Jumat, 28 Juli 2017

AROK SANG MAHADEWA






Asu kau, Arok!”

Kebo Ijo memaki-maki. Tubuh kekarnya diseret menuju balai-balai yang terbuat dari bilah bambu. Kedua tangannya berusaha berontak, tetapi lelaki muda yang sehari-hari menjadi pengawal akuwu Tumapel itu tak mampu melepaskan diri dari ikatan. Senyum kemenangan kulemparkan ke arahnya. Malam itu, setelah Tunggul Ametung terbunuh, Kebo Ijo menjadi orang yang paling pantas untuk dicap sebagai pelaku.

Tujuh malam sebelum kenekadanku menghabisi suami Ken Dedes, keris buatan Mpu Gandring berpindah ke tangan Kebo Ijo. Dia takjub oleh senjata itu, ketika kami berdua sedang berjaga di puri pakuwon.

“Ya Jagad Dewa Nata, sungguh luar biasa pamor kerismu, Arok!” 

“Kau boleh meminjamnya, Kebo Ijo.”

“Benarkah?”

“Bawalah selama beberapa hari. Kau juga boleh mengakui di depan seluruh prajurit dan punggawa Tumapel bahwa keris ini adalah milikmu. Nanti, pada waktunya, aku akan mengambilnya darimu.”

Dasar kerbau dungu, batinku saat itu. Kebo Ijo dengan pongahnya menenteng-nenteng keris Mpu Gandring kemanapun dia pergi. Bagai seekor celeng yang telah masuk perangkap, dengan sekali pelintiran jari tangan, kau akan menjadi tumbal rencana besarku, Kebo Ijo.

Tepat tujuh malam setelah aku meminjamkan keris kepada Kebo Ijo, sebuah rencana besar telah kumulai.

“Apakah kau sudah siap, Kebo Ijo?” 

“Asu!”

“Pejamkan matamu, agar tidak silau dengan keris ini.”

“Hyang Manikmaya akan mengutuk perbuatanmu, Arok!”

Suara Kebo Ijo terdengar serak. Menyergap kekelaman malam berdarah di Tumapel. Suara yang keluar dari lelaki muda yang kini semakin tak berdaya di atas balai-balai. Suara yang membuat dadaku seperti tersengat bara api. Kudekatkan wajah ke telinganya.

“Buka matamu lebar-lebar, Kebo Ijo. Hyang Manikmaya adalah penguasa semesta alam. Dia tiada lain adalah Bathara Syiwa. Malam ini, dia menginginkan caru berupa darah dan dagingmu. Dengan kematianmu, maka Hyang Manikmaya melalui sosok pengejawantahannya di arcapada akan memiliki kuasa besar atas tanah Jawa. Lihatlah, siapa yang sekarang ada di hadapanmu!” bisikku, sembari menghunus keris Mpu Gandring.

“Jagad Dewa Bathara ... Hyang Manikmaya!”

Kebo Ibo membelalakkan mata. Mendadak tubuhnya bergetar, seperti tidak percaya ketika menatapku. Hanya sesaat, sekedipan mata berikutnya dia telah terpejam. Kepalanya lantas menunduk. Disusul teriakan Lembu Wungu, lurah wiratamtama Tumapel yang memerintahkan aku agar segera melakukan tugas untuk menghabisi prajurit malang itu. Tanpa ragu-ragu, kuacungkan keris Mpu Gandring, lalu menusukkannya ke dada Kebo Ijo! Terdengar dia menjerit kesakitan ketika bilahan keris yang telanjang mengoyak dadanya! Darah meleleh keluar dari luka yang menganga. Setelah itu, Kebo Ijo tidak bergerak lagi.

Upacara penghukuman mati telah selesai. Aku berjalan meninggalkan halaman wandapa Tumapel. Membiarkan orang-orang yang nampak sibuk menurunkan tubuh tak bernyawa Kebo Ijo dari atas balai-balai.

-o0o-

Malam ini adalah malam radithe jênar pada penghujung wuku Watugunung. Langit di atas candi Palah nampak gelap gulita. Tiada gemintang yang menampakkan cahanya walau hanya sekerlip. Rembulan benar-benar telah memasuki titik akhir masa edarnya. Malam yang dianjurkan kepada para kesatria untuk melakukan lelaku batin di pamujan

Setelah bersuci di petirtaan, kubiarkan Ken Dedes dan para cethi beserta prajurit Tumapel menunggu di pesanggrahan yang tadi siang didirikan di wentar. Bayangan peristiwa demi peristiwa di pakuwon Tumapel kembali berlintasan di benak, ketika aku mulai memasuki ruang pamujan candi Palah. 

Langkahku terhenti di sudut garbhagriha Palah. Sejurus kemudian, aku segera mengambil duduk dalam sikap padmasana. Perlahan-lahan mata ini terpejam, lalu telapak tangan membentuk amustikarana. Ruang pamujan terasa semakin hening, seiring hembusan napas yang keluar masuk melalui hidung.

Dalam keheningan yang melebur bersama warna alam semesta, aku merasa sedang diapit oleh dinding-dinding yang terbuat dari kaca bênggala. Nampak ada dua sosok bayangan di sana.

“Apa yang telah kau lakukan, Arok?”

“Siapa kau?”

“Aku adalah Ken Arok.”

“Tidak mungkin. Ken Arok hanya ada satu. Dialah aku!”

“Engkau telah dikuasai nafsu duniawi. Hatimu tertutup oleh cinta dan kekuasaan. Kau bunuh Mpu Gandring, Tunggul Ametung, Kebo Ijo. Lalu, kini engkau mengais Ken Dedes dari mendiang akuwu Tumapel.”

Sosok bayangan yang mengaku bernama Ken Arok itu tersenyum. Matanya tiada berkedip menatapku. Wajahnya nampak lebih bersih dibanding bayanganku kala berada di kaca benggala. 

“Jangan dengarkan ucapannya, Arok!”

Terdengar teriakan dari arah lain. Aku semakin bingung dengan penglihatan yang ada di dua sisi pamujan candi Palah. Sosok kedua yang baru saja berucap, juga tiada beda dengan bayanganku kala berdiri di depan kaca benggala. Iya, mereka berdua adalah diriku.

“Kau ... siapa pula engkau?”

“Aku adalah Ken Arok!”

“Tidak ... tidak mungkin!
 
“Dewata telah menggariskan bahwa takdirmu adalah menjadi penguasa atas bumi Jawa. Kematian Mpu Gandring, Tunggul Ametung dan Kebo Ijo tidak bisa lepas dari takdirmu untuk menggenggam kekuasaan itu sendiri. Jangan mundur, Arok!”

“Jangan dengarkan ucapannya, Arok. Dia akan menjerumuskanmu ke dalam nafsu angkara!

“Jangan hiraukan dia, Arok. Teruskan ambisimu untuk menguasai Jawa Dwipa!”

Suara kedua sosok bayangan itu terus bersahut-sahutan. Kututup dua telinga dengan telapak tangan. Hingga suara keluruk ayam hutan yang terdengar dari gunung Kampud akhirnya membuyarkan tapa brataku.

Ketika aku membuka mata, nampak cahaya kemerah-merahan telah menerobos masuk ke garbhagriha melalui lekuk-lekuk pahatan candi Palah. Rupanya fajar telah hilang ditelan pagi. Perlahan aku berdiri, lalu melangkah meninggalkan ruang pamujan. Lima puluh tombak menuruni undakan garbhagriha, terlihat Ken Dedes, para cethi dan seluruh prajurit Tumapel bergegas setengah berlari, menuju posisiku berdiri saat ini.

Empat cethi dan dua puluh prajurit buru-buru duduk bersimpuh. Serempak mereka melakukan sembah dada. Kuangkat telapak tangan kanan, tanda bahwa bhakti dan kesetiaan mereka diterima. 

Ken Dedes ikut menghaturkan sembah, lalu mencium tanganku. Sejurus kemudian, wanita pemilik wahyu prajna paramitha itu kembali bergelayut manja di lenganku. Sang bagaskara menyembul dari balik gunung Kampud. Sepasang kupu-kupu kembali terbang, menari-nari di gerbang candi Palah.

-o0o-

Tumapel, 1144 Saka Warsa.
Kulempar sebuah bumbungan berisi lembaran rontal yang dikirim oleh Dandang Gendhis, penguasa Kadiri melalui seorang senopatinya, Gubar Baleman.

“Dandang Gendhis mengangkat dirinya sebagai sesembahan orang-orang Syiwa dan Sogata. Dia juga menginginkan Tumapel mengakui itu!”

Aku berhenti sejenak. Kulirik satu per satu punggawa Tumapel yang berkumpul di wandapa siang itu. Semua nampak menunduk, menunggu kata-kata yang akan kuucapkan selanjutnya.

“Bagaimana menurutmu, Kakang Lembu Wungu?”

Lurah Wiratamtama Tumapel itu mengangkat sembah.

Puntên dalêm sewu, Yayi. Menurut pandangan hamba, sinuwun Dandang Gendhis di Kadiri tidak patut menginginkan dirinya untuk disembah dalam lelaku batin pemuja Syiwa dan Sogata. Jika sesembahan yang dimaksud hanya sebagai bhakti kawula kepada sang nata Daha, boleh-boleh saja. Tetapi jika melebihi itu, tentu harus dilawan.”

“Dandang Gendhis juga mengatakan bahwa dia hanya bisa dikalahkan oleh Bathara Syiwa. Lantas, apa pendapatmu, paman Gagak Manahun?”

Singgih, Yayi. Puntên dalêm sewu. Jika itu yang diucapkan sinuwun nata di Daha, semoga Hyang Manikmaya, Sang Bathara Guru segera turun ke arcapada untuk menghukumnya.”

Gubar Baleman, utusan dari kotaraja Daha, Kadiri, membetulkan tempat duduknya. Nampak tangannya juga menggeser letak keris dari belakang punggung ke samping pinggang. Senopati kebanggaan Dandang Gendhis itu tentu sudah menangkap gelagat bahwa para punggawa Tumapel serempak menentang isi rontal yang dibawanya.

“Paman Penggih!” 

“Singgih, Kangjêng.”

“Tuliskan ucapanku ini sebagai balasan atas rontal Dandang Gendhis!”

“Sendika, Kangjêng.”

Kawirajya Tumapel itu dengan cekatan mengeluarkan selembar rontal kosong dari balik buntalan kain. Sebatang kalam juga telah dipegang di tangan kanannya. Selain memiliki guratan aksara yang indah, Mpu Penggih juga sudah berpengalaman menjadi juru tulis pakuwon semenjak Tunggul Ametung masih hidup.

“Sinuwun Dandang Gendhis di Daha, mugi sarwa hayu. Selama masih ada Ken Arok di bumi Tumapel, tak ada seorangpun yang berhak mengatur wilayah bekas Jenggala ini. Apalagi menyuruhnya untuk tunduk. Jika sinuwun tetap berkeinginan untuk disembah sebagai dewata, maka kucuran darah orang-orang Kadiri yang menjadi tebusannya!”

Tangan Mpu Penggih nampak gemetar menorehkan kalimat terakhir dari ucapanku.

“Tuliskan namaku sebagai Ken Arok, sang titisan Hyang Manikmaya ya Sang Bathara Guru!”

“Singgih, Kangjêng.”

Selesai mengguratkan aksara di atas rontal, Mpu Penggih buru-buru mengulurkan kepadaku. Beberapa saat, kucermati kalimat demi kalimat yang telah ditulis sang kawirajya Tumapel itu. Tidak butuh waktu lama, rontal kukembalikan kepadanya.

“Serahkan ini kepada junjunganmu, Gubar Baleman!”

“Sendika.”

Utusan Daha hanya menjawab sepatah kata, dengan cepat, tangannya menyambar gulungan rontal yang telah dimasukkan ke dalam bumbungan bambu oleh Mpu Penggih. Senopati Kadiri itu bahkan tidak menghaturkan sembah kepadaku. Dia langsung berdiri lalu meninggalkan wandapa Tumapel.

“Berhenti kau, senopati tidak tahu tata krama!”

Lurah wiratamtama Lembu Wungu sontak berdiri dan nyaris mengejar Gubar Baleman. Buru-buru kuangkat tangan kanan tinggi-tinggi sebagai larangan kepadanya.

“Biarkan saja, Kakang Lembu Wungu. Dialah orang Daha pertama yang akan kupenggal kepalanya saat Tumapel berhadapan dengan Kadiri nanti!”

“Singgih, Yayi. Puntên dalêm sewu.”

Lembu Wungu melakukan sembah.

“Siapkan pasukan Tumapel. Satu atau dua hari lagi, pasti Dandang Gendhis akan mengerahkan pasukan Kadiri. Kita cegat mereka di Ganter. Ken Arok sendiri yang akan menumpahkan darah orang-orang Daha!”

Aku berdiri sambil mencabut keris Mpu Gandring dari warangkanya, lalu kuacungkan tinggi-tinggi. 

Seluruh orang yang menghadap di wandapa Tumapel menghaturkan sembah. Tangan mereka gemetar oleh sesumbarku.


(Heru Sang Mahadewa)
Member of One Day One Post

Catatan:
Asu = anjing, bahasa Jawa.
Jagad Dewa Nata = Tuhan pengatur semesta
Caru = korban yang dijadikan persembahan
Arcapada = dunia
Radithe jênar = minggu pahing
Wuku Watugunung = perhitungan Wuku yang ke-30. Wuku  adalah perhitungan hari Jawa, dimana satu hari Wuku sama dengan tujuh hari Masehi. Ada tiga puluh hari Wuku, sehingga memerlukan 210 hari Masehi untuk menyelesaikan siklus 30 hari Wuku.
Palah = nama asli dari candi Penataran. Berada di desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur sekarang.
Pamujan = tempat beribadah/pemujaan, bahasa Jawa
Wentar = halaman
Garbhagriha = ruang utama pada bangunan candi
Amustikarana = sikap saat tangan kanan mengepal dibungkus oleh tangan kiri yang masing-masing ibu jarinya bertemu dan ujung-ujungnya mengarah ke atas yang kemudian ditempatkan di depan hulu hati
Kaca bênggala = cermin
Kampud = gunung Kelud, berada di 3 kabupaten; Kediri, Malang dan Blitar, Jawa Timur
Tumapel = daerah Singosari, Malang, Jawa Timur sekarang
1144 Saka Warsa = sekitar tahun 1222 Masehi
Wahyu prajna paramitha = anugerah Dewata kepada seorang wanita, berupa kecantikan
Daha = ibu kota Panjalu/Kadiri, sekitar daerah Kediri hingga Pare, Jawa Timur sekarang
Punten dalem sewu = mohon beribu maaf, bahasa Jawa
Yayi = Dik, Adinda, bahasa Jawa
Singgih = Iya, biasa dipendekkan Nggih, bahasa Jawa
Kawirajya = juru tulis
Mugi sarwa hayu = semoga selalu sejahtera, bahasa Jawa
Rontal = daun tal (siwalan)
Ganter = daerah Dusun Ganten, Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Malang, Jawa Timur sekarang

Ken Arok (Ken Angrok) mengklaim dirinya sebagai titisan dari Bathara Syiwa atau Sang Hyang Manikmaya. Dewata ini disebut juga dengan nama Sang Mahadewa. Orang-orang di masanya, bahkan mempercayai bahwa pendiri Singasari itu juga titisan dari Brahma dan Wisnu, sehingga keseluruhan ada tiga dewa yang menyatu ke dalam tubuhnya. Ken Arok pun dianggap sebagai pengemban wahyu trimurti (anugerah dari tiga dewa).

Kisah ini adalah interpretasi dari Sêrat Pararaton (kitab raja-raja Tumapel Majapahit), terinspirasi dari gaya tulisan Damar Shasangka, penulis serial novel sejarah: Sabda Palon. Juga mengadopsi gaya menulis Kang Makinuddin Samin, penulis novel sejarah: Ahangkara, Sengketa Kekuasaan dan Agama.

3 komentar:

  1. Mantap sungguh. Desa Ganter akan jadi saksi keperkasaan Sang Maha Dewa! Kadiri akan segera lumat!

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *