Selasa, 08 November 2016

BATHARA GURU, SANG MAHADEWA



Sang Mahadewa - foto dokumen pribadi


Suatu ketika, saya pernah mengalami masa keterpurukan hingga nyaris melego sebuah koleksi wayang warisan leluhur saya. Seorang sahabat karib sudah ‘deal’ untuk membeli benda bersejarah itu.

Ketika hendak mengemasnya, tiba-tiba perasaan ini nratab (deg-degan). Karya seni adiluhung itu seperti memandang saya berlama-lama, seolah ia ingin berucap,”kenapa engkau tega memisahkan aku darimu?”

Tenggorokan seperti dicekik, mata berkaca-kaca, lidah ini terasa kelu untuk sekedar berkata kepadanya,”puluhan tahun kita bersama, percayalah … aku tiada kan pernah melupakanmu.”

Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, ada sebuah pesan singkat dari orang yang sangat saya kenal,”Sorry bro, setelah gue pikir-pikir lagi, gue gak jadi ambil koleksi wayang elu. Gue ngerasa bersalah kalau ambil barang itu. Elu pernah bilang wayang itu udah turun temurun diwariskan leluhur elu. Soal uang yang terlanjur gue transfer, elu pakai aja dulu. Jangan dipikir kapan elu balikin ke gue.”

Seraya mengembalikan ia ke tempatnya, saya tersenyum penuh haru kepada wayang Sang Hyang Manikmaya itu. Orang-orang menyebutnya Bathara Guru. Raja dari segala Dewa, sehingga dikenal pula dengan nama Sang Mahadewa.

Untuk mengenang kesetiaan yang romantis itu, saya pun menggunakan embel-embel Sang Mahadewa pada nama pena saya.

*****

Iya begitulah, terkadang sebuah benda mati pun berhak mengungkapkan kesedihan saat hatinya terluka. Apalagi makhluk bernyawa seperti satwa, tumbuh-tumbuhan, dan manusia. Terlebih lagi wanita. Sosok makhluk berhati serapuh kaca.

Sahabat sekalian, jagalah segala perilaku, ucapan dan sikap kita kepada sesama. Jangan pernah menyakiti alam, satwa, tumbuh-tumbuhan, apalagi manusia. Sehelai rambutpun jangan.


Salam bahagia,

(Heru Sang Mahadewa)
Member of #OneDayOnePost

6 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *