“Rasa cinta ini tumbuh sejak pandangan
pertama kita.” ucap Burisrawa di hadapan Wara Sembadra.
“Ah, lagu lama.” elak istri Arjuna.
Diam-diam, Burisrawa, putra Salya
(raja negeri Mandaraka) menyelinap ke taman kaputren. Tempat Wara Sembadra
sedang menikmati musim kembang. Srikandi, prajurit wanita yang kelak akan
menjadi madunya, sedang berjaga di depan pintu gerbang. Kedatangan penyelinap
pun tidak diketahuinya.
Wara Sembadra menggeser posisi berdirinya.
Berjalan sedikit menjauh dari Burisrawa yang cengar-cengir dengan sajak-sajak
rayuan kelas penulis pemula.
“Kamu telah gagal memenangi sayembara
dari kakakku Kresna. Arjunalah yang kini menjadi pemilik hatiku. Terimalah
takdir ini, Burisrawa. Cinta tak harus memiliki.” jelas wanita yang semasa
kecilnya bernama Roro Ireng itu. Ia memang terlahir sebagai gadis berkulit
coklat kehitaman. Namun tak mengurangi seujung kukupun kecantikannya.
“Aku rela menjadi yang kedua,
Sembadra.” masih ngotot juga pemabuk cinta dari Mandaraka.
“Sembadra, hati ini menjadi hampa
sejak kekalahan di sayembara. Masih ada perih luka, dari duri ilalang yang kau campakkan.”
Sok puitis pula pemuda berambut gimbal itu. Lagi-lagi, mirip penulis pemula
yang belajar bersyair.
Bukannya klepek-klepek, Wara Sembadra semakin gregetan dengan Burisrawa.
Sejak pertama kali bertemu, ketika ia menjadi pattah (pendamping) pengantin dalam upacara pernikahan kakaknya
Baladewa dengan Dewi Erawati, putri Prabu Salya juga, Roro Ireng memang sudah risih
dengan sikap pemuda “si anak mama” ratu Setyowati, permaisuri Mandaraka itu.
Lagak Burisrawa yang kemlethe (sok) dan petentang-petenteng (arogan) tentu saja tidak disukai anak-anak
gadis bertipikal anggun dan kalem semacam Wara Sembadra.
“Berikanlah, setidaknya satu tempat
kecil di hatimu untuk cintaku ini.” lanjut Burisrawa.
“Oh, No!” tegas Wara Sembadra.
“Atau … aku akan mengambil jalan
pintas?” ancam Burisrawa.
Tangannya mencabut sebilah belati.
Satu dua langkah, ia mendekati wanita pujaannya yang mulai ditumbuhi perasaan
takut. Setangguh-tangguhnya wanita, bila menghadapi lelaki yang nekad seperti
Burisrawa, menciut juga nyali Wara Sembadra.
Sebenarnya pemuda berambut gimbal ala rasta mania, si Burisrawa itu hanya
bermaksud menakut-nakuti Sembadra. Tak mungkin ia melukai wanita yang teramat
dicintainya.
Tetapi Wara Sembadra terlanjur
ketakutan. Ia berniat berlari meninggalkan taman. Naas, Burisrawa yang mencoba
menghadang justru menyebabkan istri Arjuna itu menubruk belati yang
dipegangnya.
Jatuh bersimbah darah Wara Sembadra
sembari berteriak,”Srikandi … tolonglah aku!”
Burisrawa ketakutan, ia lari
bersembunyi di balik semak. Berlari pula seorang prajurit wanita yang
sebenarnya sudah menjadi selingkuhan suami Wara Sembadra (Arjuna), menuju asal suara sang majikan. Tetapi kedatangannya
terlambat. Nyawa bendaranya telah
melayang.
“Siapa yang telah melakukan ini?
Keluarlah!” teriak Srikandi lantang. Mencoba mencari ke sekeliling taman. Ia menjadi
marah mengetahui ada penyusup yang berani membunuh Wara Sembadra.
“Aku.” jawab seorang pemuda yang
bersembunyi dibalik rerimbunan semak belukar.
“Suaramu seperti Patih Sucitra?”
“Iya, aku Sucitra.”
“Lho? Sekarang suaramu kok berubah
menjadi Patih Surata?”
“Eh, iya … aku Patih Surata.”
Dasar Burisrawa, dia memang pemuda
bebal. Tak pernah mau mengenyam pendidikan di padepokan manapun. Beruntung ayahnya
mendatangkan beberapa Begawan untuk menjadi guru privat di istana Mandaraka.
Itu pun hanya mengajarkan ilmu kanuragan, olah fisik tanpa membekali
pengetahuan budi pekerti (akal).
“Mati kau!” sesumbar Srikandi sembari
melepaskan anak panah ke arah sumber suara.
Meleset!
Burisrawa melompat pagar taman, lari
tunggang langgang meninggalkan komplek kaputren. Srikandi berteriak-teriak ada
pembunuh. Datanglah Arjuna, suami Wara Sembadra bersama para kerabatnya.
“Larung jasad Roro Ireng ke bengawan
Yamuna agar terkuak siapa pembunuhnya.” ucap Kresna.
Raja negeri Dwarawati itu sebenarnya
memiliki kembang Wijaya Kusuma, sebuah pusaka yang bisa menghidupkan orang
mati. Tapi entah mengapa ia justru menyarankan jasad adik kandungnya dilarung (dihanyutkan) ke sebuah sungai.
“Gatot Kaca, jaga jasad Wara
Sembadra!” perintahnya.
“Sendika
dhawuh!” jawab putra Werkudara (Bima).
Gatot Kaca pun mengkuti dari kejauhan,
kemanapun jasad Wara Sembadra hanyut oleh aliran bengawa Yamuna.
*****
Antareja sedang bercengkerama dengan
ibunya, Dewi Nagagini dan kakeknya, Bathara Antaboga.
Pemuda yang sejak lahir hanya dirawat oleh
ibunya itu, berniat ingin mencari siapa sebenarnya sosok ayahnya.
“Ibu, siapa sebenarnya ayahku? Aku
ingin bertemu dengannya.” Tanya Antareja.
Dewi Nagagini diam tak menjawab. Ia
masih ragu, apakah ini saatnya memberitahu putranya perihal sosok suami yang
sejak ia hamil, telah meninggalkannya demi memperjuangkan hak keluarga dan
saudara-sudaranya.
Bathara Antaboga menepuk-nepuk pundak Dewi
Nagagini, pertanda ia telah mngisyaratkan bahwa saatnya Antareja mengetahui
siapa sebenarnya ayahnya.
“Ketahuilah anakku, sebenarnya engkau
adalah putra dari Werkudara. Seorang kesatria Pandawa yang sekarang tinggal di
Indraprasta.” jelas Dewi Nagagini.
“Aku ingin pergi ke Indraprasta,
mengabdi kepada ayahku.” lanjut Antareja.
“Berangkatlah Antareja. Garis takdirmu
memang menjadi prajurit Indraprasta.” Tegas sang kakek, Bathara Antaboga. Ia
membekali cucunya dengan Aji Ambles Bumi
(ilmu menembus tanah), Aji Kawastraman
(ilmu merubah wujud) dan Tirta
Purwitasari. Air suci dari Kahyangan yang bisa menghidupkan orang yang mati
diluar takdir kematian oleh Dewa.
Dengan menggunakan Aji Ambles Bumi, Antareja berjalan di
dalam tanah menuju Indraprasta. Sampailah ia di bawah bengawan Yamuna.
Ketika menyembul keatas, Antareja
melihat jasad seorang wanita sedang hanyut di sungai itu. Firasatnya mengatakan
bahwa ia harus menolongnya. Tanpa berpikir panjang, tubuh Wara Sembadra pun
didekatinya.
Gatot Kaca yang melihat gerak-gerik
Antareja dari kejauhan yakin bahwa orang yang memiliki wajah mirip dengannya
itu adalah pembunuh Wara Sembadra. Ia langsung menghampiri Antareja.
Terjadi adu mulut antara Gatot Kaca
dan Antareja.
“Ketahuan sekarang, kamulah pembunuh
bibi Wara Sembadra!” bentak Gatot Kaca.
“Apa maksudmu?” jawab Antareja yang
tidak mengerti dengan tuduhan Gatot Kaca.
“Jangan banyak bicara!” lanjut Gatot
Kaca.
Perkelahian pun tak terhindarkan. Baik
Gatot Kaca maupun Antareja, sama-sama mewarisi watak ayah mereka, Werkudara
yang bertipikal keras dan berangarasan. Keduanya terlibat jual beli pukulan dan
adu ilmu kesaktian.
Datang Bathara Narada yang sedang
melewati bengawan Yamuna,”Prokencong-prokencong
… pakpakpong-pakpakpong … waru doyong ditegor uwong … Hentikan!” teriaknya.
“Kalian ini bersaudara. Sama-sama
putra dari kesatria Pandawa, Werkudara. Tidak ada untungnya berkelahi dengan
sesama saudara kandung.” Jelasnya.
Antareja dan Gatot Kaca menghentikan
perkelahian. Sesaat mereka memberi salam kepada Dewa yang melerai kesalah
pahaman sesama putra Werkudara tadi.
Panjang lebar Bathara Narada menceritakan
kalau mereka masih bersaudara. Keduanya pun akhirnya saling berpelukan dan
meminta maaf.
Antareja mengeluarkan Tirta Purwitasari, lalu memercikkan ke
wajah Wara Sembadra. Atas kehendak Dewa,
maka Dewi Wara Sembadara hidup kembali. Mereka bertiga pun mengantar pulang ke
Indraparasta. Kerabat Pandawa sangat bahagia melihat Wara Sembadra hidup
kembali.
Istri Arjuna itu pun menceriterakan
apa sebenarnya yang telah terjadi, hingga ia tewas. Burisrawalah yang telah membunuhnya.
Mendengar itu, Antareja murka.
Ia segera meninggalkan Pandawa dan
Wara Sembadra tanpa pamit. Dengan bekal Aji Kawastrawam, Antareja berubah wujud
menjadi Wara Sembadra. Lalu pergi mencari Buriswara.
“Kejar Antareja! Jangan sampai ia
bertindak main hakim sendiri!” tutur Bathara Narada.
Gatot Kaca dan para Pandawa berangkat pula menyusul Antareja.
*****
Terkejut Burisrawa melihat Wara
Sembadra menemuinya. Berkali-kali ia mengucek kelopak matanya. Memastikan tidak
sedang salah lihat.
“Sembadra, engkau masih hidup?” tanya
Burisrawa.
“Iya sayang. Kemarin aku hanya
pura-pura pingsan.”
Duh, seperti mimpi ketiban bulan
mendengar dirinya dipanggil sayang oleh Wara Sembadra. Burisrawa
berguling-guling diatas tanah. Meluapkan kebahagiaannya.
“Sayang, lihatlah rambutmu yang tak
pernah kamu keramasi itu, kotor sekali! Pasti banyak kutunya pula!” ejek Wara
Sembadra.
Ia pun ingin membersihkan rambut
gimbal yang penuh kutu itu. Perasaan Buriswara semakin melambung tinggi melihat
Wara Sembadra sangat perhatian kepadanya.
“Tetapi ada syaratnya!” tegas Wara
Sembadra.
“Setiap mendapat seekor kutu, kutampar mukamu,
karena ini pertanda rambutmu jorok. Kalau sudah berlipat menjadi tiga ekor
kutu, kujotos kepalamu yang terlalu jorok itu. Dan seterusnya!” jebak Wara
Sembadra.
“Hahaha … silahkan. Kuterima dengan
senang hati, pujaan hatiku.” Jawab Burisrawa.
Plak!
Sebuah tamparan dari Wara Sembadra
mendarat di muka Burisrawa ketika ia berhasil mendapat seekor kutu.
Plak!
Satu ekor lagi. Sebuah tamparan
dilayangkan lagi oleh Wara Sembadra.
Plak!
Kutu rambut ketiga membuat Wara
Sembadra mengacungkan kepalan tangannya,”Bersiaplah sayang.” Ucapnya.
Bruakkkkkkk!
“Aduhhhhhhhhhh ….. !” Burisrawa
menjerit sekeras-kerasnya.
Tubuh pemuda berambut gimbal
terjengkang hingga jatuh terlentang. Ia terkejut merasakan jotosan Wara
Sembadra sangat bertenaga seperti seorang laki-laki.
Ketika bangun, dilihatnya sosok yang
memukulnya ternyata bukan Wara Sembadra. Tetapi seseorang yang memiliki wajah
mirip Gatot Kaca.
“Keparat! Siapa kamu?” tanya
Burisrawa.
“Tidak penting siapa aku. Kedatanganku
kesini untuk menghukummu. Atas semua perbuatan nistamu, Burisrawa!” sesumbar
Antareja.
Terjadilah perkelahian antara keduanya.
Tanpa ampun, putra Werkudara langsung menghajar si mulut cablak, Burisrawa.
Babak belur wajah putra Salya itu oleh pukulan bertubi-tubi dari Antareja.
Jeritan mohon maaf dan ampun dari
Burisrawa tak dihiraukan lagi oleh Antareja. Datanglah para Pandawa bersama
Kresna.
“Hentikan, Antareja!” seru Kresna.
“Orang ini harus dihukum. Biar dia
mendapat ganjaran setimpal dengan perbuatan nistanya!” jawab Antareja.
Buriswara lari ketakutan dan
bersembunyi di belakang tubuh Kresna. Kepada raja Dwarawati itu, ia menyatakan
menyesal atas perbuatan nistanya. Ia juga meminta maaf kepada Arjuna dan
Pandawa.
“Burisrawa telah menyatakan bersalah,
sepatutnya kita memaafkan dia, Antareja. Mengenai hukuman yang harus
dijatuhkan, biarlah kita menyerahkan kepada Prabu Salya. Aku yakin, raja
Mandaraka akan mengambil keputusan bijak.” Lanjut Kresna.
Pandawa dan Kresna pun menyerahkan
Burisrawa kepada Prabu Salya. Raja Mandaraka berjanji akan menjatuhkan hukuman
yang setimpal atas perbuatan nista putranya.
*****
Kisah Sembadra Larung diatas merupakan
sebuah refleksi dengan peristiwa yang terjadi hari ini, 4 November 2016.
Puluhan ribuan massa berdemo di
ibu kota Jakarta demi membela Agama yang ditengarai telah dinistakan oleh
Basuki Tjahaya Purnama. Gubernur DKI (ibarat Burisrawa) menjadi tokoh viral
beberapa minggu terakhir karena tidak bisa menjaga lisannya. Mirip Burisrawa.
Luar biasa gerakan jihad umat Islam!
Meski ada yang pro dan kontra terhadap aksi demo bela agama ini (bukan pro
kontra terhadap Ahok, karena siapapun tentu satu pendapat bahwa Ahok memang
salah dan harus dihukum), tetapi tidak boleh peristiwa penistaan Al-Qur’an
justru membuat sesama Muslim terpecah belah. Saling menghujat di berbagai media
antar umat Islam. Sesama anak bangsa.
Seperti kesalahpahaman antara Antareja
dan Gatot Kaca yang sejatinya adalah saudara kandung dan sama-sama berniat
mulia. Yang satu bermaksud baik kepada Wara Sembadra, yang satu juga berniat
menjaga/membela Wara Sembadra.
Sama seperti kita, anak bangsa saat
ini. Yang satu ingin membela agama karena kitab suci Al-Qur’an dinistakan. Yang
satu ingin menjaga agar persatuan dan kesatuan negeri ini tidak tercerai berai.
Bahwa Ahok (Burisrawa) salah, itu
sudah harga mati. Tetapi kita tidak boleh menghakiminya sendiri. Kita hormati
proses hukum yang sedang berjalan di Bareskrim Polri. Kita serahkan Burisrawa
kepada Salya.
Seperti penuturan Kresna, raja
Mandaraka (Presiden RI, Pak Jokowi dan Polri) pasti akan bersikap bijaksana. Salya berjanji akan berbuat seadil-adilnya dalam menjatuhkan
hukuman kepada Burisrawa.
Pertanyaannya, siapakah tokoh di
negeri ini yang bisa diibaratkan sebagai Kresna, sosok arif dan bijaksana dalam meredam gejolak yang nyaris membawa perpecahan sesama anak bangsa
sekarang?
Siapa?
Ah, semoga segera muncul tokoh bangsa,
ulama dan negarawan yang bisa menyatukan lagi tirai persatuan negeri yang mulai
terkoyak ini.
Surabaya,
4 November 2016
Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost![]() |
Burisrawa - image google |
Ah, semoga segera muncul tokoh bangsa, ulama dan negarawan yang bisa menyatukan lagi tirai persatuan yang mulai terkoyak ini.
BalasHapusAmiin allohumma amiin
Refleksi yang mantap Bang... NKRI harga mati (didunia saja).. Al-quran harga akhirat...
BalasHapusngawur...bedo banget burisrowo karo ahok..
BalasHapusburisrowo ping bola bali lan diniati jahate,
ahok mung sakecap salahe, lan ugo ono wong liyan sing nafsirke podho ngono...
ning kasus ahok, ontran-ontrane mergo ono peran sengkuni...ojo dilaleke.
manstaaap
BalasHapusSuka analisa lapangannya, menunggu pemersatu umat, siapa dia?
BalasHapusKasus terbaru ulama diburu orang gila, semoga rezim ini segera terganti..