Kamis, 17 November 2016

GONJANG-GANJING TAHTA HASTINA DKI




Mangkatnya Pandudewanata menyebabkan kekosongan tampuk pimpinan Hastinapura. Berdasarkan Undang-Undang Konstitusi negeri itu, secara otomatis putra tertua raja, Puntadewa menggantikan kedudukan ayahnya.

Masalah menjadi rumit ketika Ajitasatru (Puntadewa) belum baligh. Umurnya yang masih bau kencur dianggap para politisi Hastina belum pantas memimpin sebuah negeri besar. Puntadewa perlu disiapkan dulu di Akademi Pemerintahan.

Seorang politikus terkemuka, Harya Suman yang ketika itu sudah mendapatkan posisi strategis atas akal bulusnya menyingkirkan Patih Gandamana, mencoba memanfaatkan situasi politik Hastina yang sedang tidak kondusif.

Dengan kedudukannya sebagai Mahapatih baru, Sangkuni (gelar Harya Suman) mulai melakukan safari politik. Lobi sana lobi sini gencar dilakukan untuk memuluskan skenario menaikkan Adipati Destaratra (kakak iparnya) menduduki tahta Hastina.

Singkat kata, berkat kepiawaian diplomasinya, Sangkuni berhasil meloloskan kakak iparnya menduduki tahta Hastinapura. Destaratra pun resmi diambil sumpahnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Hastinapura, menggantikan Pandudewanata.

Masa pemerintahan Destaratra berlaku hingga Puntadewa menginjak usia 17 tahun.

Namun, politik tetaplah licik, culas dan terkadang tak tahu budaya malu. Patih Sangkuni belum puas hanya memuluskan langkah Destaratra menduduki tampuk pimpinan tertinggi Hastinapura. Masih ada skenario besar dibalik itu yang sedang dirancang oleh sang politikus ulung.

Suyudana, putra sulung dari Destaratra digadang-gadang Sangkuni untuk menjungkangkalkan jalan Puntadewa menuju kursi Hastinapura 1 kelak. Kembali sang politikus ulung bersafari. Kali ini strateginya bahkan kelewat berani, kalau tidak mau dikatakan kurang ajar.

Puntadewa beserta keluarganya harus disingkirkan dari Hastinapura!

Bukan Sangkuni kalau tidak bisa membuat gaduh situasi politik. Dengan tipu dayanya, Puntadewa bersama adik-adiknya dan Dewi Kunti terjebak dalam sebuah bangunan di hutan belantara. Tanpa ampun, bersama anak-anak Destaratra (Kurawa) ia membakar habis calon penerus tahta Hastinapura.

Beruntung, Pandawa diselamatkan oleh Bhatara Antaboga. Namun untuk sementara ia dikarantina di Kahyangan, karena situasi politik dan keamanan di Hastinapura sedang labil.

Dengan bantuan media massa (cetak, elektronik, maupun online) yang menjadi kroninya, Sangkuni kembali menghembuskan isu hangat. Pandawa beserta Dewi Kunti mengalami musibah di tengah hutan, hingga mereka semua tewas.

Tentu saja isu itu langsung menjadi viral di Hastinapura. Para netizen ramai-ramai menyikapi terjadinya kekosongan posisi Putra Mahkota. Banyak yang menduga-duga kejadian yang menimpa Puntadewa dan adik-adiknya didalangi seseorang yang memiliki kepentingan politik. Tetapi mereka semua terbungkam oleh rapinya skenario Sangkuni.

Lagi-lagi situasi yang sudah diharapkan ini dimanfaatkan sang politikus. Suyudana diusung sebagai calon Putra Mahkota. Meski banyak yang pro dan kontra, akhirnya keponakan Sangkuni itu dinobatkan menjadi pewaris syah tahta Hastinapura. Ia menyandang gelar Pangeran Kurupati.

Bukan hanya itu, dengan lobi-lobi politik yang sungguh aduhai, Sangkuni juga berhasil melakukan percepatan suksesi kepemimpinan. Destaratra dengan congkaknya menyerahkan tampuk pimpinan tertinggi kepada sang putra sulung tercintanya.

Suyudana resmi diambil sumpahnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Hastinapura untuk menjalankan mandat menduduki kursi panas Hastinapura 1. Ia pun bergelar Prabu Duryudana.

Beberapa bulan memimpin Hastinapura, rakyat mulai resah. Duryudana melakukan kebijakan-kebijakan politik yang banyak bertentangan dengan kepentingan rakyat kecil. Ia lebih suka memberi pemenangan tender proyek-proyek besar kepada saudara-saudara Kurawanya.

Mulut besarnya bahkan semakin liar. Lisannya tak terkontrol. Ucapan-ucapannya banyak menimbulkan gejolak, meski sebenarnya ia hanyalah boneka dari Sangkuni. Aktor dari segala kebobrokan birokrasi pemerintah Hastinapura.

Lambat laun, citra Duryudana semakin buruk. Hampir seluruh politisi dan rakyat Hastinapura membencinya. Gerakan "Turunkan Duryudana!" pun mulai berhembus dari pelosok-pelosok negeri.

Puncaknya, pecah perang Bharatayuda yang dimotori Sri Bhatara Kresna dengan menggerakkan para Pandawa bersama pasukan Amarta.

Duryudana pun dilengserkan secara tragis!

Akhir dari skenario besar Sangkuni. Politikus tersyohor Hastinapura.

*****

Kisah diatas erat kaitannya dengan kondisi DKI Jakarta pasca ditinggalkan gubernur terpilih 2012 dulu.

Sama seperti Destaratra yang bernasib mujur mendapat tahta Hastina (tidak dipilih berdasarkan Konstitusi Hastinapura), penerus gubernur DKI sekarang ini bukanlah pemimpin yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Ia hanya ketiban pulung menerima tongkat estafet tahta ibu kota.

Kontroversi, konflik vertikal dan horisontal mewarnai pemerintahan Hastinapura di era Destaratra dan berlanjut ke Duryudana. 

Mirip dengan berbagai kejadian yang mewarnai pemerintahan DKI Jakarta sejak kepergian "Pandudewanata Indonesia" karena melenggang ke istana negara ketika itu. Penerima pulung, sang wakil gubernur , seperti yang sudah diketahui oleh semua masyarakat Indonesia, seperti apa nasibnya hari ini. Resmi berstatus tersangka!

Entah, siapa yang pantas menjadi Destaratra, Duryudana, dan Sri Bhatara Kresna (simbol ulama) dalam lakon ini.

Siapa pula si Sangkuni Ibu Kota? Aktor besar dibalik gonjang-ganjing DKI Jakarta saat ini.

Salam Demokrasi, Anti Intoleransi.

Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

2 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *