![]() |
foto fokusterkinidotcom |
“Hentikan!” jerit Bimasena.
Pukulan gada bertubi-tubi menghantam
kepala Pandu dan Dewi Madrim. Disusul terpaan cairan lahar panas yang menguliti
tubuh keduanya. Mereka bahkan tak sempat berteriak kesakitan.
Pandu jatuh terjungkal, tertatih-tatih
ia berusaha menolong Dewi Madrim yang mengalami kejadian sama. Tetapi belum
tegak berdirinya, sebuah terjangan dari sebatang besi membara mengenai
kepalanya.
“Tidakkkkkkkk!” teriak Bima.
Bimasena melompat dari tempat tidur.
Mimpi itu seperti nyata. Keringat dingin yang bercucuran membuat tubuh putra
Pandu itu basah kuyup. Nafasnya terengah-engah. Kesadarannya belum sepenuhnya
pulih.
Ini bukan sekedar mimpi, batin
Bimasena. Ia yakin apa yang baru dialaminya adalah sebuah wangsit dari mendiang
ayah dan ibu tirinya. Pandu dan Dewi Madrim. Mereka berdua pasti sedang
mengalami siksaan berat di neraka loka. Kawah Candradimuka.
Dalam keadaan panik bercampur linglung,
Bimasena keluar dari biliknya. Ia bergegas menuju tempat tinggal Kiai Lurah Semar
Badranaya. Pamomong dan penasehat Pandawa.
“Lole-lole
… mbegegeg ugeg-ugeg … hemel-hemel … sadulit-dulita … ada apa ndara Werkudara, tengah malam begini
menemuiku?” tanya Kiai Lurah Semar Badranaya, sambil tergopoh-gopoh menyambut
kedatangan Bimasena.
“Kakang Badranaya, aku baru saja
mengalami mimpi buruk,” jawab Bimasena.
“Mimpi apa gerangan, ndara Werkudara?
“Aku melihat ayahanda Pandu dan ibunda
Madrim mengalami siksaan di neraka. Mimpi itu tampak nyata, kakang Badranaya.” Jelas
Bimasena.
“Aku yakin, itu bukan sekedar mimpi.
Ayanda Pandu telah mengirim wangsit kepadaku, bahwa ia sedang mengalami
siksaan. Aku harus menolongnya, kakang Badranaya!” lanjutnya.
Kiai Lurah Semar Badranaya menghela
napas panjang. Tangannya mengusap-usap wajahnya yang semakin keriput. Sesaat ia
diam tak berbicara. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang teramat dalam
mendengar cerita Bimasena.
“Lole-lole
… mbegegeg ugeg-ugeg … hemel-hemel … sadulit-dulita … sabar ndara. Ini sudah garis Dewata,” ucap
Semar dengan suara lirih.
“Tolonglah aku, kakang Bardanaya! Aku
ingin menolong ayahanda Pandu!” ratap Bimasena.
“Katakan, apa yang harus kulakukan?”
Kiai Lurah Semar Badranaya kembali
terdiam. Tangannya lagi-lagi mengusap wajah. Matanya bahkan sebentar-sebentar
terpejam. Seperti sedang memikirkan jalan keluar dari masalah yang sedang menimpa
momongannya. Pandawa.
““Lole-lole
… mbegegeg ugeg-ugeg … hemel-hemel … sadulit-dulita … ndara. Berangkatlah ke Kahyangan Suralaya. Temui Adikku Bathara
Guru disana. Mintakan ampunan atas segala dosa kedua orang tuamu, Pandu dan
Madrim!” saran Semar dengan suara lirih.
“Budhal!” tutup Bimasena.
*****
Kedatangan putra Pandu, Werkudara
(Bimasena) disambut langsung oleh Sang Hyang Manikmaya (Bathara Guru) di
paseban agung istana taman langit. Kahyangan Suralaya.
“Sembah dan bhaktiku untuk pukulun Bathara Guru,” ucap Bimasena.
“Kuterima sembah dan bhaktimu,
Werkudara. Semoga kesejahteraan senantiasa mengiringi keluarga Pandawa,” balas
Bathara Guru.
“Ada apa gerangan, engkau datang
menemuiku?” lanjut raja dari segala Dewa itu. Meski sebenarnya ia mengetahui
maksud Bimasena tentu ingin menanyakan siksaan yang sedang dialami Pandu dan
Madrim di neraka.
“Aku datang untuk meminta ampunan bagi
ayah dan ibuku!” jawab Bimasena.
Bathara Guru tersenyum. Ia bangkit
dari singgasananya lalu berjalan menghampiri Bimasena. Ditepuk-tepuk pundak
putra Pandu. Mencoba membesarkan hati kesatria yang sedang mengalami kesedihan
atas mimpi buruknya.
"Bukankah di masa mudanya, ayahku Pandu pernah berjasa besar kepada Kahyangan? Tidakkah para Dewa ingat bagiamana dulu ayahku mengalahkan Nagapaya yang sedang mengobrak-abrik istana taman langit ini?" Bimasena mencoba membuka kembali bhakti dan perjuangan Pandu semasa hidupnya.
“Ini sudah menjadi takdir Dewata.
Meski ayahmu pernah berjasa besar, tetapi ia juga telah melakukan dosa besar. Pandu pernah membunuh sepasang kijang
yang sedang bermesraan. Padahal sejatinya kijang itu adalah jelmaan Resi
Kimindama. Brahmana itu kemudian mengutuk Pandu yang menjadikannya mengalami
siksaan di neraka,” jelas Bathara Guru.
“Tetapi dosa itu seharusnya sudah
impas dengan segala siksaan yang dialami ayahandaku selama ini,” bantah
Bimasena.
“Bukan hanya itu, bersama ibumu
Madrim, Pandu juga melakukan dosa besar kedua. Ia melakukan perbuatan berpadu
asmara diatas sapi suci tungganganku. Lembu Andini!” lanjut Bathara Guru.
“Itu juga seharusnya telah sebanding
dengan penderitaan ayahandaku selama bertahun-tahun di neraka!” debat Bimasena.
“Sekarang, ijinkanlah aku memohon
kepadamu, Sang Hyang Manikmaya. Ambil nyawaku sekarang juga, jika itu bisa
menebus segala dosa orang tuaku!” ratap sang Bimasena.
Langit menggelegar!
Bathara Guru tersentak mendengar
kata-kata mulia dari seorang anak yang berbhakti pada ayah dan ibunya. Seketika
ia jatuh terduduk kembali di singgasana. Tangannya gemetar memegang tepi kursi
kebesaran raja Dewa.
“Baiklah Werkudara, karena ini adalah
permintaan dari seorang anak berbhakti, aku kabulkan permohonan ampunanmu. Tetapi
hanya engkau yang bisa mengentas Pandu dan Madrim dari api neraka loka. Kawah
Candradimuka!” sabda Bathara Guru.
“Budhal!” tutup Bimasena.
Sang putra Pandu langsung melesat
meninggalkan Kahyangan Suralaya, sesaat setelah ia mengahturkan sembah kepada
Bathara Guru. Ia langsung menuju puncak gunung Jamurdipa. Gunung yang meiliki
kawah sebagai pintu masuk ke neraka.
Sampai di puncak gunung Jamurdipa,
Bimasena langsung berlari menuju bibir kawah Candradimuka.
Seketika ia jatuh bersimpuh disana.
Jauh di kedalaman dasar kawah, samar-samar Bimasena melihat kedua orang tuanya,
Pandu dan Madrim menjerit, merintih dan meratap karena mengalami siksaan maha
dahsyat.
Gejolak lahar panas yang membabi buta
terus menerus mengguyur tubuh mereka. Guguran batu-batu yang membara berjatuhan
menimpa tubuh Pandu dan Madrim hingga nyaris tak berwujud manusia. Siksaan itu
sudah bertahun-tahun dialami keduanya.
Airmata Bimasena jatuh berderaian.
Hatinya seketika luluh lantak menyaksikan pemandangan memilukan di hadapannya.
Ia pun langsung menceburkan diri ke kawah Candradimuka. Neraka Loka.
Mendadak gunung Jamurdipa diguncang
gempa!
Guntur menggelegar berkali-kali.
Disusul kilatan cahayanya yang menari-nari di angkasa. Sesaat kemudian, suasana
hening menyelimuti seisi kawah Candradimuka.
Seiring terjunnya Bimasena ke neraka
itu, berhentilah gejolak lahar panas di dasar kawah. Api-api yang sebelumnya
menjilat-jilat berkobar seketika padam.
Pandudewanata dan Dewi Madrim yang
melihat kedatangan putranya segera berlari memeluk tubuh Bimasena. Suasana haru
menyelimuti dasar neraka. Mereka saling bertangisan melepas kerinduan.
Bersamaan dengan itu, datang
iring-iringan bidadari yang menghampiri Pandu dan Madrim. Mereka menuntun
keduanya keluar dari dasar neraka. Lalu membimbing ke jalan menuju biibir kawah
Candradimuka. Bimasena mengikuti dari belakang.
Sampai di puncak gunung Jamurdipa,
rombongan Bidadari menjelaskan kepada Bimasena bahwa Pandu dan Madrim akan
dibawa ke Swarga Loka. Masa hukuman dan siksaan mereka telah berakhir atas
dikabulkannya permohonan ampun dari seorang anak yang berbhakti kepada orang
tua.
Bimasena pun kembali menitikkan air
mata, perjuangannya mengentas ayah dan ibunya dari neraka hari itu berakhir
dengan indah.
Pandu dan Madrim melambai-lambaikan
tangannya ke arah sang putra. Tubuh keduanya terbang melayang diiringi para
bidadari. Meninggalkan puncak gunung Jamurdipa. Menuju surga.
Sementara mata Bimasena tak berkedip
sedikitpun menatap kepergian ayah dan ibunya hingga lenyap tak terlihat.
Tangannya balas melambai juga.
“Kelak, kita akan berkumpul di surga,
ayah!” teriak Bimasena.
*****
Kisah Pandu Swargo diatas adalah
hendaknya menjadi bahan renungan kita. Betapa ikatan batin antara ayah
dan anak sangatlah kuat. Perjuangan seorang ayah tidak kalah mulia dengan
ibu kita.
Sebaliknya, bhakti seorang anak soleh
yang berdoa untuk memintakan ampun bagi dosa orang tua, ternyata mampu menghentikan
siksa di alam kematian.
Selamat Hari Ayah Nasional, 12
November 2016.
Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost
keren, mas
BalasHapus