Jumat, 16 Desember 2016

KROCOKAN GAMAN SEWU - REFLEKSI FINAL SECOND LEG AFF CUP 2016



devianart.com


Padang Kuru Setra bergetar!

Seluruh petinggi Kurawa merinding oleh kehadiran seorang anak muda di tengah-tengah medan perang. Ia menunggang seekor kuda dengan tangan kanan mengacung-acungkan sebuah cambuk.

Garda pertahanan Astina dibuat kocar-kacir oleh amukan ksatria muda yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan kekuatannya. Jatuh bangun para prajurit dari pesanggrahan Bulupitu.

Siapa anak muda itu?

Selidik punya selidik, ternyata ia adalah putra dari Arjuna. Raden Abimanyu yang sedang membawa kuda Ciptawilaha. Tangannya lincah memainkan cambuk pusaka Kyai Pamuk.

Hari itu, Abimanyu menjelma bak Dewa Kematian bagi pasukan Kurawa. Kuda yang ditungganginya menari-nari diantara barisan lawan. Memporak porandakan formasi Astina.

Panglima perang Kurawa, Begawan Durna langsung berdiskusi dengan para petinggi Bulupitu.

“Potong fomasi pasukan Pandawa pada bagian supit urang (capit udang). Jauhkan dari kepalanya!” seru sang Begawan.

Strateginya cukup jitu.

Abimanyu yang berada pada posisi cucuk (paruh) udang dalam formasi pasukan Pandawa, pelan-pelan terpisah dari barisan induk. Ia terjebak seorang diri di bagian kepala udang.

Tiba-tiba datang Bambang Sagara dari belakang Abimanyu. Dengan licik, kroni Kurawa yang akrab dipanggil Jayadrata itu menelikung. Ia menghantamkan sebuah gada ke tengkuk putra Arjuna.

Abimanyu terjengkang. Busur dan anak panahnya terpental dari tangan.

Namun ia segera bangkit. Dengan tangan kosong, Abimanyu masih gagah berdiri menantang Kurawa.

"Kalian memang pengecut, Kurawa!" teriak Abimanyu.

“Habisi Abimanyu!” seru Duryudana. Pemimpin tertinggi Kurawa.

“Keroyok … keroyok … keroyok!” timpal Dursasana.

Dalam hitungan detik, ratusan pasukan Bulupitu telah mengepung Abimanyu. Disusul ribuan panah, pedang dan tombak yang bertubi-tubi menghujani tubuhnya.

Abimanyu jatuh tersungkur.

Darah meleleh di sekujur tubuhnya. Kepalanya kini bermahkotakan anak panah. Ususnya terburai keluar dari perut.

Bukan watak seorang ksatria jika Abimanyu menyerah sampai disitu. Ia berdiri lagi, ususnya kemudian ia talikan menjadi ikat pinggang.

“Meski kalian bertarung dengan cara pengecut seperti ini, aku tak akan mundur sejengkalpunpun. Ayo maju lagi!” sesumbarnya.

Jayadrata kembali menghantamkan gada dari arah belakang, tepat mengenai kepala Abimanyu. Putra Arjuna itu pun jatuh tersungkur untuk kedua kalinya.

Abimanyu diam tak bergerak lagi kali ini.

Datang Lesmana Mandrakumara, anak Duryudana yang sejak perang hari pertama pecah, hanya bersembunyi di pesanggrahan Bulupitu. Ia memang dikenal sebagai pemuda pengecut.

“Ayo bangun Abimanyu. Jangan diam saja. Lawan aku!” ejek Lesmana.

Abimanyu yang sudah penuh dengan luka tidak menjawab.

“Oh, ternyata engkau sudah tak mampu berdiri. Baguslah, matilah sekalian engkau Abimanyu. Setelah ini, akan kuambil istrimu Dewi Utari menjadi milikku … Hahahaha!” semakin menjadi-menjadi ledekan Lesmana.

Mendengar nama Dewi Utari disebut, Abimanyu langsung terpancing amarahnya. Dengan sisa-sia tenaga, ia berdiri lalu menghunjamkan sebuah keris tepat ke dada Lesmana.

Putra mahkota Astina roboh bersimbah darah. Lesmana tewas seketika.

Padang Kuru Setra kembali gempar!

*****

Kehadiran sosok Abimanyu di tengah tanah perang Kuru Setra menjadi gambaran sepak terjang pasukan Garuda (julukan timnas Indonesia) di Piala AFF 2016 ini.

Siapa yang semula memperhitungkan Indonesia?

Tidak ada yang mengira, bahwa negeri yang baru saja lepas dari sanksi banned FIFA lima bulan lalu, tiba-tiba mengamuk dan memporak porandakan para kompetitornya.

Sejak fase penyisihan grup A, Indonesia yang kali ini dihuni mayoritas anak muda menjelma menjadi Dewa Kematian bagi lawan-lawannya.

Tuan rumah Filipina dan Singapura menjadi korban comebacknya sang Garuda.

Berlanjut ke semifinal.

Vietnam, salah satu favorit juara turnamen tahun ini, dipaksa berkabung secara nasional setelah dikubur hidup-hidup oleh Indonesia di kandang mereka sendiri. Stadion My Dinh, Hanoi.

Tidak berhenti sampai disitu.

Abimanyu, si anak muda yang rohnya menitis ke pasukan Garuda kembali mengamuk.

Thailand, super power sepakbola di Asia Tenggara diluar dugaan dihajar hingga babak belur di leg pertama Final Piala AFF 2016. Indonesia menjungkir balikkan prediksi banyak orang.

The War Elephant (julukan timnas Thailand) benar-benar dibuat terkejut, panik, tak berdaya dan hancur lebur oleh kekuatan Kuda Ciptawilaha dan cambuk Kyai Pamuk milik timnas Indonesia.

Kemenangan dengan skor 2-1 pun menjadi modal sangat berharga bagi pasukan Garuda untuk menatap leg kedua besok malam.

Tetapi, kita tidak boleh jumawa.

Kalah di pertemuan pertama, Thailand yang menjadi favorit terkuat juara Piala AFF 2016 pasti akan mengerahkan seluruh kekuatannya. Apalagi bermain di stadion Rajamangala, Bangkok. Tentu ibarat menghadapi krocokan gaman sewu (hujan ribuan senjata) bagi Abimanyu. Timnas Indonesia.

Jangan lengah.

Mari belajar dari strategi Begawan Durna yang memotong supit urang (capit, sayap) dari cucuk (paruh) formasi Pandawa. Timnas kita tidak boleh membiarkan koneksi antara barisan pertahanan, kedua sayap, dan barisan tengah terputus dengan striker yang biasanya ditempati Boaz Salossa.

Ingat, Abimanyu tersungkur ketika ia terlepas dari kedua supit urang, lalu bertarung seorang diri di depan.

Jangan biarkan striker kita berjuang sendirian.

Formasi supit urang Pandawa Indonesia yang berhasil memporak porandakan Kurawa Thailand di leg pertama kemarin harus tetap solid di Rajamangala. Kedua pemain sayap kita, Riski Pora dan Zulham Zamrun (bisa diganti Bayu Gatra) tidak boleh mati kreasi.

Kekuatan kita ada di sektor sana.

Teruslah menari-menari diatas kuda Ciptawilaha. Mainkan dengan sigap pusaka cambuk Kyai Pamuk untuk menghajar mereka. Lalu kita bunuh Lesmana Mandrakumara Thailand.

Separuh kaki kita, kini telah menapak tangga juara. Bukan sesuatu yang impossible, jika banyak yang berharap bahwa tahun ini adalah milik Indonesia.

Satukan semangat, rapatkan Doa. Saatnya kita mengukir sejarah di Asia Tenggara.

Menoreh dengan tinta emas. Tentang Indonesia yang Jaya Sakti.


( Heru Sang Mahadewa)
Member Of #OneDayOnePost

2 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *