![]() |
Pasukan Muda Timnas Garuda - foto google |
“Berikan kami seratus orang tua,
niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya! Berikan kami sepuluh pemuda, niscaya
akan kuguncang dunia!”
Petikan pidato
Bung Karno yang sempat hits kembali saat diteriakkan oleh Valentino
Simanjuntak, presenter tayangan pertandingan final sepakbola AFF Cup tiga tahun
silam itu, rasanya pantas saya gelorakan lagi malam tadi.
Ya, skuad
muda Garuda Jaya semalam sukses mencabik-cabik Harimau Malaya dengan margin
tiga gol yang notabene dipenuhi para
pemain yang jauh lebih senior.
Sebuah
pertaruhan sangat berani telah diambil Alfred Riedl. Pelatih timnas Garuda.
Pertaruhan
dengan merombak total formasi timnas sepakbola Indonesia. Jika selama ini skuad
kita senantiasa diisi pemain itu-itu saja (jika tidak mau disebut pemain tua), namun
tidak untuk pertandingan tadi malam.
Hampir
90% pasukan Merah Putih dipenuhi talenta muda berbakat. Starting eleven tim yang pertama kali tampil pasca dicabutnya sanksi
FIFA ini juga mencatatkan deretan nama-nama baru. Minus Boaz Salossa, the rising star timnas sepuluh tahun
lalu yang semalam masih dipercaya tuahnya.
Terbukti!
Dua gol
putra Papua ini bukan hanya menjadi ucapan “Selamat
Berjumpa Kembali, Seteru Abadi Kami” bagi Malaysia, tetapi juga membuka
mata dunia, bahwa jangan sekali-kali meremehkan Indonesia.
Sosok
Boaz yang liar, cepat dan mematikan, serasa lengkap menjadi momok tim negeri
jiran ketika satu assistnya berbuah
gol bagi tandemnya di lini depan. Irfan Bachdim.
Indonesia
3 – 0 Malaysia.
Kini
rekor pertemuan kita dengan mereka adalah 31 – 15 – 21.
Dimulai dari tahun 1957, ketika untuk
pertama kali kita bertemu dengan Malaysia, Indonesia sukses memenangi 31 laga.
Selanjutnya 15 pertandingan berakhir seri, dan Malaysia baru memenangi
pertandingan sebanyak 21 kali.
Saya
mencatat ada beberapa point penting di balik masih dipercayanya Boaz saat Indonesia
sukses membenamkan Malaysia di stadion Manahan, Solo tadi malam.
1. Terangkatnya Confidensi Pemain.
Keberhasilan
mengalahkan negeri yang menjadi seteru abadi Indonesia ini secara moral akan
mengangkat kepercayaan diri para pemain kita. Minimnya persiapan timnas (hanya
dua hari jelang laga kontra Malaysia) tertutupi dengan hasil fantastis.
Kemenangan
yang sangat penting bagi mental pemain Indonesia sebelum tampil di Piala AFF
bulan depan.
2. Timnas Garuda Masih Ada.
Kemenangan
ini membuktikan bahwa kita (timnas Indonesia) masih mampu berbicara. Satu tahun
lebih kita dikucilkan dunia internasional akibat konflik berkepanjangan antara
Menpora dan PSSI. Dalam kurun waktu terkena banned FIFA itulah, sepakbola Indonesia
menjadi sasaran bully. Meski masih ada yang setia dengan Garuda, namun banyak pula
masyarakat mencaci makinya.
Indonesia
(timnas Garuda) masih ada!
3. Pentingnya Regenerasi.
Kita
tidak bisa memungkiri bahwa era keemasan pemain seangkatan Firman Utina,
Bambang Pamungkas dkk. sudah lewat. Apresiasi yang tinggi tentu patut kita
berikan atas dedikasi mereka selama ini. Kini, berikanlah kepercayaan pada anak-anak
muda untuk memberi warna baru pada timnas Garuda. Evan Dimas, Andik Vermansyah,
Rudolf Yanto Basna, Bayu Pradana, Abduh Lestaluhu, Lerbi Aliandri semalam telah
menegaskan bahwa The Real Garuda is Back!
Indonesia
telah kembali dengan pasukan mudanya!
4. Bersatu kita teguh, bercerai kita
runtuh.
Perpecahan
sesama anak bangsa tidak ada untungnya. Konflik berkepanjangan antara
pemerintah dengan induk organisasi sepakbola selalu membawa kerugian yang
kompleks. Bukan hanya memerosotkan prestasi timnas, tetapi juga membunuh sektor
ekonomi yang menggantungkan rejeki dari aktivitas kompetisi olahraga paling
merakyat ini. Bersatunya kembali Menpora dan PSSI secara tidak langsung pasti
berdampak pada timnas. Motivasi tentu terpompa lagi.
Empat
point penting diatas sudah menjadi modal awal yang sangat berharga. Tinggal
kini kembali lagi kepada semua element sepakbola Indonesia.
Pemerintah,
dalam hal ini Menpora ingin membina seperti apa lagi? Perbaikan tata kelola (alasan pembentukan Tim Transisi PSSI oleh
Kemenpora saat konflik dulu) yang bagaimana?
Sementara
dari PSSI, seriuskah komitmen untuk mereformasi diri?
Beranikah
induk organisasi sepakbola ini menjamin transpransi pemasukan dan penggunaan
dana yang nilainya membelalakkan mata?
Bola
memang bundar. Kita sulit menentukan dimana sudutnya.
Sesulit kita menerka
sebagaimana jujur dan sportivnya Pak
Menteri dan orang-orang yang mengelola PSSI.
(Heru Sang Mahadewa)
Member Of #OneDayOnePost
0 komentar:
Posting Komentar