Jumat, 18 Maret 2016

Bagong si Bayang-Bayang




Terdengar suluk (sajak berbahasa Jawa) yang dilantunkan merdu setelah segmen Perang Begal (peperangan dan pertumpahan darah). Harmonisasi dari nada kidung sang Dalang dengan iringan kepyek (gamelan jawa sejenis simbal, biasa dimainkan dengan pijakan kaki) membawa suasana kian syahdu.

Goror-goro …
Goro-goro jaman kolo bendu,
Wulangan Agama ora digugu,
Sing bener dianggep keliru, sing salah malah ditiru,
Bocah sekolah ora gelem sinau,
Yen dituturi malah nesu, bareng ora lulus ngantemi guru,
Pancen perawan saiki ayu-ayu,
Eenek sing duwur tur kuru, enek sing cendek tur lemu,
Sayange sethitik senenge mung pamer pupu.

*********
Goro-goro … (Huru-hara)
Goro-goro di jaman kala bendu,
Ajaran agama tidak dipatuhi,
Yang benar dianggap salah, yang salah justru diyakini,
Anak-anak sekolah tak mau belajar,
Ketika tak lulus justru memukuli guru,
Sungguh gadis sekarang cantik jelita,
Sayangnya mereka bangga mengumbar aurat,
Dengan memamerkan paha.

Lalu para punakawan pun tampil. Setelah sang ayah Ki Lurah Semar (Sang Hyang Ismaya / Bethoro Ismoyo) muncul pertama, kemudian disusul Gareng, Petruk dan terakhir Bagong. Mereka mengobrol, diskusi dengan gaya khas rakyat kecil, membahas segala isu yang sedang hangat di masyarakat.

Diantara keempat punakawan, putra bungsu dari Semar adalah Bagong. Siapakah sebenarnya tokoh ini?

*****
Asal usul.
Suatu hari di istana taman langit (Kahyangan, Suralaya) Bethoro Ismoyo dipanggil ayahnya Sang Hyang Tunggal.

Bethoro Ismoyo ditugaskan turun ke bumi untuk mengawal kehidupan dengan menjadi panutan dan meluruskan setiap ada perbuatan yang salah / tidak terpuji. Bethoro Ismoyo menjelma menjadi sosok pamong bernama Ki Lurah Semar.

Sebelum turun ke bumi, Semar memohon kepada ayahnya agar diberi teman selama mengemban tugas.

“Lihatlah kebelakang.” tutur ayahnya, Sang Hyang Tunggal.

“Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri!” seketika di belakangnya sudah berdiri sesosok yang memiliki ciri fisik seperti Semar. Sosok itu tercipta dari bayangan Semar sendiri dan diberi nama Bagong.

Bagong juga mempunyai nama lain Bawor dan Astrajingga. Ia berbadan gendut, bokong semok, dan kulit hitam. Ciri fisik Bagong juga berkepala botak bagian depan, mata membelalak besar dan mulut lebar. Bicaranya belepotan, suka melucu dan pengkritik tajam.

Bagong ditakdirkan berumur ribuan tahun, seperti ayahnya Semar. Ia hidup di segala jaman mulai Loka, Ramayana, Baratayudha, Parikesit, hingga jaman Madya.

Ia menikah dengan Endang Bagnyawati, putri Prabu Balya raja di Pucangsewu.

Perkawinannya itu dilangsungkan bersamaan dengan perkawinan sosok asli pemilik bayangan itu, Ki Lurah Semar / Bethoro Ismoyo dengan Dewi Kanistri (Bethari Kanestren).

Pesan Moral.
Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah punakawan Bagong adalah :

  • Bagong tercipta dari bayangan Semar, sosok guru sejati yang menjadi panutan dan pelurus segala tindak kejahatan. Bayangan senantiasa menyerupai bentuk aslinya, sehingga Bagongpun mewarisi sifat mulia dari Semar. Marilah kita belajar untuk menjadi bayangan orang-orang yang arif dan bijaksana.
  • Mata Bagong besar dan membelalak. Lambang bahwa kita senantiasa harus teliti untuk melihat segala permasalahan di sekitar. Jangan menggampangkan sesuatu dengan memandang sebelah mata.
  • Meskipun mulut Bagong sangat lebar, tetapi kalau bicara belepotan. Mulut lebar identik dengan watak manusia yang suka menggunjingkan orang lain (bergosip). Hendaknya kita selalu menjaga lisan dan ucapan.

*****

Diakhir segmen Goro-goro, Semar senantiasa mengajak anak-naknya untuk bekerja lagi, mengabdi dengan setia kepada pihak yang benar, yaitu Pandawa.

Dengan selesainyaa adegan Goro-goro pula, seperti biasa saya merebahkan tubuh lagi dikolong Bonang dan Kendang, lalu tidur lagi sampai pagelaran wayang usai. Hingga seorang wanita anggota kru pagelaran itu membangunkan dan menggendong saya pulang.


#ODOP
#PostingHariKelimaBelas

13 komentar:

  1. Goro-goro, salah satu segmen pertunjukkan wayang yg paling dinanti.

    BalasHapus
  2. Goro-goro, salah satu segmen pertunjukkan wayang yg paling dinanti.

    BalasHapus
  3. Betul ..
    Termasuk saya, meski sebenarnya yg saya tunggu2 adalah jamuan makan Nasi Soto dan Rawon saat Goro-goro
    Hehehe ... pokoke mangan

    BalasHapus
  4. modus Heru ki...apik apik yoo sifate bagong, petruk, lan gareng ki

    BalasHapus
  5. modus Heru ki...apik apik yoo sifate bagong, petruk, lan gareng ki

    BalasHapus
  6. Cerita pewayangan itu susah banget buat aku ngertiin.. mungkin krn bahasanya. Sebelum baca tulisan Heru, aku selalu takut klo lihat bagong.. :) kini, tak lagi sepertinya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Knp takut mbake??
      Iya bnr bahasanya memang menggunakan bahasa jawa kromo.
      Btw trima kasih sudah mampir di blog saya

      Hapus
  7. Mas heru tampak paham banget dunia perwayangan. Apakah ibu mu salah satu kru yang disebut diatas cerita itu?

    BalasHapus
  8. Wah. aku orang sumatra rada roaming bacanya :D

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *