Sabtu, 05 November 2016

INILAH PENYEBAB SULITNYA REGENERASI STRIKER MERAH PUTIH



Boas Salossa - foto wowkeren.com

Beritanya tenggelam oleh gegap gempita aksi damai Bela Agama 4 November 2016. Tidak banyak, atau bahkan tidak ada yang tahu bahwa pada hari itu tim nasional kita sedang menjalani laga ekshibisi ke Myanmar.

Pertandingan persahabatan sebagai ajang pemanasan menuju AFF Cup 2016 ini berakhir imbang dengan skor kacamata 0 – 0. Kedua tim bermain monoton dan nyaris tidak ada peluang untuk menciptakan gol.

Satu dasawarsa silam, kita sangat mudah mengalahkan negeri Aung San Suu Kyi itu. Tetapi kini mereka telah menjelma menjadi kekuatan baru di sepakbola Asia Tenggara. Puncak prestasi Myanmar adalah ketika tahun 2015 lalu mereka berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia U20 di Selandia Baru.

Luar biasa Myanmar!

Sedangkan Indonesia, baru beberapa bulan kita terbebas dari sanksi banned FIFA (Football International Federation and Asociation) akibat SK Pembekuan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) oleh Menpora yang dianggap sebagai bentuk intervensi pemerintah.

FIFA sendiri melarang federasi anggotanya (dalam hal ini PSSI) diintervensi pemerintah Negara masing-masing.

Terlepas dari konflik diatas, secara umum permainan timnas merah putih belum menunjukkan peningkatan yang significant dibandingkan pertandingan sebelumnya melawan Malaysia dan Vietnam.

Meski di beberapa sektor kita sudah memiliki pemain-pemain muda menjanjikan seprti Fachrudin, Yanto Basna (pertahanan), Beny Wahyudi, Abduh Lestaluhu (wing back), Evan Dimas, dan Yogi Pradana (gelandang), tetapi untuk posisi striker (penyerang murni) praktis kita masih mengandalkan Boaz Solossa dan Ferdinand Sinaga. Keduanya adalah pemain yang usianya sudah melewati era keemasan.

Sebenarnya ada satu nama yang menempati posisi itu dengan kategori muda, yaitu Lerbi Aliandry. Namun pemain ini masih jauh dari harapan kita. Selain jam terbang yang masih minim, skillnya jauh dibandingkan seniornya Boas Salossa ketika berusia seperti dia.

Minimnya stok pemain yang menempati posisi striker menunjukkan bahwa regenerasi kita gagal. Praktis setelah era Boaz dan Bambang Pamungkas habis, tidak ada lagi pemain yang bisa menerima tongkat estafet sebagai penyerang murni.

Kenapa sulit mencari striker muda saat ini?

Inilah beberapa factor penyebab gagalnya regenarasi pemain di posisi striker timnas merah putih:

Minimnya Minat Klub Indonesia memakai Penyerang Lokal
Dahulu kita punya Ricky Yakobi, striker yang pernah bermain untuk klub Liga Jepang, Matsushita (sekarang Gamba Osaka). Juga sederet nama besar seperti Ribut Waidi, Asep Dayat, Syamsul Arifin, Widodo C Putra, Rony Wabia, hingga generasi terakhir semacam Kurniawan Dwi Yulianto (pernah merumput di FC Luzern, Swiss) dan Boaz Solossa.

Kala itu, hampir seluruh klub sepakbola kita belum berminat untuk menggunakan jasa striker import.

Kini, keadaan berbanding berbalik. Hampir seluruh klub di Torabika Super Championship 2016 (kompetisi sepakbola Indonesia) lebih suka memakai striker import (pemain asing). Kalaupun ada yang menggunakan pemain lokal, kebanyakan bukan pemain muda. Beberapa bahkan menggunakan pemain naturalisasi. Seperti Arema Cronous dengan Cristian Gonzales, dan Persija Jakarta dengan Greg Nwokolo.

Rendahnya Jam Terbang Striker Muda
Ketika timnas U19 berhasil menjuarai Piala AFF 2013, asa kita tumbuh lagi. Indonesia memiliki Muchlis Hadining Syaifullah dan Dimas Drajat. Dua striker muda itu digadang-gadang (diharapkan) akan menjadi penyerang timnas masa depan.

Tetapi apa boleh dikata, jauh panggang dari api. Jangankan karier mereka semakin meroket, sekedar memperoleh posisi inti di klub mereka pun sulit. PSM Makassar, klub tempat Muchlis bermain lebih menyukai pemain import. Sedangkan PS TNI, cenderung sering membangku cadangkan Dimas Drajat ketimbang pemain-pemain senior semacam Tambun Naibaho.

Membanjirnya Pemain Asing di Posisi Striker
Sejak PSSI membuka kran penggunaan pemain asing pada Liga Dunhill I, ratusan pesepakbola dari Amerika Latin dan Afrika membanjiri klub-klub Indonesia. Para ekspatriat olahraga itu tersebar hampir di seluruh tim amatir maupun professional.

Sialnya, kebanyakan pemain import adalah berposisi penyerang. Hal ini membuat keberadaan pemain-pemain muda berbakat terpinggirkan. Bahkan nyaris tidak mendapatkan tempat.

Wajar jika kita sulit menemukan lagi pemain sekaliber Ricky Yacobi, Ribut Waidi, Widodo C Putra, atau Boaz Solossa.

Kuota pemain asing dalam sebuah klub harus segera dibatasi. PSSI hendaknya merevisi lagi aturan jumlah pemain non lokal yang diperbolehkan turun dalam sebuah pertandingan.

*****

Tiga faktor itulah yang kini menghambat proses regenarasi striker tim nasional Indonesia. Sudah saatnya klub-klub di Indonesia merubah paradigma. Bukan sekedar mengedepankan gengsi dan prestise semata, tetapi juga harus memikirkan unsur pembinaan pemain muda.

Berikanlah kesempatan bermain seluas-luasnya kepada para talenta muda. Hasilnya memang tidak bisa kita petik sekarang. Tetapi tiga hingga lima tahun kedepan, akan muncul striker-striker lokal yang tak kalah garang dari Cristian Gonzales dan Greg Nwokolo, produk import berbaju timnas Garuda.

Salam Merah Putih.

Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Ricky Yacobi - foto beritabola.com

5 komentar:

  1. Keren Kang ulasannya

    Tapi memang gitu ya, seolah nggak percaya dengan generasi muda. Padahal memang semua perlu waktu untuk mempunyai skill yang diinginkan

    BalasHapus
  2. Betul mbkyu.
    Knp tidak memakai pemain muda dalam negeri?

    BalasHapus
  3. Keren Kang ulasannya

    Tapi memang gitu ya, seolah nggak percaya dengan generasi muda. Padahal memang semua perlu waktu untuk mempunyai skill yang diinginkan

    BalasHapus
  4. iyya betul suka kali import (eh ini benar kan ya ahahaha) dr negri orang padahal dalam negri pun banyak yang bertalenta kalau saja nggak terhalang sama uang.

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *