Rabu, 07 Desember 2016

BERHARAP TUAH SEJARAH



www.szaktudas.com

Malam itu, hujan baru saja mengguyur kota Surabaya. Genting yang beberapa hari kering kerontang pun akhirnya membasah ditimpa titik-titik air yang menari-nari di sela-sela langit dan awan. Suara nyanyian katak terdengar nyaring dari rawa yang berada tepat dibelakang kamar kontrakan saya.

Sebentar kemudian saya membuka jendela, lalu melongok keluar. Menatap hamparan luas langit Surabaya.

Cerah sekali.

Terlihat lintang panjerwengi (bintang Alpha Centauri) bersinar terang di sisi timur cakrawala. Pertanda bahwa sudah tidak ada awan yang menggelayut di atas kota kami.

Sembari menyesap sisa kopi yang telah dingin, saya melirik jarum jam dinding yang tergantung di kamar. Bersebelahan dengan sebuah poster usang timnas Garuda 1991. Skuad terakhir yang mempersembahkan gelar juara bagi Indonesia.

“Masih lima belas lagi,” gumam saya dalam hati.

Buru-buru saya kembalikan sebuah kaleng biscuit berisi kue sisa lebaran bulan kemarin ke atas meja yang terletak di sudut kamar. Sembari megambil sweater kumal kesayangan.

Warkop Cak Di. Kedai langganan berhutang anak-anak perantauan itu yang menjadi tujuan saya.

Selain satu-satunya warung yang menyediakan televisi kala itu, Cak Di, si pemilik warung juga penyuka bola. Hampir setiap ada tayangan sepakbola, ia selalu menjadikan kedainya sebagai tongkrongan para bolamania.

Maklum, di jaman itu, televisi masih menjadi barang mewah. Jarang ada orang yang memilikinya di kamar kontrakan. Apalagi untuk ukuran pemuda perantauan seperti saya. 

Hari itu adalah hari dimana seluruh ketegangan terasa menjalar di sekujur tubuh. Adrenalin dipaksa terus naik dari menit ke menit, sejak pagi hari.

Indonesia harus berjuang hidup mati menghadapai Vietnam yang menjadi tuan rumah grup A babak penyisihan Piala AFF 2004.

Meski hanya membutuhkan hasil seri, tetapi menghadapi laskar The Golden Star (julukan timnas Vietnam) di kandang mereka, stadion My Dinh, Hanoi tentu tidaklah mudah. Apalagi Vietnam juga membutuhkan kemenangan untuk mengincar babak semifinal.

Saya memesan secangkir kopi hitam kepada Cak Di. Kopi keempat yang saya sesap pada hari itu.

Ketegangan terasa memuncak, ketika saya dan tiga orang pengunjuk warung kopi yang tidak saya kenal sama-sama hanya membisu dan tak berkedip menatap layar kaca. Ingin sekali rasanya saya berdiri, lalu menghormat. Lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya sedang dikumandangkan di satdion My Dinh.

Saya melirik ke arah salah satu anak muda yang duduk di pojok warung. Ia bertepuk tangan secara sembunyi-sembunyi, mencoba menyemangati para pemain merah putih dengan cara dia yang konyol itu. Hal yang sebenarnya diam-diam juga saya lakukan. Meski hanya dalam hati.

Delapan belas menit kemudian, saya dan ketiga pemuda yang tidak saling kenal melonjak dan berteriak sekeras-kerasnya ketika Mauli Lessy melesatkan sebuah gol ke gawang tuan rumah Vietnam. Cak Di yang berada di ruangan dapur sontak berlari keluar dan ikut berteriak-teriak meluapkan emosinya.

Satu bola Indonesia memimpin atas Vietnam kala itu!

“Boaz .. Boaz!” jerit reporter televisi yang menayangkan pertandingan tatkala tiga menit setelah gol pertama, anak muda asal Papua yang menjadi the rising star timnas Merah Putih kembali mengoyak gawang Vietnam. Boaz Salossa membawa Indonesia unggul 2-0.

Modiarrrr koen (mampus kalian) … !” teriak pemuda lain, pengunjung warung kopi ketika Ilham Jaya Kesuma menamatkan perlawanan tuan rumah dengan golnya pada penghujung babak pertama. Gol yang membuat nyali para pemain Vietnam runtuh dan tidak berbekas di babak kedua.

Unggul dengan selisih bola tiga margin membuat Indonesia menorehkan sejarah dengan tinta emas. Menghentikan langkah sang tuan rumah.

Hari itu, stadion My Dinh, Hanoi Vietnam benar-benar menjadi kuburan bagi laskar The Golden Star.

Setelah pertandingan, saya bergegas jalan kaki pulang menuju kamar kontrakan. Kembali saya dongakkan kepala ke atas cakrawala Surabaya. Bintang Alpha Centauri tampak semakin terang benderang disana.

*****

Dua belas tahun berlalu sudah.

Hari ini, kita kembali bersua mereka di tempat yang sama. Dengan kondisi yang sama pula. Kita hanya membutuhkan hasil seri, sementara Vietnam mau tidak mau harus memenangkan pertandingan.

Semoga sejarah terulang kembali malam ini. Semoga tuah dari Boaz Salossa masih berlaku bagi tim nasional Garuda.

Jayalah Indonesia. Negeriku, tumpah darahku.

*****

Surabaya, 7 Desember 2016

( Heru Sang Mahadewa)
Member Of #OneDayOnePost

2 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *