![]() |
Penyerahan Gunungan oleh Indah Kurnia kepada dalang Ki Kabar Panut, tanda Pagelaran Wayang Kulit dimulai - Dokumen Pribadi |
Sabtu 24 Sepember 2016 Bank Indonesia Cabang Jawa Timur
mengadakan kampanye Gerakan Nasional Non Tunai. Lokasi yang dipilih berada di
kawasan Surabaya Selatan. Tepatnya Lapangan Parkir Giant Pondok Candra Indah.
Acara yang digagas salah satu anggota DPR RI Komisi XI
asal Surabaya, Indah Kurnia dan Bank Indonesia ini berlangsung cukup sukses.
Warga yang hadir sangat antusias mengikuti pemaparan yang disampaikan Feri, perwakilan
Bank Indonesia Cabang Jawa Timur.
Hadir pula jajaran Muspika Waru Sidoarjo, Kapolsek, Danramil, serta undangan dari Bank Indonesia Pusat Jakarta.
Menurut Feri, di era digital dan tehnologi seperti
sekarang, sudah saatnya masyarakat Indonesia mulai beralih dari uang kwartal ke
uang elektronik. Selain aman, gampang dibawa kemana-mana, juga memudahkan
transaksi dalam nominal yang kecil.
Berbeda dengan kartu ATM, kartu Debit dan Kredit, Uang
Elektronik bisa digunakan untuk transaksi dengan nominal kecil (misal seribu
rupiah). Outlet yang compatible dengan uang elektronik pun sama dengan
transaksi pada umumnya. Supermarket, mall, rumah makan, toko, tol, tempat
wisata, dll.
Feri juga memaparkan, ada dua jenis uang elektronik yang
saat ini sudah direkomendasikan Bank Indonesia.
Pertama berbasis kartu, bentuknya seperti ATM, Kartu
Debit dan Kredit. Kedua berbasis chip yang bisa di set ke ponsel kita.
Yang menarik, Bank Indonesia dan Ibu Indah Kurnia
mengkampanyekan Gerakan Nasional Non Tunai ini menggunakan media seni dan
budaya. Wayang Kulit.
Selain menjadi anggota Komisi XI DPR RI, Ibu Indah Kurnia
memang juga dikenal masyarakat Surabaya sebagai pegiat seni dan budaya Jawa. Sampai
sekarang beliau masih aktiv menjadi penyiar radio Media FM dalam siaran Campur
Sari.
“Setiap akhir pekan, saya selalu pulang ke Surabaya.
Malam harinya nongkrong di studio Media FM untuk membawakan siaran Campur Sari.”
Ungkap Indah Kurnia.
Menurutnya, dengan aktiv di dunia seni dan budaya seperti
itu, dia bisa menetralisir pikiran yang penat setelah sepekan berkutat dengan
utak-atik angka selama ngantor di Komisi XI DPR RI di Jakarta.
Malam itu, kampanye Gerakan Nasional Non Tunai mengusung
pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Kabar Panut asal Surabaya. Di iringi
Grup Campur Sari Gumlegar, dan dua pelawak kondang TVRI Jatim dan RRI Surabaya.
Cak Pendik Ding Tak Tong dan Cak Momon.
Lakon yang dibawakan oleh Ki Dalang Kabar Panut adalah
Petruk Dadi Ratu.
Jalannya
Kisah.
Pandawa kelabakan karena Jamus Kalimasada hilang dari
gedung tempat penyimpanan pusaka. Kehilangan jimat ini artinya Pandawa lumpuh
karena hilang kebijaksanaan dan kemakmuran. Kejahatan dan angkara murka akan timbul
dimana-mana.
Pusaka ini dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu,
Pandawa menugaskan Bambang Irawan (anak Arjuna) dengan disertai Petruk untuk merebut
kembali Jamus Kalimasada dari Mustakaweni.
Singkat cerita, pusaka tersebut berhasil direbut Bambang
Irawan dan dititipkan kepada Petruk.
Dalam perjalanan pulang, Petruk bertemu Adipati Karna yang
ternyata juga berhasrat memiliki jimat tersebut. Terjadi pertarungan
memperebutkan Jamus Kalimasada.
Petruk ditusuk dengan keris Kyai Jalak yang ampuh. Mati.
Datanglah ayahnya, Begawan Salantara (Gandarwa). Dengan kesaktiannya,
Petruk dihidupkan lagi. Ayahnya juga berkata ingin menolong Petruk mendapatkan
lagi Jamus Kalimasada. Ia berubah wujud menjadi Prabu Duryudana, raja Astina,
kerabat Karna.
Ketika bertemu Adipati Karna, Duryudana meminta Jamus Kalimasada.
Basukarna pun menyerahkannya. Pusaka tersebut oleh Gandarwa kemudian diberikan
kembali kepada Petruk. Dia berpesan agar sepeninggalnya nanti Petruk meletakkan
Jamus Kalimasada di atas kepala.
Setelah menuruti nasehat tersebut, ternyata Petruk menjadi
sakti mandraguna, tidak mempan senjata apapun.
Ia mencari Karna, dan mengalahkannya. Dalam usaha pencarian Karna, Petruk
terpisah dengan Bambang Irawan. Petruk pun mengembara ke berbagai negeri dan
menaklukkannya.
Salah satu negeri yang ditaklukkan itu adalah Ngrancang
Kencana, atau negeri Sonya Wibawa. Petruk menjadi raja disana dan bergelar Prabu
Wel Geduwelbeh.
Saat pelantikan Prabu Wel Geduwelbeh menjadi raja, semua pemimpin
negeri yang pernah ditaklukkan diundang. Hanya tiga negeri yaitu Amarta,
Dwarawati, dan Mandura yang tidak mau hadir.
Petruk pun murka. Bersama pasukan Ngancang Kencana, ia berangkat
menaklukkan Amarta dan Mandura.
Mendengar berita itu, raja Dwarawati Prabu Krisna meminta
Kyai Lurah Semar Badranaya agar menaklukkan Prabu Wel Geduwelbeh. Oleh Semar, Gareng
dan Bagong diperintahkan untuk menyelesaikan masalah ini.
Berangkatlah dua momongan Semar. Sampai dihadapan Prabu
Wel Geduwelbeh, terjadi peperangan sengit antara Prabu Wel Geduwelbeh dengan
Gareng dan Bagong.
Peperangan berlangsung alot, belum ada yang keluar
sebagai pemenang. sampai ketiganya berkeringat.
Saat itulah Gareng dan Bagong bisa mengenali bau keringat
musuhnya. Keduanya yakin bahwa orang yang sedang bertarung dengan mereka itu
sesungguhnya adalah Petruk
Maka mereka tidak lagi bertarung kesaktian tetapi justru bercanda,
menari bersama, dengan berbagai tembang. Prabu Wel Geduwelbeh merasa dirinya
kembali ke habitatnya, lupa bahwa dia memakai pakaian kebesaran kerajaan.
Setelah ingat, ia segera lari meninggalkan Gareng dan Bagong.
Prabu Wel Geduwlbeh dikejar oleh Gareng dan Bagong dan tertangkap. Sang prabu
dipeluk Gareng dan digelitik oleh Bagong sampai Petruk kembali ke wujud
aslinya.
Datanglah Prabu Krisna lalu menginterograsi Petruk, mengapa
ia bertindak seperti itu?
Petruk beralasan bahwa tindakan itu untuk mengingatkan bendaranya (majikannya) bahwa segala
perilaku harus diperhitungkan terlebih dahulu. Semisal saat para Pandawa membangun
candi Sapta Arga, kerajaan ditinggal kosong sehingga kehilangan Jamus
Kalimasada.
Juga kepada Bambang Irawan, jangan mudah percaya kepada
siapa saja. Kalau diberi tugas harus diselesaikan sampai tuntas. Jangan
dititipkan kepada siapapun.
Petruk akhirnya meminta maaf kepada semua punggawa
Pandawa, mengakui atas semua ulahnya selama ini adalah salah. Ia pun kembali
lagi ke Amarta, menjadi abdi Pandawa bersama ayahnya Kyai Lurah Semar Badranaya
dan dua saudaranya. Bagong dan Gareng.
*****
![]() |
Indah Kurnia menyampaikan Orasi Budaya sebelum acara - Dokumen Pribadi |
![]() |
Cak Pendik Ding Tak Tong (TVRI Jatim) dan Cak Momon (RRI Surabaya) mengocok perut penonton - Dokumen Pribadi |
Pagelaran Wayang Kulit memang menjadi salah satu media
yang efektiv untuk menyampaikan pesan. Khususnya kepada masyarakat Jawa.
Terbukti malam itu masyarakat Surabaya Selatan tumplek
blek ke lapangan parkir Giant Pondok Candra. Mereka terlihat gayeng mengikuti
pagelaran ringgit wacucal sedalu natas
(wayang kulit semalam suntuk).
(Heru Sang Mahadewa)
Member
Of OneDayOnePost
Reportase mas Heru bagus.
BalasHapussaya banyak belajar dari tulisan gaya jurnalisnya jenengan pak.
HapusWah... Bang heru cakaplah dibidang nii...
BalasHapusKeren,
terima kasih mbk Ainayya. saya masih banyak belajar.
Hapustulisan mbk Ainayya juga keren.
Suka ceritanya hehe
BalasHapussaya juga suka gaya slengekan tulisan Aa
HapusTulisannya keren Kang, ajarin ya..nulis artikel
BalasHapusayukkk ...
Hapuskita sama2 belajar mbakyu.
Top markotop...
BalasHapusTerinspirasi dari tulisan-tulisan abang ini.
Hapushehe
Mantap mas... kayak cerita lewat point of view yang berbeda.
BalasHapusterima kasih mbk Vinny. saya nulis yang ringan-ringan aja.
HapusGak sanggup kalau harus bermain-main diksi seperti tulisan sampean :)
Kereenn.. Saya orang jawa harus banyak belajar wayang dr Mas heru nih...
BalasHapusTulisan sampean juga Te-O-Pe mbak Cili.
HapusWaduh, jangan sampai lali Jowone, apalagi Ora Njowo.
hehehe