This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 09 Mei 2017

WAHYU PURBO SEJATI

devianart.com




Surup belum sepenuhnya datang. Namun, sejak siang hari, mendung telah bergelayut di atas Gandamadana. Membuat gunung yang dianggap suci itu tampak gulita. Sejauh tatapan mata, hamparan langit hanya memampangkan warna gelap. Dari setiap bentang cakrawala pada candikkala itu, hanya pekat saja yang terlihat. Puncak gunung yang menjadi tempat pendharmaan abu jenazah Prabu Kunti Boja, pendiri negeri Mandura bagai ditutup layar hitam yang membentang di seluruh atap langit. Sesekali, terdengar suara guntur menggelegar.

Seorang kesatria bertubuh lencir dan wajah rupawan mendatangi cungkup Prabu Kunti Boja. Dia tidak masuk ke garbhagriha, tetapi berjalan ke belakang bangunan.

Sejenak, kesatria yang tak lain adalah Raden Permadi, putra Pandudewanata dan Dewi Kunti itu menghampiri sendang kecil di dekat cungkup. Dia membersihkan tangan, lalu membasuhkan air ke mukanya. Sang Pandawa ketiga ingin menghabiskan malam dengan bertapa brata untuk mendapatkan ketenangan batin, menuruti pawisik yang diterimanya. Pawisik bahwa dirinya menjadi manusia terpilih Dewata, sebagai penerima sebuah anugerah niskala.

Setelah bersuci, Raden Permadi bersila dalam sikap padmasana. Tangannya membentuk sembah, diangkat ke atas ubun-ubun. Dia berusaha memusatkan kesadarannya di titik ajna, untuk lebur bersama alam semesta. Mulutnya membaca mantra-mantra penyejuk batin.

Sejurus kemudian, tangannya yang bersembah ketika merapalkan mantra tiba-tiba diturunkan. Kini, tangan itu membentuk amusthikarana. Napasnya diatur mengikuti alunan mantra dalam hati. Dia merapalkan asma para Dewa, seiring napas yang keluar dan masuk melalui hidungnya.

Dalam keheningan yang menghanyutkan, batinnya tersadar. Kesadarannya membentang tanpa batas. Tiba-tiba dia melihat dirinya sendiri berdiri di depannya. Sosok itu tampak lebih tampan, lebih tenang, selalu tersenyum dan bercahaya.

Ketika Raden Permadi kian tenggelam dalam keheningan yang menghanyutkan, dua kesatria lain mendatangi cungkup Prabu Kunti Boja. 

Kesatria pertama berkulit kemerah-merahan. Pandangan matanya jelalatan, menoleh ke sekeliling bangunan suci. Seolah memastikan bahwa tiada manusia lain yang menginjakkan kaki di puncak gunung Gandamadana, selain dia dan kesatria yang bersamanya. 

Kesatria kedua, berkulit hitam legam. Bibirnya senantiasa mengumbar senyum. Tatapan matanya tampak teduh.

Dua kesatria itu adalah Prabu Baladewa, penguasa Mandura dan Prabu Kresna, penguasa Dwarawati. Mereka adalah cucu dari mendiang Prabu Kunti Boja sendiri. Keduanya juga mendapat pawisik dari Dewata agar melakukan tapa brata di puncak gunung Gandamadana. Tepat di astana----pemakaman----eyang dan leluhurnya.

-o0o-

Jauh dari puncak gunung Gandamadana, terjadi pertemuan dua penguasa bangsa danawa. Ditya Kunjanawresa dan Prabu Gondayitma. 

Ditya Kunjanawresa, sosok danawa berkepala kuda yang menjadi penguasa Mregapati pernah dikalahkan oleh Raden Narayanana----nama muda Prabu Kresna----ketika dia bersama dua kakaknya, Kunjarakresna dan Yudakalakresna mengeroyok kesatria Dwarawati. Nahas, dua kakaknya tewas, sedangkan Ditya Kunjanawresa berhasil melarikan diri ke gunung Mregapati dan mengumpulkan prajurit dari bangsa brekasakan di sana.

Sementara Prabu Godayitma adalah reinkarnasi dari roh Prabu Dasamuka, penguasa Alengka. Dahulu, setelah menculik Rakryanwara Sinta, terjadi perang besar antara pasukan Alengka melawan Prabu Sri Rama, suami Sinta, Raden Lesmana yang dibantu pasukan kera dari gua Kiskenda. Ketika itu, Sugriwa, Subali dan Kapi Hanoman, para panglima perang bersosok kera, menjadi aktor kunci dibalik tewasnya Dasamuka.

Prabu Sri Rama adalah titisan Bathara Wisnu. Kini, setelah ratusan tahun berlalu, Prabu Godayitma menemukan kembali Dewata itu telah menitis ke raga Prabu Kresna. Maka, dendam kematian masa lalu ketika dia masih menjadi Dasamuka, patut dibalaskan kepada sang penguasa Dwarawati.

Prabu Godayitma tak jauh dari peringai Dasamuka yang tergila-gila dengan Rakryanwara Sinta. Telah lama pula, dia mengagumi kecantikan Dewi Bratajaya. Beberapa kali dia mencoba menculik adik dari Prabu Baladewa dan Prabu Kresna itu, tetapi selalu gagal. Prabu Baladewa senantiasa menjadi penlindung bagi Dewi Bratajaya yang memang tinggal di istana Mandura, ikut sang kakak.

Hari itu, antara Ditya Kunjanawresa dan Prabu Godayitma sepakat bersatu untuk melampiaskan dendam kesumat mereka. Berangkatlah pasukan gabungan Mregapati dan Tawanggantungan ke Dwarawati. Patih Prahastayitma dan Raden Begakumara menjadi senopati pasukan hantu.

Hari itu pula, Dewi Bratajaya sedang berkunjung ke Dwarawati bersama Prabu Baladewa, sebelum penguasa Mandura pergi bertapa ke gunung Gandamadana bersama Prabu Kresna.

Raden Setyaki, senopati Dwarawati bersama seorang Patih muda bernama Pragota menghadang ribuan pasukan danawa di alun-alun. Mereka juga ditopang punggawa senior Arya Udawa dan Arya Prabawa.

“Asu! Brekasakan dari mana, kalian?” Umpat Raden Setyaki.

“Minggir!” Jawab Patih Prahastayitma, senopati Tawanggantungan.

“Dedemit edan! Kurobek-robek mulut besarmu!”

Sejurus kemudian, Raden Setyaki langsung menghajar Patih Prahastayitma. Namun, senopati Dwarawati sekaligus ipar Prabu Kresna itu bagai bertarung melawang gugusan karang. Pukulan demi pukulan yang dia layangkan ke tubuh lawan seperti membentur besi baja.

Dalam sebuah gerakan, Patih Prahastayitma bahkan nyaris meringkus tubuh kecil Raden Setyaki. Beruntung, kesatria dari Lesanpura itu ingat sebuah Aji Panglimunan yang dulu pernah diajarkan Raden Permadi, Pandawa ketiga. Tanpa menunggu musuh menyerang lagi, dia segera membacakan mantra pengabur raga.

“Aku harus segera ke gunung Gandamadana. Dwarawati dalam bahaya,” batin Raden Setyaki. Dalam wujud tak kasat mata, dia menghampiri tiga punggawa Dwarawati.

“Bertahanlah sekuat tenaga, musuh kita bukan bangsa manusia. Aku akan segera kembali bersama sinuwun Prabu Kresna,” ucapnya kepada Patih Pragota, Arya Udawa dan Arya Prabawa. Sejurus kemudian, dia melesat menggunakan Aji Sepi Angin, menuju puncak gunung Gandamadana, tempat Prabu Kresna dan Prabu Baladewa sedang bertapa.

Kini, Patih Pragota, Arya Udawa dan Arya Prabawa yang bertarung melawan Ditya Kunjanawresa, Prabu Godayitma dan Raden Begakumara. Tiga lawan tiga. Tiga kesatria Dwarawati menghadapi tiga danawa.

“Menyerahlah, kalian bukan lawan kami!” Sesumbar Ditya Kunjanawresa, sambil memamerkan gigi taring yang mencuat dari sudut mulutnya. Wajahnya memerah, bibirnya mendesis-desis, siap memangsa siapaun yang berada di hadapannya.

“Keluar, kau Kresna dan Baladewa!” Imbuh Prabu Godayitma. Sorot matanya tak kalah beringas dari Ditya Kunjanawresa. Sepasang gigi runcing juga menyeruak keluar dari mulutnya.

“Langkahi dulu mayat kami!” Balas Arya Udawa. Tangan kanannya telah mengangkat sebilah pedang. Hal yang sama juga diikuti oleh Arya Prabawa. Keduanya sadar, menghadapi dua raja bangsa danawa tidak boleh lengah sedikitpun. Tangan, leher dan kepala mereka senantiasa jadi incaran gigi-gigi taring Ditya Kunjanawresa dan Prabu Godayitma. Sementara, Patih Pragota bergerak menjauh, membantu pasukan Dwarawati di sisi lain.

Alun-alun Dwarawati beruban menjadi palagan perang.

Pasukan niskala Mregapati dan Tawanggantungan maupun para prajurit Dwarawati saling unjuk kedigdayaan. Suara jerit kesakitan mengiringi percikan darah yang bersahut-sahutan dari kedua pasukan.

“Suruh keluar Kresna dan Baladewa!” Ucap Patih Prahastayitma yang menjadi marah karena Raden Setyaki mendadak lenyap dari hadapannya. Dia mengamuki barisan prajurit Dwarawati yang sedang bertarung dengan pasukan dedemit Mregapati dan Tawanggantungan.

“Sinuwun Prabu Kresna dan Prabu Baladewa sedang bertapa di gunung Gandamadana!” Jawab Patih Pragota yang tiba-tiba telah berdiri menantang Patih Prahatayitma. Kini, kedua patih dari masing-masing kubu telah berhadap-hadapan.

Namun, kesatria belia Dwarawati itu dengan polosnya terpancing ucapan lawan. Tanpa disadarinya, Patih Prahatayitma telah mengeluarkan Aji Pameling.

“Kresna dan Baladewa tidak ada di Dwarawati. Keduanya berada di gunung Gandamadana,” bisik sang senopati pasukan danawa melalui kontak batin dengan Ditya Kunjanawresa dan Prabu Godayitma.

“Hahahaha ..... hahahaha ... akhirnya Bratajaya menjadi milikku! Bratajaya sebentar lagi menjadi istriku!” Tertawa terbahak-bahak Prabu Godayitma.

Sejurus kemudian, penguasa Tawanggantungan itu langsung melesat menerobos istana Dwarawati. Disusul Raden Begakumara, pengawal setianya. Sementara, Ditya Kunjanawresa dengan mudah menahan gempuran Arya Udawa dan Arya Prabawa yang berusaha mengejar Prabu Godayitma.

Jerit tangis dan ketakutan pecah dari istana kaputren. Para dayang dan Dewi Bratajaya tak kuasa menahan tarikan tangan Prabu Godayitma dan Raden Begakumara yang dengan beringas membopong tubuh puteri satu-satunya mendiang Prabu Basudewa.

Sekedip kemudian, sosok dua danawa telah melesat meninggalkan Dwarawati, membawa lari Dewi Bratajaya.

BERSAMBUNG

Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Catatan:
Surup = senja.
Candikkala = senjakala, sinonim surup.
Cungkup = bangunan pelindung makam.
Garbhagriha = ruang utama bangunan suci, candi, pendharmaan.
Sendang = kolam yang terbuat akibat aliran sebuah mata air.
Pawisik = bisikan.
Niskala = ghaib.
Padmasana = Posisi duduk bersila seperti bunga teratai.
Ajna = mata ketiga, mata batin.
Amusthikarana = sikap tangan kanan mengepal dibungkus oleh tangan kiri yang masing-masing ibu jarinya bertemu dan ujung-ujungnya mengarah ke atas,  ditempatkan di depan hulu hati.
Danawa = makhluk raksasa
Brekasakan = makhluk yang tidak jelas wujud dan asal-usulnya.
Asu = Anjing, bahasa Jawa.
Dedemit = demit, golongan jin jahat.
Aji Panglimunan = ilmu kesaktian yang bisa mengaburkan pandangan orang lain.
Aji Sepi Angin = ilmu kesaktian yang bisa membawa tubuh pemiliknya menuju suatu tempat dalam sekejap.
Aji Pameling = ilmu kesaktian untuk berkontak batin.

Senin, 01 Mei 2017

SEMBILAN BELAS TAHUN REFORMASI, BENANG KUSUT PERBURUHAN YANG TAK JUA TERURAI



Jakarta, Mei 1998.    
Atas nama rakyat, gedung parlemen diduduki ribuan massa. Mosi tidak percaya kepada para senator berimbas ke tuntutan mundurnya presiden RI ke-2, Pak Harto. 

Pemimpin orde baru itu dianggap sebagai orang yang paling bertanggungjawab dengan terpuruknya ekonomi tanah air. Ketika itu, nilai tukar rupiah terhempas. Dolar Amerika melejit empat kali lipat. Inflasi tak terbendung lagi.

Ibu kota membara. Kerusuhan pecah dimana-mana. Penjarahan harta dan kehormatan wanita mewarnai aksi yang berlabel reformasi itu. Ras mata sipit berkulit kuning menjadi bulan-bulanan massa, bagai anak domba yang dikepung ribuan ekor singa lapar. Singa-singa yang mendapat moment lepas dari kandang. Lalu, melampiaskan dahaganya atas belenggu kebebasan. Memuaskan rasa laparnya atas ketidakadilan dan kesenjangan.

Pak Harto lengser. Kerusuhan reda.

Tokoh-tokoh baru pasca reformasi muncul silih berganti. Harapan baru akan datangnya era keadilan, baik di sisi hukum maupun ekonomi tumbuh pula. Salah satu kaum yang mendambakan keadilan itu adalah buruh. Golongan warga negara yang menganggap selama rezim orde baru berkuasa, mereka tertindas oleh kaum kapitalis.

Berbagai kebijakan dan payung hukum yang dikeluarkan pemerintah, senantiasa berpihak kepada pengusaha. Tentunya, ini dari sudut pandang buruh.

Runtuhnya rezim orde baru, membangkitkan lagi semangat buruh untuk menggelorakan tuntutan perubahan. Diantara sekian banyak point yang diperjuangkan, pemberian upah layak dan penghapusan sistem kerja kontrak (kini berganti outsourcing) adalah permintaan yang menjadi prioritas. Disamping pemberian jaminan kesehatan, serta penyediaan perumahan murah bagi buruh.

Kini, reformasi telah bergulir selama sembilan belas tahun, tepat pada bulan Mei. Bagaimana progress harapan baru tentang keadilan yang pernah didambakan buruh itu? 

Bagai pungguk yang merindukan bulan. Lupakan saja mimpi itu, kawan. Negeri ini dibangun dengan sokongan pertumbuhan ekonomi yang dimotori kaum kapitalis. Mustahil, pemerintah akan mengeluarkan regulasi yang memberatkan pengusaha.

Angin segar sempat berhembus, ketika pada era Menakertrans Muhaimin Iskandar, sistem tenaga kerja alih daya (outsourcing) dihapus. Keputusan Mahkamah Konstitusi tahun 2012 yang melarang penggunaan karyawan outsourcing bagi proses inti sebuah perusahaan atau institusi, sontak membuat buruh bersujud syukur.

Tapi, kebijakan Menakertrans dan putusan MK benar-benar menjadi angin segar yang sekedar berhembus sesaat, lalu pergi. Jauh panggang dari api. Alih-alih sistem tenaga kerja alih daya dihapus, yang ada justru hampir seluruh perusahaan di Indonesia, baik swasta maupun milik negara (BUMN), kian marak menggunakan tenaga kerja outsourcing.

Sistem perburuhan di Indonesia, memang telah carut marut. Buruh, merasa menjadi obyek penindasan dengan adanya sistem outsourcing. Sementara, pemerintah dan pengusaha juga berada pada pilihan yang tidak mudah. Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang, tidak mungkin mereka berani membuka kran perekrutan tenaga kerja permanen dalam jumlah ribuan.

Lalu, bagaimana mengurai benang kusut itu?

Harus ada win-win solution. Sistem outsourcing mustahil dihapus. Tetapi, harus ada jalan tengah bagi kedua pihak. Baik buruh maupun pengusaha, harus bisa menempatkan hak dan kewajiban dalam keseimbangan.

Bagi para buruh, kewajiban mereka tentu memberikan seluruh kemampuan terbaiknya untuk perusahaan tempatnya bekerja. Memegang teguh kedisiplinan karyawan, menjadi harga mati.

Kenapa? Apakah ada buruh yang tidak seperti itu?

Jujur, banyak saya menemukannya. Skill dan kompetensi pas-pasan, namun berharap mendapatkan reward yang seharusnya tidak layak untuk kemampuannya. Etos kerja yang buruk, juga terkadang masih melekat pada sebagian pekerja.

Bagi pengusaha, kewajiban mereka adalah memberikan hak-hak buruh. Pemberian gaji layak sesuai UMK, upah lembur bagi yang bekerja melebihi batas jam kerja normatif, layanan kesehatan untuk buruh dan keluarganya adalah point-point yang menjadi harga mati. Apapun statusnya. Baik karyawan tetap, kontrak maupun outsourcing, semua harus mendapatkannya.

Apakah ada perusahaan yang tidak menunaikan kewajibannya seperti itu?

Jujur, banyak saya menemukannya. Praktek kenakalan (jika tidak mau disebut pelanggar Undang Undang) oleh sebagian perusahaan yang merugikan buruh masih sering terjadi.

Mulai hari ini, seyogyanya semua itu diakhiri. Baik buruh maupun pengusaha, harus bisa menciptakan paradigma baru. Saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing.

Jika itu terjadi, hubungan kerja yang industrial Pancasila niscaya akan tercipta.

Selamat Hari Buruh Sedunia, 1 Mei 2017.

Salam solidaritas,
(Heru Sang Mahadewa)
Member of #OneDayOnePost
Anggota Serikat Pekerja RTMM-SPSI

Minggu, 30 April 2017

EMPAT HAL YANG HARUS KITA LAKUKAN JIKA MENJADI MEMBER SUPER AKTIF DI GRUP SOSIAL MEDIA



"Mas, mohon maaf. Dengan berat hati saya izin keluar dari grup alumni sekolah kita," ucap seorang teman saya melaui pesan di aplikasi sebuah sosial media.

Pernyataan itu muncul, setelah sebulan ini dia sangat aktif di chat grup kami. Teman saya itu, selain admin grup, memang sedang menjadi salah satu panitia reuni yang rencananya akan diadakan saat libur Idul Fitri tahun ini. Berbagai obrolan, baik seputar persiapan acara temu kangen, maupun yang ngalor ngidur di luar topik pun naik pesat. Mulai fajar hingga bulan berpendar, bahkan larut malam, grup alumni kami tidak pernah sepi.

"Kenapa?" Saya membalas pernyataannya.

"Tadi malam saya disidang suami. Katanya, semenjak bergabung di grup, saya banyak berubah. Pekerjaan rumah terbengkelai. Perhatian ke anak-anak dan suami jauh berkurang. Waktu habis untuk ber-chating ria. Dia memberi ultimatum, silahkan saya memilih keluarga atau teman-teman sekolah di grup kita!" Jelasnya.

Jleb!

Saya tidak menyangka jika aktivitas dia di grup, berdampak begitu jauh terhadap kenyamanan keluarganya. Sambil menyesap sisa kopi yang mulai dingin, saya memutar otak, berpikir bagaimana menyikapi masalah seperti ini. 

"Baiklah," jawab saya,

"Saat ini, memang lebih bijak sampeyan break dulu dari grup kita. Mungkin juga dari grup-grup lain yang menyebabkan suami sampeyan sampai memberi ultimatum. Seiring waktu, jika situasi sudah memungkinkan dan suami mengizinkan, tentu sampeyan bisa bergabung kembali."

Beberapa menit kemudian, sahabat saya itu benar-benar left dari grup alumni sekolah. Padahal, dia termasuk salah satu admin dan panitia reuni yang banyak memberi ide cemerlang. Saya dan beberapa teman pun merasa sangat kehilangan.

Begitulah. Perkembangan teknologi komunikasi, saat ini melejit bukan main. Pengguna smartphone tidak hanya berasal dari kalangan masyarakat berpendidikan tinggi, tidak pula dari strata sosial menengah ke atas saja, tetapi seluruh lapisan penduduk negeri ini mulai dari level kuli hingga pegiat akademisi yang berdasi, hampir semuanya telah memiliki akun sosial media. Bagian tak terpisahkan dari fasilitas ponsel pintar.

Celakanya, tidak semua pemakai smartphone siap menghadapi dampak maraknya penggunaan sosial media. Sedikit salah mengambil prinsip, kita bisa terdampar di pergaulan yang salah arah. Paling apes, seperti keluh kesah sahabat saya. Hubungan dengan pasangan, menjadi tidak nyaman.

Lalu, apakah kita harus menutup semua aplikasi sosial media, lantas mengisolasi diri?

Semua tergantung prinsip masing-masing. Baik sosialita maupun orang yang memilih tidak bersentuhan dengan era teknologi komunikasi modern, keduanya sama-sama memiliki nilai plus minus.

Tetapi, jika sahabat sekalian berprinsip tetap aktif di sosial media, apalagi menjadi member sebuah grup yang konsekuensinya adalah memiliki traffict chat sangat tinggi, berikut adalah empat hal yang harus dilakukan agar keluarga kita baik-baik saja.

1. Beri penjelasan kepada pasangan.
Sampaikan baik-baik dengan suami atau istri. Kita sedang menggunakan aplikasi sosial media karena membutuhkannya sebagai media penunjang. Jelaskan bahwa bisnis, usaha, pekerjaan atau kelas pelatihan bakat kita tidak bisa lepas dari fasilitas smartphone itu.

Bicarakan dari hati ke hati dengan pasangan, tentang aktivitas kita di grup sosial media.

2. Kendalikan waktu.
Setinggi apapun loyalitas kita kepada grup, sebesar apapun kebutuhan kita kepada aplikasi sosial media, tetap utamakan waktu untuk keluarga. Atur sebaik mungkin kapan saatnya ber-chating ria di grup, kapan waktu untuk suami, anak dan istri.

Jangan mem-forsir habis seluruh waktu kita untuk sosial media.

3. Beri keyakinan kepada pasangan bahwa kita tidak berubah.
Ketika aktiv di sosial media, terkadang pasangan kita berprasangka negativ. Cemburu. Ini wajar. Artinya dia sayang.

Nah, yakinkan kepadanya bahwa kita tidak sedang berbelok haluan. Semua ini murni menyambung tali persahabatan. Merajut silaturrahmi.

4. Batasi Candaan.
Tidak bisa dipungkiri, postingan di grup sosial media, terkadang bermuatan candaan yang bagi sebagian orang dianggap kelewatan. Sebagian pasangan kita, terkadang juga ikut membacanya.

Dengan saling membatasi candaan, maka persepsi miring terhadap chat grup di sosial media bisa berkurang.

Demikianlah, kuncinya terletak pada komunikasi dengan pasangan. Semoga sahabat sekalian tetap nyaman bersosialita, tanpa mengusik sedikitpun keharmonisan dan kebahagiaan kita dengan keluarga.

Salam bahagia,

(Heru Sang Mahadewa)
Member of #OneDayOnePost

Kamis, 27 April 2017

SENDANG MADE, JEJAK PELARIAN BATHARA ERLANGGA




Tak jauh dari situs gunung Pucangan, berjarak sekitar tiga kilometer, terdapat sebuah tempat yang juga menyimpan jejak-jejak Bathara Erlangga (Airlangga), pendiri kerajaan Kahuripan. Sendang Made.

Berada di Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Jalur menuju sumber mata air ini sama dengan gunung Pucangan. Bedanya, kondisi jalan menuju situs di tepi hutan tropis itu lebih representativ. Pemerintah setempat telah mengganti aspal dengan cor beton. Para pengunjung seperti saya bisa bersepeda motor dengan leluasa hingga lokasi.

Sampai di pertigaan desa Made, terdapat papan petunjuk arah yang menjadi panduan pengunjung untuk menuju dua tempat yang menyimpan jejak Bathara Erlangga, baik ke sendang Made atau ke gunung Pucangan.

Setelah melewati sebuah kompleks pemakaman umum, sekitar 500 meter dari jalan utama desa, kita akan sampai di Sendang Made. Tidak ada retribusi. Pengunjung hanya dipersilahkan mengisi kotak amal seikhlasnya.

Tentang Sendang Made
Merupakan kawasan sumber mata air di kaki gunung Pucangan, rangkaian dari pegunungan kapur Kendeng yang membentang dari wilayah Jawa Tengah hingga sebagian Jawa Timur.

Dahulu, ketika kota Watan (Maospati, Magetan, Jawa Timur sekarang), ibu kota Medang Kamulan dihancurkan oleh Aji Wura Wari, penguasa Lwaram (Ngloram, Blora, Jawa Tengah sekarang) yang menyebabkan Bathara Daharmawangsa beserta permaisuri dan seluruh punggawanya tewas, Erlangga muda bersama istrinya Dewi Galuh Sekar Kedaton yang selamat dari pralaya itu sempat singgah di sendang ini saat menjalani pelarian.

Di sendang Made inilah, Erlangga bersuci, beristirahat, melepas penat dan lelah. Sebelum akhirnya bertapa di gunung Pucangan untuk menyusun kekuatan kembali. Menjadi kesatria baru di sana, hingga berhasil menguasai Jawa Dwipa.

Tentang Pralaya Medang yang saya sebutkan di atas, baca selengkapnya DISINI

Sendang Made sendiri memiliki tujuh mata air. Jika kita lihat dari indera niskala, masing-masing sendang memiliki keistimewaan sendiri. Tentunya manfaat itu bisa digunakan dengan panduan praktisi dan ahlinya.

Tujuh mata air yang hingga kini masih menjadi favorit para peziarah adalah:

Sendang Pomben
Airnya dipercaya memiliki khasiat tertentu jika diminum.

Sendang Pomben - Dok. Pribadi


Sendang Gede
Airnya dipercaya masyarakat desa Made dan sekitarnya bisa menyuburkan tanaman. Karenanya, hingga sekarang mata air dari sendang yang memiliki ukuran paling besar dibanding sendang lainnya itu dialirkan ke sawah-sawah penduduk.

Sendang Gede (kolam yang berukuran besar) - Dok. Pribadi

Sendang Pangilon
Airnya sangat jernih, meski terkena goncangan ataupun kejatuhan benda. Sendang Pangilon bisa digunakan untuk bercermin. Simbol bahwa seyogyanya setiap peziarah yang datang senantiasa introspeksi diri.

Sendang Pangilon (kolam ukuran kecil) - Dok. Pribadi

Sendang Condong
Dikelilingi pepohonan yang tumbuh miring atau condong. Airnya dipercaya membawa manfaat bagi orang yang memiliki hajat atau keinginan tertentu.

Sendang Condong - Dok. Pribadi

Sendang Sumber Payung
Airnya dipercaya bisa digunakan untuk penyembuhan. Analisa saya, hal ini dikarenakan kandungan pegunungan kapur di sendang itu yang banyak mengandung zat mineral.

Sendang Sumber Payung (cungkup/rumah cat putih) - Dok. Pribadi


Sendang Kamulyan
Dipercaya memiliki khasiat bagi para biduan. Konon, suara mereka menjadi merdu setelah memanfaatkan mata air ini.

Sendang Kamulyan - Dok. Pribadi


Sendang Drajat
Mata air yang memiliki aura niskala paling besar. Berbeda dengan sendang lainnya, untuk menggunakan sendang drajat, baik mandi maupun mengambil airnya, pengunjung tidak boleh sendirian. Harus seijin Juru Kunci dan pendampingan orang yang memiliki kemampuan indera niskala.

Konon, air sendang ini memiliki kesucian paling tinggi diantara sumber lainnya. Jika berdoa dengan khusyu', InsyaAllah akan ditinggikan derajatnya.

Saking besarnya aura niskalanya, bahkan untuk sekedar berpose pun saya harus mengucapkan salam tertentu dengan melepas alas kaki. Menghormati kesakralan dan keniskalaan sendang Drajat.

Sendang Drajat - Dok. Pribadi

Kenapa Sendang Made dipercaya memiliki berbagai tuah?

Wallahu Alam Bishawab.

Betapa fakirnya ilmu dan pengetahuan kita.

Sebenarnya, bukan air sendangnya yang mengabulkan segala hajat peziarah di sana. Tetapi sendang Made hanya merupakan sarana bagi manusia yang dengan sungguh-sungguh mau berserah diri kepada Sang Pencipta. Segala pengabulan atas hajat manusia, semua berasal dari-NYA.

Yang pasti, Sendang Made berada di tempat yang agak terpencil dari kawasan penduduk. Suasanya hening, tenang dan menyimpan kedamaian. Sudah barang tentu, bagi siapa saja yang berdoa dengan khusyu’ kepada Allah SWT, meski dengan bahasa dan lidah Jawa kolot, tentu lebih mudah dikabulkan, dibanding jika berdoa di tempat yang bising dan penuh keramaian, sehingga mengurangi kekhusyukan doanya.

Pendopo di Sendang Made - Dok. Pribadi

Ayu, hayu rahayu wilujeng.

Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Rabu, 26 April 2017

AKHIR DARI UPHARAJA BONEKA


Girindrawardhana Dyah Ranawijaya - jawatimuran.net


Sesaat setelah Bathara Ring Wilwatikta Pungkasan (raja terakhir Majapahit), Bhre Kertabumi "dikudeta" oleh puteranya sendiri, Panembahan Jin Bun/Jimbun/Sultan Fattah dari Demak, Antawulan sebagai ibu kota Majapahit dipimpin oleh Nyo Lay Wa. Upharaja ini adalah seorang Tionghoa.

Tampilnya Nyo Lay Wa sebagai Upharaja Antawulan menimbulkan konflik di Brang Wétan. Pertama, dia bukan berasal dari etnis pribumi Majapahit. Kedua, pengukuhan dirinya sebagai pemimpin kotaraja----ibu kota negara----hanya pemberian Sultan Fattah, bukan berdasarkan garis pewaris trah Bathara Ring Wilwatikta. Ketiga, keyakinan yang dianutnya tergolong masih baru dan berbeda dengan keyakinan sisa-sisa loyalis Bhre Kertabumi yang notabene adalah pemeluk Syiwa Sogata.

Gejolak penolakan terhadap Nyo Lay Wa mencapai puncaknya ketika bekas punggawa-punggawa Majapahit melakukan ontran-ontran di Antawulan. Pemberontakan yang mendapat dukungan mayoritas rakyat ini memaksa Upharaja Tionghoa itu lengser keprabon dan tewas.

Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang terhitung sebagai trah Bathara Ring Wilwatikta ditunjuk oleh Demak untuk menggantikan Nyo Lay Wa. Dia menjadi pemimpin melalui tradisi yang benar, tidak seperti pendahulunya.

Tetapi, kehadiran Girindrawardhana sebagai pemimpin baru juga tak mampu mengembalikan era damai di Antawulan. Upharaja ini memilih pindah ke Dahanapura.

Nahas, ketika Demak dipimpin Panembahan Trenggana, perang besar dengan latar belakang syiar membumihanguskan kaum kafir peninggalan Majapahit, menjadikan Dahanapura sebagai penutup perjalanan panjang negeri Wilwatikta.

Setali tiga uang, kejayaan Demak sebagai penguasa baru di Jawa Dwipa juga hanya seumur jagung. Pertikaian sesama anak bangsa (perebutan kekuasaan sesama keturunan Sultan Fattah) mengakibatkan kesultanan bercorak Islam itu turut hancur pula.

Akhir dari kisah sebuah negeri yang pernah berjaya di Nusantara, namun hancur ketika isu perbedaan etnis dan keyakinan dijadikan komoditi perjuangan.

-o0o-

Sejarah bisa terulang.

Nyo Lay Wa adalah upharaja boneka Demak. Dia menjadi pemimpin karena menerima limpahan kedudukan dari Sultan Fattah. Posisinya nyaris sama dengan pemimpin ibu kota RI sekarang yang mendapat limpahan jabatan dari Pak Jokowi tiga tahun silam, ketika beliau terpilih menjadi Presiden.

Hari ini, berdasarkan Quick Count, Nyo Lay Wa-nya DKI bisa dipastikan akan lengser keprabon. Pak Anis Baswedan akan tampil sebagai Girindrawardhana-nya DKI.

Moment suksesi kepemimpinan di ibu kota RI juga tidak jauh berbeda dengan kondisi Antawulan dahulu. Sama-sama diwarnai gejolak massa, isu perbedaan etnis dan keyakinan.

Namun, seluruh rakyat DKI, juga Indonesia umumnya, pasti berharap bahwa tampilnya pemimpin baru kali ini tidak bernasib seperti Upharaja di Antawulan. Impian akan berakhirnya era konflik yang hampir setahun telah menguras energi dan emosi sesama anak bangsa harus diwujudkan.

Mari berkaca dari perjalanan para penguasa Jawa Dwipa di masa lampau.

Selamat kepada pemimpin baru DKI. Yang menang jangan jumawa, yang kalah harus legawa.

Ayu, hayu, rahayu wilujêng.


Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Catatan:
Antawulan = Trowulan, Mojokerto, Jatim sekarang
Dahanapura = Daha, sekitar kota Kediri, Jatim sekarang
Upharaja = Raja bawahan
Brang Wétan = Jawa belahan timur
Syiwa Sogata = Sinkretisme ajaran leluhur Jawa, Syiwa dan Buddha Wajrayana
Wilwatikta = Majapahit (bahasa Sanskerta)

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *