Rabu, 11 Januari 2017

RESENSI BUKU




Judul: SABDA PALON (Geger Majapahit)
Penulis: Damar Shashangka
Penerbit: Dolpin
ISBN: 978-979-1701-09-9
Tebal: 458 Halaman

Rangkuman Isi Buku
Jatidiri Sabda Palon dan Naya Genggong mulai terkuak perlahan-lahan di hadapan Bhre Kêrtabumi. Meskipun demikian, dua sosok misterius itu masih diselimuti kabut tebal, samar dan tersembunyi. Itu terjadi setelah Bhre Kêrtabhumi mendatangi beberapa petilasan suci: Gunung Kawi, Dharmma Badhyut, Gunung Pawitra (Penanggungan sekarang), dan Gunung Lawu. Di tempat-tempat itu dia melalukan tapa brata sesuai perintah sosok niskala yang dipercayainya sebagai Resi Agastya, pamomong Nusantara.

Dalam perjalanan spiritualnya, Bhre Kêrtabumi mendapat petunjuk bahwa Sabda Palon dan Naya Genggong sejatinya adalah bekas punggawa besar era Prabu Hayam Wuruk. Keduanya ikut menghilang dari istana setelah pengunduran diri Patih Gajah Mada, selepas tragedi Perang Bubat.

Sementara itu, perkembangan Majapahit semakin tidak menentu setelah Raden Kêrtawijaya dinobatkan sebagai raja menggantikan Rani Suhita yang telah mangkat. Takhta Tumapêl yang semula dia duduki dilimpahkan kepada adiknya, Raden Kêrtarajasa. Perseteruan diam-diam terjadi antara kakak-beradik itu. Kekacauan pun sengaja disebar di mana-mana. Sebuah kabuyutan (desa kuno) bernama Tidhung Kalati yang ikut wilayah kekuasaan Tumapêl  dibumihanguskan oleh pasukan tak dikenal.

Puncak perseteruan antara Raden Kêrtawijaya dan Raden Kêrtarajasa adalah ketika pemerintah pusat Majapahit mengeluarkan peraturan sepihak dengan menarik pajak tinggi bagi saudagar-saudagar yang hendak berniaga dari dan ke Tumapêl. Protes Raden Kêrtarajasa kepada Raden Kêrtawijaya dibalas dengan tantangan perang.

Pada saat yang sama, Haji Gan Eng Cu, seorang Muslim Tionghoa, perwakilan Dinasti Ming untuk Asia Tenggara yang berkedudukan di Lasêm dan Adipati Tuban Arya Adikara wafat hampir bersamaan. Di wilayah yang lain, Sayyid Ali Rahmad (Bong Swie Hoo, kelak dikenal sebagai Sunan Ampel) dan Sayyid Ali Murtadlo (Raden Santri), pemuka agama Islam keraton Majapahit, mulai memperluas eksistensi agama baru dengan memindahkan pesantren dari Banger (Pasuruan, Jawa Timur sekarang) ke sebuah tempat dekat pelabuhan Ujung Galuh. Ngampeldenta (Ampel, Surabaya sekarang).

Sementara itu, istri Tumenggung Wilwatikta, menantu Adipati Arya Adikara juga melahirkan putra yang kelak bakal menentukan wajah Islam di Nusantara. Raden Santikusuma, alias Raden Syahid. Kelak dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Masih dalam waktu yang sama, putra Raden Kêrtawijaya, Bhre Paguhan yang beristri lima puluh lima wanita, terbunuh secara tragis saat berkunjung ke kota raja. Pelakunya adalah Arya Bangah dan Arya Gajah Para, dua senopati kebanggaan Bhre Kêrtabumi. Pemerintahan pusat Majapahit menganggap peristiwa ini sebagai tanda ditabuhnya genderang perang oleh Tumapêl.

Perang saudara antar sesama keturunan Raden Wijaya kembali pecah. Pasukan Majapahit dan negeri-negeri bawahan terpecah menjadi dua kubu. Sebagian tetap setia kepada Raden Kêrtawijaya, sebagian lagi membelot kepada Raden Kêrtarajasa. Saling bunuh para ksatria Wilwatikta terjadi di sebuah tempat di dekat perbatasan Majapahit dan Tumapêl.

Ketika perang berlangsung, datanglah seorang raja Balidwipa bernama I Tedung yang kebetulan sedang singgah di istana Majapahit. Bersama seratus pasukannya, dia mengibarkan bendera warna putih, pertanda duka cita. Seketika kedua kubu yang berseteru saling menjatuhkan senjata. Raden Kêrtawijaya, raja Majapahit wafat secara mendadak di keraton. Perang saudara batal dan tidak dilanjutkan.

Ending ini sekaligus mengakhiri pula perjalanan spiritual Bhre Kêrtabhumi bersama dua abdi setianya, Sabda Palon dan Naya Genggong. Dalam penjelajahan mata batin di berbagai petilasan dan pertapaan suci itulah beliau mendapatkan keyakinan bahwa Resi Agastya yang senantiasa menemuinya dalam dimensi lain (ketika bertapa brata) adalah sosok yang selama ini setia mendampinginya. Sabda Palon.

Satu kalimat yang tidak pernah hilang dari benak Bhre Kêrtabhumi adalah ucapan Resi Agastya bahwa dia melihat matahari sedang pudar sinarnya, tertutup awan hitam, lalu muncul bulan dan bintang yang bersinar terang di atas langit Majapahit.

Bukan sekedar ucapan biasa, sosok Resi Agastya yang dia percaya sebagai Sabda Palon seolah-olah ingin mengatakan, “Surya (matahari) Majapahit akan sirna, digantikan bulan dan bintang. Ajaran Budha dan Hindu akan tersingkir dari Majapahit, digantikan agama baru. Islam! Perubahan itu akan dilakukan oleh keturunan Bhre Kêrtabhumi sendiri, raja pamungkas Majapahit.”

*****

Sabda Palon (Geger Majapahit) merupakan salah satu dari lima novel sejarah karya Damar Shashangka yang menampilkan tokoh punakawan (abdi) raja-raja Majapahit. Sabda Palon sendiri dan Naya Genggong.

Bagi penganut aliran Kejawen, hingga sekarang sosok misterius itu (apakah manusia atau jenis makhluk astral) dipercaya masih hidup, atau menitis ke seseorang.

Salah satu ramalan Sabda Palon adalah ketika dia meninggalkan Bhre Kêrtabhumi yang memutuskan menjadi muallaf. Menurutnya, junjungannya akan hancur bersama Majapahit. Ditaklukkan putranya sendiri dari istri selir seorang Tionghoa bernama Siu Ban Ci. Panembahan Jimbun (Raden Pattah). Kelak, lima ratus tahun kemudian, Sabda Palon berjanji akan muncul lagi ketika Nusantara sedang dilanda prahara banyak gunung berapi meletus. Ditandai dengan maraknya tindak kejahatan oleh para pemangku negeri.

Jika dihitung, lima ratus tahun sejak runtuhnya Majapahit (abad ke-16) adalah sekarang ini. Abad ke-21.

Wallahu alam bishawab.

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *