Selasa, 04 Oktober 2016

MENGENAL SOSOK PANDAWA, TOKOH PROTAGONIS DALAM PERANG BHARATAYUDA (Bagian 2)



Pandawa - image google

1.    PUNTADEWA

Pendopo Garbasumandha, jelang kelahiran Puntadewa.
Tergopoh-gopoh Ditya Garbacaraka memasuki paseban agung. Disana sudah menunggu Prabu Yaksadarma dan beberapa punggawa istana.

“Bagaimana Garbacaraka? Berhasilkah engkau membawa Dewi Maerah untukku?” sambut Yaksadarma.

“Pasukan kita sudah berhasil menyusup ke taman kaputren Mandura. Dewi Maerah juga telah kita bawa kabur.” jelas Garbacaraka.

“Lalu, dimana sekarang calon permaisuriku itu? Cepat bawa kemari Garabacaraka!” tak sabar Prabu Yaksadarma.

“Ampun gusti prabu. Di tengah perjalanan ke Garbasumandha, pasukan kita dihadang seorang kesatria Astina. Kami bertanding hingga titik darah penghabisan. Tetapi kesatria itu licik, dia melarikan diri bersama Dewi Maerah ke tengah hutan Mandura. Pasukan kita yang mengejarnya kehilangan jejak.” ucap Garbacaraka, berbohong kepada Yaksadarma.

“Siapa kesatria Astina itu?” tanya raja bangsa raksasa.

“Dia mengaku sebagai Prabu Pandudewanata.” jawab Garbacaraka.

Brak!

Prabu Yaksadarma menendang tubuh Garbacaraka hingga terjungkal menabrak sebuah meja yang ada di sudut pendopo istana. Matanya melotot tajam. Kedua tangannya yang besar dan kekar terkepal, seakan-akan ingin melayangkan pukulan lagi ke wajah utusan yang gagal membawa Dewi Maerah. Telah berani berbohong pula.

“Mulutmu memang seperti busa! Aku tahu engkau sedang berbohong. Sepuluh Garbacaraka pun tak akan mampu menandingi Pandudewanata!” bentak Yaksadarma.

Gedebuk!

Tersentak Prabu Yaksadarma. Sebuah potongan kepala tanpa tubuh tiba-tiba jatuh tepat di hadapannya. Beberapa punggawa yang hadir di pendopo Garbasumandha serentak berteriak.

Patih Kaladruwendra!

“Ini pasti perbuatan Pandudewanata. Hanya manusia pemilik kadigdayan linuwih yang mampu menendang kepala Kaladruwendra dari Mandura ke Garbasumandha!” ucap Yaksadarma.

“Siapkan seluruh pasukan, kita ngluruk ke Astina!” perintahnya.

Budhal!” jawab para punggawa Garbasumandha serentak.

*****

Astina, jelang kelahiran Puntadewa.
Begawan Abiyasa, Resi Bisma, Prabu Pandudewanata dan para kerabat Astina sedang menunggu Dewi Kunti yang masih saja kesulitan melahirkan bayinya.

Prabu Pandudewanata mulai resah. Pikirannya berkelana dengan peristiwa sebelum Dewi Kunti dikarunia kehamilan. Mungkinkah ini bagian dari kutukan Resi Kindama?

Raja Astina itu teringat ketika dia sedang berburu di hutan Pramuwana bersama kedua istrinya. Saat itu Dewi Madrim melihat dua ekor kijang. Ia pun meminta Prabu Pandudewanata memanahnya.

Anak panah Prabu Pandudewanata menembus dua ekor kijang yang sedang kawin. Ternyata, hewan-hewan itu adalah jelmaan dari Resi Kindama dan kekasihnya, Rara Dremi.

Tewas seketika!

Terucaplah kutukan dari si kijang jantan, “Wahai Pandudewanata, aku mengutukmu bahwa engkau akan mati saat bersetubuh dengan istri-istrimu!”

Guntur menggelegar!

Langit di hutan Pramuwana mendadak gelap. Kilat menyambar-nyambar. Menandakan bahwa kutukan Resi Kindama dikabulkan Dewata.

Sejak itulah Prabu Pandudewanata tidak berani menyentuh tubuh kedua istrinya, Dewi Kunti dan Dewi Madrim.  Artinya dia tak akan bisa mendapatkan keturunan yang menjadi penerus tahta Astina.

Dalam penyesalan dan kesedihannya, raja Astina mengajak Dewi Kunti dan Dewi Madrim pergi ke gunung Sapta Arga. Bertapa brata disana. Memohon ampunan dosa terhadap dua ekor kijang yang dibunuhnya. Sekaligus meminta petunjuk kepada Gusti Kang Makarya Jagad.

Dewata mendengar penyesalan dan doa Prabu Pandudewanata, Dewi Kunti dan Dewi Madrim.

Ketika itu sedang lewat seorang pertapa sakti, Resi Dwurasa yang juga guru semasa muda Dewi Kunti. Bahagia bukan main permaisuri Astina bisa bertemu lagi dengan sang resi. Dia pun menceritakan masalah yang sedang dideritanya.

Resi Dwupara bersedia menolong mereka. Pertapa sakti itu memberikan sebutir buah Pertanggajiwa. Ia menyarankan agar Prabu Pandudewanata mengheningkan cipta kembali.

Sejenak Prabu Pandudewanata kembali bertapa brata sembari memangku buah Pertanggajiwa.

“Kini, saripati benihmu sudah menyatu ke buah Pertanggajiwa ini, gusti prabu.” Jelas Resi Dwurasa kala itu.

Dipotongnya menjadi lima bagian buah Pertanggajiwa. Tiga potong diberikan kepada Dewi Kunti, dua potong untuk Dewi Madrim. Resi Dwurasa menyarankan kedua istri Prabu Pandudewanata agar segera memakannya.

“Kunti muridku, tiga potong Pertanggajiwa telah tertanam di dalam rahimmu. Ia akan tumbuh menjadi anak-anakmu kelak jika kau membacakan Ajian Kunta Ciptaning Tunggal yang pernah kuajarkan dulu. Aturlah jarak kelahiran tiga putramu itu.” lanjut Resi Dwurasa.

“Nanti jika ketiga putramu telah lahir, ajarilah Dewi Madrim mantra itu.” tutup sang guru ketika itu.

Ajian Kunta Ciptaning Tunggal adalah mantra yang pernah diturunkan Resi Dwurasa kepada Dewi Kunti. Jika dibacakan, maka akan menitis keturunan Dewa ke rahim wanita pemiliknya.

*****

Lamunan Prabu Pandudewanata buyar ketika Begawan Abiyasa menepuk pundaknya, “Sudahlah, putraku. Jangan bersedih terus seperti ini.”

Resi Bisma yang ada disampingnya menganjurkan agar Prabu Pandudewanata melakukan tapa brata kembali. Meminta petunjuk dan memohon pertolongan untuk Dewi Kunti.

Masuklah raja Astina itu ke sanggar pamujan, tempat ia biasa bersemedi. Sesaat Prabu Pandudewanata mematikan segala cipta rasa duniawi. Pikirannya berkelana menghadap ke Sang Penciptanya.

~ BERSAMBUNG ~

(Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Baca cerita sebelumnya [ Disini ]
Cerita selanjutnya [ Disini ] 

11 komentar:

  1. Jgn lama2 Mas heru yg nglanjutin critanyaa...

    BalasHapus
  2. berarti pandawa lahirnya dr biji dong yaaa, seperti bayi tabung..hehehe

    BalasHapus
  3. berarti pandawa lahirnya dr biji dong yaaa, seperti bayi tabung..hehehe

    BalasHapus
  4. Dudu biji Lis, tapi daging buah Pertanggajiwa.
    Bijine di untal Dewi Gandari, dadi Kurawa.

    BalasHapus
  5. Keren nih Mas Heru, hafal bgt sejarah..

    BalasHapus
  6. Ternyata pandawa dari biji baru tahu hehe

    BalasHapus
  7. Ternyata pandawa dari biji baru tahu hehe

    BalasHapus
  8. Saya baru sadar, para pujangga kita dahulu sudah mengenal bayi tabung sebelum ditemukan oleh ahli medis sekarang

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *