![]() |
Bung Karno menangis saat pemakaman 7 Pahlawan Revolusi - foto google |
Sebuah
tragedi kemanusiaan pembantaian setengah juta nyawa. Politic is Politic, demi kekuasan (baca – perebutan tampuk pimpinan
pemerintahan di tengah kondisi kesehatan Bung Karno yang kian terpuruk),
politik bisa menjadi keji, biadab dan tidak berperikemanusiaan.
“Saya
dan keluarga memilih mengasingkan diri jauh di pedalaman desa selama 20 tahun
untuk menyembuhkan trauma.” ucap Amelia Yani. Putri sulung almarhum Jendral Ahmad
Yani, salah satu Pahlawan Revolusi yang menjadi korban peculikan Partai
** , ketika tampil dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta.
“Kami
sudah memaafkan. Ketika melihat anak-anak eks tahanan politik di Pulau Buru
saya menangis. Ternyata selama puluhan tahun mereka mengalami diskriminasi,
diasingkan, dan sulit untuk sekedar bisa makan. Dipaksa ikut menanggung dosa dari orang tua. Mereka
tidak tahu apa-apa. Ketika tragedi itu terjadi, mereka masih balita, bahkan ada
yang belum lahir.” Timpal Chaterine
Panjaitan. Putri almarhum Jendral DI Panjaitan.
“Ketika
itu saya berumur 6 tahun 2 bulan. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya hanya
ingat ketika itu saya dan keluarga diasingkan ke Pulau Buru, lalu dideportasi
ke China. Kemudian dipindah lagi ke Ceko dan terakhir diserahkan ke pemerintah
Moskow. Sekembalinya ke tanah air, ketika SD saya baru menyadari siapa ayah
saya dan mengapa saya dan keluarga harus menanggung dosa-dosanya!” Ungkap Ilham
Aidit dengan mata berkaca-kaca. Putra Dipa Nusantara Aidit, Ketua Umum terakhir
Partai ** .
Kini, lima
puluh satu tahun telah berlalu dari peristiwa tanggal 30 September 1965.
Bahwa
Partai ** telah berkhianat memang iya. Bahwa paham komunis adalah musuh nomor
satu agama dan dunia sudah harga mutlak. Tak ada tempat lagi untuk ideology
atheis di Indonesia. Bahkan seharusnya di bumi ini.
Tetapi
sejarah tidak boleh dibelokkan.
Selama
kurun waktu dua tahun sesudah peristiwa penculikan dan pembunuhan terhadap
tujuh para petinggi TNI AD itu, terjadi pembantaian setengah juta nyawa di Jawa
dan Bali. Sebagai ajang pembalasan atas kekejian paham Atheis di Indonesia.
Bukan
itu saja, penguasa Orde Baru yang mensuksesi
Bung Karno juga memberlakukan regulasi keras. Tak ada tempat berkarier bagi
anak cucu mantan simpatisan Partai ** .
Diskriminasi
terhadap anak keturunan eks tahanan politik Partai ** hingga tujuh garis
keturuan diatas, tentu bukan pula produk hukum yang bijak.
Setiap
bayi lahir membawa kesucian masing masing. Lepas dari tangan kotor dan dosa orang
tua mereka.
Yang
sudah ya sudah, biarlah sejarah yang mencatatnya.
Saling
memaafkan dan bergandeng tangan sesama anak bangsa untuk menatap masa depan
Indonesia yang Indah, tentu jauh lebih bijaksana ketimbang melampiaskan dendam
amarah.
Memaafkan,
tetapi tidak boleh melupakan.
Surabaya,
30 September 2016
(Heru Sang Mahadewa)
Member
Of OneDayOnePost
![]() |
Pak Harto (ketika itu Pangkostrad) menjadi the rising star - foto google |
![]() |
Pak Harto menjadi fenomenal setelah peristiwa G 30 S PKI - foto google |
Catatan :
Tulisan
ini saya buat untuk menyikapi terbentuknya Forum Silaturrahmi Anak Bangsa yang
didirikan oleh putra-putri korban tragedi sejarah. Baik anak-anak para Jendral
TNI AD yang menjadi Pahlawan Revolusi, maupun anak-anak para eks tahanan
politik Partai **.
Terharu
menyaksikan mereka saling berpelukan pada sebuah acara di stasiun televisi swasta.
Demi menatap Indonesia ke depan.
Selalu keren klo buat tulisan sejarah
BalasHapusKayak baca koran deh, mas...
BalasHapuskeren, setuju bgt
BalasHapus