This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 04 Juli 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (9)



ilustrasi gambar: Yayasan Wacana


Penguasa tanah Jawa di Demak bergeser ke Pajang. Yang bertahta adalah Sultan Hadiwijaya, menghadap ke Sunan Giri Prapen ketika ditentang oleh para bupati Brang Wetan (Jawa belahan timur).

Sultan Pajang didampingi Ki Ageng Pemanahan yang diramalkan oleh Sunan Giri Prapen bahwa kelak akan menurunkan raja-raja yang menguasai tanah Jawa, termasuk Giri. Setelah mangkatnya Sultan Pajang, kekuasaan tanah Jawa diduduki oleh Panembahan Senopati di Mataram. Setelah meninggal, digantikan oleh putranya Sultan Anyakrawati yang lantas digantikan pula oleh putranya, Sultan Agung Anyakrakusuma.

-o0o-

MIJIL 1
Menyalin syariat Kanjeng Nabi, Muhammad yang sangat indah dan jelas, maka Kanjeng Sunan Giri Prapen, lalu pergi ke negeri Demak, berkumpul dengan para Wali, mukmin dan ulama.

MIJIL 2
Setelah runtuhnya Majapahit, muksanya sang raja, di dalam keraton tidak ada penghuni, Sunan Giri Prapen sementara menjadi pemimpin, hanya empat puluh hari, lamanya menduduki.

MIJIL 3
Menanam jimat untuk menghilangkan, bekas keraton, dari pemimpin Budha, dengan cepat menobatkan diri menjadi raja, setelah empat puluh hari lamanya, Kanjeng Sunan Giri, menyerahkan tahta.

MIJIL 4
Kepada Raden Patah menerima, telah menjadi raja, di negeri Demak yang membawahi, seluruh tanah Jawa Kanjeng Sunan Giri, selesai menunaikan tugasnya, telah pulang terlebih dulu.

MIJIL 5
Setelah hancur negeri Demak, pindah ke keraton Pajang, Adipati Pajang yang berdaulat, adalah menantu Sultan (Demak) Bintoro terakhir, di negeri Demak, memiliki pasukan yang besar.

MIJIL 6
Kanjeng Sultan Pajang yang, telah menjadi raja, berkehendak meminta restu ke Prapen, didampingi Ki Ageng Pemanahan, agar seluruh bupati, berangkat tanpa ada yang tertinggal.

MIJIL 7
Sultan Pajang datang ke Giri, hatinya terkejut melihat, ada di pesanggrahan, seluruh bupati dan anak-anak, dari Sunan Giri Prapen, telah berkumpul.

MIJIL 8
Sunan Giri Prapen tidak langsung membuka pertemuan, Sultan Pajang gugup, menghadap bersama banyak bupati, duduk di samping sang ulama, yang didampingi para pengikut, di belakangnya.

MIJIL 9
Setelah lengkap seluruh yang hadir di pertemuan, Sunan berkata pelan, anakmas Pajang diijinkan, telah duduk dekat dan sang ulama, berkata indah, manis dan harum.

MIJIL 10
Putra-putraku yang sedang menghadiri pertemuan, jangan ada keributan, dan menerima kenyataan, bahwa saat ini Adipati Pajang, telah kurestui, dalam bertahta.

..................

BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

Senin, 03 Juli 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (8)



ilutrasi gambar: Yayasan Wacana



MEGATRUH 17
Berlari menjauh ketika melihat kumbang telah hilang, pulang kembali ke negerinya, satu pun tiada yang tertinggal, sang putra prabu, bersama pasukannya pulang ke kedhaton.

MEGATRUH 18
Sang prabu Majapahit, tidak meminta apa-apa lagi, untuk mengganggu sang ulama, hanya yang sudah terjadi, dalam hatinya (masih) tidak percaya.

MEGATRUH 19
Diceritakan dua orang yang menggali makam, mendapat balasan menjadi pincang kakinya, singkat cerita, menyusul Kanjeng Sunan Giri, yang telah tiada.

MEGATRUH 20
Diceritakan di tepi pantai, dua orang telah sampai, padahal musuh telah pergi, karena diserang oleh, kumbang yang menghadang perang.

MEGATRUH 21
Porak poranda larinya saling bertabrakan, tewas terkena senjata, sebagian menyelamatkan diri hidup-hidup, tiada yang berani menoleh, suaranya hiruk pikuk.

MEGATRUH 22
Telah selesai dituturkan, (mereka) sembuh dari pincang, sang ulama pun lalu bersyukur, berdoa kepada Hyang Widhi (Allah SWT), agar selamat dan tidak ada kerusuhan lagi.

MEGATRUH 23
Lalu kembali lama tidak diceritakan, telah selesailah kisahnya, bahagia hati para prajuritnya, tetapi tidak ada yang takabur, kokoh selamanya tiada musuh yang datang.

MEGATRUH 24
Sunan Giri, tetapi keraton Majapahit, telah mengalami keruntuhan, disebabkan oleh sang anak, muncullah Raden Patah.

..................
BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (7)




MEGATRUH 9
Seluruh pasukan diperintahkan agar menggali, lalu semua kawula langsung melakukannya, kutukan sang ulama besar, tanda kebesaran wali yang berilmu lebih, siapa pun yang mendekat menggelepar.

MEGATRUH 10
Terkapar sambil merintih kesakitan, yang terdengar sangat miris, sang putra mahkota sungguh, tampak ketakutan, perang pun tidak jadi dilakukan.

MEGATRUH 11
Jadilah perintah kepada dua orang yang menunggu, agar menggali dengan cepat, jika tidak mau, pasti akan menemui ajal, terkena tusukan keris tombak.

MEGATRUH 12
Dua orang tak kuasa membantah lalu menggali, papan kayu jati, penutup makam, terbuka sedikit demi sedikit, lalu ada yang terlihat.

MEGATRUH 13
Kumbang yang tak terhitung banyaknya, terbang memenuhi langit, berhamburan bagai jatuh dari langit, menyerang pasukan Majapahit, hingga porak poranda.

MEGATRUH 14
Tiada ampun menyengat siapa saja, bingunglah pasukan Majapahit, saling berebut berlindung, menyingkir hidup-hidup, hingga menyerah dari perang senjata.

MEGATRUH 15
Semua berjatuhan terkena sengat, kepala terlindung tapi terkena kaki, berteriak-teriak kebingungan, berduka negeri Majapahit, kumbang tetap menyerang tiada surut.

MEGATRUH 16
Sang putra prabu Brawijaya lalu gugup, tidak mampu menanggulangi, hingga banyak yang mati pengikutnya, seluruh pasukannya, habis tak tersisa.



..................
BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *