Jumat, 21 Oktober 2016

MENGENAL SOSOK PANDAWA, TOKOH PROTAGONIS DALAM PERANG BHARATAYUDA (Bagian 18)


Pandawa - image google

4-5. NAKULA - SADEWA

Hutan Pringgodani, Masa kehamilan Dewi Madrim.

“Kita bongkar bebatuan itu!” ucap Arjuna.

“Hemmmm … biar aku yang membongkarnya!” timpal Werkudara.

Yama Widura bersama Werkudara dan Arjuna langsung berlari menuju sumur upas yang kini telah berubah menjadi bukit bebatuan. Rupanya mereka diam-diam mengikuti Harya Suman dan Patih Gandamana.

“Sejak awal aku sudah curiga. Tidak mungkin Prabu Tremboko berani menentang  kakang Prabu Pandudewanata. Ternyata ini semua akal-akalan Harya Suman,” ucap Yama Widura.

Sang Bimasena (Werkudara) hampir saja mengeluarkan Aji Banyu Braja untuk menyapu batu-batu yang menimbun sumur upas. Namun seseorang dengan lantang melarang niat putra kedua Prabu Pandudewanata itu.

“Hentikan!” seru lelaki tua yang tiba-tiba telah berdiri dihadapan mereka.

“Jika kalian membongkar dan turun ke dalam sumur upas ini, maka gas beracun yang ada di dalamnya bisa membahayakan nyawa kalian sendiri,” lanjutnya.

“Maaf, kisanak ini siapa?” tanya Yama Widura.

“Aku Resi Gunabantala dari padepokan Arga Kumelun,” jawab lelaki tua itu.

“Kebetulan aku sedang melewati tempat ini saat terjadi keributan tadi,” lanjut Resi Gunabantala.

Pertapa dari padepokan Arga Kumelun itu lalu menjelaskan bahwa dirinya bisa menolong Patih Gandamana yang tengah tertimbun di dalam sumur upas. Tetapi ia meminta syarat bahwa Yama Widura harus mengabulkan keinginannya.

“Apapun akan kulakukan, asal kisanak benar-benar bisa menolong Patih Gandamana!” tegas Yama Widura.

“Baiklah, kalian tunggu saja disini,” ucap Resi Gunabantala.

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Menerpa pohon dan menjatuhkan dedaunan hutan Pringgodani. Sesaat kemudian, Resi Gunabantala berubah menjadi seekor landak putih.

Dengan gesit, landak jelmaan Resi Gunabantala menggali tanah di dekat sumur upas. Semakin dalam hingga menembus dasarnya, tempat Patih Gandamana tertimbun.

Keluarlah landak putih bersama Patih Gandamana yang terkulai lemas karena menghirup gas beracun yang ada di dasar sumur upas. Yama Widura langsung berlari memeluk sahabatnya.

Resi Gunabantala berubah ke wujud aslinya. Dengan kedigdayaannya, pertapa sakti dari Arga Kumelun itu menetraslisir tubuh Patih Gandamana dari racun sumur upas.

“Semua ini ulah Harya Suman, kakang Gandamana. Dia telah mengadu domba Astina dan Pringgodani,” jelas Yama Widura, setelah kondisi Patih Gandamana berangsur membaik.

“Sebenarnya aku juga curiga, gusti Yama Widura,” jawab Patih Gandamana.

“Diam-diam aku mengikuti gerak-geriknya. Dia datang ke Gandaradesa dan Pringgodani untuk mencelakaimu,” lanjut Yama Widura.

“Keparat Harya Suman!” ucap Patih Gandamana.

“Aku pasti akan menuntut balas!” mata Mahapatih negeri Astina itu membelalak. Keduanya tangannya terkepal. Giginya gemeletuk menahan dendam dan amarah. Hampir saja ia mengeluarkan Kalung Robyong Mustikawarih. Beruntung para punakawan baru tiba di tempat itu buru-buru menghentikannya.

Lole-lole … mbegegeg ugeg-ugeg … hemel-hemel … sadulit-dulita … tahan dulu gusti Gandamana!” seru Kyai Lurah Semar Badranaya.

“Sekarang bukan saatnya gusti Patih Gandamana mengamuk. Simpan amarahmu, nanti kita hajar Harya Suman sampai di Astina,” jelasnya.

“Tunggu pembalasanku, Harya Suman!” sesumbar Patih Gandamana.

Lole-lole … mbegegeg ugeg-ugeg … hemel-hemel … sadulit-dulita … terima kasih Resi Gunabantala. Kalau engkau tidak ada di tempat ini, mungkin gusti patih kami sudah tiada,” ucap Semar kepada pertapa sakti yang menolong Patih Gandamana.

“Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong orang yang tersakiti, Kyai Lurah Semar,” jawab Resi Gunabantala.

“Maaf, sekarang saatnya aku menagih janji kepada gusti Yama Widura,” lanjut sang resi.

“Katakan apa yang kau minta, pasti akan kukabulkan, Resi,” jawab Yama Widura.

“Aku memiliki seorang putri di padepokan Arga Kumelun bernama Endang Sinduwati. Ia pernah bermimpi bertemu dengan adik dari Prabu Pandudewanata yang mengaku bernama Raden Yama Widura. Setelah mimpi itu, putriku selalu mendambakan paduka menjadi suaminya,” cerita Resi Gunabantala.

“Hari ini aku ingin sekali mewujudkan impiannya. Menikahlah dengan putriku Endang Sinduwati, gusti Yama Widura!” pinta Resi Gunabantala.

“Apa?” Yama Widura terkejut mendengar permintaan Resi Gunabantala.

“Duh sang resi, maaf beribu maaf. Bukannya aku bermaksud mengingkari janji, tetapi ketahuilah bahwa aku ini sudah memiliki istri bernama Dewi Padmarini. Putraku juga masih kecil,” jelas Yama Widura.

“Gusti Yama Widura, memiliki istri lebih dari satu demi menepati janji yang telah terucap bukanlah tindakan tercela. Aku dan putriku Endang Sinduwati sejak awal juga rela meski menjadi nomor dua,” tegas Resi Gunabantala.

Yama Widura tidak menjawab.

Adik dari raja Astina, Prabu Pandudewanata itu hanya menghela napas panjang. Diusap-usap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar bimbang.

“Kakang Badranaya, apa yang harus kulakukan?” ia akhirnya meminta pendapat Kyai Lurah Semar Badaranaya.

“Mending aku saja yang ditawari? Kasihkan Bagong gusti!” timpal Bagong.

Bocah edan!” bentak Gareng.

Padune pingin!” jawab Bagong.

Podho edane! Sumingkira kabeh!” Kyai Lurah Semar Badranaya mengusir kedua momongannya yang sedang berulah.

Lole-lole … mbegegeg ugeg-ugeg … hemel-hemel … sadulit-dulita … Gusti Yama Widura, seorang kesatria sejati pantang untuk ingkar janji. Terimalah permintaan sang Resi Gunabantala, nikahi Endang Sinduwati. Monggo, hamba kawal ke Arga Kumelun.” tegas Kyai Lurah Semar Badranaya.

“Baiklah, kakang Badranaya. Aku akan menuruti nasehatmu,” jawab Yama Widura.

Berangkatlah Resi Gunabantala, Yama Widura, Arjuna dikawal punakawan menuju padepokan Arga Kumelun. Mereka hendak mewujudkan impian Endang Sinduwati menikah dengan Yama Widura.

Sementara Patih Gandamana bersama Werkudara disarankan Kyai Lurah Semar Badranaya agar kembali ke Astina. Melaporkan keadaan yang sesungguhnya terjadi antara Prabu Pandudewanata dan Prabu Tremboko.

Bahwa semua perselihan Astina dan Pringgodani hanyalah akal-akalan Harya Suman.

*****

Pendopo Pringgodani, masa kehamilan Dewi Madrim.

“Keparat Astina!” maki Prabu Tremboko.

Sang raja bangsa raksasa negeri Pringgodani murka. Putra sulungnya Raden Arimba bersama seorang prajurit penjaga wilayah pinggiran mengabarkan bahwa terjadi keonaran di daerah perbatasan. Pelakunya dua orang punggawa Astina.

“Sebaiknya segera siapkan pasukan Pringgodani untuk berangkat ke Astina, sebelum mereka semakin menjadi-jadi, gusti Prabu Tremboko,” Harya Suman kembali memancing amarah raja Pringgodani.

“Terima kasih Harya Suman, engkau telah banyak membantuku,” ucap Prabu Tremboko.

“Hehehe … tidak usah berlebihan, gusti prabu. Saya hanya menjalankan kewajiban untuk menolong pihak yang tersakiti,” pura-pura Harya Suman merendah. Ia pun pamit pulang ke Astina bersama para keponakannya Kurawa.

“Arimba, siapkan pasukan Pringgodani! Kita gempur Prabu Pandudewanata!” sesumbar Prabu Tremboko.

Budhal!” jawab Raden Arimba.


~ BERSAMBUNG ~

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Baca cerita sebelumnya [ Disini ]

Catatan :
Bocah edan = anak sinting
Padune pingin = ngaku saja kepingin
Podho edane, Sumingkira kabeh =  sama-sama sinting, sana pergi semua

Lole-lole, mbegegeg ugeg-ugeg, hemel-hemel, sadulit-dulita = kata latah Semar.
Lole-lole = wahai manusia
mbegegeg = diam
ugeg-ugeg = bergerak
hemel-hemel = mencari makan
sadulit-dulita = sedikit

Kalimat ini mengandung pesan moral "Wahai manusia, jangan hanya diam. Bergerak dan berusahalah mencari makan (nafkah), meskipun hasilnya sedikit tidak apa-apa."

Kyai Lurah Semar Badranaya (Sang Hyang Ismaya) - image google
 
Gandamana - image google

 
Harya Suman - foto dokumen pribadi

Prabu Tremboko - image google

2 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *