Rabu, 29 Maret 2017

PESAN MORAL DI BALIK TEMBANG JAWA CUBLAK-CUBLAK SUWENG


CUBLAK-CUBLAK SUWÊNG

Cublak-cublak suwêng,
Suwêngé téng gêlèntèr,
Mambu kêtundhung gudêl,
Pak Êmpo léra-léré,
Sopo ngguyu ndhêlikaké,
Sir-sir pong dêlé kopong.

________

Translate:
Tempat anting (perhiasan wanita Jawa----harta berharga),
Harta itu berserakan,
Aromanya pun mengundang gudèl (anak kerbau),
Si bapak bergigi ompong (hanya) menggeleng-gelengkan kepala,
Siapa yang tertawa, dia yang menyembunyikan (harta),
Hati yang hampa (bagai) kedelai kosong (tanpa biji buah).


Tembang di atas adalah sebuah tembang Jawa yang sudah turun temurun dibawakan dalam sebuah dolanan bocah-----permainan anak-anak. Sama seperti judul tembangnya, dolanan ini juga disebut sebagai Cublak-Cublak Suwêng.

Dahulu, saya sering memainkan Cublak-Cublak Suwêng bersama teman-teman di kampung halaman. 

Permainan ini hanya bermodalkan sebutir kerikil. Seorang anak yang kalah dalam suit-----adu nasib dengan cara mengundi jari atau telapak tangan, wajib menjadi tokoh Pak Empo. Dia akan tengkurap, sementara teman-temannya meletakkan telapak tangannya di atas punggung Pak Empo.

Secara bersamaan, bocah-bocah itu akan melantunkan tembang Cublak-Cublak Suwêng. Pak Empo tetap tengkurap dan tidak diperbolehkan membuka mata hingga nyanyian selesai. Di akhir lirik, sebuah kerikil akan disembunyikan pada salah satu telapak tangan yang tadi terbuka di punggung Pak Empo.

Tugas Pak Empo adalah menebak dimana keberadaan kerikil itu. Jika benar, bocah yang menyembunyikan kerikil akan menggantikan posisi Pak Empo. Tetapi jika tebakannya salah, permainan akan terus diulang dengan pemeran yang sama sampai menemukan posisi persembunyian kerikil.

Pesan moral:
Ada sebuah tempat yang menjadi harta paling berharga bagi manusia. Dimana harta itu pada hakekatnya telah bertebaran dalam diri kita. Berupa kebahagiaan sejati. 

Hanya orang-orang yang buta akal dan tidak peka nuraninya (bodoh, diibaratkan gudêl-nya kerbau), yang tetap memburu harta semu (duniawi/materi) dengan mengumbar ambisi, ego dan keserakahan. Manusia yang tiada pernah berpikir akan tujuan akhir hidup: menemukan kebahagiaan sejati. 

Typikal manusia seperti ini, kelak ketika dimintai pertanggungjawaban terhadap asal usul harta dan untuk apa dibelanjakan, hanya akan menemui kebingungan. Seperti pak tua bergigi ompong yang hanya bisa menoleh kiri kanan.

Manusia yang kelak bahagia (sumèlèh, sarèh) adalah manusia yang bisa mengubur (menyembunyikan) ambisi, ego dan keserakahan terhadap pesona duniawi. Berupa godaan materi, derajat, pangkat dan syahwat.

Mereka adalah manusia bertypikal Sir Pong Dêlé Kopong. Manusia yang mampu mengosongkan hati nuraninya dari ke-CINTA-an duniawi.

Lalu, dimanakah tempat harta sejati itu dalam diri kita?

Tempat itu bernama Jiwa Mutmainah.


(Heru Sang Mahadewa)
Member of #OneDayOnePost

Lirik têmbang Jawa: Kanjêng Sunan Kalijaga - Kanjêng Sunan Giri

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *