This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 07 November 2016

PAGELARAN WAYANG KULIT DALAM RANGKA PERINGATAN HUT PEMPROV JATIM KE-71

pagelaran wayang kulit di kantor Gubernuran - dok. pribadi

Sabtu 5 November 2016, serangkaian perayaan HUT Ke-71 Provinsi Jawa Timur ditutup dengan menggelar pentas wayang kulit di lapangan parkir timur Tugu Pahlawan. Tepat di depan kantor Gubernuran, Jl. Pahlawan Surabaya.

Pentas seni adiluhung itu menghadirkan seorang maestro yang sudah malang melintang di jagad pewayangan. Ki Manteb Sudarsono, dalang asal Karanganyar, Jawa Tengah. Lakon yang diminta oleh pihak panitia adalah Semar Sang Pamomong.

Gubernur Jawa Timur, Sukarwo dalam pidatonya sebelum pagelaran wayang kulit dimulai mengatakan bahwa Sosok Kyai Lurah Semar yang menjadi pamomong bagi para kesatria Pandawa adalah suri tauladan bagi para pejabat dan PNS, khususnya di lingkup pemprov Jatim.

“Seorang aparatur negara, sejatinya adalah pamong praja (pelayan masyarakat), mengemban tugas untuk merawat, mengayomi dan memelihara wong cilik (rakyat kecil). Bukan pangreh (penguasa, suka memrintah),” ujar Jatim 1 yang akrab dipanggil Pakde Karwo itu.

Menurutnya, lakon “Semar Sang Pamomong” sengaja dipilih karena Semar adalah tokoh sentral dalam mengemban tatanan kehidupan yang aman dan tentram. Dalam konteks pentas wayang kulit tersebut, Semar bisa memposisikan diri sebagai penasehat yang bijak bagi para kesatria yang tengah bertikai.

Pakde Karwo juga menuturkan bahwa dirinya merasa bangga bisa berkumpul dengan masyarakat Jatim malam itu. Terlebih kondisi provinsi di belahan paling timur pulau Jawa tetap aman terkendali walaupun di daerah lain tengah terjadi demo maupun konflik horizontal. 

“Dalam situasi seperti saat ini, dibutuhkan sosok yang bisa menjadi pamomong. Bisa memberikan nasehat dan wejangan yang bermanfaat bagi semua pihak.” jelasnya.

Pentas Ki Manteb Sudarsono pun dimulai dengan penyerahan wayang Semar oleh Gubernur Jatim sebagai tokoh utama dalam cerita yang akan dibawakan. Sementara Pakde Karwo mendapat cinderamata dari sang maestro berupa wayang Kresna. Sosok pemimpin yang arif dan bijak.

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang juga dimeriahkan oleh grup lawak kondang Kirun Cs. asal Madiun itu mendapat animo luar biasa dari masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Mereka tumplek blek di halaman Gubernuran, menikmati tontonan yang sarat dengan tuntunan.

Jalannya Kisah.
Kerajaan Pancawati sedang dilanda wabah penyakit. Banyak rakyatnya meninggal karena menderita sakit yang misterius. Pagi hari sakit, sore tiada. Begitu pula sebaliknya, sore jatuh sakit, maka paginya pasti berpulang.

Berita itu terdengar oleh raja Ayodya, Prabu Sri Rama yang pernah berhutang jasa kepada pasukan kera asal Pancawati dan Goa Kiskenda. Ia pun mengajak adiknya, Leksmana untuk berkunjung kesana.

Sampai di Pancawatai, mereka disambut Narpati Sugriwa, pimpinan kera yang menjadi panglima perangnya ketika dahulu Prabu Sri Rama bertempur melawan raja Alengka. Rahwana.

Disamping mengalami pagebluk, rakyat Pancawati juga sedang mengalami paceklik. Semua tanah sawah dan kebun gagal panen. Kelaparan terjadi dimana-mana. Kemiskinan pun merajalela.

“Dulu ketika kakang Semar tinggal disini, kehidupan Pancawati aman dan sejahtera. Rakyatnya makmur, sawah dan kebun subur. Tetapi setelah beliau memutuskan pindah ke Karang Kadempel, kini keadaan berubah drastis,” tutur Sri Rama.

“Kita harus memboyong lagi kakang Semar kesini,” lanjutnya. Ia lalu mengajak Leksmana, Sugriwa dan Hanoman pergi ke Karang Kadempel. Tempat Kyai Lurah Semar tinggal bersama ketiga momongannya. Bagong, Gareng dan Petruk.

Sampai di rumah Kyai Lurah Semar, mereka bertemu dengan rombongan utusan dari Indraprasta dan Astina.

Ternyata, negeri tetangga Pancawati dan Ayodya itu mengalami musibah yang sama. Mereka juga berniat memboyong Kyai Lurah Semar. Sosok yang dipercaya bisa membawa berkah bagi negeri yang ditinggalinya.

Semar pun menjadi sosok yang diperebutkan hari itu. Semua utusan bersikukuh ingin membawa ke negeri masing-masing.

Sempat terjadi keributan antara ketiga rombongan. Sugriwa, Lesmana dan Hanoman bentrok dengan Adipati Karna, Dursasana dan Patih Harya Sengkuni. Sementara Arjuna, Gatot Kaca dan Antareja juga siap menunggu pemenang diantara mereka.

Rombongan Astina babak belur dihajar oleh Leksmana, Sugriwa dan Hanoman. Mereka pun lari tunggang langgang meninggalkan Karang Kadempel.

Akhirnya Kyai Lurah Semar turun tangan. Ia mengatakan tidak akan pilih kasih terhadap negeri mana yang berhak memboyongnya.

Lole-lole … mbegegeg ugeg-ugeg … hemel-hemel … sadulit-dulita … Sabar ndara, sabar. Hentikan perkelahian ini!” ucapnya.

“Siapapun diantara kalian yang bisa mendapatkan Kembang Tunjung Biru, maka dialah yang berhak memboyongku!” tegas Kyai Lurah Semar.

Seketika, melesat Arjuna dan Leksmana menuju Kahyangan, berburu Kembang Tunjung Biru di taman langit.

Sampai di Kahyangan Cakrakembang, kembali terjadi perkelahian antara dua kesatria beda generasi. Arjuna dan Leksmana. Mereka memperebutkan sepucuk bunga yang terlihat mekar disana. Akhirnya keduanya sama-sama bisa mendapatkan Kembang Tunjung Biru.

Arjuna berhasil membawa tangkainya, sedangkan Leksmana mendapatkan mahkota bunganya. Mereka pun kembali turun ke Karang Kadempel untuk menemui Kyai Lurah Semar.

“Berikan kembang Tunjung Biru yang kalian bawa itu,” ucap Kyai Lurah Smar kepada Arjuna dan Leksmana.

Keajaiban terjadi!

Ketika tangkai dan mahkota bunga Tunjung Biru disatukan oleh Kyai Lurah Semar, mendadak terdengar suara bergemuruh dari langit Karang Kadempel. Disusul sebuah cahaya menyilaukan mata yang terpancar dari kembang yang menjadi rebutan dua kesatria tadi.

Kembang Tunjung Biru seketika berubah menjadi sesosok Dewa yang membuat semua orang yang ada di tempat itu serentak gugup, lalu menyembah.

Sang Hyang Tunggal, ayah dari Bathara Ismaya yang menjelma menjadi Kyai Lurah Semar Badranaya hadir di tempat itu.

“Kedatanganku kemari untuk meluruskan pertikaian yang terjadi sesama golongan kesatria.” ucap Sang Hyang Tunggal.

“Ketahuilah putraku Ismaya, masa pengabdianmu kepada Sri Rama telah usai dengan tewasnya sang angkara murka, Rahwana. Kini saatnya engkau menjadi pamomong bagi putra-putra Pandu, keturunan Begawan Abyasa,” lanjutnya.

Sendika dhawuh, romo.” Jawab Semar.

“Untuk kalian orang-orang Pancawati dan Ayodya, jangan berkecil hati. Setelah peristiwa ini, aku akan menganugerahkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi semua rakyat disana.” Tutup Sang Hyang Tunggal, lalu lenyap dari Karang Kadempel.

Kyai Lurah Semar pun memutuskan ikut Arjuna ke Indraprasta. Menjadi pamomong bagi para kesatria Pandawa disana.

Sementara Prabu Sri Rama mengajak Leksmana dan bangsa kera kembali ke Pancawati dan Ayodya. Mereka lalu hidup makmur lagi di negeri itu.

*****

Waktu terus bergulir, ketika berusia lanjut, Sri Rama memutuskan turun tahta dan menyerahkan kekuasaan kepada putra Mahkota, Pangeran Lawa yang akhirnya menggantikan kedudukan sebagai raja Ayodya. Ia bergelar Prabu Badlawa.

Sri Rama bersama adiknya Leksmana memilih bertapa brata di Kutarunggu. Ia menjadi pertapa yang mengajarkan filsafat “Hastabrata”. Yaitu delapan prinsip yang harus dimiliki seorang pemimpin.

Kelak, ajaran Hastabrata ini akan menjadi perebutan para kesatria. Mereka menyebutnya sebagai Wahyu Makutharama.

Baca cerita selengkapnya tentang Wahyu Makutharama [ Disini ]

Ketika sudah semakin lanjut usianya, Sri Rama meninggal di pertapaan Kutarunggu. Berita duka ini membuat gempar rakyatnya dari bangsa kera. Sugriwa dan seluruh rakyatnya menyusul ke padepokan itu. Lalu mereka memilih bela pati (bunuh diri) untuk menyusul ke alam keabadian.

Semua bangsa kera tewas, kecuali Anoman dan Kapi Jembawan yang terlambat tiba di Kutarunggu.

Anoman akhirnya memutuskan menjadi pertapa di Kendalisada. Sedangkan Kapi Jembawan menjadi pertapa di padepokan Gandamadana.

Leksmana tetap melanjutkan tapa bratanya di Kutarunggu hingga tutup usia.

*****

Kisah Semar Sang Pamomong yang juga dikenal dengan lakon Semar Boyong ini menjadi pertanda berakhirnya jaman Ramayana sekaligus dimulainya jaman Bharatayuda.


( Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Semar - image google


Minggu, 06 November 2016

PELANGI DI UJUNG BADAI

sumber foto: www.pinterest.com


Aksi damai untuk membela kitab suci Al-quran yang ditengarai dilecehkan seorang gubernur telah usai. Peristiwa penistaan agama ini bukan hanya mendapatkan reaksi keras dari umat Islam, tetapi juga menimbulkan pro dan kontra di kalangan umat Islam itu sendiri.

Kini, saatnya kita menyambung lagi tali silaturrahmi yang sempat terkoyak. Saya sendiri berjanji akan mengakhiri postingan-postingan berbeda prinsip yang memicu permusuhan.

Inilah 6 point yang ingin saya sampaikan kepada sahabat-sahabat tercinta:

1.Mohon maaf jika dalam beberapa waktu terakhir ini ada posting tulisan, foto, atau share dari saya yang tidak sependapat dengan sahabat sekalian, sehingga melukai perasaan.

2.Sejak awal semua sepakat bahwa cagub terlapor memang mutlak bersalah dan harus dihukum. Hanya saja sudut pandang kita berbeda. Saya lebih memilih setuju dengan prinsip menyerahkan sepenuhnya proses hukum si terlapor kepada Bareskrim Mabes Polri. Mungkin ini bertolak belakang dengan prinsip sahabat yang menginginkan proses itu dipercepat, dengan cara melakukan aksi damai. Sekali lagi maaf, atas perbedaan yang mungkin menyakiti ini.

3.Saya turut prihatin atas terjadinya kesalahpahaman antara aparat keamanan dengan sahabat-sahabat yang sedang berjuang, sehingga aksi damai sedikit terciderai. Harapan kita tentu sama: tegakkan hukum atas kerusuhan ini. Yang bersalah harus ditindak. Ada ataupun tidak ada penyusup. Termasuk oknum yang menjarah sebuah minimarket. Juga polisi, jika terbukti tidak persuasiv.

4.Marilah kita hentikan segala postingan berbau kebencian, beraroma permusuhan. Cukup sudah saling menghujat sesama anak bangsa, sesama saudara seagama. Apalagi menghina pemimpin. Berjanjilah sahabat. Insya Allah, termasuk saya.

5.Jika sahabat sekalian tidak keberatan, saya mengajak untuk bersama-sama flashback ke beranda akun masing-masing, lalu kita bersihkan posting kemarin-kemarin yang mungkin menyinggung perasaan orang yang berbeda pandangan dengan kita. Sekali lagi, ini hanya himbauan saya.

6.Esok, bersama kita jaga Ukhuwah Islamiyah dan Kebhinnekaan negeri tercinta ini. Dengan menjaga identitas diri sebagai bangsa yang majemuk.

Akan ada pelangi berhias tarian tujuh bidadari, di setiap ujung badai. 

Salam Gayeng. Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Rahayu, rahayu, rahayu, wilujeng.

Nuwun,
-
(Heru Sang Mahadewa)
Member of OneDayOnePost

Sabtu, 05 November 2016

INILAH PENYEBAB SULITNYA REGENERASI STRIKER MERAH PUTIH



Boas Salossa - foto wowkeren.com

Beritanya tenggelam oleh gegap gempita aksi damai Bela Agama 4 November 2016. Tidak banyak, atau bahkan tidak ada yang tahu bahwa pada hari itu tim nasional kita sedang menjalani laga ekshibisi ke Myanmar.

Pertandingan persahabatan sebagai ajang pemanasan menuju AFF Cup 2016 ini berakhir imbang dengan skor kacamata 0 – 0. Kedua tim bermain monoton dan nyaris tidak ada peluang untuk menciptakan gol.

Satu dasawarsa silam, kita sangat mudah mengalahkan negeri Aung San Suu Kyi itu. Tetapi kini mereka telah menjelma menjadi kekuatan baru di sepakbola Asia Tenggara. Puncak prestasi Myanmar adalah ketika tahun 2015 lalu mereka berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia U20 di Selandia Baru.

Luar biasa Myanmar!

Sedangkan Indonesia, baru beberapa bulan kita terbebas dari sanksi banned FIFA (Football International Federation and Asociation) akibat SK Pembekuan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) oleh Menpora yang dianggap sebagai bentuk intervensi pemerintah.

FIFA sendiri melarang federasi anggotanya (dalam hal ini PSSI) diintervensi pemerintah Negara masing-masing.

Terlepas dari konflik diatas, secara umum permainan timnas merah putih belum menunjukkan peningkatan yang significant dibandingkan pertandingan sebelumnya melawan Malaysia dan Vietnam.

Meski di beberapa sektor kita sudah memiliki pemain-pemain muda menjanjikan seprti Fachrudin, Yanto Basna (pertahanan), Beny Wahyudi, Abduh Lestaluhu (wing back), Evan Dimas, dan Yogi Pradana (gelandang), tetapi untuk posisi striker (penyerang murni) praktis kita masih mengandalkan Boaz Solossa dan Ferdinand Sinaga. Keduanya adalah pemain yang usianya sudah melewati era keemasan.

Sebenarnya ada satu nama yang menempati posisi itu dengan kategori muda, yaitu Lerbi Aliandry. Namun pemain ini masih jauh dari harapan kita. Selain jam terbang yang masih minim, skillnya jauh dibandingkan seniornya Boas Salossa ketika berusia seperti dia.

Minimnya stok pemain yang menempati posisi striker menunjukkan bahwa regenerasi kita gagal. Praktis setelah era Boaz dan Bambang Pamungkas habis, tidak ada lagi pemain yang bisa menerima tongkat estafet sebagai penyerang murni.

Kenapa sulit mencari striker muda saat ini?

Inilah beberapa factor penyebab gagalnya regenarasi pemain di posisi striker timnas merah putih:

Minimnya Minat Klub Indonesia memakai Penyerang Lokal
Dahulu kita punya Ricky Yakobi, striker yang pernah bermain untuk klub Liga Jepang, Matsushita (sekarang Gamba Osaka). Juga sederet nama besar seperti Ribut Waidi, Asep Dayat, Syamsul Arifin, Widodo C Putra, Rony Wabia, hingga generasi terakhir semacam Kurniawan Dwi Yulianto (pernah merumput di FC Luzern, Swiss) dan Boaz Solossa.

Kala itu, hampir seluruh klub sepakbola kita belum berminat untuk menggunakan jasa striker import.

Kini, keadaan berbanding berbalik. Hampir seluruh klub di Torabika Super Championship 2016 (kompetisi sepakbola Indonesia) lebih suka memakai striker import (pemain asing). Kalaupun ada yang menggunakan pemain lokal, kebanyakan bukan pemain muda. Beberapa bahkan menggunakan pemain naturalisasi. Seperti Arema Cronous dengan Cristian Gonzales, dan Persija Jakarta dengan Greg Nwokolo.

Rendahnya Jam Terbang Striker Muda
Ketika timnas U19 berhasil menjuarai Piala AFF 2013, asa kita tumbuh lagi. Indonesia memiliki Muchlis Hadining Syaifullah dan Dimas Drajat. Dua striker muda itu digadang-gadang (diharapkan) akan menjadi penyerang timnas masa depan.

Tetapi apa boleh dikata, jauh panggang dari api. Jangankan karier mereka semakin meroket, sekedar memperoleh posisi inti di klub mereka pun sulit. PSM Makassar, klub tempat Muchlis bermain lebih menyukai pemain import. Sedangkan PS TNI, cenderung sering membangku cadangkan Dimas Drajat ketimbang pemain-pemain senior semacam Tambun Naibaho.

Membanjirnya Pemain Asing di Posisi Striker
Sejak PSSI membuka kran penggunaan pemain asing pada Liga Dunhill I, ratusan pesepakbola dari Amerika Latin dan Afrika membanjiri klub-klub Indonesia. Para ekspatriat olahraga itu tersebar hampir di seluruh tim amatir maupun professional.

Sialnya, kebanyakan pemain import adalah berposisi penyerang. Hal ini membuat keberadaan pemain-pemain muda berbakat terpinggirkan. Bahkan nyaris tidak mendapatkan tempat.

Wajar jika kita sulit menemukan lagi pemain sekaliber Ricky Yacobi, Ribut Waidi, Widodo C Putra, atau Boaz Solossa.

Kuota pemain asing dalam sebuah klub harus segera dibatasi. PSSI hendaknya merevisi lagi aturan jumlah pemain non lokal yang diperbolehkan turun dalam sebuah pertandingan.

*****

Tiga faktor itulah yang kini menghambat proses regenarasi striker tim nasional Indonesia. Sudah saatnya klub-klub di Indonesia merubah paradigma. Bukan sekedar mengedepankan gengsi dan prestise semata, tetapi juga harus memikirkan unsur pembinaan pemain muda.

Berikanlah kesempatan bermain seluas-luasnya kepada para talenta muda. Hasilnya memang tidak bisa kita petik sekarang. Tetapi tiga hingga lima tahun kedepan, akan muncul striker-striker lokal yang tak kalah garang dari Cristian Gonzales dan Greg Nwokolo, produk import berbaju timnas Garuda.

Salam Merah Putih.

Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Ricky Yacobi - foto beritabola.com

Jumat, 04 November 2016

KISAH SEMBADRA LARUNG – REFLEKSI DEMO 4 NOVEMBER 2016



 
Wara Sembadra - image google

“Rasa cinta ini tumbuh sejak pandangan pertama kita.” ucap Burisrawa di hadapan Wara Sembadra.

“Ah, lagu lama.” elak istri Arjuna.

Diam-diam, Burisrawa, putra Salya (raja negeri Mandaraka) menyelinap ke taman kaputren. Tempat Wara Sembadra sedang menikmati musim kembang. Srikandi, prajurit wanita yang kelak akan menjadi madunya, sedang berjaga di depan pintu gerbang. Kedatangan penyelinap pun tidak diketahuinya.

Wara Sembadra menggeser posisi berdirinya. Berjalan sedikit menjauh dari Burisrawa yang cengar-cengir dengan sajak-sajak rayuan kelas penulis pemula.

“Kamu telah gagal memenangi sayembara dari kakakku Kresna. Arjunalah yang kini menjadi pemilik hatiku. Terimalah takdir ini, Burisrawa. Cinta tak harus memiliki.” jelas wanita yang semasa kecilnya bernama Roro Ireng itu. Ia memang terlahir sebagai gadis berkulit coklat kehitaman. Namun tak mengurangi seujung kukupun kecantikannya.

“Aku rela menjadi yang kedua, Sembadra.” masih ngotot juga pemabuk cinta dari Mandaraka.

“Sembadra, hati ini menjadi hampa sejak kekalahan di sayembara. Masih ada perih luka, dari duri ilalang yang kau campakkan.” Sok puitis pula pemuda berambut gimbal itu. Lagi-lagi, mirip penulis pemula yang belajar bersyair.

Bukannya klepek-klepek, Wara Sembadra semakin gregetan dengan Burisrawa. Sejak pertama kali bertemu, ketika ia menjadi pattah (pendamping) pengantin dalam upacara pernikahan kakaknya Baladewa dengan Dewi Erawati, putri Prabu Salya juga, Roro Ireng memang sudah risih dengan sikap pemuda “si anak mama” ratu Setyowati, permaisuri Mandaraka itu.

Lagak Burisrawa yang kemlethe (sok) dan petentang-petenteng (arogan) tentu saja tidak disukai anak-anak gadis bertipikal anggun dan kalem semacam Wara Sembadra.

“Berikanlah, setidaknya satu tempat kecil di hatimu untuk cintaku ini.” lanjut Burisrawa.

“Oh, No!” tegas Wara Sembadra.

“Atau … aku akan mengambil jalan pintas?” ancam Burisrawa.

Tangannya mencabut sebilah belati. Satu dua langkah, ia mendekati wanita pujaannya yang mulai ditumbuhi perasaan takut. Setangguh-tangguhnya wanita, bila menghadapi lelaki yang nekad seperti Burisrawa, menciut juga nyali Wara Sembadra.

Sebenarnya pemuda berambut gimbal ala rasta mania, si Burisrawa itu hanya bermaksud menakut-nakuti Sembadra. Tak mungkin ia melukai wanita yang teramat dicintainya.

Tetapi Wara Sembadra terlanjur ketakutan. Ia berniat berlari meninggalkan taman. Naas, Burisrawa yang mencoba menghadang justru menyebabkan istri Arjuna itu menubruk belati yang dipegangnya.

Jatuh bersimbah darah Wara Sembadra sembari berteriak,”Srikandi … tolonglah aku!”

Burisrawa ketakutan, ia lari bersembunyi di balik semak. Berlari pula seorang prajurit wanita yang sebenarnya sudah menjadi selingkuhan suami Wara Sembadra (Arjuna), menuju  asal suara sang majikan. Tetapi kedatangannya terlambat. Nyawa bendaranya telah melayang.

“Siapa yang telah melakukan ini? Keluarlah!” teriak Srikandi lantang. Mencoba mencari ke sekeliling taman. Ia menjadi marah mengetahui ada penyusup yang berani membunuh Wara Sembadra.

“Aku.” jawab seorang pemuda yang bersembunyi dibalik rerimbunan semak belukar.

“Suaramu seperti Patih Sucitra?”

“Iya, aku Sucitra.”

“Lho? Sekarang suaramu kok berubah menjadi Patih Surata?”

“Eh, iya … aku Patih Surata.”

Dasar Burisrawa, dia memang pemuda bebal. Tak pernah mau mengenyam pendidikan di padepokan manapun. Beruntung ayahnya mendatangkan beberapa Begawan untuk menjadi guru privat di istana Mandaraka. Itu pun hanya mengajarkan ilmu kanuragan, olah fisik tanpa membekali pengetahuan budi pekerti (akal).

“Mati kau!” sesumbar Srikandi sembari melepaskan anak panah ke arah sumber suara.

Meleset!

Burisrawa melompat pagar taman, lari tunggang langgang meninggalkan komplek kaputren. Srikandi berteriak-teriak ada pembunuh. Datanglah Arjuna, suami Wara Sembadra bersama para kerabatnya.

“Larung jasad Roro Ireng ke bengawan Yamuna agar terkuak siapa pembunuhnya.” ucap Kresna.

Raja negeri Dwarawati itu sebenarnya memiliki kembang Wijaya Kusuma, sebuah pusaka yang bisa menghidupkan orang mati. Tapi entah mengapa ia justru menyarankan jasad adik kandungnya dilarung (dihanyutkan) ke sebuah sungai.

“Gatot Kaca, jaga jasad Wara Sembadra!” perintahnya.

Sendika dhawuh!” jawab putra Werkudara (Bima).

Gatot Kaca pun mengkuti dari kejauhan, kemanapun jasad Wara Sembadra hanyut oleh aliran bengawa Yamuna.

*****

Antareja sedang bercengkerama dengan ibunya, Dewi Nagagini dan kakeknya, Bathara Antaboga.

Pemuda yang sejak lahir hanya dirawat oleh ibunya itu, berniat ingin mencari siapa sebenarnya sosok ayahnya.

“Ibu, siapa sebenarnya ayahku? Aku ingin bertemu dengannya.” Tanya Antareja.

Dewi Nagagini diam tak menjawab. Ia masih ragu, apakah ini saatnya memberitahu putranya perihal sosok suami yang sejak ia hamil, telah meninggalkannya demi memperjuangkan hak keluarga dan saudara-sudaranya.

Bathara Antaboga menepuk-nepuk pundak Dewi Nagagini, pertanda ia telah mngisyaratkan bahwa saatnya Antareja mengetahui siapa sebenarnya ayahnya.

“Ketahuilah anakku, sebenarnya engkau adalah putra dari Werkudara. Seorang kesatria Pandawa yang sekarang tinggal di Indraprasta.” jelas Dewi Nagagini.

“Aku ingin pergi ke Indraprasta, mengabdi kepada ayahku.” lanjut Antareja.

“Berangkatlah Antareja. Garis takdirmu memang menjadi prajurit Indraprasta.” Tegas sang kakek, Bathara Antaboga. Ia membekali cucunya dengan Aji Ambles Bumi (ilmu menembus tanah), Aji Kawastraman (ilmu merubah wujud) dan Tirta Purwitasari. Air suci dari Kahyangan yang bisa menghidupkan orang yang mati diluar takdir kematian oleh Dewa.

Dengan menggunakan Aji Ambles Bumi, Antareja berjalan di dalam tanah menuju Indraprasta. Sampailah ia di bawah bengawan Yamuna.

Ketika menyembul keatas, Antareja melihat jasad seorang wanita sedang hanyut di sungai itu. Firasatnya mengatakan bahwa ia harus menolongnya. Tanpa berpikir panjang, tubuh Wara Sembadra pun didekatinya.

Gatot Kaca yang melihat gerak-gerik Antareja dari kejauhan yakin bahwa orang yang memiliki wajah mirip dengannya itu adalah pembunuh Wara Sembadra. Ia langsung menghampiri Antareja.

Terjadi adu mulut antara Gatot Kaca dan Antareja.

“Ketahuan sekarang, kamulah pembunuh bibi Wara Sembadra!” bentak Gatot Kaca.

“Apa maksudmu?” jawab Antareja yang tidak mengerti dengan tuduhan Gatot Kaca.

“Jangan banyak bicara!” lanjut Gatot Kaca.

Perkelahian pun tak terhindarkan. Baik Gatot Kaca maupun Antareja, sama-sama mewarisi watak ayah mereka, Werkudara yang bertipikal keras dan berangarasan. Keduanya terlibat jual beli pukulan dan adu ilmu kesaktian.

Datang Bathara Narada yang sedang melewati bengawan Yamuna,”Prokencong-prokencong … pakpakpong-pakpakpong … waru doyong ditegor uwong … Hentikan!” teriaknya.

“Kalian ini bersaudara. Sama-sama putra dari kesatria Pandawa, Werkudara. Tidak ada untungnya berkelahi dengan sesama saudara kandung.” Jelasnya.

Antareja dan Gatot Kaca menghentikan perkelahian. Sesaat mereka memberi salam kepada Dewa yang melerai kesalah pahaman sesama putra Werkudara tadi.

Panjang lebar Bathara Narada menceritakan kalau mereka masih bersaudara. Keduanya pun akhirnya saling berpelukan dan meminta maaf.

Antareja mengeluarkan Tirta Purwitasari, lalu memercikkan ke wajah Wara Sembadra. Atas  kehendak Dewa, maka Dewi Wara Sembadara hidup kembali. Mereka bertiga pun mengantar pulang ke Indraparasta. Kerabat Pandawa sangat bahagia melihat Wara Sembadra hidup kembali.

Istri Arjuna itu pun menceriterakan apa sebenarnya yang telah terjadi, hingga ia tewas.  Burisrawalah yang telah membunuhnya.

Mendengar itu, Antareja murka.

Ia segera meninggalkan Pandawa dan Wara Sembadra tanpa pamit. Dengan bekal Aji Kawastrawam, Antareja berubah wujud menjadi Wara Sembadra. Lalu pergi mencari Buriswara.

“Kejar Antareja! Jangan sampai ia bertindak main hakim sendiri!” tutur Bathara Narada.

Gatot Kaca dan para Pandawa berangkat pula menyusul Antareja.

*****

Terkejut Burisrawa melihat Wara Sembadra menemuinya. Berkali-kali ia mengucek kelopak matanya. Memastikan tidak sedang salah lihat.

“Sembadra, engkau masih hidup?” tanya Burisrawa.

“Iya sayang. Kemarin aku hanya pura-pura pingsan.”

Duh, seperti mimpi ketiban bulan mendengar dirinya dipanggil sayang oleh Wara Sembadra. Burisrawa berguling-guling diatas tanah. Meluapkan kebahagiaannya.

“Sayang, lihatlah rambutmu yang tak pernah kamu keramasi itu, kotor sekali! Pasti banyak kutunya pula!” ejek Wara Sembadra.

Ia pun ingin membersihkan rambut gimbal yang penuh kutu itu. Perasaan Buriswara semakin melambung tinggi melihat Wara Sembadra sangat perhatian kepadanya.

“Tetapi ada syaratnya!” tegas Wara Sembadra.

“Setiap mendapat seekor kutu, kutampar mukamu, karena ini pertanda rambutmu jorok. Kalau sudah berlipat menjadi tiga ekor kutu, kujotos kepalamu yang terlalu jorok itu. Dan seterusnya!” jebak Wara Sembadra.

“Hahaha … silahkan. Kuterima dengan senang hati, pujaan hatiku.” Jawab Burisrawa.

Plak!

Sebuah tamparan dari Wara Sembadra mendarat di muka Burisrawa ketika ia berhasil mendapat seekor kutu.

Plak!

Satu ekor lagi. Sebuah tamparan dilayangkan lagi oleh Wara Sembadra.

Plak!

Kutu rambut ketiga membuat Wara Sembadra mengacungkan kepalan tangannya,”Bersiaplah sayang.” Ucapnya.

Bruakkkkkkk!

“Aduhhhhhhhhhh ….. !” Burisrawa menjerit sekeras-kerasnya.

Tubuh pemuda berambut gimbal terjengkang hingga jatuh terlentang. Ia terkejut merasakan jotosan Wara Sembadra sangat bertenaga seperti seorang laki-laki.

Ketika bangun, dilihatnya sosok yang memukulnya ternyata bukan Wara Sembadra. Tetapi seseorang yang memiliki wajah mirip Gatot Kaca.

“Keparat! Siapa kamu?” tanya Burisrawa.

“Tidak penting siapa aku. Kedatanganku kesini untuk menghukummu. Atas semua perbuatan nistamu, Burisrawa!” sesumbar Antareja.

Terjadilah perkelahian antara keduanya. Tanpa ampun, putra Werkudara langsung menghajar si mulut cablak, Burisrawa. Babak belur wajah putra Salya itu oleh pukulan bertubi-tubi dari Antareja.

Jeritan mohon maaf dan ampun dari Burisrawa tak dihiraukan lagi oleh Antareja. Datanglah para Pandawa bersama Kresna.

“Hentikan, Antareja!” seru Kresna.

“Orang ini harus dihukum. Biar dia mendapat ganjaran setimpal dengan perbuatan nistanya!” jawab Antareja.

Buriswara lari ketakutan dan bersembunyi di belakang tubuh Kresna. Kepada raja Dwarawati itu, ia menyatakan menyesal atas perbuatan nistanya. Ia juga meminta maaf kepada Arjuna dan Pandawa.

“Burisrawa telah menyatakan bersalah, sepatutnya kita memaafkan dia, Antareja. Mengenai hukuman yang harus dijatuhkan, biarlah kita menyerahkan kepada Prabu Salya. Aku yakin, raja Mandaraka akan mengambil keputusan bijak.” Lanjut Kresna.

Pandawa dan Kresna pun menyerahkan Burisrawa kepada Prabu Salya. Raja Mandaraka berjanji akan menjatuhkan hukuman yang setimpal atas perbuatan nista putranya.

*****

Kisah Sembadra Larung diatas merupakan sebuah refleksi dengan peristiwa yang terjadi hari ini, 4 November 2016.

Puluhan ribuan massa berdemo di ibu kota Jakarta demi membela Agama yang ditengarai telah dinistakan oleh Basuki Tjahaya Purnama. Gubernur DKI (ibarat Burisrawa) menjadi tokoh viral beberapa minggu terakhir karena tidak bisa menjaga lisannya. Mirip Burisrawa.

Luar biasa gerakan jihad umat Islam!

Meski ada yang pro dan kontra terhadap aksi demo bela agama ini (bukan pro kontra terhadap Ahok, karena siapapun tentu satu pendapat bahwa Ahok memang salah dan harus dihukum), tetapi tidak boleh peristiwa penistaan Al-Qur’an justru membuat sesama Muslim terpecah belah. Saling menghujat di berbagai media antar umat Islam. Sesama anak bangsa.

Seperti kesalahpahaman antara Antareja dan Gatot Kaca yang sejatinya adalah saudara kandung dan sama-sama berniat mulia. Yang satu bermaksud baik kepada Wara Sembadra, yang satu juga berniat menjaga/membela Wara Sembadra.

Sama seperti kita, anak bangsa saat ini. Yang satu ingin membela agama karena kitab suci Al-Qur’an dinistakan. Yang satu ingin menjaga agar persatuan dan kesatuan negeri ini tidak tercerai berai.

Bahwa Ahok (Burisrawa) salah, itu sudah harga mati. Tetapi kita tidak boleh menghakiminya sendiri. Kita hormati proses hukum yang sedang berjalan di Bareskrim Polri. Kita serahkan Burisrawa kepada Salya.

Seperti penuturan Kresna, raja Mandaraka (Presiden RI, Pak Jokowi dan Polri) pasti akan bersikap bijaksana. Salya berjanji akan berbuat seadil-adilnya dalam menjatuhkan hukuman kepada Burisrawa.

Pertanyaannya, siapakah tokoh di negeri ini yang bisa diibaratkan sebagai Kresna, sosok arif dan bijaksana dalam meredam gejolak yang nyaris membawa perpecahan sesama anak bangsa sekarang?

Siapa?

Ah, semoga segera muncul tokoh bangsa, ulama dan negarawan yang bisa menyatukan lagi tirai persatuan negeri yang mulai terkoyak ini.


Surabaya, 4 November 2016

Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Burisrawa - image google

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *