Senin, 24 Oktober 2016

RUWATAN SURO AGUNG

Ruwatan Suro Agung di kota Nganjuk - dokumen pribadi


Hari minggu 23 Oktober 2016 (22 Muharram 1438 H) atau bertepatan dengan 21 Suro 1950 Jimawal dalam kalender Jawa, di gang Sruni Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan/Kota Nganjuk digelar sebuah acara sakral bertajuk Ruwatan Suro Agung.

Kegiatan ini merupakan event tahunan yang diselenggarakan setiap bulan Muharram (Suro) dengan tujuan meruwat orang-orang jenis sukerta. Puluhan peserta dengan pakaian serba putih tampak antusias mengikuti ruwatan.

Ki Mintorogo, dalang senior asal Nganjuk yang menjadi peruwat juga terlihat sangat serius membawakan pagelaran wayang kulit berdurasi sekitar tiga jam. Sebuah ritual yang menjadi bagian dari ruwatan itu sendiri.

Dalam tradisi masyarakat Jawa Kuno, seseorang yang termasuk jenis sukerta harus di ruwat agar terhindar dari kala (musibah, kesialan). Ruwatan dilakukan dengan menggelar pementasan wayang kulit. Lakon atau judul yang diambil adalah Murwakala, Sudamala, atau Kunjarakarno.

Kenapa orang Jawa menggelar acara ruwatan? apa pesan moral dibalik upacara ruwatan yang bagi kalangan tertentu ditafsirkan negativ itu?

Saya sempat menggali informasi dari Ki Widayat D, seniman lokal disana yang telah menggeluti dunia pewayangan sejak jaman orde lama. Beliau adalah sahabat Ki Mintorogo dan Mbah Tumiran (ayah Ki Mintorogo). Dedengkot wayang asal kota Nganjuk juga.

Murwakala berasal dari dua kata purwa/murwa (awal, permulaan), dan kala (musibah, bencana, kesialan). Sehingga murwakala bisa di definisikan sebagai awal mula dari terjadinya bencana.

Melalui acara ruwatan, ada pesan moral yang ingin disampaikan dalang agar manusia hendaknya selalu ingat bahwa mengumbar hawa nafsu akan menimbulkan kerugian dan bencana. Hanya penyesalan yang datang kelak di kemudian hari.

Hakikat ruwatan juga mengajak manusia agar segera kembali ke ajaran hidup yang lurus. Sesuai norma-norma adat, budaya dan agama.


Jalannya kisah Murwakala dalam pagelaran wayang kulit.
Pada suatu waktu, Bathara Guru yang merupakan raja para Dewa di istana taman langit (Kahyangan) bercengkerama dengan permaisurinya, Bathari DurgaMeski jati diri aslinya adalah seorang butho (raksasa), tetapi Bathari Durga berparas cantik jelita.

Mereka berdua berkelana diatas samudera dengan menaiki tunggangan bernama Lembu Andini. Diatas kelana itu, Bathara Guru terpesona akan kecantikan permaisurinya, sehingga timbul hasrat untuk berpadu asmara. Bathari Durga malu dan menolak. Jatuhlah benih dari Bathara Guru menetes jatuh ke lautan.

Samudera di Nusatembini bergolak!

Airnya seketika mendidih oleh benih sang raja Dewa yang menjadi bara api. Seluruh penghuni lautan gempar dan lari tunggang langgang.

Karena kesaktian dan kedigdayaan Bathara Guru, benih yang jatuh di tengah lautan itu hidup dan tumbuh menjadi makhluk menakutkan. Kian lama kian besar hingga berwujud raksasa. Naiklah ia ke Kahyangan Suralaya untuk menemui para Dewa. Ia diterima oleh Bathara Guru dan diakui sebagai anaknya, lalu diberi nama Kalarandya karena lahirnya bersamaan datangnya candikkala (senjakala). Ia dipanggail dengan sebutan Bathara Kala.

Suatu hari ketika sedang memasak, jari Bathari Durga teriris hingga tak sengaja darahnya menetes ke makanan yang ia masak. Bathara Kala segera menolong membalut luka itu, lalu sebisanya membersihkan darah yang tercampur masakan.

Ketika makanan itu disajikan ke putranya, Bathara Kala melahapnya tak tersisa.

“Masakan ibunda hari ini terasa istimewa, ada sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya,” terheran-heran Bathara Kala.

“Oh, aku tahu ini karena tetesan darah tadi!” gumamnya.

“Berarti darah itu rasanya enak! Mulai sekarang aku akan memangsa manusia!” muncul keinginan jahat dari Bathara Kala.

“Jangan putraku! Kamu tidak boleh memangsa manusia!” cegah Bathari Durga, lalu melaporkan kejadian ini kepada Bathara Guru.

Sementara sang Bathara Kala sudah menetes air liurnya, dan ingin segera turun ke bumi untuk mencari mangsa manusia.

Untuk mengelabuhi dan mencegah tindakan putranya, Bathara Guru memberi nasehat dan syarat bahwa tidak semua manusia boleh dimangsa. Hanya manusia yang termasuk jenis sukerta yang boleh dimakan oleh Bathara Kala. Ia juga memberi tanda dengan menuliskan rajah pada dahi, punggung dan rongga mulut putranya selama turun ke bumi.

“Engkau boleh memangsa manusia sukerta hanya saat surya tumumpang arka (matahari tepat diatas kepala/tengah hari)!” tutur Bathara Guru.

"Ingat Kala, jika ada orang yang bisa membaca rajah yang telah kutulis di dahi, punggung dan rongga mulutmu, engkau harus tunduk, karena dia adalah utusanku. Sekarang pulanglah ke Nusatembini di Arcapada, tempatmu dilahirkan. Tinggallah disana!" tutur Bathara Guru.

Budhal (berangkat)!” Bathara Kala sepakat dan segera turun ke bumi untuk memburu jenis-jenis manusia sukerta yang disebutkan oleh ayahnya.

Menyadari bahwa tindakan putranya salah, Bathara Guru menyuruh Bathara Narada agar memerintahkan Bathara Wisnu menyusul turun ke bumi dan mencegah tindakan Bathara Kala. 

Bathara Wisnu menyamar menjadi seorang dalang wayang kulit dengan nama Kandhabuana, Sejati, SampurnajatiIa ditemani juga oleh Bathara Narada yang menyamar sebagai panjak kendang (penabuh kendang) dan Bathara Brahma yang menyamar sebagai penabuh gender (penabuh salah satu jenis alat musik Jawa).

Sampai di Arcapada, dalang Khandabuana bersama rombongan mempromosikan diri sebagai seorang yang bisa menolak bala/kala (kesialan, bencana, musibah) bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongannya.

*****

Tersebutlah mbok rondo (janda tua) yang tinggal di desa Medang Kawit. Ia memiliki seorang anak tunggal bernama Joko Jatusmati. Pada tengah hari (surya tumumpak arka), atas perintah ibunya pergilah Joko Jatusmati ke Danau Madirda. Diperjalanan, ia bertemu Bathara Kala.

Bathara Kala berkata agar Joko Jatusmati bersedia dimangsa karena termasuk jenis manusia sukerta. Lari tunggang langgang ia menyelamatkan diri. Dalam pelarian, pemuda Medang Kawit itu bersembunyi diantara sekelompok orang-orang yang sedang bekerja mendirikan rumah. Tetapi Bathara Kala bisa menemukan. Lalu terjadi kejar-kejaran di dalam rumah itu hingga roboh.

Joko Jatusmati kembali melarikan diri. Pemuda itu bersembunyi di sebuah dapur orang, disinipun kembali terjadi kejar-kejaran sehingga menyebabkan dandang (panci untuk menanak nasi) roboh.

Kembali Joko Jatusmati lari keluar rumah. Dalam usahanya mengejar pemuda itu, Bathara Kala terjatuh karena terlilit batang waluh (jenis tanaman sayuran) yang tumbuh di halaman. Akibatnya ia kehilangan jejak buruannya.

Bersamaan dengan itu, tak jauh dari Medang Kawit itu ada sebuah pertunjukan pagelaran wayang kulit oleh Dalang Kandhabuana. Ia sedang pentas atas permintaan seorang penduduk bernama Buyut Wangkeng yang sedang meruwat (membersihkan bala/kesialan) putrinya bernama Rara Pripih yang baru saja cerai dari suaminya di saat usia pernikahannya baru terhitung beberapa hari.

Pada pagelaran wayang kulit itu, banyak sekali orang yang menonton. Diantara kerumunan penonton, tampak pula Joko Jatusmati dan juga Bathara Kala.

Misi dari Dewa Wisnu untuk menarik perhatian Bathara Kala berhasil. 

Bathara Kala hendak memangsa Joko Jatusmati, tetapi dicegah oleh dalang Kandhabuana. Terjadi debat antara jelmaan Bathara Wisnu dengan putra Bathara Guru,”Kau boleh memakan manusia itu, tetapi berikan aku waktu untuk memberitahumu tentang satu hal!”

“Apa itu?”

“Di dahimu tertulis kawruh sejatine urip (pelajaran tentang hakikat kehidupan), rajah itu adalah penanda bahwa engkau tercipta dari hawa nafsu yang tidak bisa dikendalikan. Akibatnya, tumbuh menjadi sosok yang senantiasa membikin musibah di muka bumi karena mengedepankan nafsu angkara. Pulanglah sekarang, Kala!”

Bathara Kala ingat pesan Bathara Guru, ia menyadari bahwa sedang berhadapan dengan utusan ayahnya dari Kahyangan.

Sesaat kemudian, turun pula Bathari Durga ikut membujuk putranya agar mau kembali ke asalnya. Samudera di Nusatembini.

Aku jaluk sangu (aku minta bekal)!” ucap Bathara Kala sebelum lenyap meninggalkan Medang Kawit.

Bumi pun aman kembali.

*****

Substansi dari cerita murwakala pada pagelaran wayang kulit di atas (ruwatan) adalah pembebasan.

Pembebasan manusia dari mangsa Bathara Kala, seorang raksasa anak dari Bathara Guru yang lahir karena tidak bisa menahan dan mengendalikan hawa nafsu atas pesona istrinya, Bathari Durga. Sedangkan ending dari kisah ini adalah kembalinya Bathara Kala ke asalnya. Bisa diartikan sebagai ‘momentum agar manusia bisa mengalahkan hawa nafsu dan kembali ke jalan hidup yang benar'.


Heru Sang Mahadewa
Member of #OneDayOnePost

Catatan :
Saat Bathara Kala bersedia kembali ke asalnya bersama Bathari Durga, ia meminta bagian dari suguhan pagelaran wayang kulit oleh Dalang Kandhabuana berupa batang pisang, seekor itik dan burung merpati. Sementara Bathari Durga meminta kain sewek/jarik.

Hingga kini, dalam tradisi masyarakat Jawa yang masih memegang teguh filosovi sukerta, masih melakukan acara ruwatan berupa pagelaran wayang kulit dengan judul Murwakala, Sudamala, atau Kunjarakarno. Lengkap dengan suguhan yang dikisahkan diatas, termasuk buah waluh sebagai titik kelemahan Bathara Kala.

Samudera di Nusatembini, kini dipercaya sebagai wilayah Karimun Jawa. 

Seorang anak tunggal, orang yang rumahnya roboh, seseorang yang menjatuhkan dandang, pengantin baru lalu cerai, termasuk golongan dari manusia-manusia sukerta. 

Lalu siapakah manusia yang termasuk jenis sukerta? Baca selengkapnya [ Disini ]

Ki Mintorogo membawakan lakon Murwakala - dokumen pribadi
Peserta ruwatan antusias mengikuti kisah Murwakala - dokumen pribadi

8 komentar:

  1. Hhii... Baru paham saya Mas heru..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe ... ini hanya fiksi kok mbak Ci.
      jangan ditafsirkan dari sudut pandang Agama :)

      Hapus
  2. keren ! jadi ini kisah asal mula Bathara kala yang katanya muncul waktu gerhana ...

    BalasHapus
  3. Mas, kira2 ada info ruwatan massal lg nggak di nganjuk untuk 2022 ini? Mas ada CP dalangnya tidak?

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *