This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 25 April 2017

PAMOKSAN SANGGRAMAWIJAYA DHARMAPRASADA UTUNGGADEWI




Hari belum memasuki surup. Perjalanan saya dari Surabaya menuju tanah kelahiran di bumi Anjuk Ladang masih separuhnya. Sengaja, saya singgah di sebuah wilayah yang banyak menyimpan jejak-jejak Bathara Erlangga (Airlangga), pendiri kerajaan Kahuripan. Wilayah ini ada di perbatasan dua Kabupaten di Jawa Timur. Jombang dan Lamongan.

Saya berhenti di pertigaan Kudu, Jombang, ketika mendung tampak bergelayut di atas Cakrawala. Setiap bentangannya hanya memampangkan warna pekat. Ia seperti mengingatkan bahwa tak lama lagi akan menjatuhkan jutaan kubik tirta amerta. Sontak, saya memacu sepeda motor lebih kencang. Berpacu dengan hujan yang nyaris turun.

Tempat yang saya tuju adalah pertapaan gunung Pucangan. Berjarak sekitar sepuluh kilometer dari jalan raya Kudu. Secara administrasi, situs religi ini masuk Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Jalanan yang saya tempuh cukup menantang. Meski beraspal, namun lubang yang menganga di sana sini membuat adrenalin berpacu lebih cepat. Belum lagi ditambah tanjakan dan turunan curam. Kewaspadaan dituntut senantiasa berada pada level tertinggi.

Sampai di pertigaan Desa Cupak, jalur menuju puncak gunung Pucangan lebih ekstrim lagi. Selain sepi, hanya rerimbunan belukar dan lebatnya hutan tropis yang terpampang di kanan kiri jalan. Kondisi jalan berbatu makadam juga menambah nyali kian diuji. Beruntung, setiap jarak sekitar lima ratusan meter, terdapat warung-warung yang penjualnya senantiasa menyapa dengan ramah. Meski saya tidak sempat singgah dan bercakap-cakap, namun dari gestur wajah dan tubuh mereka, bisa dipastikan para penjual itu siap menjadi penolong jika ada orang yang buta jalur menuju puncak gunung Pucangan.

Setelah melewati hutan tropis yang lumayan lebat, akhirnya saya menjumpai sebuah lahan parkir yang cukup luas. Beberapa warung makan dan minum ada di sana. Tempat itu adalah titik persinggahan terakhir sebelum menuju pertapaan gunung Pucangan.

GUNUNG PUCANGAN DI MASA LAMPAU
Pertapaan gunung Pucangan, sebenarnya adalah tempat dimana dahulu sinuwun Bathara Erlangga bertapa-brata, ketika beliau menjalani pelarian selama dua tahun.

Pada malam pernikahannya dengan Dewi Galuh Sekar Kedahaton, puteri Bathara Ring Medang----raja di Medang----Dharmawangsa Teguh, kota Watan (Maospati, Magetan, Jawa Timur sekarang) diserang oleh pasukan Aji Wura Wari, penguasa Lwaram (Ngloram, Blora, Jawa Tengah sekarang).

Dalam tragedi yang disebut Pralaya Medang (prasasti Pucangan/Calcutta Stones) itu, Dharmawangsa Teguh beserta permaisuri dan seluruh punggawanya tewas. Kota Watan menjadi lautan api. Istana Medang diratakan dengan tanah. Pasangan pengantin, Erlangga muda dan Galuh Sekar Kedhaton berhasil lolos dari pembunuhan setelah diselamatkan abdi kinasihnya, Narottama dan Ken Bayan.

Selama pelarian, Erlangga keluar masuk hutan dan gunung. Dari Watan, mereka menuju gunung Lawu, Wonogiri, gunung Wilis, gunung Klotok, gunung Mas Kumambang, gunung Tunggorono hingga akhirnya sampai di kabuyutan Sidayu di Girisik (Sedayu, Gresik, Jawa Timur sekarang).

Dewi Galuh Sekar Kedhaton dititipkan di rumah Ki Buyut Sidayu, pemangku wilayah itu. Ken Bayan diperintahkan kembali ke Watan untuk mengumpulkan sisa-sia loyalis mendiang Bathara Dharmawangsa Teguh. Sementara Erlangga dan Narottama melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat yang menurut pawisik niskala----bisikan ghaib----adalah tempat suci. Gunung Pucangan.

Bathara Erlangga menjalani tapa brata di puncak gunung yang merupakan rangkain dari pegunungan kapur Kendeng. Dua tahun kemudian, dia menjelma menjadi sosok kesatria digdaya, konon adalah titisan Sang Hyang Wisnu (Dewata pemelihara perdamaian dan kelestarian alam semesta). Lwaram ditaklukkan, kemudian menantu Bathara Dharmawangsa Teguh itu mendirikan negeri baru di Watan Mas, daerah lereng gunung Pawitra, bernama Kahuripan.

Dari lereng gunung Pawitra (Penanggungan, Mojokerto dan Pasuruan, Jawa Timur sekarang), ibu kota Kahuripan pernah mengalami beberapa kali pemindahan. Diantaranya ke utara Bengawan Porong (Sidoarjo, Jawa Timur sekarang), Patakan (desa Pataan, kecamatan Sambeng, Lamongan, Jawa Timur sekarang) hingga terakhir di Dahanapura/Daha (sekitar kota Kediri, Jawa Timur sekarang).

Saat bertahta di kota Daha inilah, pada Saka Warsa 964 (1042 Masehi), Bathara Erlangga turun dari Singgasana. Pendiri Kahuripan itu memutuskan meninggalkan segala pesona duniawi dan menjalani sisa hidup menjadi seorang Brahmana di tempat dahulu dia bertapa brata. Gunung Pucangan.

Dalam Serat Calon Arang, Bathara Erlangga kemudian dikenal sebagai Resi Gentayu. Menurut Babad Tanah Jawi, dia disebut dengan nama Resi Erlangga Jatiningrat. Sedangkan pada prasasti Gandhakuti, namanya ditulis sebagai Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Berdasarkan urutan trah pewaris tahta, putri mahkota yang bernama Rakryan I Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Utunggadewi, anak Bathara Erlangga dari permaisuri Dewi Galuh Sekar Kedhaton adalah yang berhak menduduki singgasana Kahuripan.

Di luar dugaan, Sanggramawijaya Dharmaprasada Utunggadewi menolak naik tahta. Dia mengikuti jejak ramandanya menjadi seorang pertapa. Meninggalkan segala pesona duniawi. Keadaan ini membuat dua anak Batara Erlangga yang lain, berebut kekuasaan. Mereka adalah Sri Samarawijaya, adik Sanggramawijaya Dharmaparasada Utunggadewi dengan Mapanji Garasakan, anak dari garwa selir.

Seorang Brahmana bernama Mpu Bharada ditugaskan untuk membagi Kahuripan menjadi dua wilayah. Bengawan Brantas dan Gunung Kawi dijadikan batas. Jenggala (Sidoarjo, Jawa Timur sekarang) diberikan kepada Mapanji Garasakan dan Panjalu/Kadhri/Kadhiri (Kediri, Jawa Timur sekarang) diberikan kepada Sri Samarawijaya (Kakawin Negarakertagama).

Sementara, Sanggramawijaya Dharmaprasada Utunggadewi bertapa dari satu tempat ke tempat lain. Terakhir, puteri Bathara Erlangga itu menetap di puncak gunung Pucangan. Meneruskan ramandanya yang telah mangkat pada Saka Warsa 971 (1049 Masehi).

Hingga akhir hayatnya, Sanggramawijaya Dharmaprasada Utunggadewi menjadi pertapa wanita di puncak gunung Pucangan. Orang-orang mengenalnya dengan nama Dewi Kili Suci.

PERTAPAAN GUNUNG PUCANGAN SEKARANG
Kini, tempat moksa----sirna jiwa dan raga, kembali ke Sang Pencipta----Sanggramawijaya Dharmaprasada Utunggadewi itu dinamakan Situs Makam Dewi Kili Suci.

Sejak era Islam, tempat-tempat moksa para leluhur orang Jawa sengaja di-visual-kan dalam bentuk makam. Hal ini untuk mengikis sifat musyrik dan menggantinya dengan tradisi ziaroh.

Saat ini, di situs gunung Pucangan, selain makam Dewi Kili Suci, kita juga bisa menjumpai beberapa makam lain. Diantarnya makam Maling Cluring, makam Maling Adiguna dan makam Eyang Ronggo.

Cungkup kecil di belakang saya adalah makam Eyang Ronggo


Berpose di depan makam Maling Cluring

Tidak jelas apa hubungan makam-makam itu dengan Sanggramawijaya Dharmaprasada Utunggadewi atau Dewi Kili Suci. Analisa saya, kemungkinan mereka adalah para abdi dan pengawal sang putri ketika meninggalkan kota Daha menuju gunung Pucangan.

Ketika menginjakkan kaki di kompleks situs itu, saya langsung disambut dengan ramah oleh seorang laki-laki tua. Mbah Sadi, sang Pakuncèn (juru kunci) itulah yang memberi tahu saya keberadaan makam-makam lain di gunung Pucangan.

Bersama Mbah Sadi, juru kunci situs gunung Pucangan
  
“Monggo pinarak, badhé ngêrsakakên punapa----silahkan masuk, mau menginginkan apakah gerangan?” sapa Mbah Sadi.

“Matur suwun. Dalêm amung padhos warta damêl nyêrat, Mbah----Terima kasih. Saya hanya memburu data untuk bahan menulis, Kek,” jawab saya seraya menjabat tangan Mbah Sadi.

Dalam hati, saya paham apa yang maksud oleh Mbah Sadi. Tetapi, tujuan awal saya ke tempat itu memang sekedar memburu data jejak sejarah. Tiada niat yang lain.

Saya juga sempat melihat dua orang yang sedang menjalani ritual khusus di pendopo makam Dewi Kili Suci. Mereka tampak khusyu’. Entah apa yang sedang dibacakan. Mungkin mantra, atau doa dengan bahasa khusus.

Ah, itu urusan mereka dengan Tuhannya.

Dari pendopo, saya melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke puncak tertinggi gunung Pucangan, berjarak sekitar dua ratus meter. Kondisi jalan cukup menanjak. Napas dijamin ngos-ngosan jika tidak biasa mendaki gunung, seperti saya.

Sampai di puncak, dimana dahulu Bathara Erlangga menjalani tapa brata, saya bergidik, merinding dan bergetar.

Subhanallah!

Sebuah Musholla berdiri megah tepat di puncak gunung Pucangan. 

Kondisi Musholla itu sangat bersih dan terawat. Seorang lelaki paruh baya yang entah siapa, manusia sungguhan atau makhluk niskala (maklum, tempat itu berada di belantara rimba yang sangat jauh dari jamahan penduduk) tampak tak kalah khusyu’ dari dua orang sebelumnya. Dia sedang berwirid. Tentu habis menjalankan Shalat Ashar, pikir saya.

Tepat di depan Musholla, terdapat sebuah Lingga. Lambang kesuburan suatu wilayah yang disimbolkan dengan Planangan (organ laki-laki). Biasanya, Lingga berpasangan dengan Yoni yang disimbolkan dengan organ wanita. Tetapi, di puncak gunung Pucangan ia berdiri tunggal. Analisa saya, Lingga ini adalah pengejawantahan dari Resi Gentayu/Resi Erlangga Jatiningrat (Bathara Erlangga) setelah menjadi pertapa. Beliau menasbihkan diri meninggalkan segala kenikmatan dunia, termasuk wanita.

Tak jauh dari Lingga, masih di halaman Musholla, terdapat reruntuhan sebuah Candi. Terbuat dari susunan batu bata merah berukuran besar. Kemungkinan, bangunan ini dibuat pada Saka Warsa 963 (1041 Masehi). Berdasarkan prasasti Pucangan (Calcutta Stones) yang kini tersimpan di Museum Calcutta, India, Bathara Erlangga membangun pertapaan di gunung Pucangan pada tahun itu.

Lingga di gunung Pucangan. Di balik pohon belakang saya adalah makam Maling Adiguna


Reruntuhan Candi di puncak gunung Pucangan. Nun jauh di bawah sana, Lamongan tampak samar


Sang Bagaskara kian merunduk di kaki Cakrawala. Jingga mulai merona di ufuk barat. Saatnya saya harus kembali. Sebelum turun dari puncak gunung Pucangan, kembali saya menoleh ke dalam Musholla.

Ya Jagad Natha----Sang Pengatur Alam Semesta, Allah SWT----Lelaki yang tadi saya lihat sedang ber-wirid di dalam Musholla sudah tidak ada!

Kembali saya bergidik.

Buru-buru saya berjalan setengah berlari menuruni puncak tertinggi gunung Pucangan. Meninggalkan Musholla yang didirikan tepat di atas titik dimana Bathara Erlangga bertapa ribuan tahun silam.

Musholla Al-A'liy (Maha Tinggi), begitu saya menamakannya dalam hati. Karena Musholla itu memang tiada memiliki papan nama.

Musholla di puncak gunung Pucangan


Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Catatan:
Jika sahabat ingin mengunjungi situs gunung Pucangan, juga Musholla yang saya sebut Al-A'liy itu, hendaknya tidak seorang diri. Jangan pula menelusuri sudut demi sudut pertapaan tanpa pengawalan khusus.

Sabtu, 22 April 2017

SUGIH TANPA BONDO, DIGDAYA TANPA AJI (Part 2)



R.M. Sosrokartono - portalmedia.com


Klinik Darussalam (Dar-Oes-Salam) tumbuh menjadi sebuah pusat pengobatan jasmani dan rohani. Kartono yang telah berganti nama menjadi Mandor Klungsu atau Joko Pring pun semakin dikenal masyarakat sebagai guru, ahli pengobatan sekaligus spiritualis.

Siang hari, Mandor Klungsu menolong orang-orang yang meminta penyembuhan. Malam harinya, dia mengajar pemuda-pemuda yang belajar kepadanya tentang ajaran hidup.

FILOSOVI KLUNGSU DAN JOKO PRING
Klungsu, dalam bahasa Jawa berarti biji asam. Bentuknya kecil namun sangat kuat. Jika ditanam dan dirawat dengan benar, klungsu akan tumbuh menjadi pohon asam yang rindang, kokoh dan berbuah lebat. Pohon ini mulai dari biji hingga buahnya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Sifatnya juga kokoh dan tegar.

Nama Klungsu mencerminkan sebuah sosok yang kecil (merakyat), namun kuat, tegar dan banyak menebar manfaat bagi sesama.

Joko Pring, berasal dari dua kata Joko dan Pring. Dalam bahasa Jawa, Joko berarti Jejaka atau lelaki yang belum menikah. Sedangkan Pring artinya bambu.

Bambu memiliki sifat dapat memperbanyak diri. Tumbuhan ini memiliki manfaat mulai akar hingga tubuhnya. Hampir sama dengan Klungsu, nama Pring yang diambil Kartono juga mencerminkan sosok seorang manusia yang banyak memberi manfaat bagi sesamanya.

KARYA KARTONO DI DUNIA LITERASI
Selain humanis dan pintar memberikan pengobatan, Kartono juga sosok pemuda yang gemar menulis. Beberapa karyanya antara lain sebuah tembang berjudul Joko Pring, sesuai dengan nama yang dia klaim untuk menyebut dirinya. Berikut adalah lirik dari tembang Joko Pring :

Pring padha pring
Weruh padha weruh
Eling padha eling
Susah padha susah
Seneng padha seneng
Eling padha eling
Pring padha pring

Arti dari lirik tembang di atas adalah sebagai berikut:
Bambu sama-sama bambu
Tahu sama-sama tahu
Ingat sama-sama ingat
Susah sama-sama susah
Senang sama-sama senang
Ingat sama-sama ingat
Bambu sama-sama bambu

(Joko Pring)

Selain menulis tembang, Kartono juga menelurkan karya sastra bermuatan falsafat Jawa. Ajarannya tentang kasunyatan (realita kehidupan), tirakat (puasa jasmani rohani) dan kasampurnan (kesempurnaan) diantaranya sebagai berikut :

Renungan Rebo Pahing
Kartono merangkum nasehat-nasehat spiritual yang dia ajarkan kepada murid-muridnya dalam karya ini.

Banyak kata-kata mutiara yang bisa kita jumpai dalam Renungan Rebo Pahing. Kalimat yang memiliki makna sangat dalam.

Sugih tanpa bandha (kaya tanpa menimbun harta).
Digdaya tanpa aji (sakti tanpa ajimat).
Ngluruk tanpa bala (menyerang tanpa mengerahkan pasukan).
Menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan lawan).
Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi).
Suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut).
Langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka).
Anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).

AJI PRING
Kartono menjabarkan filosovi pohon bambu dalam tulisan ini. Seperti yang tercermin dalam makna nama Joko Pring.

Dia mengajak manusia untuk bisa menauladani filosovi pohon bambu.

LAKU LAN MAKSUDIPUN
Perjalanan (hidup) dan maknanya. Sebuah karya Kartono yang mengulas tentang penjabaran kata-kata mutiara dalam karya sebelumnya, Renungan Rebo Pahing.

OMONG KOSONG
Dalam tulisan ini, Kartono menceritakan pengalamannya selama menempuh perjalanan dari Aceh, Tanjungpura dan Langkat. Sebuah perjuangan kemanusiaan dia angkat dalam istilah kantong bolong, kosong dan sunyi.

SERAT SAKING MEDAN
Nasehat Kartono tentang pengabdian manusia kepada sesama, tanpa mengharap imbalan, tidak boleh ragu, senantiasa yakin dan menyerahkan segala upaya perjuangan kepada Allah SWT.

-o0o-

Bersama adiknya, R.A. Kartini, R.M. Kartono juga mendirikan sebuah perpustakaan umum di Tegal, bernama Panti Sastra.

Dia juga sempat menyulam 3 buah kain bermotiv huruf Alif tunggal. Saat ini, tiga sulaman tangan Kartono sendiri itu di simpan di pendopo Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Ada makna yang sangat dalam filsafat Jawa terhadap huruf Alif yang disulam Kartono. Alif yang merupakan huruf Hijaiyyah pertama, diartikan sebagai Hyang Tunggal (Allah S.W.T). Bentuk Alif yang tegak seperti batang lidi juga berarti Jejeg----lurus----mencerminkan harapan tentang perilaku yang lurus dan benar.

Pada hari Jum’at Pahing, tanggal 28 Februari 1952, Raden Mas Panji Sosrokartono, seorang guru bangsa, spiritualis, mangkat di Bandung, Jawa Barat. Jasadnya dimakamkan di Kudus, Jawa Tengah.

Tidak ada gelar pahlawan nasional yang disematkan kepadanya. Kartono meninggal pada usia 75 tahun, tanpa meninggalkan anak dan istri.

Hanya beberapa tulisan yang dikutip dari nasehat-nasehat luhur Kartono yang tersemat di batu nisannya. Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji.


TAMAT

Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Disarikan dari berbagai sumber.

Jumat, 21 April 2017

SUGIH TANPA BONDO, DIGDAYA TANPA AJI (Part 1)



RM Panji Sosrokartono - portalmedia.com


“Saya tidak menyerang orang lain, karena itulah saya juga tidak akan diserang. Jadi, apa perlunya saya harus membawa senjata?”

Kalimat itu terlontar dari seorang wartawan Perang Dunia I yang bekerja untuk koran New York Herald Tribune. Pangkat Mayor yang disematkan kepadanya tidak serta merta membuat pemuda asal Indonesia itu menerima senjata yang diberikan tentara Sekutu kepadanya.

Dialah Raden Mas Panji Sosrokartono, putera Bupati Jepara, saudara kandung dari Raden Ajeng Kartini, tokoh emansipasi wanita Indonesia yang keharuman namanya melampaui sang kakak. Padahal, sosok Kartono----nama panggilan oleh orang-orang Jawa----juga memiliki peran yang tak kalah heroik dalam mengharumkan nama bangsa ini.

R.M. Panji Sosrokartono lahir pada tahun 1877, dua tahun lebih tua dari sang adik, R.A. Kartini. Dia menjadi orang Indonesia pertama yang menempuh pendidikan tinggi di Eropa.

Awalnya, R.M. Sosrokartono mengambil jurusan tehnik. Karena merasa tidak cocok, dia pindah ke Sastra hingga meraih gelar Docterandus in de Oostersche di perguruan tinggi Leiden, Belanda.

Namanya mencuat ketika dia mampu menguasai 27 bahasa asing. Bahkan, Kartono muda juga fasih bercakap-cakap 10 bahasa daerah nasional. Tidak mengherankan, jika putera Jawa itu menjadi kesayangan para pengajarnya selama mengenyam bangku kuliah di Belanda.

De Javanis Prins----Pangeran dari Jawa----begitu sebutan teman-temannya dari Eropa dan Amerika. Kaum hawa di benua biru memanggilnya “De Moois Sos”. Sos (Sosrokartono) yang ganteng.

Lulus kuliah, Kartono bekerja sebagai seorang jurnalis perang di surat kabar terbitan Amerika yang berkantor di Eropa, New York Herald Tribune. Selama menjadi wartawan, sebuah reportase-nya tentang perundingan rahasia antara Jerman dan Perancis menggemparkan jurnalisme barat. Padahal, peristiwa itu dilakukan di dalam sebuah gerbong kereta dengan penjagaan tentara kedua pihak yang sangat ketat. Bagaimana dia bisa mendapatkan informasi?

Kartono sempat bekerja sebagai alih bahasa di kedutaan Perancis di Den Haag, sebelum akhirnya tahun 1919 diterima bekerja di Liga Bangsa Bangsa. Dia menjadi penerjemah tunggal selama dua tahun. Kariernya berlanjut ketika pada tahun 1921 Liga Bangsa Bangsa berubah nama menjadi Perserikatan Bangsa Bangsa. Sang Pangeran Jawa itu diangkat menjadi Ketua Penerjemah di sana.

Suatu hari, Kartono mendengar kabar bahwa seorang anak dari sahabatnya menderita sakit yang berkepanjangan. Para ahli medis belum mampu menanganinya. Ketika menjenguk, di hadapan para dokter, dia melakukan pengobatan yang irasional. Kartono menempelkan telapak tangannya ke ubun-ubun si anak sambil membacakan Doa tertentu. Di luar dugaan, anak yang sakit itu sembuh.

Seorang dokter psychiatry dan hypnose mengatakan kepada Kartono bahwa dia memiliki daya pesoonalijke magneetisme----magnet pribadi----dan kemampuan hypnotherapy besar yang belum disadarinya. Atas saran sang dokter, Kartono kembali melanjutkan pendidikan ke Paris untuk mendalami psychometry dan psychotecnical. Tetapi regulasi menghambatnya. Seorang mahasiswa lulusan sastra tidak boleh diterima di fakultas itu.

Kembali ke Indonesia.
Kondisi tanah air yang memprihatinkan oleh pendudukan Belanda, mengetuk hati Kartono untuk pulang. Tahun 1925, dia bertemu dengan Raden Mas Soerjadi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) dan adiknya, Raden Mas Soerjodipoetro. Mereka kemudian mendirikan Nationale Middelbare School (Sekolah Menengah Nasional).

Pengalamannya selama belajar dan bekerja di luar negeri, membuat Kartono miris menyaksikan penderitaan rakyat pribumi, terutama dalam hal pendidikan. Dia menemui seorang pembesar Belanda, W.B. Rooseboom untuk menyampaikan tuntutan agar Gubernur Jenderal Belanda memperhatikan nasib buruk masyarakat Indonesia, disegerakan adanya pendidikan bagi rakyat dan supaya bahasa Belanda diajarkan di sekolah-sekolah pribumi.

Kepulangan Kartono di tanah air justru menimbulkan fenomena lain. Masyarakat berbondong-bondong menemuinya. Bukan untuk belajar baca tulis, justru meminta pengobatan darinya. Kebanyakan mereka yang datang memang sedang bermasalah dengan kesehatan. Ahenya, Kartono justru menyanggupi permintaan itu dengan memberi pengobatan melalui media air putih.

Kabar Kartono bisa menyembuhkan orang sakit segera menyebar kemana-mana. Setiap hari, orang-orang berduyun menemuinya untuk meminta pengobatan. Dia pun mendirikan balai pengobatan bernama Klinik Darussalam (beberapa ejaan menyebut Dar-Oes-Salam).

Selama di Darussalam inilah, Kartono dikenal dengan nama Mandor Klungsu dan Joko Pring. Dia justru lebih banyak mengabdikan diri untuk membantu sesama, baik yang bermasalah dengan jasmani maupu rohani.

BERSAMBUNG

Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Catatan :
Dirangkum dari berbagai sumber.

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *