Jumat, 11 November 2016

LENTERA BARU SEPAKBOLA INDONESIA


Letjen Edy Rahmayadi, Ketum PSSI (foto batamnews.com)


Berpuluh-puluh tahun kegalauan dan kekecewaan ini terakumulasi. Kian lama semakin bertambah bak kanker ganas yang statusnya terus naik dari level satu menuju stadium empat. Mulai praktek pengaturan skor, tranparasi pengelolaan keuangan, buruknya sistem tata kelola, hingga dugaan adanya mafia bola.

Tetapi, berhentilah mengatakan sepakbola negeri ini bobrok. Hentikan caci maki dan cemoohan bahwa sepakbola kita sudah sekarat.

Tidak!

Sepakbola negeri ini sedang bangkit. Kemarin memang sempat tertidur panjang.

Lihatlah geliat anak-anak kecil yang setiap hari minggu, selalu bangun pagi-pagi. Dengan wajah gembira beruntai senyum tak berdosa memadati jalan-jalan menuju lapangan bola. Tempat mereka menimba ilmu di Sekolah Sepakbola (SSB).

Wajah mereka, menggambarkan sebuah impian untuk menyongsong masa depan sepakbola kita. Meski sinar semangat itu bisa diibaratkan bagai lampu yang hanya bercahaya temaram, anak-anak itu mencoba menyinari semampunya. Di tengah kicauan miring orang-orang yang tidak puas dengan prestasi Indonesia, mereka menyelinap mencari setitik lubang peluang. Demi mengangkat harga diri dan martabat timnas Garuda  kelak.

Anak-anak yang tak pernah menyerah untuk memberi harapan bagi sepakbola negeri tercinta. Denyut dan gerak nadi mereka sungguh membanggakan kita.

Flashback lagi ke belakang. Kegalauan dan kekecewaan insan sepakbola negeri ini bukan hanya disebabkan kebencian semata, tetapi lebih karena pengurus lama tidak mampu menjalankan roda kepengurusan. Latar belakang politik yang menjadi warna para petinggi PSSI menjadi awal dari bencana kita.

Mereka, mau tidak mau, akhirnya disibukkan dengan serangan-serangan dari lawan politiknya. Deretan agenda dan program kerja menuju sepakbola berprestasi pun tidak kunjung terealisasi.

Para petinggi sepakbola negeri ini justru sukses memupuk bibit kekecewaan, kegalauan, hingga tumbuh menjadi pohon pesimisme.

Satu bulan, dua bulan, satu, dua, tingga hingga empat tahun, akhirnya pohon itu berbuah. Berwujud puncak dari hilangnya kepercayaan, pengertian, toleransi dan kesabaran masyarakat kepada para penanggungjawab sepakbola Indonesia. Bom waktu itu meledak ketika pemerintah melalui Menpora terpaksa membekukan PSSI. Berujung pada dijatuhkannya sanksi banned kepada tim nasional Merah Putih.

*****

Hari ini, sepakbola Indonesia memasuki babak baru.

Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2016 kemarin, Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayady terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2016 – 2020 setelah dalam Kongres menang mutlak atas para pesaingnya.

Semua persyaratan untuk membenahi sepakbola Indonesia yang sempat tertidur lama, lengkap dimiliki sang jendral. Mulai dukungan para anggota (klub-klub) yang tercermin pada Kelompok 85 (pengusungnya), latar belakang karier militer sebagai cermin ketegasan, keberanian mereformasi birokrasi PSSI, transparasi laporan keuangan, hingga kedekatannya dengan pihak istana Negara.

Letjen Edy Rahmayadi dan Boaz Solossa - foto @purwoko_djoko

Sejarah mencatat, sepakbola negeri ini mulai gonjang-ganjing ketika dipegang oleh orang-orang diluar pemerintahan, terutama dari golongan sipil.

Sejak era Nurdin Halid, Djohar Arifin, hingga La Nyalla Mattaliti, pengurus PSSI justru sibuk saling jegal dan serang dengan lawan politik mereka. Dalam hal ini pemerintah (Menpora). Mulai jaman Andi Malarangeng sampai Imam Nahrowi.

Mungkin inilah yang dulu menjadi alasan Pak Harto (Presiden RI ke-2), kenapa Ketum PSSI harus berasal dari militer. Harus mendapat restu penguasa rezim orde baru itu.

Kini, dengan nahkoda Edy Rahmayadi sebagai pemimpin tertinggi di PSSI, seluruh masyarakat sepakbola Indonesia seperti diberi impian lagi. Visi dan misi beliau saat kampanye: membawa prestasi tim nasional ke masa kejayaan, setidaknya menjadi pelipur lara bagi hati yang sudah lama terluka.

Iya, memang tidak ada salahnya bermimpi.

Tetapi memberi mimpi saja tidak cukup. Masyarakat sepakbola kita butuh wujud nyata dari visi misi yang kemarin dijargonkan Pak Edy Rahmayadi. Bukan sekedar janji.

Kita semua menunggu sang jendral menjawab harapan seluruh rakyat Indonesia. Menerbangkan tinggi sang garuda ke langit Asia. Bahkan dunia.


( Heru Sang Mahadewa)
Member Of #OneDayOnePost

6 komentar:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *