Senin, 03 Juli 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (8)



ilutrasi gambar: Yayasan Wacana



MEGATRUH 17
Berlari menjauh ketika melihat kumbang telah hilang, pulang kembali ke negerinya, satu pun tiada yang tertinggal, sang putra prabu, bersama pasukannya pulang ke kedhaton.

MEGATRUH 18
Sang prabu Majapahit, tidak meminta apa-apa lagi, untuk mengganggu sang ulama, hanya yang sudah terjadi, dalam hatinya (masih) tidak percaya.

MEGATRUH 19
Diceritakan dua orang yang menggali makam, mendapat balasan menjadi pincang kakinya, singkat cerita, menyusul Kanjeng Sunan Giri, yang telah tiada.

MEGATRUH 20
Diceritakan di tepi pantai, dua orang telah sampai, padahal musuh telah pergi, karena diserang oleh, kumbang yang menghadang perang.

MEGATRUH 21
Porak poranda larinya saling bertabrakan, tewas terkena senjata, sebagian menyelamatkan diri hidup-hidup, tiada yang berani menoleh, suaranya hiruk pikuk.

MEGATRUH 22
Telah selesai dituturkan, (mereka) sembuh dari pincang, sang ulama pun lalu bersyukur, berdoa kepada Hyang Widhi (Allah SWT), agar selamat dan tidak ada kerusuhan lagi.

MEGATRUH 23
Lalu kembali lama tidak diceritakan, telah selesailah kisahnya, bahagia hati para prajuritnya, tetapi tidak ada yang takabur, kokoh selamanya tiada musuh yang datang.

MEGATRUH 24
Sunan Giri, tetapi keraton Majapahit, telah mengalami keruntuhan, disebabkan oleh sang anak, muncullah Raden Patah.

..................
BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *