Kamis, 05 Januari 2017

MAKAR ALA PRABU WEL GEDUWEL BEH – REFLEKSI GEJOLAK POLITIK TANAH AIR



Prabu Wel Geduwel Beh (Petruk)


Pandawa kelabakan!

Jamus Kalimasada hilang dari gedung tempat penyimpanan pusaka. Kehilangan jimat ini artinya Pandawa lumpuh karena hilang kebijaksanaan dan kemakmuran. Kejahatan dan angkara murka akan timbul dimana-mana.

Pusaka ini dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Pandawa menugaskan Bambang Irawan (putra Arjuna) dengan dikawal Petruk untuk merebut kembali Jamus Kalimasada dari Mustakaweni.

Singkat cerita, pusaka tersebut berhasil direbut Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk.

Dalam perjalanan pulang, Petruk bertemu Adipati Karna yang ternyata juga berhasrat memiliki jimat tersebut. Terjadi pertarungan memperebutkan Jamus Kalimasada.

Petruk ditusuk dengan keris Kyai Jalak yang ampuh. Mati.

Datanglah ayahnya, Begawan Salantara (Gandarwa). Dengan kesaktiannya, Petruk dihidupkan lagi. Ayahnya berkata ingin menolong Petruk untuk mendapatkan kembali Jamus Kalimasada. Ia lalu berubah wujud menjadi Prabu Duryudana, raja Astina, ipar Adipati Karna.

Ketika bertemu Adipati Karna, Duryudana palsu meminta Jamus Kalimasada. Basukarna pun menyerahkannya. Pusaka tersebut oleh Gandarwa kemudian diberikan lagi kepada Petruk. Dia berpesan agar sepeninggalnya nanti Petruk meletakkan Jamus Kalimasada di atas kepala.

Keajaiban terjadi!

Setelah menuruti nasehat tersebut, Petruk menjadi sakti mandraguna, tidak mempan senjata apapun.

Petruk mencari Karna, lalu mengalahkannya. Dalam usaha pencarian Karna, Petruk terpisah dengan Bambang Irawan. Ia pergi mengembara ke berbagai negeri dan menaklukkannya.

Salah satu negeri yang ditaklukkan itu adalah Ngrancang Kencana atau negeri Sonya Wibawa. Petruk menjadi raja disana, bergelar Prabu Wel Geduwel Beh.

Setelah pelantikan, Prabu Wel Geduwel Beh kembali melanjutkan petualangan. Bersama pasukan Ngancang Kencana, ia mengobrak-abrik  Amarta dan Mandura.

Petruk berniat melakukan MAKAR kepada Pandawa!

Mendengar berita itu, raja Dwarawati Prabu Kresna meminta Kyai Lurah Semar Badranaya agar menaklukkan Prabu Wel Geduwel Beh. Oleh Semar, Gareng dan Bagong diperintahkan untuk menyelesaikan masalah ini.

Berangkatlah dua momongan Semar. Sampai dihadapan Prabu Wel Geduwel Beh, terjadi peperangan sengit antara Prabu Wel Geduwel Beh dengan Gareng dan Bagong.

Peperangan berlangsung alot, belum ada yang keluar sebagai pemenang sampai ketiganya berkeringat.

Saat itulah Gareng dan Bagong bisa mengenali bau keringat musuhnya. Keduanya yakin bahwa orang yang sedang bertarung dengan mereka itu sesungguhnya adalah Petruk

Maka mereka tidak lagi bertarung kesaktian tetapi justru bercanda, menari bersama, dengan berbagai tembang. Prabu Wel Geduwel Beh merasa dirinya kembali ke habitatnya, lupa bahwa dia memakai pakaian kebesaran kerajaan.

Setelah ingat, ia segera lari meninggalkan Gareng dan Bagong. Prabu Wel Geduwl Beh dikejar oleh Gareng dan Bagong dan tertangkap. Sang prabu dipeluk Gareng dan digelitik oleh Bagong sampai kembali ke wujud aslinya sebagai Petruk.

Datanglah Prabu Kresna bersama Kyai Lurah Semar, lalu menginterograsi Petruk, mengapa ia melakukan tindakan MAKAR seperti itu?

Petruk beralasan bahwa tindakan itu untuk mengingatkan bendara-nya (majikannya) bahwa segala perilaku harus diperhitungkan terlebih dahulu. Semisal saat para Pandawa membangun candi Sapta Arga, kerajaan ditinggal kosong sehingga kehilangan Jamus Kalimasada.

Juga kepada Bambang Irawan, jangan mudah percaya kepada siapa saja. Kalau diberi tugas harus diselesaikan sampai tuntas. Jangan dititipkan kepada siapapun.

*****

MAKAR-nya Petruk kepada Pandawa adalah refleksi isu politik yang menghangat beberapa bulan terakhir ini di tanah air.

Beberapa tokoh nasional ditangkap Bareskrim Polri dengan sangkaan makar dan permufakatan jahat.

Apa sebenarnya yang menjadi motiv mereka?

Seperti Petruk, mungkin tokoh-tokoh yang kini berstatus tersangka itu ingin memberi peringatan kepada bendaranya (Presiden). Hanya saja caranya yang kebablasan. Melanggar UU Subsersiv.

Apakah Jamus Kalimasada negeri ini juga hilang?

Bisa jadi. Jimat itu adalah simbol kejayaan, kedamaian dan toleransi sebuah negeri. Bhinneka Tunggal Ika kalau di negeri kita. Jamus Kalimasada bisa juga diartikan sebagai ajaran suci (agama). Seperti yang kita ketahui, gonjang ganjing negeri ini mencapai puncaknya ketika ada kasus penistaan agama.

Isu Makar dalam arti yang lain (tanpa kekuatan besar seperti Prabu Wel Geduwel Beh) pun berhembus bersamaan dengan moment itu.

Lalu, siapa yang bisa menjadi Kresna dan Semar di negeri ini?

Dulu kita punya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang bisa menjadi pamomong bagi keberagaman perbedaan. Sosok beliau yang bertubuh tambun dan suka mbanyol memang identik dengan tokoh Semar dalam wayang.

Tetapi, sekarang negeri ini sepertinya benar-benar telah kehilangan Jamus Kalimasada dan sosok Semar sang pamomong. Kita juga tak punya lagi tokoh seperti Kresna yang adil, bijak, namun sangat tegas.

Sampai kapan?

Wallahu Alam Bishawab.

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

2 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *