Sabtu, 10 Desember 2016

PELANGI DI LANGIT MALWAPATI (5)




4.DEWI PRAMESTI

Plak!
Sebuah tamparan dari telapak tangan Astradarma yang kekar mendarat di wajah Dewi Pramesti. Meninggalkan bekas merah pada kulit pipi putri kesayangan Prabu Jayabaya.

“Dasar perempuan jalang!” maki Astradarma.

“Dari dulu, kelakuan wangsa Gendrayana tidak pernah benar. Pantas kalau anak cucunya juga berwatak asusila sepertimu, Pramesti!” belum puas Astradarma meluapkan amarahnya.

Dewi Pramesti tersungkur di sudut biliknya. Ia tidak sempat membela diri. Sanggahan yang diucapkannya pun tidak bisa diterima oleh nalar Astradarna.

Tamparan terakhir dari putra mahkota Yawastina memecahkan bibir Dewi Pramesti. Darah segar mengalir. Menyatu dengan buliran air mata yang membasahi lukanya.

*****

Dua bulan tinggal Yawastina, Dewi Pramesti bermimpi didatangi lagi sosok yang dulu cuma dikenal sebatas dalam dongeng para brahmana. Namun saat ayahnya memberikan Kalung Robyong Mustikowati, ia dapat bertatap muka langsung dengan Dewa yang dipuja-puja rakyat Mamenang.

Bhatara Wisnu.

Seperti saat pertama kali bertemu, Dewi Pramesti kembali gemetar. Keringat dingin bercucuran lagi pada tubuhnya yang menggigil. Ia bersimpuh di hadapan sosok berjubah putih.

“Apakah paduka adalah ayanda Prabu Jayabaya?”

“Bukan!”

“Paduka siapa?”

“Aku Bhatara Wisnu.”

“Bhatara Wisnu? Sembahku untukmu, Dewa.”

“Kuterima sembahmu, Pramesti.”

“Untuk apa Bhatara Wisnu menemuiku?”

“Ketahuilah Pramesti, setelah ini aku akan menitis ke dalam putramu. Aku akan turun lagi ke Arcapada melalui janin dalam kandunganmu,” jelas Bhatara Wisnu.

Sesaat kemudian, sosok Bhatara Wisnu berubah menjadi sinar kuning keemasan. Cahayanya membentuk sebuah gumpalan, lalu melesat ke perut Dewi Pramesti. 

Ruangan kembali gelap gulita.

Seketika Dewi Pramesti terjaga dari mimpinya. Ia meloncat dari tempat tidur. Napasnya masih terengah-engah. Astradarma yang ikut terbangun, segera menyeka keringat yang bercucuran di pelipis dan dahi.

“Engkau bermimpi buruk, Pramesti?” tanya Astradarma.

Dewi Pramesti tidak menjawab. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya meraih guci berisi air minum yang terletak di meja dekat pembaringan.

Dengan tangan yang tetap menyisakan gemetar, ia tuang beberapa teguk air untuk membasahi kerongkongan.

*****

Yawastina gempar!

Ketika bangun dari tidurnya, perut Dewi Pramesti, istri putra mahkota pangeran Astradarma sudah membuncit. Dalam usia pernikahan yang baru dua bulan, mustahil ia telah mengandung sebesar itu.

Dewi Pramesti berusaha menjelaskan mimpinya kepada sang suami. Bahwa dalam tidurnya ia didatangi Bhatara Wisnu yang mengatakan hendak menitis kepada putra mereka kelak.

“Jangan membual engkau, Pramesti!” Astradarma tidak mempercayai ucapan Dewi Pramesti.

Ia menganggap sebelum pernikahan mereka, Dewi Pramesti telah berbuat perbuatan asusila saat masih tinggal di Mamenang.

“Jagat seisinya menjadi saksi, aku tak pernah sekalipun di sentuh lelaki selain dirimu, kakang Astradarma,” jelas Dewi Pramesti.

Pangeran Astradarma sudah tidak bisa menguasai diri. Amarahnya telah memuncak tatkala mengetahui perut istrinya membesar. Kondisi Dewi Pramesti memang seperti tinggal menunggu hari saja untuk melahirkan.

Minggato 17) dari Yawastina!” usir pangeran Astradarma.

Ia mengangkat tubuh Dewi Pramesti yang menangis sesenggukan di sudut bilik. Setelah berdiri, didorongnya putri kesayangan Prabu Jayabaya keluar dari ruangan.

“Jangan pernah menginjakkan kaki lagi di tanah Yawastina, perempuan jalang!” pungkas pangeran Astradarma.

*****

Dua hari sudah Dewi Pramesti berjalan menyusuri belantara hutan Yawastina. Ia terus melangkahkan kaki menuju arah selatan. Tanpa pengawalan seorang prajurit pun. Wanita malang yang sedang mengandung tua itu hanya mengandalkan rasi bintang gubuk penceng 18) sebagai tujuan. Ketika malam hari, ia mencari letak gugusan benda langit itu, lalu saat pagi tiba, langkahnya diarahkan kesana.

"Bengawan Brantas terletak di bawah gugusan itu," pikir Dewi Pramesti.

Suara kokok ayam hutan terdengar bersahut-sahutan. Sang Bagaskara mulai mengintip dengan warna kemerahan di ufuk timur, Dewi Pramesti sampai tepi hutan yang penuh dengan tanaman pandan.

“Ini pasti gunung Pandan. Aku telah berhasil melewatinya. Berarti Mamenang tinggal sehari perjalanan,” gumamnya.

Belum sempat ia melanjutkan perjalanan, tiba-tiba timbul rasa nyeri dalam perutnya. Dewi Pramesti mengira bahwa mungkin ia hendak membuang hajat.

Tetapi rasa nyeri itu berubah menjadi sakit yang luar biasa, ketika ia sampai di tepi sebuah parit. Semakin lama kian tak tertahankan.

Dewi Pramesti terjatuh di tepian parit, kesadarannya masih utuh. Tangannya menggapai akar-akar pohon gayam yang banyak tumbuh disana. Ia menjerit sekeras-kerasnya ketika darah segar merembes keluar dari pangkal kedua kakinya.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Dewi Pramesti berusaha mengatur napasnya yang naik turun tak beraturan. Keringat sebesar biji jagung bergelintiran jatuh dari dahi dan pelipisnya.

“Ya Dewata, kuatkahlah aku ….!” jeritnya.

Jeritan yang disambut dengan tangis keras seorang jabang bayi laki-laki. Seorang bocah mungil baru saja keluar dari rahimnya. 

Setelah itu, Dewi Pramesti hanya bisa melihat warna hitam dan gelap gulita dalam pandangannya. Padahal hari telah pagi. Sang putri kesayangan Prabu Jayabaya tergolek tak berdaya. Pingsang beberapa saat.

Ketika membuka mata, buru-buru Dewi Pramesti memeluk erat bayinya. Ia ingat akan kejadian yang dialaminya sebelum pingsan tadi.

Namun yang membuat dirinya bertanya-tanya adalah kenapa putranya kini telah bersih dari lumuran darah. Selembar kain sutera juga telah membalut tubuh bayinya.

Siapa yang telah menolongnya?

*****

Sepasang mata mengintai dari balik rerimbunan belukar hutan pandan. Mata yang buas dan liar. Hidungnya terlihat kembang-kempis menahan hasrat jahat terhadap dua manusia dihadapannya. Dewi Pramesti dan bayinya.

“Pergi kau!” usir Dewi Pramesti.

“Jangan mendekat!” bentaknya.

Seekor harimau jantan yang sejak tadi mengintainya, kini telah berdiri di hadapannya.

Binatang buas itu menjawab dengan auman keras. Mulutnya terbuka lebar. Taring-taring yang tajam dan basah oleh tetesan air liur membuat sang harimau terlihat semakin menakutkan.

Dalam hitungan beberapa detik, harimau lapar itu telah mengambil ancang-ancang hendak menerkam Dewi Pramesti dan bayinya.

Tanpa berpikir panjang,  Dewi Pramesti berlari sekuat tenaga sambil menggendong bayinya. Harimau yang tampaknya telah lama tidak mendapatkan mangsa langsung mengejar. Bintang itu tak mau kehilangan buruannya.

Naas bagi Dewi Pramesti, ia jatuh tersungkur ketika kakinya tersangkut akar pohon gayam. Dilihatnya harimau jantan yang mengejarnya semakin mendekat.

Kalung Robyong Mustikowati!

Dewi Pramesti teringat pesan ayahnya, Prabu Jayabaya. Dalam keadaan tertimpa bahaya, sentuhlah kalung pusaka itu.

Harimau yang memburunya telah melompat dan menerkam Dewi Pramesti. Nyaris bersamaan dengan gerakan tangannya menyentuh kulit leher, tempat pusaka pemberian Prabu Jayabaya menyatu.

Grhhhhhhhhhh ….!

Terpental tubuh sang harimau. Terhempas pada bebatuan besar, lalu berguling-guling akibat benturan keras dengan sebuah kekuatan tak tampak  mata yang keluar dari tubuh Dewi Pramesti.

Binatang buas itu terus terlempar hingga jauh ke bawah bukit. Tidak bergerak lagi.

Tetapi naas bagi Dewi Pramesti. Kekuatan dahsyat Kalung Robyong Mustikowati juga membuat jabang bayinya ikut terpental dari gendongannya.

Tubuh bayi mungil tak berdosa itu bahkan terperosok ke dalam jurang terjal. Ketika Dewi Pramesti mengejarnya, ia tidak bisa melihat dasarnya. Hanya rerimbunan pohon dan semak belukar yang tampak jauh di bawah sana.

Dewi Pramesti menangis sekeras-kerasnya. Meratapi penderitaan yang dialaminya semenjak terusir dari Yawastina.

Ia terlunta-lunta hingga melahirkan di tengah hutan belantara. Lalu, kini kehilangan jabang bayinya pula.


-ooOO BERSAMBUNG OOoo-

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of #OneDayOnePost

Baca cerita sebelumnya [Disini ]

Catatan :
17) minggato = Enyahlah.
18) gubuk penceng = Rasi bintang pari.

2 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *