Jumat, 26 Januari 2018

RATU PANDHANSARI PENGHANCUR GIRI KEDHATON




Sigêg kang wus pacak baris / para wadya Surabaya / angêpung Giri kadhaton / sanega kapraboning prang / gantya kang kawuwusa / wau ta Giri sang wiku / sampun ingaturan wikan.

Lamun Kangjêng Pangran Pêkik / saha garwa ngêpung kitha / anglir samodra balane / (m)balabar ngêbêki papan / tiyang ing Ngargapura / jalu èstri samya bingung / kadya gabah ingintêran.

Terjemahan bebas versi Heru Sang Mahadewa:
Terhenti laju barisan prajurit dari pasukan Surabaya. Mereka mengepung Giri kedhaton. Semua telah siaga untuk berperang melawan Prabhu Giri.

Kisah berganti kepada yang berkuasa di Giri. Sang ulama telah mengetahui dari laporan yang ia terima bahwa Kangjeng Pangeran Pekik beserta sang istri telah mengepung kota.

Kedatangan pasukan Surabaya itu bagai gelombang samudra, menghempas dan tumpah memenuhi segala penjuru. Orang-orang di Ngargapura, laki-laki perempuan, semua kebingungan. Mereka berhamburan, tak ubahnya seperti butir-butir padi yang dikocok di dalam loyang.

(Serat Centhini : 12 – Asmaradana)

-o0o-

Kabut yang membekap tapal batas Tandhes dan Kadipaten Giri belum sepenuhnya tersingkap. Lepak embun di dedaunan sambi juga masih enggan menguap. Jejak fajar baru saja memudar.

Tetapi, sepagi itu, bunyi genderang telah ditabuh dari Tandhes. Berbalas sahutan dengan tiupan sangkala yang terdengar dari arah Giri. Perang hari kedua sudah dimulai. Perang antara pasukan Surabaya yang diperintahkan Mataram menghukum mangkirnya pemangku kadipaten di pesisir utara Brang Wetan dari pasowanan agung, melawan laskar Giri Kedhaton.

“Siapa senopati itu?”

“Sepertinya seorang wanita, Kangjêng.”

“Surabaya memiliki Srikandi?”

“Entahlah. Amukannya membuat pasukan kita tercerai berai, Kangjêng.”

Endrasena mengibaskan baju zirahnya. Mata senopati laskar Giri asal Tiongkok itu tak berkedip menatap ke tengah barisan pasukan Surabaya. Di atas punggung seekor kuda, nampak seorang wanita dengan gigih menyabetkan pedang kepada setiap lawan yang menghadangnya.

Entah apa yang terjadi pada perang hari kedua itu. Pasukan Surabaya seperti singa yang lapar. Amukan mereka bagai banteng ketaton. Sungguh mengerikan. Satu per satu prajurit laskar Giri berjatuhan. Kehadiran seorang senopati wanita di tengah-tengah prajurit Surabaya, seperti guyuran hujan di musim kemarau panjang. Setelah pada perang hari pertama menelan kekalahan, kini mereka balik memukul.

Melihat laskar Giri porak poranda, Endrasena menggebrak kudanya. Dua pedang kembar di tangannya berkelebatan. Prajurit-prajurit Surabaya yang terkena sabetan, langsung terrsungkur menemui ajal. Sebagian sisanya, langsung berhamburan menyingkir, tak sanggup melawan amukan Endrasena.

Berjarak dua ratus tombak dari posisi Endrasena, senopati pasukan Surabaya mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Wukir Jaladri … wukir jaladri … wukir jaladri!”

Sontak, ratusan prajurit Surabaya langsung membentuk gelar tempur seperti yang diperintahkan senopati mereka.

Kini, wanita yang duduk dengan berkacak pinggang di atas punggung kudanya itu ganti menatap tajam ke arah Endrasena.

“Pulanglah ke negerimu. Jangan campuri urusan Mataram dengan Giri!”

“Aku berperang demi menegakkan kekhalifahan di tanah Giri!”

“Belum terlambat bagimu untuk meletakkan pedang. Atau darahmu akan menjadi tumbal dari keberanian Giri menentang Kangjêng Sultan di Mataram!”

“Lebih baik mati syahid, daripada mengikuti raja yang thagut!”

Ucapan Endrasena terdengar bagai petir di siang hari. Menggelegar, menyambar, dan memanaskan telinga senopati Surabaya.

“Kupegang kata-katamu, senopati. Aku, Ratu Pandhansari bersumpah; hari ini akan kukirim kau ke jalan syahidmu!”

Senopati wanita itu melepas pengikat gelungnya. Seketika, rambut panjangnya jatuh tergurai. Sebagian menutupi pipi yang merona-rona, sebagian lagi berkibas-kibas di terpa angin mangsa Palguna.

Kini, semua mata terbelalak melihat pemandangan di hadapan mereka. Sosok jelita di atas punggung kuda itu tak ubahnya seperti Amba yang sedang menantang Bhisma. Ia mencabut sebuah cêtbang dari balik baju. Sorot matanya yang tajam kian memerah, memancarkan amarah yang enggan tidak tumpah.

Cêtbang itu dibidikkan ke arah Endrasena. Sejurus kemudian, terdengar sebuah ledakan, disusul dengan desingan peluru yang melesat meninggaalkan ujung cetbang. Hanya sekedipan mata, tiba-tiba darah telah mengucur dari tangan kanan Endrasena. Senopati laskar Giri itu terkejut hingga pedangnya terlepas.

Namun, bukan Endrasena jika menyerah sampai di situ. Ia menggebrak kudanya sambil mengacungkan keris di tangan kiri.

Seratus tombak sebelum mendekati gelar tempur wukir jaladri pasukan Surabaya, terdengar lagi letusan cêtbang. Tangan Endrasena kembali berdarah. Kali ini berganti tangan kiri yang terluka.

Endrasena terjatuh dari kudanya. Ratu Pandhansari memberi isyarat agar prajuritnya memberi jalan kepada Endrasena.

Begitu gelar tempur terbuka, tumbuh lagi nyali Endrasena. Dengan dua tangan berlumuran darah, ia masih juga memaksa mengamuk dengan menendang-nendangkan kaki.

Tak berlangsung lama, Ratu Pandhansari kembali membidikkan cêtbang. Kali ini tepat mengenai dada Endrasena. Senopati Giri roboh dan tak mampu berdiri lagi.

Endrasena jatuh tersungkur di hadapan pasukannya. Melihat senopatinya meregang nyawa, runtuh nyali para prajurit laskar Giri.

Sebaliknya, pasukan Surabaya kian berada di atas angin. Mereka menerjang sisa-sisa barisan laskar Giri yang telah porak-poranda, bagai membabat rerimbunan ilalang. Laskar Giri lari pontang-panting sambil membuang pedang.

Di tengah palagan itu, tak tersisa satu pun prajurit laskar Giri. Pasukan Surabaya bersorak bersahut-sahutan, merayakan kemenangan pada perang hari kedua. 

Kedhaton Giri dikepung, Prabhu Giri ditangkap dan dibawa menghadap Ngarsa Dalêm Sinuwun Sultan Agung.

Tetapi sebelum itu terjadi, tak terlihat oleh siapa pun, para putri Prabhu Giri, yang berasal dari istri selir, diam-diam telah meninggalkan kedhaton.

Mereka adalah Raden Ayu Jayengresmi, Raden Ayu Jayengsari, dan Raden Ayu Rancangkapti. Nahas, putri sulung, Jayengresmi terpisah dengan kedua adiknya, Jayengsari dan Rancangkapti.

Giri Kedhaton runtuh. Kisah pelarian panjang putri-putri Prabhu Giri telah dimulai.

(Heru Sang Mahadewa)
Member of One Day One Post

Cerpenisasi naskah Centhini.

1 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *