Selasa, 15 November 2016

ASMARADANA



Abimanyu gugur - foto indonesiakaya.com

 (Gugur Abimanyu)

Krocokan sewu gegaman
Sinambung jerite ati
Iline weluh ing lambe
Muncrate getih dleweran
Tan bisa sesambatan
Mung kemut marang sliramu
Pepujaku kang kacidra

Artinya adalah sebagai berikut :

Timpaan seribu senjata
Disusul dengan jeritan hati,
Bulir netra yang mengalir di sudut bibir
Darah yang menyembur berhamburan
Tiada ku mampu berucap
Hanya dikau yang kuingat
Pujaan hatiku yang tlah kukhianati

*****

Bait diatas bukanlah sajak atau syair. Tetapi sebuah Asmaradana asal-asalan yang saya coba ciptakan. 

Asmaradana adalah salah satu jenis tembang yang populer dalam masyakat Jawa. Berasal dari dua kata yaitu asmara (cinta) dan dahana (api). Asmaradana diartikan sebagai cinta yang sedang bergelora. Bisa ungkapan hati yang sedang berbunga-bunga, maupun perasaan yang sedang hancur berantakan.

Asmaradana, memiliki aturan unik. Tidak seperti tembang jaman sekarang yang bebas. Diantaranya:

1. Terdiri dari tujuh (7) baris pada setiap baitnya. Disebut guru gatra.
2. Bunyi akhiran adalah a-i-e-a-a-u-a. Disebut guru lagu.
3. Jumlah suku katanya adalah 8-8-8-8-7-8-8. Disebut guru wilangan.

Contoh Asmaradana yang saya cipta diatas mengambil setting ketika Abimanyu sedang berjuang melawan maut. Sang putra Arjuna itu termakan sumpahnya kepada Dewi Uttari, bahwa ia rela mati dikrocok gaman sewu (dihujani seribu senjata) jika berbohong perihal statusnya. Meski sebenarnya ia sudah menikahi Siti Sundari. Istri pertamanya.

Bila kita teliti satu per satu, maka tembang Asmaradana tulisan saya diatas memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

Baris pertama, Krocokan sewu gegaman: Terdiri dari delapan suku kata berakhiran bunyi (a).

Baris kedua, Sinambung jerite ati: Terdiri dari delapan suku kata berakhiran bunyi (i).

Baris ketiga, Iline weluh ing lambe: Terdiri dari delapan suku kata berakhiran bunyi (e).

Baris keempat, Puncrate getih dleweran: Terdiri dari delapan suku kata berakhiran bunyi (a).

Baris kelima, Datan bisa sambatan: Terdiri dari tujuh suku kata berakhiran bunyi (a) .

Baris keenam, Mung kemut marang  sliramu: Terdiri dari delapan suku kata berakhiran bunyi (u).

Baris ketujuh, Pepujaku kang kacidra: Terdiri dari delapan suku kata berakhiran bunyi (a).


Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Related Posts:

  • LANGGAM ASMARADAHANA Juni; malam kedua Tak lagi bersama Ia bersajak tanpa suara : langgam asmaradahana Malam; tersungkur Enggan beranjak tidur RisauRindu membaur : lebur Malam; bermurung Bagai menahan tatu di punggung Ri… Read More
  • KAMIS, MALAM, BERGERIMIS! Kamis, malam, bergerimis ...Tak bisa lagi kubacaDengan kasat mataKemana engkau pergi mengembaraLantas menorehkan jejak lukaNyaris di setiap helai sukmaLalu, di setiap piluTak mampu lagi menebar senduPun saat nadi berdiam … Read More
  • KISAH BERDEBU pixabay.com terdiam, mengenang, pelahan bimbang mengais remahan kisah lama yang tiada bisa kutulis ulang sinopsisnya bagai mencekat aksara cerita apalagi yang hendak kucipta jika pasir di tepi samudera dan riak o… Read More
  • JANTURAN ASTINA Sebuah kisah yang dibawakan dalam pagelaran wayang kulit, tak jauh beda dengan tulisan. Ada karakter tokoh, alur cerita, konflik dan pendeskripsian suasana. Salah satu bagian yang tak terpisahkan dari pementasan w… Read More
  • HILANG Oleh: Heru Sang Mahadewa Kupanggil kalian, tiada jawaban! Barangkali tak mendengar, kuulang dengan bibir bergetar. Barangkali bersembunyi, mengajakku bermain-main lagi. Kucari kalian, hanya ada kesunyian! … Read More

7 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *