![]() |
image from google |
Selalu
menarik jika kita berbicara tentang Indonesia dengan negeri jiran Malaysia.
Sejarah
panjang perseturuan kedua bangsa seperti menjadi api dalam sekam. Sewaktu-waktu
menghangat dan bahkan memanas kembali.
Dimulai
dari invasi Mahapatih Gajah Mada yang sukses menaklukkan daratan Pahang,
Kelantan dan Johor hingga Kesultanan Melaka kala itu dipaksa menjadi bagian
dari kemahsyuran negeri Wilwatikta. Majapahit.
Melaka
menganggap Gajah Mada sebagai seorang destroyer yang menancapkan kekuatannya secara
paksa di tanah Melayu.
Inilah
cikal bakal konflik dua negeri serumpun.
Berlanjut
ke tahun 1961 saat Pemerintah Malaysia atas dukungan Inggris mencoba membentuk Negara
Federal dengan menggabungkan Kerajaan Brunei, Serawak, Britania Borneo Utara
(kini dikenal sebagai Sabah) dan Singapura.
Kalimantan,
sebuah provinsi di belahan selatan pulau itu yang menjadi bagian dari Indonesia,
melalui Presiden Soekarno menentang akal-akalan Malaysia.
Bung
Karno merasa ini merupakan bentuk kolonialisme model baru yang di gagas Inggris.
Negara Federal di bawah kontrol Inggris hanya akan menjadi boneka Britania
Raya!
Perseturuan
memuncak ketika terjadi demonstrasi besar-besaran di KBRI Kuala Lumpur. Para
demonstran merobek-robek foto Presiden Soekarno, lalu membawa lambang negara kita
ke hadapan PM Malaysia Tuanku Abdul Rahman. Memaksanya menginjak-injak Garuda.
Amarah
Bung Karno meledak!
“Kita
Ganyang Malaysia!” ucap Presiden Soekarno kala itu dalam sebuah pidatonya.
Dalam
kurun waktu selama tahun 1962 hingga 1966, dikirimlah pasukan Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia untuk menyerbu Malaysia. Pasukan Rejimen Askar Melayu Diraja
secara resmi mendapat bantuan dari Inggris, Australia dan Selandia Baru.
"Inggris kita linggis, Australia kita seterika, Selandia Baru kita palu!" seru Bung Karno membakar semangat rakyat Indonesia.
"Inggris kita linggis, Australia kita seterika, Selandia Baru kita palu!" seru Bung Karno membakar semangat rakyat Indonesia.
Saat
konflik ini berlangsung, Perserikatan Bangsa Bangsa justru mengangkat Malaysia
sebagai anggota Dewan Keamanan. Lagi-lagi Bung Karno menganggap hal ini sebagai
penghinaan.
Indonesia
menyatakan keluar dari PBB!
Bahkan,
atas gagasan Bung Karno, Indonesia mengadakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) untuk
menandingi Olimpiade.
Pesta Olahraga ini diselenggarakan di
Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Diikuti oleh 2.250 atlet dari 48
negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan. Sekitar 500 wartawan asing
turut pula meliputnya.
Konfrontasi antara Indonesia dan
Malaysia akhirnya mereda setelah terjadi pergantian tampuk pimpinan di negeri
kita dari Soekarno ke Soeharto.
Pak Harto, secara pelan namun pasti,
memulihkan kembali hubungan diplomatik kedua negara yang retak selama lima
tahun.
Indonesia pun resmi bergabung kembali
dengan Persrikatan Bangsa Bangsa pada 28 September 1966 dan diterima menjadi
anggota yang ke-60.
Betapa sangat reseknya (bikin ulah, kata orang Surabaya) Malaysia, hingga sangat
berpengaruh terhadap kebijakan Politik Luar Negeri bangsa Indonesia.
*****
Pasang surut hubungan Indonesia – Malaysia pasca Pak Harto lengser.
Berakhirnya rezim pemerintahan Presiden
Soeharto oleh gerakan reformasi rakyat dan mahasiswa, sedikit banyak berpengaruh
juga terhadap terhadap kondisi psikologis perseturuan dua negeri serumpun.
Di jaman Bung Karno dan Pak Harto,
tak ada yang berani menyebut orang-orang Indonesia yang tinggal di Malaysia
dengan sebutan “Indon”. Kini,
panggilan itu sudah menjadi sapaan sehari-hari di negeri jiran.
Bung Karno begitu ditakuti di kawasan
Asia dan Afrika. Pak harto sangat disegani di wilayah ASEAN. Sehingga mereka sungkan atau bahkan takut memplesetkan Indonesia.
Kata “Indon” memang terdengar sepele. Tetapi konotasinya sangat
merendahkan harga diri kita sebagai warga Indonesia.
Setelah Pak Harto lengser kepabron (turun tahta), tepatnya
di era pemerintahan Presiden Megawati, kita kembali disuguhi sebuah peristiwa
paling menyakitkan. Dua pulau di dekat Kalimantan secara resmi dicaplok
Malaysia melalui Mahkamah Internasional.
Sipadan dan Ligitan, surga bagi fauna
Penyu Hijau lepas dari wilayah NKRI setelah melalui diplomasi yang panjang, Malaysia
berhasil memenangkan gugatan atas konflik klaim kepemilikan dua pulau itu.
Alih-alih perseturuan mereda, yang ada
justru negeri Jiran kembali mengklaim bahwa tari Reog Ponorogo adalah kesenian
khas bangsa Malaysia. Mereka menyebutnya sebagai Tarian Barongan.
Belum lagi klaim atas lagu Rasa Sayange,
Masakan Rendang, Tari Pendet, Tari Zapin, Cendol, Gamelan, Batik, Tari Tortor,
Angklung dan Gordan Sambilan. Entah sudah berapa kali Malaysia mengklaim
kepemilikan atas warisan budaya Indonesia.
Lengkap sudah rasanya api-api kecil
dalam sekam yang setiap saat bisa menjadi pemantik tersulutnya kobaran api
besar perseteruan Indonesia dan Malaysia.
Meski di era sekarang, mustahil
konfrontasi fisik secara terbuka akan terjadi. Tetapi, perang urat syaraf tetap
tak bisa terhindari.
*****
Adalah sepakbola, sebuah cabang
olahraga yang senantiasa menyuguhkan tensi tinggi setiap dua tim bertemu.
Garuda Indonesia (julukan timnas Indonesia) dengan Harimau Malaya (sebutan
timnas Malaysia).
Tiga kali hadir secara langsung di stadion,
saya ikut merasakan betapa panasnya atmosfir perseteruan kedua negara.
Pertemuan Indonesia dan Malaysia di lapangan hijau pun selalu mengusung aroma
sejarah panjang konflik kita dengan mereka.
Malam nanti, 6 September 2016 kita
akan bersua kembali dengan mereka.
Stadion Manahan, Solo akan menjadi
saksi kembalinya timnas Garuda Indonesia.
Inilah untuk kali pertama timnas
kembali tampil pasca di banned oleh Football
International Federation and Asociation (FIFA) sebagai buntut pembekuan Menpora
kepada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). FIFA sendiri mengharamkan
pemerintah (dalam hal ini Menpora) mengintervensi organisasi sepakbola di
setiap negara.
Pertandingan Indonesia versus
Malaysia malam nanti adalah pertemuan ke-67 dalam segala event. Saat ini rekor
keduanya adalah 30 – 15 – 21.
Sejak Piala Merdeka tahun 1957 saat
kedua negara pertama kali bertemu, Indonesia telah sukses memenangi 30 laga.
Sementara 15 pertandingan berakhir draw, dan Malaysia hanya mampu mengenyam kemenangan
sebanyak 21 kali.
Namun, kondisi kedua tim saat ini
sudah jauh berbeda.
Kekuatan timnas Indonesia masih
meragukan. Selain setahun lebih kita absen dari laga resmi karena dikucilkan
oleh dunia internasional akibat sanksi, persiapan timnas kita juga masih dalam
tahap seleksi awal.
Berbeda dengan kekuatan timnas Malaysia
yang sudah jauh hari dipersiapkan dalam Training
Center. Harimau Malaysia di atas kertas memang lebih unggul dari kita.
Tapi ingat, di formasi Garuda malam
nanti ada Boaz Salossa.
Pemain asal Papua inilah yang pada 3
januari 2005 dulu pernah memporak-porandakan gawang Malaysia di stadion Bukit
Jalil.
Boaz kala itu tidak hanya menjadi the rising star timnas, golnya pada
menit ke-84 sekaligus membungkam Harimau Malaya dengan skor 4-1 di hadapan
rakyat Malaysia.
Malam nanti, kita berharap sejarah Boaz
akan terulang kepada the rising star era
sekarang. Evan Dimas Darmono (eks kapten Timnas U19 yang sukses memberi gelar
juara kepada Indonesia di AFF Cup 2013) dan Andik Vermansyah.
Nama terakhir adalah arek Suroboyo
yang sedang menjadi bintang di klubnya, Selangor FA. Pengalaman Andik merumput
selama beberapa musim di Malaysia tentu sangat kita andalkan. Sedikit banyak,
mantan pemain Persebaya ini pasti mengenal karakter para pemain Harimau Malaya.
Banyak yang bilang, bolehlah kita
kalah dari timnas negara lain, asal tidak dari Malaysia.
Kenapa?
Karena kita #Indonesia dan mereka
#Malaysia.
Ya, sesederhana itu alasannya.
Surabaya, 6 September 2016
( Heru Sang
Mahadewa )
Ya ampun lengkap banger sejarahnya
BalasHapusterima kasih mbakyu sudah mampir
Hapuskereeen emang koncoku ki...sejarawan pisan
BalasHapuskereeen emang koncoku ki...sejarawan pisan
BalasHapussuwun Lis.
Hapusbiasa ae lah :)