Rabu, 09 November 2016

PARADE JUANG SURABAYA 2016




Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Merdeka!

Teriakan kalimar Takbir dari Walikota Tri Rismaharini yang sontak disambut dengan kalimat yang sama oleh puluhan ribu peserta dan masyarakat Surabaya menandai dimulainya Parade Juang Surabaya tahun 2016.

Acara yang rutin digelar setiap bulan November itu, tahun ini dikemas lebih heroik. Banyak teatrikal dan adegan rekonstruksi sejarah yang ditampilkan. Rute yang diambil juga jauh lebih panjang. Jika biasanya hanya start dari Tugu Pahlawan dan finish di Balai Kota, maka Parade Juang Surabaya 2016 mengambil rute sepanjang 6 kilometer dari Tugu Pahlawan hingga Taman Bungkul.

Parade dibuka oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini yang kemarin berpakaian ala pejuang veteran 45.

Dalam pernyataannya, Tri Rismaharini berharap warga Surabaya dapat mengambil pesan penting dari agenda rutin Parade Surabaya Juang. Utamanya generasi muda (era kekinian) diharapkan bisa mengetahui betapa beratnya potret perjuangan para pahlawan dalam pertempuran 10 November 71 tahun silam.

"Pada 10 November 1945 lalu, arek-arek Suroboyo berani berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan keterbatasan alat (senjata) dan sarana. Tetapi mereka mampu mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, warga Surabaya sebagai penerusnya, harus bisa meneruskan perjuangan para pahlawan," tegas wali kota yang sempat diisyukan akan maju dalam perebutan kursi DKI 1 beberapa bulan lalu itu.

"Kita harus bisa membuktikan bahwa kita adalah anak cucu dan cicitnya para pejuang. Kita harus punya semangat yang sama untuk mempertahankan kemerdekaan dengan bekerja keras dan pantang menyerah," sambung Tri Rismaharini.

Pekikan kata “Merdeka!” terus bergema di seantero kota Surabaya hari itu, minggu 6 November 2016. Tak kurang dari 6000 peserta dari TNI, Polri, instansi pemerintah, pelajar, dan berbagai kelompok pecinta sejarah se-Indonesia turut berpartisipasi dalam acara yang diselenggerakan untuk mengenang peristiwa November 1945.

Sepanjang jalan yang dilalui parade, puluhan ribu masyarakat Surabaya tak henti-hentinya meneriakkan kalimat takbir dan pekik kemerdekaan. Andai ada media yang meliput secara live kegiatan itu, mungkin semua ikut merinding menyaksikannya di televisi.

Lautan manusia berpakaian pejuang kemerdekaan membludak mulai Tugu Pahlawan, Jl. Kramat Gantung, Siola, Jl Tunjungan, Jl Gubernur Suryo, Jl. Panglima Sudirman, Jl. Urip Sumoharjo, Jl. Raya Darmo, Monumen Polri di Jl. Polisi Istimewa, Sekolah Santa Maria Jl Darmo, hingga berujung di Taman Bungkul.


Andai boleh membandingkan, hari itu Surabaya tak kalah bergetar dengan aksi damai bela agama 4 November 2016 di Jakarta dua hari sebelumnya.

Di beberapa titik, adegan teatrikal perang Surabaya mewarnai parade itu. Para peserta parade menampilkan aksi rekonstruksi sejarah yang membawa imajinasi kita seakan berada di peristiwa-peristiwa heroik pada jaman perang 10 November 1945.

Di depan Siola, dilakukan teatrikal perang Madun dan perang Benteng Kedungcowek. Dentuman meriam dan letusan membuat bulu kudu merinding. Puluhan legiun veteran yang ikut mengikuti parade di atas kursi roda, membuat air mata menetes ketika beliau-beliau dengan suara lantangnya berteriak,”Merdeka!” setiap kali mendengar suara letusan meriam.


Allahu Akbar!

Kalimat mengagungkan asma Allah terus menggaung. Sampai di Hotel Majapahit (dahulu bernama Yamato Hotel), tempat yang menjadi saksi sejarah ketika arek-arek Suroboyo menurunkan bendera Belanda, menyobek warna birunya, lalu menderek lagi bendera yang tinggal berwarna merah putih, dilakukan upacara bendera. Di pimpin oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.

Aksi teatrikal juga berlanjut di Jl. Gubernur Suryo. Kemudian di Monumen Bambu Runcing dilakukan rekonstruksi sejarah pidato Bung Tomo dan perang Surabaya 45.




Sampai di Jl Polisi Istimewa (SMAK St Louis) dilakukan teatrikal penurunan bendera Jepang dan pengibaran bendera Merah Putih. Berikutnya di depan gedung SMAK Santa Maria, ada teatrikal perang 10 November 1945.

Sampai di Taman Bungkul, parade diakhiri dengan kembali melakukan teatrikal pidato Bung Tomo yang melibatkan seluruh peserta parade.


Luar biasa Surabaya!

Allahu Akbar … Allahu Akbar … Allahu Akbar! … Merdeka! Merdeka! Merdeka!

( Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

Sumber gambar: antarafoto

Baca Isi pidato heroik dari Bung Tomo [ Disini ] dan pidato sakral Gubernur Suryo [ Disini ]

6 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *