Selasa, 10 Januari 2017

PUISI UNTUK GADIS GANG MANGGIS




prodlog.ru

Kota Angin, 1992.

Sebungkus es lilin seketika jatuh dari tanganku. Padahal, minuman seharga seratus perak itu baru saja tersesap separuh. Lima menit yang lalu, begitu lonceng istirahat berbunyi, puluhan murid harus berdesak impitan di warung Pak Ran, pemilik kantin sekolah, untuk mendapatkannya.

Anang Krisna, teman karibku yang beda kelas menjadi penyebabnya, “Modar kowè---mampus kamu, puisi yang ada di bukumu ketahuan Pak Satiyo,” kelakarnya.

“Ciye-ciyeeeee ... ternyata itu gebetanmu ya,” timpal Arofik.

“Jangan bercanda kamu, Nang,” ujarku mencoba memastikan. Mendadak minuman rasa kacang hijau yang belum lama kusesap terasa hambar. Bahkan, berubah menjadi pahit di mulut. Sepotong rondo royal---jajanan tape goreng yang masih utuh sontak kubuang pula.

“Barusan, Pak Satiyo membacakan puisi itu di depan kelasku tadi.”

“Enggak mungkin!”

Sik-sik---sebentar ... ngombè dhisik bén padhang---minum dulu biar tenang pikiranmu.”

Asu!---umpatan khas anak-anak Jawa seusia kami di SMP dulu---Ini pasti gara-gara Tri Suwarno!” Umpatku. Ya, tadi pagi-pagi sekali dia meminjam buku tugas Tata Buku. Tujuannya jelas, ingin mencontek pekerjaan rumah.

Tanpa mengembalikan lebih dulu kepadaku, bocah bertubuh gendut itu langsung mengumpulkan kepada Pak Satiyo, guru yang mengajar mata pelajaran Tata Buku di kelas satu SMP kami. Dahulu, urutan jenjang kelas masih terputus antara Sekolah Dasar dengan Sekolah Lanjutan.

*****

Hujan masih kerap mengguyur kota Nganjuk di bulan Agustus. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini musim penghujan tak kunjung juga berganti kemarau. Anomali cuaca, kata guru-guru kami.

Siang itu, mendadak gerimis turun tanpa didahului mendung. Setengah jam kemudian, air seperti tumpah dari atas langit. Sangat deras, bercampur dengan kencangnya tiupan angin muson tenggara yang selalu menghempas kota Nganjuk setiap bulan Juni hingga Oktober. Menyebabkan sebagian perciknya masuk kelas, menerobos melalui lubang ventilasi. Sebagian membentuk butiran kecil di udara, seperti embun, lalu membasahi bangku-bangku tempat kami mengais ilmu.

Tampak beberapa teman menggigil. Sepertinya, udara dingin mendekap mereka. Tetapi, tidak bagiku. Justru ruangan kelas terasa panas sekali. Butiran-butiran keringat bahkan terasa mengalir di dahi dan pelipis. Sebentar lagi, Pak Satiyo pasti akan memasuki ruang kelas.

“Selamat siang, anak-anak!”

“Selamat siang, Pak!”

Aku tersentak! Tidak ikut menjawab sapaan guru pengajar Tata Buku itu. Pak Satiyo menebarkan pandangan ke seluruh sudut kelas. Ketika matanya tertuju kepadaku, dada terasa seperti terkena lesatan panah Pasoepati. Mungkin beginilah rasanya saat Adipati Karna menerima hunjaman pusaka milik ksatria penengah Pandawa.

Kejadian itu berlangsung hanya sekian detik. Pak Satiyo langsung duduk di kursinya. Sebuah buku yang sangat kuhapal warna dan bentuknya, mendadak beliau keluarkan dari tumpukan buku yang lain.

“Heru, maju ke depan!” ucap Pak Satiyo. Wajahnya yang mahal senyuman, terlihat memerah. Selain guru yang dikenal bertipikal keras dan disiplin, beliau juga ditakuti karena menjabat Wakasek bidang kesiswaan.

Aku tidak menjawab. Pun dengan teman-teman sekelas. Seisi ruangan  hening. Semua bengong, antara takut dan mencoba menebak-nebak ada apa gerangan?

Dengan langkah lunglai dan perasaan acak-acakan, aku berjalan ke depan kelas. Berdiri tepat di hadapan papan tulis.

“Kesini kamu, baca puisi ini!” perintah Pak satiyo.

Oh My God!!!

Apa yang kutakutkan dari tadi terjadi juga. Kaki seperti menancap dan terpatri pada ubin kelas. Jangankan untuk melangkah ke arah Pak Satiyo, sekedar bergerak pun tak mampu.

“Ayo kemari!!! Baca puisi ini!!!” Pak Satiyo mempertegas ucapan sebelumnya. Tangan beliau mengulurkan sebuah buku yang telah terbuka pada salah satu halaman.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirku. Muka ini terasa memanas. Jika dipandang dari seisi kelas, mungkin sudah berwarna merah darah! Malu dan takut berpadu rasa di sana.

Asu tênan kowè Tri!!!---brengsek benar kamu Tri!!!” umpatku dalam hati. Di bangkunya, Tri Suwarno terlihat cengengesan menahan tawa.

“Kamu tidak mau membacanya?” Untuk kesekian kalinya, Pak Satiyo mencoba mengulangi perintahnya. Aku tetap diam seribu bahasa. Ketakukan dan rasa malu sudah berada dalam titik puncak. Butiran bening terasa mengumpul di pelupuk mata.

“Baiklah, biar saya yang men-deklamasi-kan puisimu ini,” pungkas beliau. Untuk kali pertama, aku bisa melihat senyuman yang tersungging dari bibir Pak Satiyo. Meski hanya tipis.

Grrrrrrrrrrrrrrr!

Teman-teman sekelas tertawa bersama. Aku hanya menunduk, sekuat tenaga menahan butir-butir netra agar tidak mengalir jatuh. Malu sekali tentunya, jika itu sampai terjadi.

Gang Manggis yang jelita
Terbaring manja di pinggiran kota
Menebar pesona bagi sang kelana
Di kala kota terdekap senja
....................

Begadung, Agustus 1992
Teruntuk temanku,  anak gang manggis


“Hahahaha .... hahahaha ... grrrrrrrrrrr!!!” Suara tawa bergemuruh kembali, terdengar membahana di ruangan kelas. Seorang gadis kecil berambut panjang tampak menangis sesenggukan di bangkunya.

Hari itu, sebelum pulang sekolah, Pak Pri, guru Fisika yang juga wali kelas 1E, memanggilku ke ruang BP. Disana sudah menunggu Pak Satiyo. Tampak pula Pak Marqos, guru Bimbingan dan Penyuluhan.

Tanpa menyuruh aku duduk, Pak Satiyo mengulurkan sebuah buku, dimana pada salah satu halamannya terdapat puisi pendek yang semalam tercipta, “Ini bukumu, teruslah belajar menulis yang baik dan benar,” ucap beliau.

“Iya ... pak ... terima ... kasih,” jawabku terbata-bata, serta merta berlari kembali ke kelas, mengambil tas sekolah, kemudian menyusul teman-teman yang telah berhamburan ke parkiran sepeda.

Hujan di bulan agustus kembali mengguyur sekolah kami. Kulepas sepasang sepatu usang, kaos kaki dan tas kumal, lalu ketiganya masuk ke kantong plastik warna hitam yang selalu diselipkan simbah---nenek setiap aku pamit berangkat ke sekolah.

Keesokan harinya, cakrawala di kota Nganjuk cerah sekali. Garéng pong---jenis hewan serangga yang suka hinggap di ranting pohon, suaranya nyaring saat musim hujan---berkicau tiada henti dari rerimbunan bambu di belakang kelas. Hujan tak lagi turun, mungkin sudah habis ditumpahkan sehari semalam kemarin. 

Pak Bambang, guru matematika yang juga pembimbing Majalah Dinding Sekolah, memanggil aku, lalu menunjuk sebagai tim redaksi.

TAMAT



(Heru Sang Mahadewa)   
Member of #OneDayOnePost

Catatan :
Anang Krisna, saat ini menjadi seorang perwira pertama TNI AL, bertugas di Lantamal Tanjung Perak Surabaya. Dalam beberapa kesempatan, kami masih sering ketemuan dan bercengkerama.

Arofik, kini menjabat sebagai Kepala Dusun di tempat tinggalnya, desa Selorejo, kecamatan Bagor, kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Setiap ada acara kumpul-kumpul teman alumni, kami senantiasa bertemu.

Tri Suwarno, biang keladi dari kejadian memalukan itu, sekarang menjadi seorang sopir truk. Beeberapa kali juga masih sering menghubungiku lewat sosial media.

Gadis kecil berambut panjang yang ada dalam cerita di atas, sekarang bekerja di sebuah Apotik di Nganjuk. Sebulan yang lalu, kami pernah bertemu. Dia sudah dikarunia dua orang anak sekarang.

Pak Satiyo, sekarang telah memasuki masa purna. Ketika lebaran Idul Fitri kemarin, beliau menghadiri acara reuni SMP yang kami selenggarakan. Aku sempat beramah tamah, tetapi tidak berani mengungkit kejadian memalukan penuh kenangan dahulu.

Gang Manggis adalah nama sebuah gang kecil di pinggiran kota Nganjuk, Jawa Timur. Sayangnya, kini telah berganti nama menjadi Jl. Gatot Subroto II.

Puisi aslinya aku sudah lupa. Kembali kutulis ulang penggalannya dengan tidak mengubah isi sajak legendaris itu.

Foto: Pak Satiyo berdiri di tengah-tengah

22 komentar:

  1. ohw...so sweet sekaliiii, mas Heru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbk Raida ...
      Memalukan kisah ini ... hhhhhh

      Hapus
  2. Kelanjutannya gimana tuh Mas? Penasaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadian!
      Hahaha 😂😂😂

      Hapus
    2. Eaaaaa.... Aseeekkk aseeekkk... 😂😂😂

      Hapus
    3. Jangan2 muridnya mbk Sas ada juga yg begitu??
      Hahaha

      Hapus
  3. Asyikkk...Pak Heru, bikin aku senyum2 then ketawa ngakak di pagi hari di kursi kerja tercinta wkwkwk...great!!! be continued

    BalasHapus
  4. Puisinya manis bangeeeetttttt! padahal aku bacanya sambil makan kripik fetucili sama makaroni mercon ... #PedesManisEnak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduhhh ...
      itu puisi masih culun bangetttt dulu =D

      Hapus
  5. Keren Mas Heru. Wah, siap-siap nih nyiapin bikin tantangan juga. Duh,....

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *