Jumat, 18 November 2016

MENAPAK TEBING CURAM AFF CUP 2016



foto jadwal2.com

Satu tahun sepakbola kita terisolasi oleh dunia internasional akibat banned dari Football Internationale Federation and Asociation (FIFA) karena adanya sanksi pembekuan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia oleh Menpora yang dianggap sebagai bentuk intervensi pemerintah terhadap independensi PSSI.

Setahun lebih sepakbola Indonesia seperti mati suri. Tidak ada aktivitas di lapangan hijau, mulai level divisi dua hingga tim nasional. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Olahraga memang melarang keras (tidak mengakui) segala kegiatan sepakbola dibawah naungan PSSI.

Enam bulan silam, tepatnya Mei 2016 sanksi banned itu resmi dicabut oleh FIFA. Asa kita pun tumbuh kembali.

Pada bulan yang sama, wakil Indonesia pada ajang Gothia Cup U15, ASIOP Apacinti sukses menjadi jawara turnamen sepakbola dunia kategori junior yang diadakan di Swedia, setelah dalam partai final mampu menundukkan wakil tuan rumah, IF Elfsborg dengan skor 3-1.

Iya, Juara Dunia. Bukan sekedar menjadi kampiun di regional Asia Tenggara atau Asia.

Bukti bahwa sepakbola Indonesia masih ada.

Sayangnya, prestasi emas anak-anak Indonesia itu tidak berbanding lurus dengan senior-seniornya. Sejak lepas dari sanksi FIFA, praktis Garuda (julukan tim nasional Indonesia) masih tertatih-tatih membentuk sebuah tim yang ideal. Jadwal training center yang berbenturan dengan kompetisi Torabika Super Championship menjadi salah satu penyebabnya.

Alhasil, dalam beberapa bulan ini tim nasional kita justru hanya sibuk mencari komposisi pemain yang layak memakai kostum Garuda. Padahal, negeri-negeri tetangga di ASEAN yang menjadi rival Indonesia sudah jauh melesat meninggalkan kita dalam hal mempersiapkan tim nasional.

Thailand misalnya, mereka sukses menembus kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Asia. Negeri Gajah Putih itu bahkan mampu menahan The Socceroos Australia yang banyak dihuni pemain bintang di English Premier League dengan skor 2 – 2.

The Elephant War (julukan tim nasional Thailand) kebetulan akan menjadi pesaing Indonesia dalam Piala AFF 2016. Turnamen sepakbola tertinggi antar negara Asia Tenggara yang akan digelar mulai 19 November 2016 di Philipina dan Myanmar.

Selain Thailand, tuan rumah Philipina dan Singapura akan melengkapi momok kita di grup A nantinya. Sementara grup B dihuni oleh Myanmar, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja.

Drawing grup AFF Cup 2016 - foto @GarnierMenID

Di turnamen ini, tim nasional Merah Putih yang baru saja bebas dari sanksi banned FIFA ibarat sedang merangkak dari dasar jurang dengan tebing curam dan tinggi.

Lawan-lawan mereka di grup A sudah berlari kencang selama dua tahun diatas puncak gunung. Sementara kita masih kesulitan mencari pijakan demi pijakan menuju bibir jurang nun jauh diatas sana.

Alih-alih berhayal menjadi juara AFF Cup 2016, tidak menjadi juru kunci klasemen grup saja sudah prestasi luar biasa bagi Indonesia.

Iya, kita memang harus mawas diri dan bisa mengukur kekuatan kali ini. Bukan bermaksud mengecilkan tim nasional, tetapi bisa bermain bagus dan menghindari kebobolan banyak gol, bagi saya sudah jauh melampaui ekspektasi.

Target kita bukanlah di turnamen ini. Tetapi pembenahan, reformasi dan perbaikan system tata kelola sepakbola Indonesia. Itu yang jauh lebih utama.

Melalui pembinaan tim usia muda secara serius, transparansi laporan keuangan, dan bergulirnya kompetisi yang sehat secara berjenjang, tentu akan membawa sepakbola kita ke masa depan yang jauh lebih baik.

Semoga harapan ini sepaham dengan visi dan misi pengurus PSSI yang baru saja terbentuk.

Salam Merah Putih.

( Heru Sang Mahadewa)
Member Of OneDayOnePost

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *