Senin, 02 Mei 2016

PRALAYA DI LANGIT BUBAT



Surya Majapahit - image google


PROLOG

“Kalian semua keluar dari Paseban ini!” Perintah Hayam Wuruk mengakhiri pertemuan dengan para punggawanya.

“Kakang Mada tetap disini! Aku ingin bicara empat mata!” Sang Raja menyebut nama seseorang. Lelaki bertubuh tinggi besar yang dipanggil dengan sebutan Kakang dimintanya tidak meninggalkan ruang pendopo Majapahit.

Para penasehat, menteri dan senopati yang hadir menghaturkan pamit. Kedua tangan menyembah didepan wajah, lalu dengan langkah membungkuk berjalan mundur meninggalkan bangunan termegah di komplek istana.

Hayam Wuruk murka. Hari itu adalah hari dimana seharusnya ia bersanding dengan Dyah Pitaloka Citraresmi. Mengucap janji sakral di hadapan para Brahmana. Namun tanpa sepengetahuannya, terjadi pertikaian antara Gajah Mada dengan  rombongan kerajaan Sunda. Pujaan hatinya memilih jalan bela pati sepeninggal ayahandanya, Prabu Linggabuana. Sirna sudah impian raja Majapahit untuk mempersunting putri kerajaan Sunda.

“Tidakkah kau sadar bahwa tindakanmu ini lancang kakang Mada?” Sorot mata Hayam Wuruk merah menyala. Giginya gemeletuk. Tangannya mengepal. Ingin sekali ia melayangkan kepalan tangan untuk melampiaskan amarah kepada sosok yang kini sedang diajaknya berbicara.

“Eyang Wijaya di alam Sunyaruri pasti akan murka mengetahui tindakan kita!” Hayam Wuruk berucap sembari membelakangi Mahamenterinya. Raden Wijaya yang dipanggilnya eyang, pendiri Majapahit adalah seorang putra Pajajaran, Sunda. Kini keturunannya justru membinasakan tamu kenegaraan dari tanah moyangnya itu.

“Sembah hamba kepada paduka. Saya akan mempertanggungjawabkan semua ini.” Sela Gajah Mada.

“Hamba pantang untuk melanggar sumpah. Nusantara tetap harus dalam kekuasaan satu raja. Majapahit!” Tegas sang Mahamenteri. Sebelumnya ia telah mengikrarkan sebuah sumpah sakral. Sumpah bahwa Gajah Mada akan berpuasa hingga seluruh wilayah Nusantara bisa ditaklukkan Majapahit.

“Tapi tidak dengan cara membunuh Dyah Pitaloka!” Nada suara Hayam Wuruk semakin meninggi. Ingin sekali ia menampar tetua di hadapannya. Tapi niat itu ia urungkan setiap kali teringat besarnya jasa Gajah Mada.

“Dyah Pitaloka membunuh dirinya sendiri. Tak ada satupun yang berani melukai putri itu!” Bantah Gajah Mada.  Meski terjadi keributan antara dirinya dengan pasukan Linggabuana di pesanggrahan Bubat, tak pernah sedikitpun calon istri Hayam Wuruk itu diusik.

“Tidakkah paduka berpikir bahwa Sunda juga harus ditaklukkan?” Bantah Sang Mahamenteri.

“Lepasnya Sunda akan menciderai kemahsyuran bumi kita. Percuma Surya Majapahit berkibar dimana-mana, tetapi tak pernah ada di tanah Sunda!” Gajah Mada tetap bersikukuh bahwa tindakannya sudah tepat.

Bagi Sang Mahamenteri, penyatuan seluruh bumi dan samudera Nusantara tak boleh ada cela. Termasuk Sunda sekalipun. Meski rajanya sedang gandrung kepada seorang Mojang Parahyangan. Putri dari penguasa kerajaan Sunda, Prabu Linggabuana. Dyah Pitaloka Citraresmi.

“Ini memalukan! Bagiamanapun juga semua akan menyalahkan kita!” Hayam Wuruk masih juga belum bisa menerima penjelasan Mahamenteri.

“Baiklah paduka. Jika tindakan yang hamba ambil ini salah, silahkan paduka menjatuhkan hukuman. Hamba siap menanggungnya.” Gajah Mada membela diri. Disaat semua bangunan argumen yang ia sampaikan tetap saja ditepis, memilih siap bertanggungjawab tentu pilihan yang paling gentle.

Obsesimu terlalu berlebihan kakang Mada. Tekadmu sebenarnya sungguh mulia. Tetapi aku kecewa. Kau pupuskan bunga-bunga yang mulai bersemi dihatiku. Kau binasakan Sunda juga akhirnya.” Amarah Hayam Wuruk memuncak. Sesaat suasana ruang pendopo menjadi hening. Mereka berdua saling membisu.

“Mungkin kau sudah terlalu lelah kakang. Beristirahatlah dahulu dari Bhayangkaramu.” Ucap Hayam Wuruk memecah keheningan.

“Maksud paduka?” Gajah Mada mendongak, menatap wajah rajanya dengan mimik keheranan.

“Beristirahatlah di Madakaripura. Bhaktimu tetap bisa kau tunjukkan dari sana!” sabda Prabu Hayam Wuruk.

Sendiko dawuh gusti. Hamba undur diri!” Seketika Sang Mahamenteri Gajah Mada beranjak meninggalkan pendopo. Tanpa menunggu penjelasan dari Hayam Wuruk lebih dahulu kenapa ia harus di tempatkan di Madakaripura.

Gajah Mada sadar, keputusan rajanya menempatkan ia ke sebuah tanah perdikan kecil bagi seorang Mahamenteri adalah hukuman. Isyarat bahwa Hayam Wuruk sudah menurunkan kedudukannya. Menyuruhnya beristirahat di sebuah belantara yang jauh dari kotaraja, bukanlah tanpa maksud.

Dengan kata lain “Mundurlah kau dari kerajaanku wahai Gajah Mada!”

****


Baca kisah selanjutnya [ Disini ]

#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
-------------------------
Catatan :
Paseban = Balai yang digunakan untuk menghadap raja.
Bela pati = Tindakan bunuh diri sebagai ritual setelah lelakinya meninggal (suami, saudara laki-laki, ayah, dsb).
Sunyaruri = Alam keabadian (alam setelah kematian).
Surya Majapahit = Lambang negeri Majapahit (bendera dengan logo matahari dan delapan penjuru mata angin).
Gandrung = Tergila-gila karena asmara.
Bhayangkara = Sebutan untuk pasukan Majapahit.
Madakaripura = Nama sebuah desa, kini dikenal dengan sebutan Tongas (Probolinggo, Jatim).
Sendiko dawuh = Siap laksanakan perintah.

24 komentar:

  1. Wow, hebat awakmu ki her, salut aku..

    BalasHapus
  2. Wow, hebat awakmu ki her, salut aku..

    BalasHapus
  3. Saya mah, cuma bisa geleng-geleng. Saluut. Ini udah kayak ciri khasnya Mas Heru. Mantaap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Biasa kok mbk Na .. msh hrs bnyk mengasah kemampuan.

      Hapus
  4. Ini kalau dibikin film jadi laga kolosal apa, ya?

    Dibikin seni teater keren, bang heru...

    Ahli sejarah bener, yah... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih pemula mbk ...
      Terima kasih udh mampir

      Hapus
  5. Wah, kompor minyak premium ini namanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ...
      "Gile lu Ndro!" Jawab om Kasino.

      Hapus
  6. Saya jadi kembali belajar sejarah lewat cerita Mas Heru. Suka euy...

    BalasHapus
  7. Salut mas. Aku belajr banyak dari kakang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, aa Gilang ... Saya juga belajar banyak pd tulisan aa yang mengaduk-aduk perasaan itu.

      Hapus
  8. Kalau dah bagian sejarah, mas Heru dah ahlinya..., @gilang kalau belajat ma mas Heru ajak2 yaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbk raidaaaaaaa ... saya bukan Guru :) hehe

      Hapus
  9. selalu sejarah
    dan mempertahankan ciri khas diri

    lanjuut kang

    BalasHapus
  10. Wow. Keren ceritanya mas.. kebayang kl di jadikan serial di tv. Bakal seru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya semoga ada produser yang membaca tulisan saya .. wkwkwk :p

      Hapus
  11. baru sempat baca... kereeeennnnnnnnn mas Heru....

    BalasHapus
  12. Wuihh...sejarah majapahit, kerajaan besar d jawa...lanjut baca aaa...biar aku paham sejarah tanah jowo yg aku pijak saiki....

    Keren mas heru...sorry baru bisa baca skg

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *