Rabu, 09 Maret 2016

GERHANA DALAM MITOLOGI JAWA



foto @Heru Sang Mahadewa


Pagi hari ini 9 Maret 2016, seluruh perhatian masyarakat Indonesia tertuju ke fenomena alam terjadinya Gerhana Matahari Total. Terasa istimewa, karena gerhana matahari total ini hanya melintasi Indonesia, dan tidak bisa dialami oleh penduduk Negara lain.

Kita semua tahu, gerhana merupakan fenomena alam yang wajar. Dalam tata surya, fenomena ini terjadi ketika Bulan melintas langsung di antara Bumi dan Matahari, menyebabkan bayangan jatuh menimpa Bumi. Ini hanya dapat terjadi pada fase bulan baru, ketika sisi gelap Bulan menghadap ke Bumi.

Tetapi dalam mitos di kalangan masyarakat Jawa Kuno, khususnya di daerah asal saya, Gerhana (baik Matahari maupun Bulan) terjadi karena murkanya Sang Betoro Kolo (Dewa Kala / Dewa Bencana / Musibah) lalu memakan Matahari / Bulan hingga habis.

Siapakah sosok Betoro Kolo itu ?

-------------------------------------------

foto dari google

Pada suatu waktu, Betoro Guru / Batara Guru (Dewa Siwa) yang merupakan mahadewa di istana taman langit (Suralaya, Kahyangan) bercengkerama dengan permaisurinya Betari Durgo (Dewi Uma). Meski jati diri aslinya adalah seorang butho (raksasa), tetapi Betari Durgo berparas cantik jelita.

Mereka berdua berkelana diatas samudera dengan menaiki tunggangannya bernama Lembu Andini. Diatas kelana itu, Betoro Guru terpesona akan kecantikan permaisurinya, sehingga timbul hasrat untuk bersatu rasa. Akan tetapi Betari Durgo tidak berkenan dan menolak, maka jatuhlah benih dari Betoro Guru menetes ke lautan.

Karena kesaktian dan kedigdayaan Betoro Guru, benih yang jatuh di tengah lautan tadi hidup dan tumbuh menjadi makhluk sakti. Kian lama kian besar dan akhirnya menjadi raksasa. Naiklah ia ke Suralaya untuk menemui para dewa. Ia diterima oleh Betoro Guru dan diakui sebagai anaknya, lalu diberi nama Betoro Kolo.

Suatu hari ketika sedang memasak, jari Betari Durgo teriris hingga tak sengaja darah dari lukanya menetes ke makanan yang ia masak. Betoro Kolo segera menolong membalut luka itu, lalu sebisanya membersihkan darah yang tercampur masakan.

Ketika makanan itu disajikan ke putranya, Betoro Kolo melahapnya tak tersisa.

“Masakan ibunda hari ini terasa istimewa, ada sesuatu yang belum pernah aku rasakan selama ini” terheran-heran Betoro Kolo.

“Aku tahu, ini karena tetesan darah tadi”
“Berarti darah itu rasanya enak! Mulai sekarang aku akan memangsa manusia”
“Jangan putraku! kamu tidak boleh memangsa manusia” cegah Betari Durgo, lalu melaporkan kejadian ini kepada Betoro Guru.

Sementara sang Betoro Kolo sudah menetes air liurnya, dan ingin segera turun ke bumi untuk mencari mangsa manusia.

Untuk mengelabuhi dan mencegah tindakan putranya, Betoro Guru memberi nasehat dan syarat bahwa tidak semua manusia boleh dimangsa. Hanya manusia yang termasuk jenis sukerta yang boleh dimakan oleh Betoro Kolo.

Betoro Kolo sepakat dan segera turun ke bumi untuk memburu jenis-jenis manusia sukerta yang disebutkan oleh ayahnya.

Menyadari bahwa tindakan putranya salah, Betoro Guru segera mengutus Betoro Narodo (Dewa Narada) agar memerintahkan Dewa Wisnu untuk menyusul turun ke bumi dan mencegah tindakan Betoro Kolo. Dewa Wisnu lalu menyamar menjadi seorang dalang wayang kulit dengan nama Dalang Kandhabuana (Dalang Sejati). Ia ditemani Betoro Narodo sendiri yang menyamar sebagai panjak kendang (penabuh kendang) dan Dewa Brahma yang menyamar sebagai penabuh gender (jenis gamelan Jawa).

Dalang Khandabuana bersama rombongan lalu mempromosikan diri sebagai seorang yang bisa menolak bala (kesialan, musibah) bagi siapa saja manusia yang membutuhkan pertolongannya.

Dikisahkan, tersebutlah seorang mbok rondo (janda tua) yang tinggal di desa Medang Kawit. Ia memiliki seorang anak tunggal bernama Joko Jatusmati. Suatu hari, atas perintah ibunya pergilah Joko Jatusmati ke Danau Madirda. Diperjalanan, ia bertemu Betoro Kolo.

Betoro Kolo berkata agar Joko Jatusmati bersedia dimangsa karena termasuk jenis manusia sukerta. Segeralah lari tunggang langgang ia menyelamatkan diri. Dalam pelariannya, ia bersembunyi diantara sekelompok orang-orang yang sedang bekerja mendirikan rumah. Tetapi Betoro Kolo bisa menemukan. Lalu terjadi kejar-kejaran dirumah itu. Akhirnya rumah menjadi roboh.

Joko Jatusmati kembali melarikan diri. Pemuda itu bersembunyi di sebuah dapur orang, disinipun terjadi kejar-kejaran sehingga ia menyebabkan dandang (tempat untuk menanak nasi) roboh.

Kembali Joko Jatusmati lari ke halaman depan rumah itu. Dalam usahanya mengejar pemuda itu, Betoro Kolo terjatuh karena terlilit batang waluh (jenis tanaman sayuran) yang ditanam di halaman tersebut. Akibatnya Betoro Kolo kehilangan arah dan mencari kemana-mana.

Bersamaan dengan itu, tak jauh dari Medang Kawit itu ada sebuah pertunjukan pagelaran wayang kulit oleh Dalang Kandhabuana. Ia sedang pentas atas permintaan seorang penduduk bernama Buyut Wangkeng yang sedang meruwat (membersihkan bala / kesialan) putrinya bernama Rara Pripih yang baru saja cerai dari suaminya di saat usia pernikahannya baru terhitung beberapa hari.

Pada pagelaran wayang kulit itu, banyak sekali orang yang menonton. Diantara kerumunan penonton, tampak pula Joko Jatusmati dan juga Betoro Kolo.

Misi dari Dewa Wisnu untuk menarik perhatian Betoro Kolo berhasil. Melalui adu kesaktian dan kedigdayaan, akhirnya Betoro Kolo dapat dikalahkan dan ditahan oleh Wisnu, Narodo dan Brahma. Lalu turun pula Betari Durgo ikut membujuk putranya agar mau kembali ke Suralaya. Betoro Kolo menolak!

Dengan paksaan, akhirnya Betoro Kolo dapat dibawa terbang ke taman langit, kembali ke asalnya. Bumi pun aman kembali.

Tetapi sampai di angkasa, Betoro Kolo berontak dan murka. Ia melampiaskan amarah dengan memakan Matahari dan Bulan hingga nyaris habis, lalu menelannya. Terjadilah Gerhana.

Penduduk Medang Kawit panik, mereka lari ke dapur mencari alu dan lumpang (alat menumbuk padi) dan segera menumbuk-numbukkan alu ke dalam lumpang dengan harapan agar ayam-ayam mendengar suara tumbukan lumpang, lalu berkokok. Sehingga matahari bisa terbit lagi.

Tak selang lama, di taman langit Betoro Kolo sudah bisa ditaklukkan Dewa Wisnu. Lalu bersedia untuk memuntahkan lagi matahari yang ia telan.

Maka bersinarlah kembali matahari, dan gerhana pun selesai.

#ODOP
#posting_hari_kedelapan

---------------------------------

Catatan :
Saat Betoro Kolo bersedia kembali ke asalnya bersama Betari Durgo, ia meminta bagian dari suguhan pagelaran wayang kulit oleh Dalang Kandhabuana berupa batang pisang, seekor itik dan burung merpati. Sementara Betari Durgo meminta kain sewek / jarik.

Hingga kini, dalam tradisi masyarakat Jawa yang masih memegang teguh filosovi Sukerta, masih melakukan acara ruwatan (menolak bala / kesialan) dengan pagelaran wayang kulit dengan judul Betoro Kolo / Murwakala. Lengkap dengan suguhan yang dikisahkan diatas, termasuk batang waluh sebagai titik kelemahan Betoro Kolo.

Seorang anak tunggal, orang yang rumahnya roboh, seseorang yang merobohkan dandang, pengantin baru lalu cerai, termasuk golongan dari 60 jenis manusia sukerta.

Dalam mitologi diatas, Betoro Kolo digambarkan sebagai sosok raksasa yang besar. Ini adalah gambaran dari Bulan yang berukuran besar. Matahari yang dimakan Betoro Kolo dan ditelannya habis tidak lain adalah kiasan dari bayangan Bulan (raksasa besar) yang menutup / menelan / menghalangi utuh-utuh posisi matahari.


Hingga kini pula, jika terjadi gerhana maka para penduduk di pelosok Jawa selalu menumbukkan alu ke lumpang kosong, hingga mengeluarkan bunyi yang syahdu bersahut-sahutan.
 

Lalu, siapakah manusia yang termasuk jenis Sukerta? tunggu catatan saya selanjutnya.

10 komentar:

  1. kereeeennn habis...awakmu ki orang jawa asli yoo..

    BalasHapus
  2. kereeeennn habis...awakmu ki orang jawa asli yoo..

    BalasHapus
  3. Nah, itu. Padahal dari tadi aku udah bertanya2 sukerta itu manusia jenis apa? Soalnya aku punya temen namanya i gusti putu sukerta.. 😂😂😂

    Baiklah aku akan menunggu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... kl itu mah nama orang Bali non
      Tunggu aj catatan ttg Sukerta

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  4. Balasan
    1. terima kasih Is ...
      masih harus banyak belajar ini

      Hapus
  5. Jadi GERHANA TOTAL durasinya lama sampai bulan ke4 s/d bulanke6 & berlangsung Tiap Tahun di titik yg sama & penyelesaian yg sama , ....... Siapa bilang? gerhana total cuma berdurasi 2jam-an tgl 9maret'16 & katanya baru terjadi lagi 350th dititik yg sama,....pasti seluruh ahli BMKG & Turis asing tertarik untuk datang untuk meneliti GERHANA TOTAL TIAP TAHUN versi On The Spot tv9

    BalasHapus
    Balasan
    1. seperti kalimat pak Glo dalam postingan saya sebelumnya .... pasti gak akan pernah ada yang mau ngaku jadi Betoro Kolo, hahaha :)

      Hapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *