marah. Mereka menganggap Belanda telah menghina kemerdekaan Indonesia. Kasmoeri merangsek ke tengah kerumunan, ikut mengepung bangunan yang pada satu sisi temboknya terpampang tulisan  Yamato Hoteru.
“Asu tenan, Londo!” teriak Kasmoeri.
Tiga orang menerobos masuk ke dalam gedung. Kasmoeri dan ratusan orang menunggu di luar. Beberapa menit kemudian, terdengar suara tembakan dari dalam gedung. Sontak, kerumunan massa semakin terbakar amarahnya.
Kasmoeri memungut sebongkah batu, lalu melemparkan ke arah kaca gedung. Disusul lemparan-lemparan batu dari ratusan orang lainnya. Tak berselang lama, nampak dua lelaki memanjat bangunan Yamato Hoteru.
“Terus… terus... sedikit lagi, Cak!”
Kasmoeri berteriak-teriak seperti orang kesurupan.
“Jaga di bawah. Jangan biarkan ada orang Belanda yang keluar dari gedung!”
Seluruh orang yang berkerumun pagi itu bergidik. Dengan gagah perkasa, dua lelaki muda yang memanjat gedung berhasil menurunkan bendera Belanda. Mereka merobek warna birunya, menderek lagi bendera dengan sisa warna merah putih yang lantas berkibar-kibar di atas Yamato Hoteru.
“Merdeka!” Pekik mereka dengan bibir bergetar karena haru.
-o0o-
Satu bulan berlalu. Berita kedatangan bangsa selain Belanda dan Nipon di Surabaya langsung tersebar. Pasukan Inggris mendarat dengan tujuan mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan. Orang-orang menyebutnya sebagai londo ireng. Amarah penduduk Surabaya kembali tersulut. Kerusuhan pecah dimana mana.
“Hati-hati, Kas!” Pesan Koesno.
“Dendamku belum tuntas. Hilangnya Soendari masih meninggalkan luka di dada ini, Koes!” Jawab Kasmoeri.
Pagi itu, kabar bahwa Brigadir Jendral Mallaby, Komandan Militer Inggris melakukan patroli keliling Surabaya untuk mengumumkan gencatan senjata sudah terdengar sejak Subuh. Beberapa saat setelah menunaikan ibadah shalat dua rakaat, kabar itu diteruskan dari satu langgar ke langgar lain.
Kasmoeri termasuk pemuda yang berniat membelot dari arahan Cak Durrokhim, pemimpin laskar pejuang Surabaya agar semua menahan diri. Dia berencana mencegat patroli orang-orang Inggris.
Selepas Subuh, ketika kabut yang membekap jalan-jalan di Surabaya belum sirna, Kasmoeri telah sampai di Jembatan Merah. Dia menyelinap di balik rerimbunan pohon glagah yang tumbuh di pinggir sungai. Sebatang besi laras panjang yang dirampas dari tentara Nipon sudah siap dibidikkan olehnya.
Beberapa saat menunggu, terdengar deru suara mobil dari jarak sekitar seratus meter menuju Jembatan Merah. Napas Kasmoeri mulai naik turun tidak beraturan. Dia mengarahkan moncong senapan ke atas jembatan. “Kali ini, dengan sekali bidik, akan tersungkur kau, Mallaby!” Pikir Kasmoeri.
Suara mobil semakin mendekat. Kasmoeri sudah bisa melihat dengan jelas orang yang berada diatas mobil terbuka itu. Namun, hanya dalam hitungan beberapa detik, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara rentetan tembakan dari arah yang lain.
“Asu… ternyata arek-arek juga menyerang. Aku tidak diajak!” Umpat Kasmoeri.
Terjadi baku tembak beberapa saat. Kasmoeri tidak tahu berapa jumlah arek Surabaya yang mengepung Jembatan Merah pagi itu. Dia ikut melepaskan tembakan dengan membabi buta. Entah peluru siapa yang menembus tubuh Mallaby. Jendral Inggris itu terkapar meregang nyawa.
Kematian yang membuat Inggris marah besar. Satu hari paska insiden di Jembatan Merah itu, Inggris mengirim empat puluh ribu tentara ke Surabaya.
-o0o-
Robert Mansergh, seorang jendral Inggris yang menggantikan posisi Mallaby, mengeluarkan ultimatum; semua orang Indonesia yang bersenjata wajib melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan, lalu menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas kepala. Batas ultimatum adalah tanggal 10 November 1945 pukul enam pagi.
Surabaya kembali mencekam.
“Lebih baik Surabaya hancur lebur, daripada dijajah lagi!” Ucap Gubernur Jawa Timur, R.M. Suryo melalui siaran Radio Republik Indonesia Surabaya pada tengah malam menjelang batas ultimatum Inggris.
Beberapa jam kemudian, pemimpin Laskar Jihad Surabaya, Bung Tomo menegaskan pidato sang gubernur. Petikan kalimat Basmallah dan Takbir malam itu membakar semangat arek-arek Surabaya.
“Allahu Akbar!” Teriak Kasmoeri.
Serentak, teman-temannya yang berkumpul di rumah Cak Durrokhim yang menjadi markas mereka membalas dengan pekikkan yang sama.
Keesokan harinya, 10 November 1945, kota Surabaya dikepung dan dibombardir meriam pasukan Inggris dari segala penjuru; darat, laut dan udara.
Surabaya Melawan!
Bersama ribuan pemuda dan rakyat Surabaya lainnya, Kasmoeri kembali kesetanan. Lagi-lagi, dia berada di barisan paling depan. Kasmoeri membabi buta, menembaki setiap orang berseragam tentara Inggris yang dilihatnya. Tak terhitung berapa kali letusan besi laras panjang miliknya menghabisi musuh. Hingga akhirnya, sebuah rasa panas dan nyeri di lambung, menghentikan amukannya.
Kasmoeri merebahkan tubuh pelan-pelan. Dia merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba mengalir keluar dari balik bajunya.
“Kasmoeri!”
Teriak Koesno sambil menyeret tubuh Kasmoeri berlindung.
Rasa nyeri dan panas dingin yang berasal dari rembesan darah di lambung kasmoeri, kini membuat wajah pemuda itu memucat. Tubuhnya mulai menggigil. Pandangan matanya mengabur. Samar-samar, dia masih bisa mendengar dentuman meriam dan suara letusan senapan.
Perlahan-lahan, tatapan mata Kasmoeri tertutup oleh warna bianglala yang turun dari langit Surabaya. Pancaran warna itu menghampiri tubuhnya. Nyeri yang dirasakannya mendadak hilang. Berganti rasa hangat dan nyaman. Sekejap kemudian, dari atas mega-mega, Kasmoeri bisa melihat ribuan arek Surabaya sedang berjuang hidup mati, mempertahankan setiap jengkal tanah pertiwi.
Di sudut lain, Kasmoeri juga melihat seorang gadis dengan rambut digelung sedang sibuk menyiapkan obat-obatan ala kadarnya, lalu mengguncang-guncang tubuhnya yang membujur kaku.
“Soendari, kaukah itu?”
Dari atas mega-mega pula, Kasmoeri menyaksikan tanah kelahirannya, Surabaya, menjadi bulan-bulanan hujan meriam pesawat-pesawat tempur Inggris.

(Heru Sang Amurwabhumi)
Member of One Day One Post

Catatan:
Jughun Ianfu = Wanita yang dipaksa menjadi pemuas nafsu selama pendudukan tentara Jepang; Nipon = Sebutan lain untuk bangsa Jepang; Pemimpin Asia = Klaim Jepang yang menyebut mereka sebagai pemimpin bangsa-bangsa Asia; Sing ati-ati yo, Ning. Nipon mblader tuk endi-endi = Berhati-hatilah, mbak. Jepang bertebaran dimana-mana; Suwun = Terima kasih; Ndoro = Tuan; Kulo mboten gadah yoga putri = Saya Tidak punya anak perempuan; Asu = Anjing; tangsi = Markas militer; Resolusi Jihad Fisabilillah = Fatwa yang dikeluarkan oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai sikap Nahdlatul Ulama bahwa hukum mempertahankan kemerdekaan adalah wajib; Nogosakti = Maksudnya adalah Nagasaki, salah satu kota di Jepang, selain Hiroshima, yang dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat; Koblen = Nama penjara buatan Belanda, kemudian dialih fungsikan menjadi markas tentara Jepang; mblejeti bedhile Nipon = Merampasi senapan Jepang; Yamato Hoteru = Hotel Yamato, sekarang bernama Hotel Majapahit di jalan Tunjungan, Surabaya; tenan = sungguh.

4 komentar:

  1. Merinding bacanya mas Heru. Keren sekali... Ajari dong nulis sekeren ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wehehe ...
      justru saya yang harus minta ajar ke Kang Wakhid ini.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Aishhh ... ini tulisan ngasal, saat masih jadi siswa ODOP

      Hapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *