Sabtu, 12 November 2016

PIDATO BUNG TOMO




Bung Tomo - foto deviantart.com

Muncul seorang anak muda bernama Soetomo yang kemudian dikenal sebagai Bung Tomo. Ia adalah seorang jurnalis yang bekerja di media Domei.

Sekembalinya ke kota kelahirannya Surabaya, Bung Tomo mendirikan sebuah radio amatir bersama sahabatnya Ktut Tantri. Melalui siaran-siaran di studio yang dinamainya Radio Pemberontakan Republik Indonesia  itu, ia menggelorakan perjuangan untuk menumbuhkan rasa solidaritas kebangsaan masyarakat Surabaya.

Ketika situasi kota Surabaya kian genting karena ultimatum Inggris, Bung Tomo juga melakukan pidato sesaat setelah Gubernur Suryo berpidato di RRI.

Pidato ini yang akhirnya benar-benar membuat bulu kudu merinding. Rakyat Surabaya, tua muda terbakar jiwa nasionalismenya. Hingga mereka bertekad bulat untuk siap mati syahid pada keesokan harinya, 10 November 1945.

Berikut isi pidato heroik dari Bung Tomo yang disiarkan Radio Pemberontakan Republik Indonesia:

Bismillahorohmanirrohhim.

Merdeka!

Saudara rakyat jelata jelata yang ada di seluruh wilayah Indonesia, khususnya yang ada di Surabaya. Kita semuanya sudah mengetahui. Apabila hari ini para tentara Inggris sudah menyebarkan banyak pamflet yang akan memberikan suatu ancaman pada kita semua. Oleh karena itu, Kita semua diwajibkan pada dalam waktu yang telah mereka tentukan, menyerahkan semua senjata yang sudah kita rampas dari para tangan tentara Jepang. Mereka sudah minta agar kita datang kepada mereka dengan mengangkat tangan kita. Mereka malahan sudah minta agar kita semua harus datang pada mereka tersebut, dengan bawa bendera putih sebagai tanda jika kita ini menyerah kepada mereka

Saudara-saudara, Ingat! Jika di dalam semua pertempuran yang lampau, kita semua sudah memperlihatkan jika kita sebagai rakyat Indonesia di Surabaya, pemuda-pemuda yang asalnya dari Maluku, pemuda-pemuda yang asalnya dari Sulawesi, pemuda-pemuda yang asalnya dari pulau Bali, pemuda-pemuda yang asalnya dari Kalimantan, pemuda-pemuda yang asalnya dari seluruh Sumatera,
pemuda Aceh, Tapanuli, dan semua pemuda yang ada di Indonesia yang berada di Surabaya ini.

Dengan para pasukan mereka masing-masing, dengan pasukan rakyat yang telah dibentuk pada kampung-kampung, hal itu sudah menunjukkan jika satu pertahanan yang tak dapat diruntuhkan musuh. Hal ini sudah menunjukkan satu kekuatan, hingga mereka merasakan terjepit di mana-mana. Hanya akibat taktik yang sangat licik daripada mereka tersebut wahai saudara-saudara. Dengan mendatangkan bapak Presiden dan para pemimpin lain ke Surabaya, maka kami ini tunduk untuk memberhentikan atas pertempuran. namun, pada masa sekarang ini, mereka sudah memperkuat diri, dan usai mereka sekarang kuat, inilah keadaannya.

Saudara-saudara kita semuanya,
Kita adalah bangsa indonesia yang berada di Surabaya, akan terus menerima semua tantangan dari para tentara Inggris, dan apabila para pimpinan tentara Inggris yang berada di Surabaya, mengharapkan apa dari semua jawaban rakyat Indonesia, lalu ingin mendengarkan atas apa jawaban dari seluruh pemuda yang ada di Indonesia khsusunya di Surabaya ini.

Maka, silahkan dengarkanlah ini wahai tentara Inggris. Ini adalah jawaban kita,
Ini adalah jawaban rakyat di Surabaya, ini adalah jawaban semua pemuda yang ada di seluruh Indonesia kepada kalian semua.

Wahai tentara Inggris!
Kalian menghendaki jika kita ini akan bawa bendera putih dengan mengatakan kita takluk kepada kalian, kalian juga yang menyuruh kepada kita untuk mengangkat tangan lalu mendatangi kamu, kalian juga yang  menyuruh kami membawa semua senjata yang sudah kami rampas dari Jepang, dengan tujuan agar diserahkan kepadamu.

Saudara saudara semua rakyat di Surabaya,
Bersiaplah dengan keadaan genting! namun saya peringatkan sekali lagi, kalian jangan mulai menembak. Baru menembak jika kita ditembak, maka kami akan ganti untuk menyerang mereka tersebut, kita tunjukkan apabila kita ini rakyat yang ingin merdeka.

Dan bagi kita saudara-saudaraku semua,
Lebih baik kita ini hancur lebur, daripada kita semua tidak merdeka. Ingat!, Semboyan kita masih tetap: merdeka atau mati!

Dan akhirnya kita semua yakin saudara-saudaraku, pada akhirnya pasti kita akanmemperoleh kemanangan, karena Allah SWT akan terus dan selalu ada di pihak kita, sebagai orang yang benar. Ingat! Percayalah hal ini wahai saudara-saudara. Tuhan akan senantiasa melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Bung Tom - foto biografipedia.com



Pidato itu dibacakan oleh Bung Tomo dengan nada berapi-api. Pidato ini yang akhirnya melengkapi pidato Gubernur Suryo sebelumnya hingga mampu membakar semangat para pejuang Surabaya.

10 November 1945, Surabaya benar-benar dikepung dari segala penjuru darat, laut dan udara oleh pasukan Sekutu pimpinan Inggris. Mayjen Robert Cardon Mansergh tewas. Inggris kehilangan du jendral selama pendudukan di Surabaya.

Sementara dari para pejuang kita, sekitar 20.000 syuhada’ gugur sebagai mujahid pada pertempuran itu.

Para pejuang Surabaya akhirnya meninggalkan Gunungsari dan Waru pada akhir November 1945. Mereka terus melakukan perlawanan-perlawanan kecil di daerah Gedangan dan Krian.

Desember 1945 itu pula, tidak ada lagi pemerintahan Indonesia di Surabaya. AMACAB (Allied Military Administration Civil Affairs Brach) menguasai kota itu hingga misi Sekutu Inggris selesai.

Surabaya pun diserahkan oleh Inggris kepada pemerintah Belanda hingga tahun 1950, dan berakhir ketika terbentuk Negara Jawa Timur (menjadi ibu kota Negara) lalu kembali lagi ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi ibu kota provinsi Jawa Timur.


Heru Sang Mahadewa
Member of #OnedayOnePost

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *