This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 11 Juli 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (13)



ilustrasi gambar: Yayasan Wacana



PANGKUR 1
Jika kalian telah memilih, pulanglah ke negeri masing-masing, kusertai doa semoga selamat dalam perjalanan, kepada kalian semua, telah digariskan suratan takdir (maka) tutuplah (segala permusuhan), Panembahan Senopati berkata, wahai adinda (penguasa) di Surawesthi.

PANGKUR 2
Menindaklanjuti kehendak, perkataan dari Panembahan Sunan Giri Prapen, hanya adinda dan aku, sesuai suratan, agar memilih wadah dan isinya, mana yang diinginkan, silahkan adinda memilih dahulu.

PANGKUR 3
Hamba terima tanpa menolak, terlihat Pangeran Surawesthi, sangat gugup perasaannya, lalu berucap, Kakang Senopati Ing Alaga Mataram, mantab pikiran hamba, memilih yang isi.

PANGKUR 4
Kakang kebagian wadah, Senopati Ing Alaga berkata pelan, aku wadahnya adinda, iya sudah saling bisa menerima, Sunan Giri Prapen menjadi saksi, segera berpamitanlah Panembahan, dan juga para Adipati.

PANGKUR 5
Panembahan Senopati, telah pulang ke negeri Mataram, para pembesar-pembesar Brang Wetan juga sudah, pulang sendiri-sendiri, tidak diceritakan bagaimana utusan di Giri, datang menghadap dan mengaturkan sembah, lalu berkata sambil menuding.

PANGKUR 6
Duh gusti telah dikatakan, putra paduka Pangeran Surabanggi, memilih dahulu, oleh Kangjeng Senopati, Surawesthi yang dipilih isinya, wadanya Panembahan, menerima diberi isinya.

PANGKUR 7
Tersenyum Kangjeng Sunan Giri, ketahuilah kodrat tidak bisa diubah, oleh manusia, bahwa kelak negeri-negeri di Brang Wetan menjadi bawahan Mataram, isi jika tidak mau tunduk kepada, yang memimpin negeri.

PANGKUR 8
Tentu tidak diperkenankan tinggal, jika menolak untuk tunduk tentu akan mati, jadi harus menurut, kepada yang memiliki wadah, adanya Giri akan berganti, iya raja negeri Mataram, Panembahan Senopati.

PANGKUR 9
Dia menjadi raja, lamanya hanya tiga puluh tahun, lalu tutup usia, digantikan putranya, Pangeran Adipati Anom Ing Mataram, bergelar Kangjeng Susuhunan Diningrat Anyakrawati.

PANGKUR 10
Hanya dua belas tahun, lamanya menjadi raja, Kangjeng Susuhunan lalu tiada, digantikan putra mahkota, Pangeran Adipati Anom Ing Mataram, bergelar Kangjeng Susuhunan, Sultan Agung Ing Mataram.

PANGKUR 11
Prabu Anyakrakusuma, begitulah Pangeran Surawesthi, menyurati para Tumenggung, macanegara Brang Wetan, agar semua berkumpul di Surabaya, (mereka) membahas keinginan perang, menggempur negeri Mataram.

PANGKUR 12
Cita-cita, para Bupati tidak ada yang menolak, keesokan harinya segera berangkat pasukan dengan bergemuruh, seluruh prajurit gabungan, mampir ke istana Giri Kedhaton, lalu menghadap kepada Kangjeng Sunan Giri Prapen.

-o0o-

Sultan Agung memanggil Pangeran Pekik di Surabaya, lalu dijodohkan dengan Ratu Pandhansari, adik Sultan Agung. Pangeran Pekik diperintahkan menaklukkan Giri, maka berangkatlah bersama istrinya.

Karena Sunan Giri Prapen tidak bersedia untuk menyerah, maka terjadilah perang antara Surabaya dan Giri.

Sunan Giri Prapen mengandalkan murid sekaligus putra angkatnya, seorang prajurit China beragama Islam yang bernama Endrasena.

Ketika sedang ramai pecah perang, putra Sunan Giri Prapen dari istri selir yang bernama Raden Jayengresmi mengatakan agar ramandanya tidak melawan Sultan Agung. Sarannya tidak dituruti, sang putra lalu meloloskan diri dari perang dengan didampingi dua abdinya, santri Gathak dan Gathuk.

-o0o-

PANGKUR 13
Sudah tua Kangjeng Sunan Giri Prapen, (setelah) datang di hadapan Kangjeng Sunan berkata lembut, duh para putraku, katakan apa yang menjadi kehendak, hingga kalian semua datang di hadapanku, apa ada masalah yang mendesak, Kangjeng Pangeran Surawesthi.

PANGKUR 14
Dan Adipati Singosari, menghaturkan sembah kepada Kangjeng Sunan Giri Prapen, mohon maaf ulama, hamba bersama para saudara, telah sepakat akan menggempur Mataram, mohon ijin kepada sang ulama, juga restu yang baik.

PANGKUR 15
Kangjeng Sunan berkata lembut, saat ini belum waktunya nak, para Bupati kembali berkata, agar berkenan di hati (Kangjeng Sunan), sehingga sang ulama memberi ijin dan restu, Kangjeng Sunan berkata lembut (lagi), mustahil Mataram akan jebol.

PANGKUR 16
Setelah ini orang-orang Brang Wetan, justru sebaiknya segera mengungsi, tidak pernah batal dibawa, ke negeri Mataram, Pangeran Surawesthi tidak bergeming hatinya, juga semua Bupati, mengakhiri menghadap sang ulama.

PANGKUR 17
Berkata sang pemimpin ulama, jika itu yang kalian inginkan, maka hati-hatilah nak, aku serahkan semua kepada Hyang Suksma (Allah SWT), manis pahit dalam takdir pasti akan terjadi, bergegas semua Bupati, mengakhiri (pertemuan) dengan sang ulama.

PANGKUR 18
Berangkat seluruh pasukan gabungan, tidak diceritakan bagiamana pergerakan mereka, akhirnya justru lari tunggang langgang, kemenangan (berada di pihak) Ngeksiganda (Mataram), para petinggi Mataram tidak ada yang merasa gentar, para Bupati Brang Wetan, dipukul mundur.

PANGKUR 19
Ada yang meninggal, ada yang terluka, ada yang menyerah, Mataram pun semakin termahsyur, wibawa sang raja, kesaktian para punggawanya tiada tertandingi, keraton mereka dilindungi, dan dikasihi oleh Hyang Widdhi (Allah SWT).

PANGKUR 20
Subur makmur dan sejahtera, damai tentram semua rakyat kecil, mengalir terus pahala sang raja, seluruh Bupati, tunduk dan tidak ada satu pun yang bersekutu, patuh dan takut kepada sang raja, semua setia lahir batin.

PANGKUR 21
Pertahanan dan kejayaan negeri, jika dikisahkan semalam pun tiada pernah habis, maka dilantunkanlah kidung (tembang) pembuka, ketika Raja di Mataram, Sultan Agung Sri Anyakrakusuma, sedang memimpin pertemuan rutin, lengkap semua yang menghadap.

PANGKUR 22
Pasukan dan kerabat raja, Panembahan Purbaya menurut ulama, tiada putus hubungan kekerabatan, Kangjeng Sultan lalu berkata lembut, Iya kabarnya Uwa Purbaya, Pangeran di Surabaya, sekarang telah dewasa.

PANGKUR 23
Yang tertinggal hanya putranya, Ki Mas Pekik yang menjadi anak sulung, Uwa itu aku inginkan, panggillah dia ke Mataram, aku ingin melihat wajahnya, katakan kepada Panembahan, itu yang paling penting.

PANGKUR 24
Hamba laksanakan kehendak paduka, sang raja kembali berkata lembut, Alap-Alap prajurit reaksi cepatku, pergilah ke Surabaya, panggil Pangeran Pekik Surengkewuh, selesai ucapan (sang raja), (utusan) pamit sambil menghaturkan sembah.


BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

Senin, 10 Juli 2017

AFF U 15 - AJANG PENGEMBALIAN NAMA BESAR INDONESIA


All head coach team AFF Cup U 15 - PSSI image



Terlanjur basah, kenapa tidak sekalian mandi? Kalimat ini mungkin pas ditujukan untuk tim nasional Indonesia U 16.

Iya, sebulan setelah sukses menjadi jawara di turnamen Tien Phong Plastic 2017 di Vietnam, tim besutan Fachri Husaini kembali akan turun dalam kejuaran antar negara ASEAN, Piala AFF U 15. Kepalang tanggung, sekalian saja kita menargetkan gelar juara.

Dalam ajang bergengsi yang dihelat di Thailand mulai 9 – 22 Juli 2017, Garuda Asia (julukan tim nasional Indonesia junior) berada dalam grup A. Grup yang dianggap banyak kalangan sebagai grup neraka ini mempertemukan Indonesia, Australia, Laos, Myanmar, Singapura dan tuan rumah Thailand.

Sementara di Grup B, bercokol Vietnam, Kamboja, Timor Leste, Malaysia, Brunei Darussalam dan Philipina.

Meski ada dua negara yang memiliki nama besar di fase kualifikasi grup A, bukan berarti peluang Garuda Asia tertutup. Tim nasional kelompok umur 19 tahun ke bawah selalu memberi harapan yang lebih kepada pecinta bola di tanah air.

Gelar juara AFF U 19 tahun 2013, Gothia Cup U 12 tahun 2016, dan terakhir jawara Tien Phong Plastic 2017 adalah serentetan bukti bahwa tim nasional junior kita masih memiliki taji untuk berprestasi di kejuaraan internasional.

Hasil uji coba yang meyakinkan dengan membantai Singapore 4-0, lalu menghempaskan Philipina 2-0 kian melambungkan mimpi pendukungnya. Sebuah ekspektasi yang bukan impossible tentunya.

Thailand boleh membusungkan dada karena faktor keuntungan sebagai tuan rumah. Tetapi, negeri yang selalu menjadi pesaing utama bagi Indonesia di setiap turnamen regional ASEAN itu baru membentuk tim dalam waktu 2 minggu ini.

Australia juga boleh membusungkan dada sebagai juara bertahan kejuaraan AFF U 15. Namun, Indonesia memiliki track record baik jika tampil di turnamen sepakbola junior dengan menghadapi negeri-negeri pemain berkulit putih.

Sementara, Singapura, Laos dan Myanmar tentu tidak sehebat dua negara lainnya. Meski kita tidak boleh memandang sebelah mata.

Berikut adalah profil Garuda Asia (julukan tim nasional Indonesia junior) beserta para kompetitornya di grup A kualifikasi AFF Cup U15:

INDONESIA
Tim besutan legenda sepakbola Indonesia, Fachri Husaini, baru dibentuk dalam waktu 3 bulan. Materi yang kebanyakan dihuni anak-anak bangsa berusia 15 tahun ini mendadak membuat kejutan luar biasa.

Tim Nasional Indonesia U 15/16 - PSSI image

Serangkaian uji coba yang dilakukan Garuda Asia U 15, memberikan harapan tinggi kepada 200 juta rakyat Indonesia. Philipina digulung 2-0, kemudian Singapura dibantai 4-0 dalam laga persahabatan di stadion Maguwoharjo, Sleman dan stadion Pakansari, Bogor.

Berlanjut ke turnamen Tien Phong Plastic Vietnam 2017 bulan Juni lalu, setelah berhasil menahan imbang tuan rumah Vietnam, Garuda Asia menghajar Myanmar 4-1. Kemudian di partai terakhir menghajar China Taipe 11 gol tanpa balas.

Garuda Asia pun menatap AFF U 15 tahun 2017 ini dengan status juara turnamen Tien Phong Plastic. Sebuah prestasi yang layak untuk dijadikan alasan menempatkan Indonesia sebagai salah satu favorit juara.


THAILAND
Negeri Gajah Putih masih menjadi kekuatan superior di kancah sepakbola Asia Tenggara. Hampir di segala kejuaraan, gelar juara selalu lekat dengan negara pengoleksi trophi terbanyak AFF U 15.

Sejak digelar mulai tahun 2002, Thailand sudah 3 kali tampil sebagai juara. Gelar itu mereka sabet pada tahun 2007, 2011 dan terakhir 2015.

Tim Nasional Thailand U 15/16 - google image

Kini, dengan status sebagai tuan rumah, Thailand tetap menjadi negeri yang difavoritkan menjadi juara AFF Cup U15 tahun 2017 ini. Bila itu berhasil mereka wujudkan, maka prestasi timnas junior Gajah Putih akan menyamai tim nasional senior yang baru saja menjuarai ajang AFF Cup 2017, setelah dalam head to head partai gand final mengalahkan tim nasional Garuda Indonesia.

Namun, kelemahan tim nasional Thailand U 15 kali ini adalah minimnya persiapan. Tim inti baru terbentuk dalam waktu 2 minggu menjelang turnamen antar bangsa ASEAN.


AUSTRALIA
Sejak diterima bergabung dengan AFC dan AFF, Australia menjadi pesaing baru bagi tim sepakbola negara-negara ASEAN.

Negeri Kanguru sengaja membidik kawasan Asia Tenggara untuk memudahkan laju mereka dalam memperoleh tikat Piala Dunia. Ketika masih bergabung di Federasi Sepakbola Pasifik, Australia senantiasa terhenti saat berhadapan dengan wakil zona Amerika Latin. AFF dan AFC pun dianggap region yang menjanjikan.

Sesi latihan tim nasional Australia U 15/16 - topskor image

Terbukti, Australia telah mengoleksi 2 gelar AFF Cup U 15 yang mereka raih pada tahun 2008 dan 2016. Kini, mereka datang ke kejuaraan ini dengan satus juara bertahan. Tim nasional negeri Kanguru juga ditangani pelatih yang berstatus sebagai mantan pemain Midlebrough, klub peserta English Premier League.


SINGAPURA
Tidak banyak yang bisa diperbuat oleh negeri Singa dalam segala kejuaraan sepakbola junior di region Asia Tenggara.

Tim nasional Singapura U 15/16 - google image

Selama keikutsertaan Singapura di AFF Cup U 15, mereka lebih sering kandas di babak kualifikasi grup. Prestasi terbaik mereka adalah ketika berhasil menembus babak empat besar pada tahun 2008 dan 2011.


MYANMAR
Dalam lima tahun terakhir, negeri yang dulu bernama Burma bangkit di sektor sepakbola. Myanmar yang dahulu pernah menjadi kekuatan superior asia, kembali menjadi kekuatan baru di Asia Tenggara.

Sukses terbesar mereka adalah ketika tim nasional Myanmar U 19 berhasil lolos ke ajang Piala Dunia U 20 tahun 2014.

Tim nasional Myanmar U 15/16 - google image

Sementara, tim nasional U 15 Myanmar juga tidak kalah menggeliat. Selama kiprah mereka dalam kejuaraan AFF Cup U 15, dua gelar juara telah berhasil diraih pada tahun 2002 dan 2005.

Myanmar, meski pernah dibantai Indonesia dalam ajang Tien Phong Plastic Vietnam 2017, tetap menjadi salah negara yang layak difavoritkan menjadi juara.


LAOS
Sama dengan negeri serumpunnya, Myanmar, sepakbola Laos juga menggeliat, tumbuh menjadi kekuatan baru di Asia Tenggara.

Tim nasional Laos U 15/16 - google image

Meski belum pernah mengenyam gelar juara dalam semua kejuaraan sepakbola ASEAN, tetapi Laos selalu menyulitkan tim-tim favorit juara. Kerap kali, mereka tampil sebagai batu sandungan negara superior.

Selama kiprah mereka di AFF U 15, prestasi terbaik Laos adalah berhasil tampil sebagai runner-up sebanyak 3 kali. Gelar juara kedua itu diraih pada tahun 2002, 2007 dan 2011.

-o0o-

Melihat peta kekuatan lawan, juga hasil pertandingan saat uji coba maupun pada turnamen Tien Phong Plastic Vietnam, anak asuh Fachri Husaini tetap masih memiliki taring untuk bersaing dengan kompetitornya.

Inilah ajang bagi Indonesia untuk mengembalikan nama besar, setelah sempat terasingkan di kancah internasional akibat konflik internal.

Bravo Merah Putih.

(Heru Sang Mahadewa)
Member of One Day One Post

Minggu, 09 Juli 2017

KRT HIROSROJO, ADIPATI PACE PENENTANG VOC



Sepeninggal Sultan Agung Anyakrakusuma, ketika tahta Mataram diduduki Amangkurat I, gejolak ketidakpuasan terjadi dimana-mana. Hal ini dipicu oleh kebijakan raja yang memerintah dengan keras, berseberangan dengan ulama, dan menjalin persekutuan dengan VOC.

Puncak dari mosi tidak percaya itu adalah terjadinya pemberontakan kadipaten-kadipaten Brang Wetan (Madura, Surabaya, Pasuruan, Balitar, Japan, Kediri, Pace, Godean, Berbek, Purabaya/Madiun) yang digerakkan oleh Raden Trunajaya. Adipati Madura ini menyerang besar-besaran ke keraton Mataram hingga Amangkurat I mengungsi di Tegal, meminta perlindungan VOC, disertai putra mahkota Adipati Anom. 

Kekosongan keraton dimanfaatkan putra Amangkurat I yang lain, yaitu Pangeran Puger untuk memproklamirkan diri sebagai penguasa baru. Dia bergelar Susuhunan Paku Buwana Senapati Ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatulah Tanah Jawa (Pakubuwana I).

Dalam pengungsian, Amangkurat I meninggal. Status tahta diberikan kepada putranya, Adipati Anom yang kemudian bergelar Amangkurat II. 

Terjadi perang saudara antara Pakubuwana I dan Amangkurat II. 

Amangkurat II menyingkir ke Wanakerta (Kartasura). Berkat persekutuan dengan VOC, dia berhasil mengalahkan adiknya, Pakubuwana I. Bahkan, gabungan pasukannya dengan VOC juga memburu Trunajaya yang bermarkas di Kediri.

Ketika itu, kadipaten Pace dipimpin seorang adipati yang tidak pernah surut menentang VOC, Kangjêng Raden Tumênggung Hirosrojo. Pace senantiasa menjadi wilayah yang loyal kepada Trunajaya dalam memerangi penjajah. Bahkan berlanjut hingga masa perjuangan Untung Suropati.

Kangjêng Raden Tumênggung Hirosrojo membawa Pace menjadi kadipaten yang diperhitungkan oleh pasukan gabungan VOC - Amangkurat II. Ia menjadi benteng pertahanan terakhir sebelum Trunajaya di lereng gunung Kelud, Kediri ditumpas.

Setelah masa Palihan Nagari, Kangjêng Raden Tumênggung Hirosrojo mangkat. Jasadnya ditolak penduduk Pace Wetan karena intimidasi VOC. Akhirnya, adipati yang semasa hidupnya konsisten berjuang menentang penjajah itu dikebumikan di Pace Kulon.

Mitologi masyarakat setempat menyebutkan bahwa akibat peristiwa itu, orang-orang desa Pace Wetan terkena sabda bahwa selama tujuh keturunan tidak akan diterima menjadi abdi pemerintahan (Pegawai Negeri Sipil).

Konon, sabda itu baru putus beberapa dasawarsa ini, setelah generasi ketujuh Pace Wetan lahir.

Kini, orang-orang menyebut makam Kangjêng Raden Tumênggung Hirosrojo sebagai Pasarean Sentono Kacek.

(Heru Sang Mahadewa)
Member of One Day One Post

Foto: 
Koleksi pribadi

Lokasi: 
Sentono Kacek. Desa Pace Kulon, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Sumber: 
Babad Tanah Jawi
Wawancara dengan Mbah Pace, juru kunci Sentono Kacek.

Sabtu, 08 Juli 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (12)



ilustrasi gambar: Yayasan Wacana



POCUNG 13
Setelah lama menghadap Sang Prabu, telah disampaikankan semua, pesan Kanjeng Sunan Giri Prapen, tidak lama kemudian Sri Raja Mataram.

POCUNG 14
Berangkat mendatangi wilayah-wilayang Brang Wetan dan yang dituju pertama adalah, ke negeri Japan, seluruh Bupati, Brang Wetan telah berkumpul di Japan

POCUNG 15
Dikisahkan bahwa sang maha guru di Giri, telah mendengar kabar, bahwa Sang Prabu Mantawis (Mataram), mengepung para bupati yang berkumpul di Japan.

POCUNG 16
Telah dikerahkan pasukan untuk siap berperang, Kanjeng Sunan di  gunung Giri, mengirim utusan dengan membawa pesan tertulis, berangkatlah sepuluh orang ke Japan.

POCUNG 17
Sampai di Japan lalu berkumpul, pembesar Mataram, dan para Bupati dari Brang Wetan, setelah lengkap utusan Giri mengutarakan.

POCUNG 18
Duh para pembesar Mataram, dan para pembesar Brang Wetan semua, kedatanganku atas perintah, Kanjeng Sunan Giri Prapen untuk menyampaikan surat.

POCUNG 19
Aku bacakan biar semuanya jelas, perhatikanlah semua, isi yang telah ditulis, lalu utusan dari Giri maju ke tengah untuk membacakan surat.

POCUNG 20
Suratku Kanjeng Sunan Giri Prapen kukatakan, kepada putraku, Senopati Ing Mataram, juga putraku Pangeran Surabaya.

POCUNG 21
Seperti kabar yang telah kuterima tentang perang hingga titik darah penghabisan, yang kalian perebutkan, aku tidak merestuinya, akan banyak yang mati dengan sia-sia.

POCUNG 22
Kelak semua akan kembali ke hadapan Hyang Agung (Allah SWT), bukalah hati, baik dan buruk sudah digariskan, jangan menjemput takdir (kematian) itu jika memang belum waktunya.

POCUNG 23
Kembali gunakanlah budi pekerti yang mulia, agar kekal persaudaran, aku bawa sebuah peribahasa, bagai wadah dan isinya, pilih mana.

POCUNG 24
Aku sarankan kalian untuk memilih salah satu, isi atau wadah, setelah semua memilih, berjanjilah untuk setia kepada hati masing-masing.

POCUNG 25
Bersyukurlah terhadap segala takdir Allah Yang Maha Besar, yang menjadi pilihan-Nya, semua itu tidak bisa sama, segala keadaan yang terjadi di belakang nanti.

..................

BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *