This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 26 September 2016

KAMPANYE GERAKAN NASIONAL NON TUNAI MELALUI PAGELARAN WAYANG KULIT



Penyerahan Gunungan oleh Indah Kurnia kepada dalang Ki Kabar Panut, tanda Pagelaran Wayang Kulit dimulai - Dokumen Pribadi

Sabtu 24 Sepember 2016 Bank Indonesia Cabang Jawa Timur mengadakan kampanye Gerakan Nasional Non Tunai. Lokasi yang dipilih berada di kawasan Surabaya Selatan. Tepatnya Lapangan Parkir Giant Pondok Candra Indah.

Acara yang digagas salah satu anggota DPR RI Komisi XI asal Surabaya, Indah Kurnia dan Bank Indonesia ini berlangsung cukup sukses. Warga yang hadir sangat antusias mengikuti pemaparan yang disampaikan Feri, perwakilan Bank Indonesia Cabang Jawa Timur.

Hadir pula jajaran Muspika Waru Sidoarjo, Kapolsek, Danramil,  serta undangan dari Bank Indonesia Pusat Jakarta.

Menurut Feri, di era digital dan tehnologi seperti sekarang, sudah saatnya masyarakat Indonesia mulai beralih dari uang kwartal ke uang elektronik. Selain aman, gampang dibawa kemana-mana, juga memudahkan transaksi dalam nominal yang kecil.

Berbeda dengan kartu ATM, kartu Debit dan Kredit, Uang Elektronik bisa digunakan untuk transaksi dengan nominal kecil (misal seribu rupiah). Outlet yang compatible dengan uang elektronik pun sama dengan transaksi pada umumnya. Supermarket, mall, rumah makan, toko, tol, tempat wisata, dll.

Feri juga memaparkan, ada dua jenis uang elektronik yang saat ini sudah direkomendasikan Bank Indonesia.

Pertama berbasis kartu, bentuknya seperti ATM, Kartu Debit dan Kredit. Kedua berbasis chip yang bisa di set ke ponsel kita.

Yang menarik, Bank Indonesia dan Ibu Indah Kurnia mengkampanyekan Gerakan Nasional Non Tunai ini menggunakan media seni dan budaya. Wayang Kulit.

Selain menjadi anggota Komisi XI DPR RI, Ibu Indah Kurnia memang juga dikenal masyarakat Surabaya sebagai pegiat seni dan budaya Jawa. Sampai sekarang beliau masih aktiv menjadi penyiar radio Media FM dalam siaran Campur Sari.

“Setiap akhir pekan, saya selalu pulang ke Surabaya. Malam harinya nongkrong di studio Media FM untuk membawakan siaran Campur Sari.” Ungkap Indah Kurnia.

Menurutnya, dengan aktiv di dunia seni dan budaya seperti itu, dia bisa menetralisir pikiran yang penat setelah sepekan berkutat dengan utak-atik angka selama ngantor di Komisi XI DPR RI di Jakarta.

Malam itu, kampanye Gerakan Nasional Non Tunai mengusung pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Kabar Panut asal Surabaya. Di iringi Grup Campur Sari Gumlegar, dan dua pelawak kondang TVRI Jatim dan RRI Surabaya. Cak Pendik Ding Tak Tong dan Cak Momon.

Lakon yang dibawakan oleh Ki Dalang Kabar Panut adalah Petruk Dadi Ratu.

Jalannya Kisah.
Pandawa kelabakan karena Jamus Kalimasada hilang dari gedung tempat penyimpanan pusaka. Kehilangan jimat ini artinya Pandawa lumpuh karena hilang kebijaksanaan dan kemakmuran. Kejahatan dan angkara murka akan timbul dimana-mana.

Pusaka ini dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Pandawa menugaskan Bambang Irawan (anak Arjuna) dengan disertai Petruk untuk merebut kembali Jamus Kalimasada dari Mustakaweni.

Singkat cerita, pusaka tersebut berhasil direbut Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk.

Dalam perjalanan pulang, Petruk bertemu Adipati Karna yang ternyata juga berhasrat memiliki jimat tersebut. Terjadi pertarungan memperebutkan Jamus Kalimasada.

Petruk ditusuk dengan keris Kyai Jalak yang ampuh. Mati.

Datanglah ayahnya, Begawan Salantara (Gandarwa). Dengan kesaktiannya, Petruk dihidupkan lagi. Ayahnya juga berkata ingin menolong Petruk mendapatkan lagi Jamus Kalimasada. Ia berubah wujud menjadi Prabu Duryudana, raja Astina, kerabat Karna.

Ketika bertemu Adipati Karna, Duryudana meminta Jamus Kalimasada. Basukarna pun menyerahkannya. Pusaka tersebut oleh Gandarwa kemudian diberikan kembali kepada Petruk. Dia berpesan agar sepeninggalnya nanti Petruk meletakkan Jamus Kalimasada di atas kepala.

Setelah menuruti nasehat tersebut, ternyata Petruk menjadi sakti mandraguna, tidak mempan senjata apapun.

Ia mencari Karna, dan mengalahkannya. Dalam usaha pencarian Karna, Petruk terpisah dengan Bambang Irawan. Petruk pun mengembara ke berbagai negeri dan menaklukkannya.

Salah satu negeri yang ditaklukkan itu adalah Ngrancang Kencana, atau negeri Sonya Wibawa. Petruk menjadi raja disana dan bergelar Prabu Wel Geduwelbeh.

Saat pelantikan Prabu Wel Geduwelbeh menjadi raja, semua pemimpin negeri yang pernah ditaklukkan diundang. Hanya tiga negeri yaitu Amarta, Dwarawati, dan Mandura yang tidak mau hadir.

Petruk pun murka. Bersama pasukan Ngancang Kencana, ia berangkat menaklukkan Amarta dan Mandura.

Mendengar berita itu, raja Dwarawati Prabu Krisna meminta Kyai Lurah Semar Badranaya agar menaklukkan Prabu Wel Geduwelbeh. Oleh Semar, Gareng dan Bagong diperintahkan untuk menyelesaikan masalah ini.

Berangkatlah dua momongan Semar. Sampai dihadapan Prabu Wel Geduwelbeh, terjadi peperangan sengit antara Prabu Wel Geduwelbeh dengan Gareng dan Bagong.

Peperangan berlangsung alot, belum ada yang keluar sebagai pemenang. sampai ketiganya berkeringat.

Saat itulah Gareng dan Bagong bisa mengenali bau keringat musuhnya. Keduanya yakin bahwa orang yang sedang bertarung dengan mereka itu sesungguhnya adalah Petruk

Maka mereka tidak lagi bertarung kesaktian tetapi justru bercanda, menari bersama, dengan berbagai tembang. Prabu Wel Geduwelbeh merasa dirinya kembali ke habitatnya, lupa bahwa dia memakai pakaian kebesaran kerajaan.

Setelah ingat, ia segera lari meninggalkan Gareng dan Bagong. Prabu Wel Geduwlbeh dikejar oleh Gareng dan Bagong dan tertangkap. Sang prabu dipeluk Gareng dan digelitik oleh Bagong sampai Petruk kembali ke wujud aslinya.

Datanglah Prabu Krisna lalu menginterograsi Petruk, mengapa ia bertindak seperti itu?

Petruk beralasan bahwa tindakan itu untuk mengingatkan bendaranya (majikannya) bahwa segala perilaku harus diperhitungkan terlebih dahulu. Semisal saat para Pandawa membangun candi Sapta Arga, kerajaan ditinggal kosong sehingga kehilangan Jamus Kalimasada.

Juga kepada Bambang Irawan, jangan mudah percaya kepada siapa saja. Kalau diberi tugas harus diselesaikan sampai tuntas. Jangan dititipkan kepada siapapun.

Petruk akhirnya meminta maaf kepada semua punggawa Pandawa, mengakui atas semua ulahnya selama ini adalah salah. Ia pun kembali lagi ke Amarta, menjadi abdi Pandawa bersama ayahnya Kyai Lurah Semar Badranaya dan dua saudaranya. Bagong dan Gareng.

*****

Indah Kurnia menyampaikan Orasi Budaya sebelum acara - Dokumen Pribadi
Cak Pendik Ding Tak Tong (TVRI Jatim) dan Cak Momon (RRI Surabaya) mengocok perut penonton - Dokumen Pribadi
Pagelaran Wayang Kulit memang menjadi salah satu media yang efektiv untuk menyampaikan pesan. Khususnya kepada masyarakat Jawa.

Terbukti malam itu masyarakat Surabaya Selatan tumplek blek ke lapangan parkir Giant Pondok Candra. Mereka terlihat gayeng mengikuti pagelaran ringgit wacucal sedalu natas (wayang kulit semalam suntuk).

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Minggu, 25 September 2016

BEREBUT WAHYU MAKUTHARAMA DKI 1


Tersiar berita bahwa Dewa akan menurunkan Wahyu Makhutarama. Barang siapa yang bisa mendapatkan wahyu tersebut, maka akan menjadi pemimpin paling disegani di Arcapada.

Duryudana, Raja Astina yang serakah dan berwatak penuh angkara, memerintahkan Patih Sengkuni dan Kurawa untuk memburu Wahyu Makhutarama.

Adipata Awangga, Karna Basusena pun tergiur untuk mendapatkan wahyu yang merupakan warisan dari Prabu Ramawijaya.

Sementara Pandawa, tak mau ketinggalan pula. Puntadewa memerintahkan Arjuna agar sang adik ikut mencari anugerah Dewata itu.

Ketiga kesatria berburu dengan waktu untuk menuju gunung Kutharunggu. Tempat Wahyu Makutharama akan diturunkan. Sama-sama ingin lebih dahulu bisa menemui Begawan Kesawasidi, Seorang pertapa sakti yang sedang bersemedi disana. Menurut Dewa, Begawan Kesawasidi lah yang membawa wahyu.

Adipati Karna adalah kesatria yang paling cepat sampai di Kutharunggu. Ia segera menemui Begawan Kesawasidi dan meminta wahyu. Tetapi ditolak, dengan alasan Sang Begawan tidak memiliki wahyu itu.

Karna Basusena marah. Ia melepaskan pusaka Kunta Wijayandanu ke arah Begawan Kesawasidi. Tetapi berhasil ditangkap oleh Hanoman. Kera putih yang menjaga semedi sang pertapa.

Hanoman lalu menghajar adipati Karna hingga lari dari gunung Kutharunggu.

Begawan Kesawasidi menyalahkan sikap Hanoman. Ia pun menghukum kera putih itu untuk pulang ke Kendalisada dan bertapa brata disana, seperti dirinya.

Datang Wibisana, adik mendiang raja Alengka, Rahwana yang menceritakan bahwa ia ingin mendapatkan Wahyu Makutharama untuk menyempurnakan sukma kedua kakaknya, Kumbakarna dan Dasamuka yang masih bergentayangan.

Begawan Kesawasidi menuturkan kepada Wibisana bahwa Wahyu Makutharama sebenarnya diturunkan bukan untuk Wibisana. Tetapi untuk seorang kesatria yang telah dipilih Dewa.

Kesatria yang akan menjadi pemimpin di jaman baru. Jaman setelah Ramayana berakhir (akhir perjalanan Rama, Rahwana, Kumbakarna, Wibisana).

Jaman Bharata.

Setelah Wibisana pergi, datang Arjuna menemui Begawan Kesawasidi. Kesatria Pandawa mengutarakan keinginannya untuk mencari Wahyu Makutharama.

Begawan Kesawasidi pun mengatakan bahwa Arjunalah memang yang telah dipilih oleh para Dewa untuk menerima wahyu yang sedang ramai diperebutkan banyak kesatria.

Namun, Sang Begawan mengatakan bahwa Wahyu Makutharama itu sebenarnya tidak ada wujudnya. Tidak berupa jimat, pusaka, ataupun benda. Tetapi sebuah wejangan luhur dari Dewa yang diambil dari sifat baik Prabu Ramawijaya selama menjadi pemimpin.

Ada delapan prinsip pemimpin yang diwejangkan Begawan Kesawasidi. Yang merupakan simbol dari delapan unsur kehidupan. Bumi, Air, Angin, Bulan, Matahari, Samudera, Gunung dan Api.

Hasta Brata, yang berarti delapan prinsip pemimpin.

*****

Jika mencermati lakon Wahyu Makhutarama tersebut, saya jadi teringat dengan fenomena yang terjadi di ibu kota sekarang.

Dalam beberapa hari ini, semua media santer mengupas pendeklarasian tiga calon Gubernur dan Wakli Gubernur untuk bertarung mendapatkan kursi DKI 1 pada Pilkada 2017.

Gubernur Petahana, Basuki Tjahaya Purnama atau biasa dikenal sebagai Ahok, bersama wakilnya Jarot kembali dicalonkan oleh PDI Perjuangan. Poros ini juga didukung Golkar dan Nasdem.

Poros kedua, dipelopori oleh Partai Gerindra resmi mengusung mantan Mendiknas Anis Baswedan dan Sandiago Uno sebagai Cagub – Cawagub.

Menarik.

Jauh hari sebelumnya, melalui berbagai media Pak Sandiago sudah melakukan start duluan untuk menaikkan personal branding sebagai salah satu kandidat yang akan meramaikan perebutan kursi DKI 1. Bukan sekedar Cawagub seperti sekarang.

Poros ketiga, dimotori oleh partai berlambang bintang mercy. Partai Demokrat menetapkan putra mahkota Presiden RI ke-6, SBY sebagai Cagub saat last minutes. Agus Harimurti Yudhoyono.

Mengejutkan.

Nama terakhir ini selain tidak pernah diprediksi oleh masyarakat, juga terkesan dipaksakan karena Demokrat sudah kehabisan kader yang punya elektabilitas tinggi. Terkesan nekad.

Sebuah perjudian tinggi. Jika tidak mau disebut partai ini sedang panik.

Mas Agus Yudhoyono harus membunuh karier militernya sebagai perwira muda berprestasi dan syarat penghargaan.

Namun semua telah terjadi. Ketiga poros telah mengetuk palu. Ketiga nama calon diatas juga telah resmi di daftarkan ke KPUD DKI Jakarta. Tinggal kini bagaimana masing-masing kandidat itu bisa menjual visi dan misinya untuk mendapatkan suara warga ibu kota.

Mensosialisasikan program-program mereka untuk merebut Wahyu Makutharama DKI 1.

Sebuah wahyu terusan dari Ramawijaya yang saya gambarkan sebagai Pak Jokowi, karena baik Pak Ahok yang menjadi gubernur sekarang maupun calon lain yang terpilih nantinya, sebenarnya adalah pemimpin DKI pengganti Pak Jokowi yang dipilih secara langsung oleh rakyat Jakarta (penerima mandat Dewa).

Kalau dalam lakon wayang Wahyu Makutharama ada tiga sosok pendahulu yang mewarnai perebutan wahyu, yaitu sukma Rahwana, Kumbakarna dan Wibisana, maka dalam Pilkada DKI kali ini juga ada tiga tokoh besar di belakang layar.

Ibu Megawati, Pak Prabowo dan Pak SBY. Beliau-beliau inilah motor di belakang tiga poros.

Ketiga calon yang akan berebut Wahyu Makutharama DKI 1 pun sama-sama berjiwa kesatria seperti Arjuna, Karna dan Wibisana.

Pak Ahok tegas dan berani. Pak Anis cakap dan santun. Mas Agus perwira muda yang syarat prestasi. Semua punya alasan yang kuat kenapa harus dipilih warga Jakarta.

Namun, lima bulan kedepan hanya akan ada satu kesatria yang dipilih Dewa (warga DKI) untuk mendapatkan wahyu.

Siapapun nantinya yang terpilih, sudah tentu wajib memegang Hasta Brata yang menjadi inti dari Wahyu Makutharama.

Delapan prinsip positiv dari kepemimpinan Ramawijaya : Memakmurkan, Mengamankan, Adil, Membahagiakan, Berwawasan Luas, Kokoh, dan Tegas.

Selamat berkompetisi dengan jujur dan sehat wahai tiga kesatria. Semoga lima bulan kedepan tidak ada kampanye yang mengusung isu Agama, Suku dan Ras.

Surabaya, 25 September 2016

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Selasa, 13 September 2016

BHAKTI SENI UNTUK LEBARAN HAJI


Dokumen Pribadi

Masih ada yang tersisa dari libur panjang akhir pekan saya kemarin, ketika saya menikmati perayaan Hari Raya Idul Adha di tanah kelahiran.

Nganjuk, sebuah kota kecil di belahan barat provinsi Jawa Timur, selain menjadi sentra penghasil bawang merah, juga dikenal sebagai Kota Seribu Jaranan (Kuda Lumping). Tak terhitung berapa ribu jumlah grup kesenian itu bertebaran di seluruh desa di Nganjuk.

Sehari sebelum jatuh Hari Raya Idul Adha 1437 H, di kampung halaman saya di adakan kirab seni dan budaya untuk menyambutnya. Pawai keliling Jaranan dan Tari Reog.

Bangga dan salut!

Ketika era teknologi sudah merongrong sebagian besar moral dan perilaku generasi penerus, justru jauh di pelosok desa masih ada anak-anak muda yang peduli dengan kesenian bangsanya.

Ya, para personil dari grup jaranan, mulai penabuh gamelan, penari kuda lumping, bujang ganong dan barongan hampir semuanya adalah para pemuda.

Tema yang mereka usung pun luar biasa. Sambut Idul Adha dengan Keindahan Seni dan Budaya.

Meski acaranya di kemas dengan sederhana, tetapi pawai hari itu mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat yang melihatnya. Di sepanjang jalanan yang dilalui kirab, tak henti-hentinya mereka mendapat aplaus dan simpati.

Beginilah kalau hari besar keagamaan disambut dengan nuansa damai dan bersahabat. Tidak dengan cara intimidasi dan aksi turun ke jalan sambil meneriakkan kalimat Takbir yang “salah tempat”. Seperti yang biasanya dilakukan sebuah ormas garis keras.

Syah-syah saja sih cara mereka. Aksi Jihad yang mereka lakukan juga tidak salah.

Namun, saya pribadi justru lebih menyukai aksi yang dilakukan anak muda Suko Budoyo (nama grup Jaranan yang mengikuti kirab) dalam menyambut hari besar agama Islam.

Agama yang damai dan senantiasa mengedepankan ajaran cinta sesama.

Meminjam ucapan Babe (Ridwan Saidi, Budayawan Betawi), masih banyak jalan menuju surga dengan cara yang indah. Melalui sastra, seni dan budaya.

Daripada memilih jalan ke surga dengan perbuatan anarkis, sweeping sana sini mengobrak-abrik warung makan, lokalisasi, dll.

Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi


Surabaya, 13 September 2016
-
Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Senin, 12 September 2016

CATATAN MUDIK LEBARAN HAJI 1437 H

Akhir pekan kemarin, ribuan atau bahkan jutaan para perantau melakukan ritual yang tak kalah sakral dari peristiwa satu setengah bulan sebelumnya (mudik Idul Fitri), berbondong-bondong pulang kampung demi merayakan Hari Raya Idul Adha di tanah kelahiran.

Terasa istimewa.

Pertama, Lebaran Haji tahun ini jatuh bersambung dengan libur akhir pekan, sehingga cuti menjadi lebih panjang.

Kedua, inilah untuk kali pertama pemerintah melalui Kemenhub dan Satlantas Polri memberlakukan kebijakan seperti saat arus mudik lebaran Idul Fitri.

Kendaraan angkutan barang dengan mesin bersumbu dua atau lebih, dilarang beroperasi mulai tanggal 9 hingga 12 September 2016.

Luar biasa!

Patut kita apresiasi langkah Pemerintah merespon kejadian macet nasional tahun sebelumnya. Tidak ada lagi suudzon terhadap pejabat yang dianggap kurang peka terhadap fenomena mudik di Indonesia. Apalagi berbuntut pengkambing hitaman atas kemacetan parah itu.

Sabtu siang, saya berangkat dari Surabaya (tepatnya pinggiran kota Delta Sidoarjo) dengan mengambil jalur Gedangan – Sukodono – Krian. Sengaja menghindari Bundaran Waru karena trauma pernah terjebak disana selama 3 jam dalam moment mudik seperti ini.

Ramai lancar.

Sampai di Krian, titik pertemuan dari beberapa jalur alternativ, terjadi masalah klasik. Laju motor saya, juga kendaraan yang lain melambat. Bahkan nyaris tidak bergerak dan menjurus macet. Penyebabnya sederhana, di ujung depan sana terdapat iring-iringan dua truk gandeng bermuatan penuh. Entah apa barang yang dibawa.

Bukankah sudah dilarang?

Kenapa masih saja ada orang yang melanggar aturan?

Ah, mungkin si bapak sopir adalah tulang punggung keluarganya. Kalau hari itu beliau tidak bekerja mengemudikan truk gandengnya, siapa tahu anak dan istrinya di rumah berkekurangan?

Saya mencoba meredam kejengkelan dengan menyikapi dari sisi hati yang lain.

Sesaat kemudian semua kendaraan berhenti total. Dua truk gandeng itu mencoba belok ke arah pasar Krian sehingga badan kendaraan semakin memenuhi ruas jalan.

Ironisnya, sejak berangkat saya tidak menemui satu pun petugas Polisi Lalu Lintas mulai Sukodono hingga titik kemacetan ini.

Kemana bapak-bapak korps Bhayangkara?

Tidakkah mereka tahu bahwa hari ini ribuan perantau akan berbondong-bondong keluar dari Surabaya untuk pulang ke kampaung halaman? Jalanan pasti akan ramai sekali, sehingga kami butuh kehadiran bapak-bapak itu!

Ah, mungkin saat itu mereka sedang ada tugas yang lebih penting sehingga belum bisa hadir di jalan raya. Siapa tahu mereka sedang apel siaga dan menyiapkan strategi untuk sore dan malam harinya yang di prediksi menjadi titik puncak arus mudik.

Lagi-lagi saya mencoba meredam kembali kejengkelan dengan menyikapi dari sudut pandang lain.

Setelah lepas dari Krian, arus kendaraan cukup ramai namun lancar hingga sampai di bumi Majapahit. Dari kota itu, saya mengambil jalur alternativ Gedeg – Ploso – Nganjuk.

Sangat lancar.

Namun, ada fenomena yang membuat geleng-geleng kepala, meski akhirnya saya tersenyum.

Jalur ini dipenuhi oleh lalu lalang truk besar bermuatan barang. Rupanya bapak-bapak sopir yang terhimpit kebutuhan ekonomi (jika tidak mau dikatakan nakal melanggar aturan Dishub – Satlantas Polri) memilih jalur alternativ ini untuk menghindari petugas.

Akhirnya segala kejengkelan, keprihatinan, kelucuan yang saya alami selama perjalanan berakhir dengan perasaan lega bercampur bahagia ketika laju motor saya mulai memasuki gapura desa kelahiran.

*****

Gema Takbir sehari setelahnya, kian melengkapi kebahagiaan ketika sebelumnya saya sempat bersuka ria bertemu dengan teman-teman masa kecil. Sempat menginjakkan kaki di tempat bermain-main dulu.

Senin pagi 10 Dzulhijah 1437 H, gerimis menandai arak-arakan warga desa kami yang sedang berjalan kaki dari rumah menuju Masjid yang terletak di tengah persawahan untuk menjalankan Sholat Idul Adha.

Jika orang China berkeyakinan bahwa hujan yang turun saat Imlek akan membawa berkah, maka hari itu kami semua berharap gerimis yang mengiringi Shalat Idul Adha 1437 H di tanah kelahiran kami akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi warga desa.

Berkah kurban akan membuat kampung dan sawah kami menjadi tanah yang gemah ripah loh jinawi.

*****

Sore harinya, setelah menikmati daging kurban ala pedesaan, saya kembali lagi ke perantauan. Melewati jalur yang sama saat mudik dua hari lalu.

Sampai di Ploso, arus kendaraan semakin padat. Bukan hanya mobil, tapi juga iring-iringan pengendara sepeda motor. Ada yang membonceng dua anaknya atau bahkan lebih. Penuh dengan barang bawaan pula.

Luar biasa!

Tentu perasaan mereka nyaris sama dengan saya. Bahagia telah merayakan Hari Raya Idul Adha di kampung halaman.

Hujan turun.

Sampai di Mojokerto semakin deras. Sudah tentu dingin. Beberapa pengendara motor yang membonceng anak-anaknya memilih menepi. Mereka berteduh di emperan toko dan warung yang tutup. Saya lihat bahkan ada yang membawa anak bayi.

Sekali lagi luar biasa!

Inilah wajah-wajah orang yang memiliki prinsip hidup yang mungkin nyaris sama dengan saya : meninggalkan tanah kelahiran untuk berjuang menafkahi orang-orang tersayang.

Ada perasaan bangga, iba dan salut melihat mereka. Mungkin karena saya merasa senasib dengan mereka. Sama-sama merantau dengan harapan yang tentu sama : Ingin lebih baik.

Tepat adzan maghrib berkumandang, saya menginjakkan kaki lagi di sepetak kamar kontrakan di kota Delta.

Esok, semua akan kembali lagi ke aktivitas semula. Bekerja lagi, merebut masa depan lagi, seiring doa orang tua kita di setiap sujudnya.

Sahabat sekalian, jangan menyerah.

Setiap detik dan waktu di tanah perantauan ini adalah nafas dari doa dan harapan orang-orang tersayang kita.

Setiap tetesan peluh dan keringat kita di tanah perantauan ini, sama mulianya dengan tetesan darah para Syuhada’.

Mari bekerja dan terus bekerja. Demi orang-orang tercinta kita.
.
.
Surabaya, 12 September 2016
-
Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *