Sabtu, 08 Desember 2018

REVIEW TULISAN HISTORICAL FICTION ODOP 6


google.com



BABAD ALAS MENTAOK
Mbak Betty berada di jalur pemilihan tema yang tepat. Kisah perseteruan sesama anak cucu Panembahan Fattah masih menjadi salah satu tema yang paling diminati para penulis historical fiction.

Kelemahan Babad Alas Mentaok yang ditulis Mbk Betty hanya terletak pada penggunaan kata sapaan yang sedikit kurang pas (bukan berarti salah menurut PUEBI) jika dilihat dari setting waktu peristiwa. Kata sapaan “Nak” dan “Yahnda” adalah bahasa Jawa baru, sedangkan pada abad XV, lebih lazim menggunakan Ngger, Anakmas, Kangmas, Rama, Bapa, dll. Penokohan Jaka Tingkir dan Arya Jipang (baca-Penangsang) lumayan, kecuali pada dialek mereka.

Satu lagi, peralihan satu adegan ke adegan lainnya dalam rentang waktu dan tempat berbeda, terlalu cepat. Terkesan penulis ingin buru-buru meyelesaikan. Jika sedikit sabar, sebenarnya masih bisa dimainkan dengan dialog dan diksi yang lebih panjang.

Secara keseluruhan, cerita ini tetap layak menjadi salah satu nominasi pemenang tantangan kelas historical fiction. Jika diseriusin, bisa menjadi sebuah novel sejarah yang tebal dan menarik.


SEJARAHKU
Meski tema yang diangkat adalah sejarah sastra, tetapi tulisan salah satu PiJe kita ini layak disebut out of the topic. Karena bukan ini yang sebenarnya dibahas dalam kelas historical fiction.J

By the way, tulisan Mbk Dita tetap tidak boleh dilewatkan. Penggunaan diksi yang genit (baca: indah, mendayu-dayu) senantiasa menjadi daya pikat tulisan-tulisan fiksi alumni ODOP batch 3 ini. Pada Sejarahku, rangkaian peristiwa dari masa ke masa dikemas dengan bahasa yang memang nyastra banget.

Namun, karena ia adalah seorang PiJe, maka tidak etis kalau dimasukkan sebagai nominator pemenang tantangan kelas historical fiction.


RADEN SOEROSENTONO
Tidak banyak yang bisa dikupas dari historical fistion biografi tokoh legendaris asal sebuah Kademangan (kini menjadi Kecamatan) di Anjuk Ladang ini. Kang Win memang berada di zona nyaman.

Sebagai pemerhati sejarah, saya justru tertarik dengan sumber data yang dijadikan pijakan oleh penulis dalam menuturkan kisah Raden Soerosentono. Sayangnyya, di akhir tulisan tidak ada keterangan yang menyebutkan tentang itu. Jadi, terkesan cerpen Kang Win hanya folklore atau cerita dari gethok tular.

Namun, secara keseluruhan cerpen ini sangat layak untuk diorbitkan menjadi sebuah novel.


BABAD TULUNGAGUNG
Begitu membaca judulnya, pemerhati sejarah pasti langsung tertarik. Banarawa−nama Tulungagung di masa lalu, adalah salah satu obyek yang saat ini menjadi tujuan riset dalam rangka menyelesaikan novel Airlangga. Sampai pada tahap judul dan tema, Mbak Nurul cukup berhasil memilihnya.

Rangkaian kisah dituturkan dengan runut dan bahasa yang sederhana, sehingga enak dibaca dan mudah dimengerti.

Kelemahan Babad Tulungagung yang ditulis Mbak Nurul, terletak pada minimnya sumber data yang dipakai rujukan. Nampak pada awal cerita, sudah terjadi kesalahan tokoh sejarah. Tentu saja ini berpengaruh pada unsur intrinsik yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah tulisan fiksi.

Jika mau melakukan riset lebih mendalam, tulisan ini bisa menjadi sebuah novelet, atau bahkan novel yang bagus, karena pemilihan tema tepat.


Perang Besar dan Keagungan Cinta Dalam Pasola Sumba
Cerita rakyat, legenda, dan sejenisnya, jika dikemas dengan rangkaian alur, penokohan, konflik dan diksi yang tepat, akan menjadi karya besar. Tulisan Mbak Lisa ini sudah menemukan gen karya besar itu.

Meminjam ucapan Faisal Oddang saat ngopi bareng di Lidah Wetan, Surabaya, minggu lalu, jika seorang penulis pemula ingin menemukan jati diri atau identitas tulisannya, salah satu cara paling mudah adalah dengan mengangkat sejarah atau kultur daerah asalanya. Mbak Lisa sudah melakukannya!

Sedikit kelemahan pada Perang Besar dan Keagungan Cinta Dalam Pasola Sumba, adegan yang semestinya menjadi konflik utama, lagi-lagi dituturkan hanya sepintas. Seandainya saja peristiwa perang dua suku itu ditulis lebih galak ala The Troy, cerpen ini akan menjadi sebuah kisah perang kolosal,

Terlepas dari sedikit kekurangan di atas, Mbak Lisa tetap layak dijadikan nominator pemenang kelas historical fiction.


1998
Tragedi sejarah di ibu kota yang turut mewarnai detik-detik lengsernya Pak Harto, juga tidak kalah menarik diangkat menjadi tema cerpen. Mbak Amieopee jeli mengambilnya. Apalagi diangkat dengan gaya penulis non historical fiction.

Keindahan cerpen ini terletak pada frasa “pakaian dalam” dalam konflik utama. Sayang sekali, penulis hanya menuturkan rentetan peristiwa demi peristiwa berdarah secara singkat. Karakter tokoh utama bahkan nyaris tidak ada atau sulit tertangkap oleh pembaca. Masih ada kesan bahwa penulis ingin buru-buru menyelesaikannya. Tragedi Mei 1998, jika dituturkan lebih lebih galak, bisa menjadi cerpen layak terbit di media.

Secara keseluruhan, 1998 adalah bakal cerpen sangat menarik jika dibongkar dan ditata ulang.


PENANTIAN ASYIQAH
Cerpen ini adalah miniatur dari the great romance Panembahan Jin Bun/Jimbun (baca-Sultan Fattah). Mbak Lia berhasil menemukan tema besar yang luar biasa. Tema yang menjadi diskusi tak berkesudahan para pemerhati sejarah.

Bangunan kisah yang disusun dengan penokohan dan alur yang tepat, membuat tulisan ini sangat layak diorbitkan. Ada kemiripan dengan Babad Alas Mentaok-nya Mbak Betty. Tetapi Mbak Lia memiliki warna romance yang lebih kental pada cerpen ini.

Penggunaan bahasa Jawa Lama dan Baru yang kurang sesuai, sedikit mengurangi kesempurnaan Penantian Asyiqah. Kata sapaan di masa Kangjeng Susuhunan Ngampeldenta, lazim menggunakan Yayi, Kangmbok, Kangmas, dsb.

Jika mau mebata ulang kembali, cerpen ini bisa menjadi bakal sebuah novel.


ELSYE
Setting zaman penjajahan, khususnya masa pendudukan Jepang, menjadi tema miris jika diangkat menjadi sebuah tulisan fiksi. Terlebih lagi dengan menghadirkan tokoh perempuan korban kebiadaban seks bangsa Nipon, Jugun Ianfu.

Tetapi penulis ternyata menghadirkannya dengan warna dan tema berbeda. Mbak Kartika dengan terobosan baru justru berani menjadikan tokoh wanita Belanda dalam cerpennya. Lebih jauh, unsur horor turut mewarnai Elsye. Jadilah cerpen ini sebuah karya fiksi sejarah bercitarasa misteri. Syah-syah saja, dan ini adalah bentuk dari sebuah cerpen sejarah gaya baru. Seorang penulis historical fiction memang dituntut untuk menyajikan warna yang berbeda dari pakem.

Kelemahan cerpen Elsye, terletak dari minimya setting tempat. Terkesan bahwa penulis ingin cepat-cepat mengakhiri. Atau barangkali ini memang sengaja dibuat menjadi sebuah fiksmin?


BUKAN PEREMPUAN BIASA
Tema yang besar untuk sebuah tulisan cerpen. Mbak Asya sudah berada pada jalur tepat dalam pemilihan tema, ketika memosisikan diri sebagai tokoh dalam cerita yang mengambil setting waktu tahun 1800-an.

Dialog dalam bahasa Jawa Anyar, begitu runut dituturkan. Pembaca tidak perlu berpikir ulang untuk menangkap isi cerita..

Sayangnya, cerpen ini tidak memiliki setting tempat dan konflik yang kuat. Hanya terkesan cuplikan dialog antara seorang ibu dan anak perempuannya.

Jika dibongkar ulang, cerpen ini juga memiliki potensi untuk menjadi tulisan yang layak terbit di media.


KEMENANGAN PANGERAN SAMUDERA
Tema sejarah sebuah kerajaan, sebagaimana novel-novel yang ditulis para maestro fiksi sejarah, selalu menjadi best seller di kalangan pecintanya. Mbak Rindang sangat berani mengambilnya. Salut!

Alur cerita dipaparkan dengan berurutan. Dialog antar tokoh juga sangat hidup. Sayangnya, penokohan Pangeran Samudera yang menjadi judul cerpen justru lemah, nahkan nyaris tidak ada. Satu lagi, tidak adanya sumber data sejarah yang disampaikan di akhir tulisan, membuat pembaca sedikit menerka: cerpen ini diangkat dari sejarah atau hanya legenda?

Terlepas dari itu, tulisan Mbak Rindang yang berani mengangkat cerita rakyat daerah, layak dijadikan nominator pemenang kelas fiksi sejarah.


MEI 98
Tema yang paling laris diangkat para penulis pendobrak. Tragedi kelam ini memang tak ada habisnya untuk kembali dipilih, baik oleh romace, satire, maupun historical fiction.

Ibu Kiya mencoba menuturkan sejarah Mei 1998 dengan setting plot, tokoh, dan tempat yang dikaburkan. Lebih berasa ke tulisan satire daripada sejarah. Sangat menarik. Sejarah dipaparkan dengan gaya pendobrak.

Kelemahan cerpen Mei 98 justru terletak pada kaburnya gaya menulis yang mencoba digunakan Ibu Kiya. Antara satire dan historical fiction-nya sama-sama kurang kuat. Jika menginginkan satire, seharusnya cerpen ini bisa dibikin lebih galak dan menyengat. Atau sebaliknya, jika ingin dikuatkan sisi sejarahnya, kenapa harus mengaburkan tokoh dan setting tempatnya? Hajar sekalian, Bu!


PARTITUR PIANO
Tema yang besar, ditulis dengan plot, penokohan dan setting yang nyaris sempurna. Ending cerpen juga menyentak.

Tidak ada celah yang bisa dikoreksi. Mengikuti bait demi bait cerpen Mbak Silvana ini serasa membaca trilogy Syiwa-nya Amish. Hanya saja, seandainya penulis memosisikan diri sebagai tokoh dalam Partitur Piano, pembaca akan dibuat lebih takjub. Menggunakan POV 1 misalnya.

Partitur Piano memang layak menjadi pemenang.


BATURRADEN
Mbak July sudah memulai tantangan dengan pemilihan tema yang benar. Toponimi, asal muasal, dan sejenisnya adalah cara mudah memulai menulis di genre hisorical fiction.

Penokohan dan alur dibangun dengan nyaris sempurna. Sayangnya, tidak ada konflik kuat yang dihadirkan penulis. Cerpen juga terkesan ingin cepat-cepat diakhiri.

Jika direvisi dengan jeli, Baturraden layak dijadikan antologi historical fiction.


THE MADNESS OF MALLEUS MALEFICARUM
Tidak jauh berbeda dengan Partitur Piano-nya Mbak Silvana, dalam cerita ini, Mbak Fathin menghadirkan tema yang sama-sama besar.

Gaya penulisan, penokohan, plot, dan konflik disajikan dengan kuat. Jelas sekali menunjukkan baahwa penulis memiliki jam terbang tinggi dalam membaca tulisan berkualitas.

Sedikit kelemahan di cerpen ini terletak pada bagian akhir tulisan. Warna non fiksi terasa lebih kuat dibandingkan fiksi.

Secara keseluruhan, The Madness Of Malleus Maleficarum adalah pesaing terkuat Partitur Piano dalam memenangkan tantangan kelas historical fiction.


ASMARA SRI HUNING MUSTIKANING TUBAN
Kisah klasik dalam seni drama Ludruk dan Ketoprak ini adalah tema yang sangat tepat dihadirkan penulis. Mbak Pebri mencoba menuturkannya dalam gaya berbeda.

Opening yang mengutip sebuah tembang Jawa, menjadikan cerpen ini berasa seperti novel Damar Shasangka dan Makinuddin Samin, dua penulis historical fiction yang buku-bukunya selalu menjadi best seller.

Penokohan, plot, dan konflik dibangun dengan sederhana, namun cukup berhasil memikat pembaca. Sayangnya, adegan peristiwa perang tidak didesain secara kolosal. Padahal ada peluang di sana untuk membuat cerpen lebih galak.

Kelemahan lainnya, durasi cerpen ini terlalu pendek untuk kategori sebuah kisah sebesar Sri Huning. Jika mau membongkarnya, Mbak Pebri bisa menjadikannya sebagai bakal sebuah novel.


FILOSOFI MANGGARAI
Tema yang sangat menarik. Tetapi membaca tulisan Mas M. Ali Asetiah ini nyaris tidak menemukan rasa fiksinya. Lebih tepat dijadikan sebuah artikel. By the way, salut atas usaha Mas Ali.


KEBENCIAN ABDUL UZZA
Tidak banyak penulis historical fiction yang berani mengambil tema religi, atau setting jazirah Timur Tengah masa silam. Salut untuk keberanian Mbak Mutia.

Konflik yang disajikan langsung pada opening, menjadikan cerpen ini memiliki daya pikat kuat bagi pembaca untuk mengikuti paragraph demi paragraph selanjutnya. Bangunan kisah juga dihadirkan dengan plot, tokoh dan gaya bertutur yang mudah ditangkap.

Penjelasan identitas tokoh di akhir tulisan, semakin menyempurnakan jawaban atas penokohan yang sengaja dibuat menggantung dari awal hingga ending. Luar biasa tehnik ini!

Satu-satunya kelemahan cerpen Mbk Mutia, mungkin hanya pada durasi. Sayang kalau kisah ini hanya disajikan dalam halaman yang pendek.


PERTANYAAN TENTANG KEDATANGAN RENGASDENGKLOK
Tema yang luar biasa besar. Sejarah perjalanan bangsa Indonesia menuju hari kemerdekaan, seharusnya memang wajib diangkat menjadi tema historical fiction.

Mbak Dwi sudah memulai dengan setting tempat dan waktu yang benar. Penokohan juga cukup berhasil. Sayangnya, sudut pandang bukan orang pertama, senantiasa menjadikan cerpen sejarah kehilangan rasa fiksinya. Seharusnya penulis bisa masuk ke dalam cerpen dengan memosisikan diri sebagai tokoh. Lastri misalnya.

Secara keseluruhan, cerpen Mbak Dwi sangat layak menjadi kontributor antologi historical fiction.


ASMARA SUNAN KALIJAGA DENGAN NYI RORO KIDUL
Dari Sembilan belas cerpen historical fiction, tulisan Mbak Is ini adalah satu-satunya sub genre historical fantasy. Salut!

Tidak banyak yang bisa dikoreksi dari sebuah tulisan fantasy. Hanya saja, seharusnya, sebuah cerpen sejarah tetap tidak boleh mengandung cacat logika sejarah. Meskipun hanya fiksi penuh khayalan, siapa Kanjeng Sunan Kalijaga dan siapa Nyi Roro Kidul, harus dicari sumber data sebanyak-banyaknya, sebelum menjadikan sosok keduanya sebagai tokoh utama. Di sinilah kelemahan Asmara Sunan Kalijaga Dengan Nyi Roro Kidul.

Kelebihan cerpen Mbak Is, terletak pada keberanian mendobrak pakem sejarah. Tidak banyak penulis yang mengambil genre fantasy sejarah.

Salam.
Rahayu Mulyaning Jagad.

(Heru Sang Amurwabhumi)
Ketua ODOP Demisioner

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *