This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 09 September 2016

MENILIK JEJAK GERILYA PANGLIMA BESAR JENDRAL SUDIRMAN

Monumen Jendral Soedirman di desa Bajulan - Dok. Pribadi

Robek-robeklah badanku
Potong-potonglah jasadku
Jiwaku yang dilindungi benteng Merah Putih
Akan tetap hidup
Akan tetap menuntut bela
Siapapun lawan yang akan kuhadapi

Jangan bimbang
Menghadapi macam-macam penderitaan
Karena
Makin dekat cita-cita kita tercapai
Makin berat penderitaan yang kita alami

(Jendral Soedirman)

Jika kita membaca sebuah sajak dari almarhum Panglima Besar Jendral Soedirman tersebut, pasti jiwa nasionalisme kita akan tergugah.

Seorang panglima besar, demi membela negara rela menempuh perang gerilya dengan rute panjang. Dalam keadaan sakit, sangat minim logistik pula

*****

Ketika liburan kemarin, saya tertarik untuk mengunjungi sebuah obyek wisata yang tidak lepas dari sejarah gerilya Panglima Besar Soedirman.

Selain menjadi sarana untuk menambah pengetahuan tentang history education, tempat bernuansa sejarah juga dapat dijadikan alternativ untuk refreshing. Mengingat obyek wisata seperti pantai, air terjun, dan lainnya sudah beberapa kali pernah saya kunjungi.

Tempat yang saya tuju kali ini berada di kampung halaman sendiri. Tepatnya sebuah desa di puncak gunung Wilis. Sisi sebelah timur. Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Di tempat yang berada jauh dari pusat kota ini, terdapat sebuah obyek wisata sejarah yang minim publikasi, sehingga tak banyak orang yang mengetahui keberadaan lokasinya.

Monumen Perjuangan Panglima Besar Jendral Soedirman, nama tempat wisata bersejarah ini.

Perjalanan dari rumah saya di Nganjuk menuju puncak gunung Wilis saya tempuh menggunakan sepeda motor. Mengambil rute dari pusat kota melalui jalur Nganjuk – Kediri.

Sampai di perempatan Ngepeh, saya terus memacu sepeda motor ke arah selatan, menuju kawasan gunung Wilis.

Jika menggunakan angkutan umum, dari terminal Anjuk Ladang kita bisa naik bis antar kota jurusan Nganjuk - Kediri – Blitar, turun di perempatan Ngepeh (SMPN 1 Loceret). Sampai di sana, kita akan disambut beberapa tukang ojek yang siap mengantar ke desa Bajulan.

Sekitar 10 menit perjalanan dari perempatan SMPN 1 Loceret, kita akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Hamparan hutan khas tropis akan memanjakan mata kita.

Di sebelah selatan, terpampang gunung Wilis yang tinggi menjulang, begitu perkasa mengangkasa.

Setelah menempuh perjalanan dengan kondisi jalan aspal yang sangat representativ (jenis aspal kelas 1, untuk infrastruktur ini saya angkat topi kepada Pemda Nganjuk), kita akan menembus kawasan hutan cemara.

Begitu indahnya DIA telah menciptakan alam semesta ini. Sekali lagi kita akan dibuat takjub melihatnya.

Sekitar 3 km sebelum puncak Sekartaji (salah satu diantara 5 puncak gunung Wilis), kita akan sampai di pertigaan desa Bajulan.

Di sinilah terdapat sebuah bangunan yang di dirikan untuk menandai bahwa di wilayah itu dulu pernah dijadikan persinggahan Panglima Besar Jendral Soedirman saat memimpin langsung perang gerilya melawan Belanda.



Tempatnya sejuk sekali. Udara bersih gunung Wilis menambah kita akan kerasan singgah di Monumen Jendral Soedirman.

Selanjutnya, perjalanan kita teruskan menanjak lagi. Kurang lebih 3 km dari monumen tadi, kita akan sampai di sebuah tempat yang digunakan Pak Dirman bertempat tinggal.

Masyarakat menyebutnya Padepokan Pak Dirman.


Padepokan PB Soedirman - Dok. Pribadi

Patung PB Soedirman berdiskusi dengan pengikutnya - Dok. Pribadi

Terdiri dari sebuah bangunan utama berbentuk Joglo (bangunan khas rumah orang Jawa). Di halaman padepokan, terdapat patung Jendral Soedirman sedang melakukan diskusi mengatur strategi gerilya bersama para pengikut setianya.

Hanya ada satu ruangan pada bangunan padepokan.

Ruang utama (lebih tepatnya satu-satunya ruangan) yang berukuran sekitar 5 x 5 meter dihiasi dengan lukisan foto Pak Dirman. Sebuah bendera pusaka Merah Putih bersanding dengan replika bentuk asli tempat tinggal sang panglima dahulu.


Ruang Utama Padepokan PB Soedirman & Replika Rumah Beliau - Dok. Pribadi

Berjalan ke belakang padepokan sekitar 50 meter, kita akan melihat sebuah tempat yang digunakan oleh Jendral Soedirman menjalankan ibadah Shalat. Lengkap dengan tempat berwudhu.

Airnya berasal langsung dari sumber air di puncak gunung Wilis. Sangat jernih dan dingin. Saya menyempatkan meminum air tersebut. Luar biasa segarnya.


Tempat Wudhu Pak Dirman - Dok. Pribadi

Tempat Pak Dirman Menjalankan Ibadah Shalat - Dok. Pribadi

Tepat bersebelahan dengan batu yang biasa digunakan Pak Dirman menunaikan kewajiban 5 waktu, terdapat beberapa batu yang ditata rapi, menyerupai meja dan kursi ruang tamu.

Dahulu, di tempat itulah Panglima Besar Jendral Soedirman melakukan musyawarah dengan para pengawal dan pengikutnya. Menyusun strategi perang gerilya untuk mengacaukan konsentrasi penjajah Belanda.


Tempat Musyawarah Pak Dirman dan Pengikutnya - Dok. Pribadi

Pak Dirman sendiri memulai taktik perang gerilya dari Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Rute yang ditempuh adalah sebagai berikut :

“Yogyakarta, Bantul, dusun Bakulan (Kecamatan Jetis, Bantul), Kretek (Kecamatan Kretek, Bantul), dusun Grogol (Desa Parangtritis Kecamatan Kretek, Bantul), Parangtritis (Kecamatan Kretek, Bantul), Panggang (Kecamatan Panggang, Gunungkidul), Paliyan (Kecamatan Paliyan, Gunungkidul), Playen (Kecamatan Playen, Gunungkidul), Wonosari, Semanu, Bedoyo (Ponjong, Gunungkidul), Pracimantoro (Pracimantoro, Wonogiri), Eromoko, Wuryantoro, Wonogiri, Jatisrono (Wonogiri), Purwantoro (Wonogiri), Sumoroto (Kauman, Ponorogo), Ponorogo, Jetis (Jetis, Ponorogo), Sambit (Sambit, Ponorogo), Sawoo (Sawoo, Ponorogo), Nglongsor (Tugu, Trenggalek), Trenggalek, Kalangbret, Tulungagung, Kediri, Karangnongko, Goliman (desa Parang Banyakan kab. Kediri), Bajulan (Loceret, Nganjuk), Salamjudeg, Makuto, Sawahan, Ngliman (Nganjuk), Gedangklutuk, Wates, Serang, desa Jambu (Ponorogo), desa Wayang (Pulung Ponorogo), dusun Banyutowo (Pulung, Ponorogo), desa Sedayu (Ponorogo), dusun Warungbung (Sooko, Ponorogo), dusun Gunungtukul (desa Suru Sooko, Ponorogo), desa Ngindeng (kecamatan Sawoo, Ponorogo), desa Tumpakpelem (Kecamatan Sawoo, Ponorogo), Nglongsor (Kecamatan Tugu, Trenggalek), Trenggalek (Trenggalek), Karangan (Kecamatan, Karangan, Trenggalek), Suruhwetan (Suruh Trenggalek), Dongko (Trenggalek), Panggul (Kecamatan Panggul, Trenggalek), desa Bodag (Panggul, Trenggalek), desa Nogosari (Ngadirojo, Pacitan), Gebyur, Pringapus (Tulakan Pacitan), desa Wonosidi (Tulakan, Pacitan), desa Ketro (Tulakan Pacitan) dusun Wonokerto (Kecamatan Nawangan, Pacitan), Tegalombo (Tegalombo, Pacitan), Mujing (Nawangan, Pacitan), Nawangan (Nawangan, Pacitan), Ngambarsari (Kecamatan Karangtengah, Wonogiri), dusun Sobo (desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, Pacitan). Kembali ke Yogyakarta : dusun Sobo (desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, Pacitan), Tirtomoyo (Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri), Baturetno (Kecamatan Baturetno, Wonogiri), dusun Pulo (desa Kasihan kecamatan Ngadirojo Wonogiri), Karangbendo (Wonogiri), Ponjong (Kecamatan Ponjong, Gunungkidul), desa Karangmojo (Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul), desa Gari (Kecamatan Wonosari Gunungkidul), Piyungan (kecamatan Piyungan, Bantul), Prambanan (Kecamatan Prambanan, Sleman).”

( Rute Gerilya PB Soedirman-  Firdaus Ubaidilah )

Setelah hampir setahun bergerilya, Pak Dirman akhirnya tiba kembali di Yogyakarta pada 10 Juli 1949.

Yang membuat saya salut dengan Pak Dirman adalah beliau dalam kondisi fisik yang sedang menderita sakit keras saat memimpin gerilya itu. Perjalanan yang ditempuh pun tak kurang dari 1009 km.
Sayang, padepokan Pak Dirman di desa Bajulan kini terkesan kurang terawat.

Selain lantai yang berdebu, banyak lumut yang tumbuh pada bebatuan dan papan petunjuk di obyek wisata. Menggambarkan betapa minimnya kepedulian masyarakat untuk melestarikan lokasi bersejarah itu.

Semoga minat anak-anak muda sekarang untuk mengunjungi Monumen dan Padepokan Pak Dirman di desa Bajulan tumbuh lagi.


(Heru Sang Mahadewa)



Rabu, 07 September 2016

EMPAT POINT PENTING DI BALIK BOAZ SALOSSA DAN TIMNAS YANG LUAR BOAZA


Pasukan Muda Timnas Garuda - foto google


“Berikan kami seratus orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya! Berikan kami sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia!”

Petikan pidato Bung Karno yang sempat hits kembali saat diteriakkan oleh Valentino Simanjuntak, presenter tayangan pertandingan final sepakbola AFF Cup tiga tahun silam itu, rasanya pantas saya gelorakan lagi malam tadi.

Ya, skuad muda Garuda Jaya semalam sukses mencabik-cabik Harimau Malaya dengan margin tiga gol yang notabene dipenuhi para pemain yang jauh lebih senior.

Sebuah pertaruhan sangat berani telah diambil Alfred Riedl. Pelatih timnas Garuda.

Pertaruhan dengan merombak total formasi timnas sepakbola Indonesia. Jika selama ini skuad kita senantiasa diisi pemain itu-itu saja (jika tidak mau disebut pemain tua), namun tidak untuk pertandingan tadi malam.

Hampir 90% pasukan Merah Putih dipenuhi talenta muda berbakat. Starting eleven tim yang pertama kali tampil pasca dicabutnya sanksi FIFA ini juga mencatatkan deretan nama-nama baru. Minus Boaz Salossa, the rising star timnas sepuluh tahun lalu yang semalam masih dipercaya tuahnya.

Terbukti!

Dua gol putra Papua ini bukan hanya menjadi ucapan “Selamat Berjumpa Kembali, Seteru Abadi Kami” bagi Malaysia, tetapi juga membuka mata dunia, bahwa jangan sekali-kali meremehkan Indonesia.

Sosok Boaz yang liar, cepat dan mematikan, serasa lengkap menjadi momok tim negeri jiran ketika satu assistnya berbuah gol bagi tandemnya di lini depan. Irfan Bachdim.

Indonesia 3 – 0 Malaysia.

Kini rekor pertemuan kita dengan mereka adalah 31 – 15 – 21.

Dimulai dari tahun 1957, ketika untuk pertama kali kita bertemu dengan Malaysia, Indonesia sukses memenangi 31 laga. Selanjutnya 15 pertandingan berakhir seri, dan Malaysia baru memenangi pertandingan sebanyak 21 kali.

Saya mencatat ada beberapa point penting di balik masih dipercayanya Boaz saat Indonesia sukses membenamkan Malaysia di stadion Manahan, Solo tadi malam.

1. Terangkatnya Confidensi Pemain.
Keberhasilan mengalahkan negeri yang menjadi seteru abadi Indonesia ini secara moral akan mengangkat kepercayaan diri para pemain kita. Minimnya persiapan timnas (hanya dua hari jelang laga kontra Malaysia) tertutupi dengan hasil  fantastis.

Kemenangan yang sangat penting bagi mental pemain Indonesia sebelum tampil di Piala AFF bulan depan.

2. Timnas Garuda Masih Ada.
Kemenangan ini membuktikan bahwa kita (timnas Indonesia) masih mampu berbicara. Satu tahun lebih kita dikucilkan dunia internasional akibat konflik berkepanjangan antara Menpora dan PSSI. Dalam kurun waktu terkena banned FIFA itulah, sepakbola Indonesia menjadi sasaran bully. Meski masih ada yang setia dengan Garuda, namun banyak pula masyarakat mencaci makinya.

Indonesia (timnas Garuda) masih ada!

3. Pentingnya Regenerasi.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa era keemasan pemain seangkatan Firman Utina, Bambang Pamungkas dkk. sudah lewat. Apresiasi yang tinggi tentu patut kita berikan atas dedikasi mereka selama ini. Kini, berikanlah kepercayaan pada anak-anak muda untuk memberi warna baru pada timnas Garuda. Evan Dimas, Andik Vermansyah, Rudolf Yanto Basna, Bayu Pradana, Abduh Lestaluhu, Lerbi Aliandri semalam telah menegaskan bahwa The Real Garuda is Back!

Indonesia telah kembali dengan pasukan mudanya!

4. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Perpecahan sesama anak bangsa tidak ada untungnya. Konflik berkepanjangan antara pemerintah dengan induk organisasi sepakbola selalu membawa kerugian yang kompleks. Bukan hanya memerosotkan prestasi timnas, tetapi juga membunuh sektor ekonomi yang menggantungkan rejeki dari aktivitas kompetisi olahraga paling merakyat ini. Bersatunya kembali Menpora dan PSSI secara tidak langsung pasti berdampak pada timnas. Motivasi tentu terpompa lagi.

Empat point penting diatas sudah menjadi modal awal yang sangat berharga. Tinggal kini kembali lagi kepada semua element sepakbola Indonesia.

Pemerintah, dalam hal ini Menpora ingin membina seperti apa lagi? Perbaikan tata kelola (alasan pembentukan Tim Transisi PSSI oleh Kemenpora saat konflik dulu) yang bagaimana?

Sementara dari PSSI, seriuskah komitmen untuk mereformasi diri?

Beranikah induk organisasi sepakbola ini menjamin transpransi pemasukan dan penggunaan dana yang nilainya membelalakkan mata?

Bola memang bundar. Kita sulit menentukan dimana sudutnya. 

Sesulit kita menerka sebagaimana jujur dan sportivnya Pak Menteri dan orang-orang yang mengelola PSSI.


(Heru Sang Mahadewa)
Member Of #OneDayOnePost

Selasa, 06 September 2016

KARENA KITA INDONESIA DAN MEREKA MALAYSIA



image from google

Selalu menarik jika kita berbicara tentang Indonesia dengan negeri jiran Malaysia.

Sejarah panjang perseturuan kedua bangsa seperti menjadi api dalam sekam. Sewaktu-waktu menghangat dan bahkan memanas kembali.

Dimulai dari invasi Mahapatih Gajah Mada yang sukses menaklukkan daratan Pahang, Kelantan dan Johor hingga Kesultanan Melaka kala itu dipaksa menjadi bagian dari kemahsyuran negeri Wilwatikta. Majapahit.

Melaka menganggap Gajah Mada sebagai seorang destroyer yang menancapkan kekuatannya secara paksa di tanah Melayu.

Inilah cikal bakal konflik dua negeri serumpun.

Berlanjut ke tahun 1961 saat Pemerintah Malaysia atas dukungan Inggris mencoba membentuk Negara Federal dengan menggabungkan Kerajaan Brunei, Serawak, Britania Borneo Utara (kini dikenal sebagai Sabah) dan Singapura.

Kalimantan, sebuah provinsi di belahan selatan pulau itu yang menjadi bagian dari Indonesia, melalui Presiden Soekarno menentang akal-akalan Malaysia.

Bung Karno merasa ini merupakan bentuk kolonialisme model baru yang di gagas Inggris. Negara Federal di bawah kontrol Inggris hanya akan menjadi boneka Britania Raya!

Perseturuan memuncak ketika terjadi demonstrasi besar-besaran di KBRI Kuala Lumpur. Para demonstran merobek-robek foto Presiden Soekarno, lalu membawa lambang negara kita ke hadapan PM Malaysia Tuanku Abdul Rahman. Memaksanya menginjak-injak Garuda.

Amarah Bung Karno meledak!

“Kita Ganyang Malaysia!” ucap Presiden Soekarno kala itu dalam sebuah pidatonya.

Dalam kurun waktu selama tahun 1962 hingga 1966, dikirimlah pasukan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia untuk menyerbu Malaysia. Pasukan Rejimen Askar Melayu Diraja secara resmi mendapat bantuan dari Inggris, Australia dan Selandia Baru.

"Inggris kita linggis, Australia kita seterika, Selandia Baru kita palu!" seru Bung Karno membakar semangat rakyat Indonesia.

Saat konflik ini berlangsung, Perserikatan Bangsa Bangsa justru mengangkat Malaysia sebagai anggota Dewan Keamanan. Lagi-lagi Bung Karno menganggap hal ini sebagai penghinaan.

Indonesia menyatakan keluar dari PBB!

Bahkan, atas gagasan Bung Karno, Indonesia mengadakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) untuk menandingi Olimpiade.

Pesta Olahraga ini diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan. Sekitar 500 wartawan asing turut pula meliputnya.

Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia akhirnya mereda setelah terjadi pergantian tampuk pimpinan di negeri kita dari Soekarno ke Soeharto.

Pak Harto, secara pelan namun pasti, memulihkan kembali hubungan diplomatik kedua negara yang retak selama lima tahun.

Indonesia pun resmi bergabung kembali dengan Persrikatan Bangsa Bangsa pada 28 September 1966 dan diterima menjadi anggota yang ke-60.

Betapa sangat reseknya (bikin ulah, kata orang Surabaya) Malaysia, hingga sangat berpengaruh terhadap kebijakan Politik Luar Negeri bangsa Indonesia.

*****

Pasang surut hubungan Indonesia – Malaysia pasca Pak Harto lengser.

Berakhirnya rezim pemerintahan Presiden Soeharto oleh gerakan reformasi rakyat dan mahasiswa, sedikit banyak berpengaruh juga terhadap terhadap kondisi psikologis perseturuan dua negeri serumpun.

Di jaman Bung Karno dan Pak Harto, tak ada yang berani menyebut orang-orang Indonesia yang tinggal di Malaysia dengan sebutan “Indon”. Kini, panggilan itu sudah menjadi sapaan sehari-hari di negeri jiran.

Bung Karno begitu ditakuti di kawasan Asia dan Afrika. Pak harto sangat disegani di wilayah ASEAN. Sehingga mereka sungkan atau bahkan takut memplesetkan Indonesia.

Kata “Indon” memang terdengar sepele. Tetapi konotasinya sangat merendahkan harga diri kita sebagai warga Indonesia.

Setelah Pak Harto lengser kepabron (turun tahta), tepatnya di era pemerintahan Presiden Megawati, kita kembali disuguhi sebuah peristiwa paling menyakitkan. Dua pulau di dekat Kalimantan secara resmi dicaplok Malaysia melalui Mahkamah Internasional.

Sipadan dan Ligitan, surga bagi fauna Penyu Hijau lepas dari wilayah NKRI setelah melalui diplomasi yang panjang, Malaysia berhasil memenangkan gugatan atas konflik klaim kepemilikan dua pulau itu.

Alih-alih perseturuan mereda, yang ada justru negeri Jiran kembali mengklaim bahwa tari Reog Ponorogo adalah kesenian khas bangsa Malaysia. Mereka menyebutnya sebagai Tarian Barongan.

Belum lagi klaim atas lagu Rasa Sayange, Masakan Rendang, Tari Pendet, Tari Zapin, Cendol, Gamelan, Batik, Tari Tortor, Angklung dan Gordan Sambilan. Entah sudah berapa kali Malaysia mengklaim kepemilikan atas warisan budaya Indonesia.

Lengkap sudah rasanya api-api kecil dalam sekam yang setiap saat bisa menjadi pemantik tersulutnya kobaran api besar perseteruan Indonesia dan Malaysia.

Meski di era sekarang, mustahil konfrontasi fisik secara terbuka akan terjadi. Tetapi, perang urat syaraf tetap tak bisa terhindari.

*****
Adalah sepakbola, sebuah cabang olahraga yang senantiasa menyuguhkan tensi tinggi setiap dua tim bertemu. Garuda Indonesia (julukan timnas Indonesia) dengan Harimau Malaya (sebutan timnas Malaysia).

Tiga kali hadir secara langsung di stadion, saya ikut merasakan betapa panasnya atmosfir perseteruan kedua negara. Pertemuan Indonesia dan Malaysia di lapangan hijau pun selalu mengusung aroma sejarah panjang konflik kita dengan mereka.

Malam nanti, 6 September 2016 kita akan bersua kembali dengan mereka.

Stadion Manahan, Solo akan menjadi saksi kembalinya timnas Garuda Indonesia.

Inilah untuk kali pertama timnas kembali tampil pasca di banned oleh Football International Federation and Asociation (FIFA) sebagai buntut pembekuan Menpora kepada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). FIFA sendiri mengharamkan pemerintah (dalam hal ini Menpora) mengintervensi organisasi sepakbola di setiap negara.

Pertandingan Indonesia versus Malaysia malam nanti adalah pertemuan ke-67 dalam segala event. Saat ini rekor keduanya adalah 30 – 15 – 21.

Sejak Piala Merdeka tahun 1957 saat kedua negara pertama kali bertemu, Indonesia telah sukses memenangi 30 laga. Sementara 15 pertandingan berakhir draw, dan Malaysia hanya mampu mengenyam kemenangan sebanyak 21 kali.

Namun, kondisi kedua tim saat ini sudah jauh berbeda.

Kekuatan timnas Indonesia masih meragukan. Selain setahun lebih kita absen dari laga resmi karena dikucilkan oleh dunia internasional akibat sanksi, persiapan timnas kita juga masih dalam tahap seleksi awal.

Berbeda dengan kekuatan timnas Malaysia yang sudah jauh hari dipersiapkan dalam Training Center. Harimau Malaysia di atas kertas memang lebih unggul dari kita.

Tapi ingat, di formasi Garuda malam nanti ada Boaz Salossa.

Pemain asal Papua inilah yang pada 3 januari 2005 dulu pernah memporak-porandakan gawang Malaysia di stadion Bukit Jalil.

Boaz kala itu tidak hanya menjadi the rising star timnas, golnya pada menit ke-84 sekaligus membungkam Harimau Malaya dengan skor 4-1 di hadapan rakyat Malaysia.

Malam nanti, kita berharap sejarah Boaz akan terulang kepada the rising star era sekarang. Evan Dimas Darmono (eks kapten Timnas U19 yang sukses memberi gelar juara kepada Indonesia di AFF Cup 2013) dan Andik Vermansyah.

Nama terakhir adalah arek Suroboyo yang sedang menjadi bintang di klubnya, Selangor FA. Pengalaman Andik merumput selama beberapa musim di Malaysia tentu sangat kita andalkan. Sedikit banyak, mantan pemain Persebaya ini pasti mengenal karakter para pemain Harimau Malaya.

Banyak yang bilang, bolehlah kita kalah dari timnas negara lain, asal tidak dari Malaysia.

Kenapa?

Karena kita #Indonesia dan mereka #Malaysia.

Ya, sesederhana itu alasannya.


Surabaya, 6 September 2016
( Heru Sang Mahadewa )

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *