Jumat, 02 Februari 2018

PUNTADEWA MOKTA ING INDRABHAWANA (2)





Berbeda dengan kereta di arcapada yang lazim ditarik sepasang kuda, kereta kencana yang membawa Puntadewa dari gerbang Indrabhawana menuju swarga ditarik oleh seekor gajah putih bernama Airawata. Ia adalah gajah penghuni Kahyangan Tejamaya. Kahyangan yang menjadi kedhaton Bhatara Indra.

Rupanya kedatangan Puntadewa telah ditunggu oleh Bhatara Narada di swarga. Turun dari kereta kencana, ia diajak menyusuri jalan yang dipenuhi kembang beraneka warna. Aroma harum tumbuhan swarga berkelindaran di udara.

Mata Puntadewa terbelalak, manakala melewati sebuah persimpangan, ia menangkap pemandangan menakjubkan. Sebuah puri berdiri kokoh, lengkap dengan Bale Witana. Di dalam wandapa yang lebih megah dari kedhaton Hastina dan Amarta itu, nampak sesosok manusia sedang duduk di atas singgasana bertahta emas. Tak jauh dari palinggih raja, pada hamparan meja besar, teronggok berlimpahnya makanan dan minuman nan lezat.

Serta merta Puntadewa menelan ludah. Jika ingatannya tidak memudar, sudah delapan puluh hari delapan puluh malam, semenjak berangkat dari Hastina menuju puncak gunung Jamurdipa, ia menjalani tirakat. Lahir maupun batin. Naluri dahaga manusiawinya terpantik seketika. Tetapi buru-buru lenyap, manakala ia bisa mengenali sosok yang ada di dalam puri. Sosok yang tak asing baginya.

Duryodhana?

Nama itu terlontar dari bibir Puntadewa. Iya, ia memang bisa melihat dengan jelas, Duryodhana sedang duduk dikelilingi banyak perempuan cantik. Bidadari tentunya, pikir Puntadewa.

Kenapa Duryodhana yang beperingai angkara murka, yang telah menabrak segala pagar batas kebolehan mengusik saudara, bahkan telah terang-terangan memutus dadung kerukunan wangsa Bharata untuk meuaskan ambisi duniawinya, sekarang justru duduk di singgasana itu dengan bergelimang kebahagiaan?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus membuncah di dada Puntadewa.

“Aku tahu, apa yang sedang bergelayut di pikiranmu, kulup. Di swarga, tidak ada perbedaan siapa pemenang dan siapa yang kalah pada Bharatayuda. Setiap manusia yang telah menjalankan dharma sebagai kesatria Kuru Setra, akan diangkat derajatnya. Mereka berhak hidup kekal di sini.”

Bathara Narada mengelus dagunya yang ditumbuhi jenggot ubanan.

Puntadewa mengangkat sembah, “Hamba, pukulun. Apakah Kurawa pantas disebut sebagai kesatria?”

“Duryodhana dengan gagah berani telah mampu mencapai tingkatan itu karena dharma kesatriaanya, meskipun dia berada di pihak Kurawa. Pihak yang menurut sudut pandang manusia mewakili watak angkara.”

Untuk kedua kalinya, Puntadewa menyembah. “Jika demikian, kenapa Dewata membiarkan Bharatayuda pecah? Kenapa darah sesama wangsa Bharata harus saling ditumpahkan?”

“Bharatayuda bukan sekedar perang antara dharma melawan angkara. Tetapi ia adalah inti dari perjalanan hidup manusia itu sendiri.” Bhatara Narada melanjutkan pituturnya, “Tinggallah di sini, kulup.”

Puntadewa tidak serta merta bisa menerima penjelasan Bhatara Narada. “Lalu, di mana sekarang istriku dan empat putra ramanda Pandu lainnya?”

“Drupadi, Wrêkudhara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa sedang menjalani pembersihan jiwa atas dosa-dosa mereka selama menjalankan dharma di arcapada, kulup.”

“Hamba, pukulun. Tiada sejengkalpun tanah di swarga ini yang pantas hamba pijak, jika hamba tidak bersama mereka.”

Bhatara Narada mengangguk-angguk, lalu menebar senyuman ke arah Puntadewa.

“Baiklah. Kulup Puntadewa akan diantar Dewata untuk menemui mereka.”

Sekedipan mata kemudian, sosok Dewata bertubuh tambun itu berlalu dari hadapan Puntadewa. Kecepatan langkahnya bagai laju sinar bagaskara. Indera penglihatan Puntadewa tak mampu mengikutinya. Bhatara Narada seolah lenyap begitu saja.

-oo0oo-

Tak jauh dari sebatang pohon waringin, Puntadewa duduk sedemikian rupa hingga tubuhnya sempurna membentuk posisi siddhasana. Sementara, kedua telapak tangan putra tertua Prabhu Pandu itu tertangkup rapat dalam sikap Anjali Murda.

Dalam hitungan lima, sepuluh, dua puluh, dan tiga puluh hembusan napas kemudian, suksma Puntadewa kembali melesat meninggalkan alam kasunyatan.

Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, kali ini Puntadewa disuguhi pemandangan yang sangat mengerikan. Jalan yang ia lalui bukan hanya licin dan sempit, namun juga gelap gulita tanpa sepercik cahaya pun. Hanya sesekali saja, dari ujung yang entah seberapa jauhnya, terlihat kilatan dari nyala api. Bau busuk yang lebih busuk dari bangkai juga menghajar indera penciumannya.

Puntadewa nyaris tidak mampu melihat apa-apa. Ia hanya mengandalkan kedua tangannya yang meraba-raba tebing di sisi jalan. Semakin lama ia berjalan, bau busuk kian menusuk hidungnya.

Setelah merayap sekian lama, Puntadewa sampai di ujung kegelapan. Di hadapannya terpampang sebuah mulut goa, di mana kobaran api yang seram menjilat-jilat seluruh ruangan dalam goa.

Puntadewa mundur beberapa langkah, manakala di balik benderangnya nyala api, matanya menangkap pemandangan yang memilukan. Bangkai-bangkai hewan bertumpang tindihan dengan mayat manusia di sana. Sebagian dari mayat-mayat itu, hanya tinggal tempurungnya. Sebagian lagi memamerkan isi perut yang terburai.

Mendadak terdengar jeritan dari balik kobaran api yang menyeramkan itu, “Samiaji … Samiaji … Samiaji!”

Puntadewa mencoba memasang indera pendengarannya lebih tajam. Samiaji adalah nama kecilnya. Siapa gerangan yang memanggilku?

“Tolonglah kami. Kehadiranmu telah mampu membuat derita kami berkurang. Lihatlah, Samiaji. Siksa yang kami jalani ini mendadak terhenti.”

Suara-suara itu terdengar bukan hanya satu orang. Tetapi ia diteriakkan oleh beberapa orang yang terus bersahut-sahutan.

Lambat laun, ingatan Puntadewa bisa menangkap bahwa suara itu adalah milik Drupadi, Wrêkudhara, Arjuna, Nakula, dan sadewa.

Seketika, Puntadewa menjerit!

Batinnya memberontak. Dharma hidup macam apakah yang ia jalani selama ini?

Bagaimana mungkin, Drupadi dan Pandawa yang senantiasa menjalani tirakat, mendekatkan diri kepada Sang Maha Suci sepanjang hidup mereka, justru berakhir di neraka?

Dalam puncak ketidakterimaan atas pemandangan yang terpampang di hadapannya, Puntadewa meratap, “Jagad Dewa Bhatara, jika semua dharma selama hidup hamba bisa menggantikan mereka di neraka, biarlah hamba yang menjalani siksaan. Angkatlah mereka dari penderitaan ini.”

Tubuh Puntadewa terjatuh dalam posisi bersimpuh.

“Bangunlah, kulup.” 

Sebuah tepukan di pundak, membangunkan Puntadewa dari samadhi. Ketika membuka mata, ia melihat Bhatara Yama, Bhatara Indra, dan Bhatara Narada telah berdiri di hadapannya. Samar-samar, ia juga mencium semerbak aroma harum yang tertebar dari tempat di sekelilingnya.

“Ketahuilah, kulup. Ada waktu, di mana perjalanan suksma para kesatria yang telah mokta, harus merasakan penderitaan dan siksaan beberapa saat di neraka. Itulah yang sedang kulup lihat atas semua yang dialami Kurawa di swarga, juga Pandawa di neraka.”

Bhatara Narada kembali bertutur. Yang diajak bicara hanya menghela napas panjang, sembari mengangkat sembah untuk kesekian kalinya.

“Hamba, pukulun.”

“Swarga dan neraka sejatinya hanyalah pralambang. Kewajiban manusia sekadar menjalankan dharma. Manakala kulup memikirkan itu, maka dharma kulup bukan tertuju kepada Sang Pencipta, melainkan terpasung pada tujuan swarga neraka semata, tempat yang sejatinya hanya hak Sang Hyang Tunggal untuk menetapkan penghuninya.”

Puntadewa kembali memejamkan mata. Untuk beberapa lama, ia biarkan air mata membasahi pipinya.

Heru Sang Mahadewa
Member of One Day One Post

1 komentar:

  1. Tulisan mas heru mah selalu membuat saya kagum. Saya yang minim pengetahuan tentang dunia perwayangan jadi bisa belajar dari tulisan mas.

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *