Jumat, 21 Juli 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (16)



ilustrasi gambar: Yayasan Wacana



PUPUH IX
DHANDHANGGULA 1
Lalu beranjak Kangjeng Bupati, semua yang menghadap membubarkan diri, pangeran beserta anak istrinya, pasukan istananya, telah sampai di wilayahnya, yang dinamakan Surabaya, Kangjeng Pangeran pun bahagia, hidup mulia di Mataram, tidak ada gundah di hatinya, dalam waktu yang lama.

DHANDHANGGULA 2
Sang Prabu juga bahagia (dan) sangat menyayanginya, Pangeran Pekik lalu diberikan, adik dari ratu, sama-sama se-ayah ibu, Ratu Pandhansari yang ayu, anugerah besar bagi seorang bawahan, lalu diceritakan, mereka menikah, hidup rukun saling mencintai siang malam.

DHANDHANGGULA 3
Setelah berselang empat puluh hari, Kangjeng Sultan Agung Mataram, duduk di istana kebesarannya, berkata sang prabu, hei cepatlah berangkat, pergi ke kediaman Pangeran Surabaya, menemui adik perempuanku, keinginanku ini sangat kuat, panggillah dia, sampaikan bahwa aku sedang sakit.

DHANDHANGGULA 4
Lalu berangkat utusan sang raja, setelah sampai di kediaman Pangeran Surabaya, Kangjeng Pangeran dan istrinya, keluar dari rumah dengan panik, (buru-buru) duduk bersimpuh layaknya petinggi Jawa, prajurit menghaturkan sembah, hamba diutus, Kakanda paduka Sri Raja, istri paduka dipanggil, mari (berangkat) bersama-sama hamba.

DHANDHANGGULA 5
Kangjeng Sunan sedang sakit keras, begitu pesan dari kakanda paduka raja, (mintalah) diberi (ijin) suaminya, (dipanggil) datang ke keraton, jika suaminya tidak berkenan (mengijinkan), sungguh janganlah marah, adipati Surapringga, pukullah dada hamba dengan dua tangan, (sedikitpun) tiada mengelak.

DHANDHANGGULA 6
Duh jiwaku begitu cepat, setelah terpisah dari Kangjeng Sultan, seketika menyembah dan memeluk, Ratu Pandansari berkata, Kakang prabu ada apa, memanggil adikmu, pandanganku berkunang-kunang, perasaanku was-was, gemetar selalu khawatir, kangmas sakit apa.

DHANDHANGGULA 7
Kangjeng Sultan berkata pelan, aduh adikku ini lebih dari sekedar sakit biasa, di dalam hati ini sakitnya, dari sekian banyak, semakin jelas kurasa, bahwa ada seorang pemimpin/ulama, bertempat tinggal di Giri, belum mau menghadapku, itu yang menyebabkan aku sakit hati, obatnya belum ada.

DHANDHANGGULA 8
Selain Giri, orang setanah Jawa, tidak ada yang berani membangkang, semua tunduk menghadapku, hanya di Giri itu, yang belum kuambil keputusan, untuk memukulnya dengan perang, karena menurut petunjuk, yang bisa menggempur dia, hanya suamimu karena menang sebagai asli, keturunan luhur dari (Susuhunan) Ampeldenta.

DHANDHANGGULA 9
Sudahlah adinda kuijinkan pulang, supaya bisa segera menyampaikan tugas, kepada suamimu nanti, keburu kamu ditunggu-tunggu, Ratu Pandansari tersnyum sambil berkata, perintah dari Kangmas, siap hamba laksanakan, lalu beranjaklah dia dari hadapan Sultan, diiringi seluruh cethi (pelayan wanita), langkahnya pelan gemulai.

DHANDHANGGULA 10
Pangeran Pekik menunggu di depan pendopo, disambutnya kedatangan sang ratu, lalu buru-buru dibawa masuk ke dalam rumah, Kangjeng Ratu memeluk kaki suamiya, perasaan sang pangeran was-was, lho adinda ada apa, datang nampak agak murung, tentang sakitnya sang raja, ketika minggu lalu Ratu Pandansari menghadap, tidak ingat lagi, Kangeng Pangeran heran.

DHANGDHANGGULA 11
Tidak ada yang sakit, sang adipati (khawatir) barangkali ada pikiran lain, yang mengganjal (perasaan) ratu, cepat-cepat direngkuhnya sang ratu, dibawa masuk ke dalam kamar tidur, yang bersih, harum dan menyenangkan, dan tidak terucap sepatah kata pun, (hingga akhirnya) setelah bangun tidur, Ratu Pandansasri berbisik kepada suaminya, apa yang diinginkan sang raja mereka.

DHANDHANGGULA 12
Menceritakan semua perkataan sang raja, Pangeran Pekik berdiri dengan hati tegar, sambil mengelus-elus kumis, pelan ucapannya, aku beritahukan, tentang kehendak Sultan, perihal telah rusaknya (hubungan), Sunan Giri (enggan) menghadap, masalah ini yang telah kubawa, ketika menghadap ke Mataram.

DHANGDHANGGULA 13
Masalah Giri sudah berada di tanganku, adinda, yang memuliakan aku, adalah kakanda dan kerabatnya, sungguh beribu rasa malu, jika aku tidak bisa menghancurkan Giri, malu menatap matahari, di dunia yang tiada henti diterpa gelombang, apa yang bisa kubalas adinda, kepada paduka raja tercinta kecuali kepalaku ini adinda, semoga menjadi (balas budiku yang) adil.

DHANDHANGGULA 14
Ayo kita datang ke istana, meminta pamit kepada kakanda Sultan, berangkat hari ini juga, keduanya lalu berangkat, datang ke istana, sang raja melihat, kedatangan pangeran, berdua dengan istrinya, buru-buru dia melambaikan tangan agar duduk di dekat sang raja, sang pangeran duduk dengan penuh hormat.

DHANDHANGGULA 15
Kangjeng Sultan berkata lembut, adinda pangeran Surabaya, yang menjadi kehendakmu nanti, (penguasa) di Giri belum (pernah) menghadap, tidak mau tunduk kepadaku, aku serahkan kepada adinda, perkara ini, Pangeran Pekik menghaturkan sembah, duh paduka hamba siap melaksanakan, segala perintah paduka raja.

DHANDHANGGULA 16
Meskipun Sunan Giri Prapen meminta bantuan, mendatangkan seribu raja, beserta seluruh pasukannya, sedikitpun hamba tidak gentar, pantang prajurit kita untuk mundur, dan menyerah, (hingga) runtuhya Giri, (pilihannya) hidup atau mati di medan perang, abdi mohon pamit gusti, berangkat sekarang juga.

DHANDHANGGULA 17
Tiada lain apa yang hamba (harapkan), restu dari paduka sang maharaja, menjalankan perintah paduka, hanya saja adik paduka, hamba tinggal di Mataram, untuk bergerak maju perang, dalam hati saat kisruh (perang), akhirnya teringat adik paduka, sehingga hamba gagal dalam berperang.

DHANDHANGGULA 18
Sang raja tersenyum, keinginanku adalah bawalah istri adinda, karena semuanya, pernikahanmu dengan saudaraku, hidup atau mati (kelak akhirnya tetap) berpisah, dengan suaminya, sudah sewajarnya orang yang berperang, bertaruh nyawa jika kalah, maka istrinya akan diboyong.

DHANDHANGGULA 19
Pangeran Pekik tertawa sambil berkata pelan, adinda kekasih hamba, kelak (kita) berpisah (mati) bersamaan, seperti ucapan paduka, tiada bisa menolak dharma yang kita jalani, keduanya pun berpamitan, mencium kaki, Kangjeng Sultan berkata, iya kan adinda sungguh engkau juga jangan gentar, (sebagai bukti) bhaktimu kepada suami.

DHANDHANGGULA 20
Kangjeng Sultan berdoa kepada Hyang Widdhi (Allah SWT), memohon keselamatan dan kemenangan prajuritnya, keduanya lalu beranjak, dari hadapan sang prabu, diberi bekal beraneka ragam, uang dan pakaian, dicukupi segala keperluan, hingga sampai di Surabaya, lalu merakit tandu untuk ratu, dan menyiapkan senjata perang.

DHANDHANGGULA 21
Setelah selesai merakit, lalu berangkatlah dari Mataram, tandu berjalan di depan, tiada halangan di jalan, perjalanan mereka akhirnya sampai, di negeri Surabaya, Ki Sapanjang menemui, setelah beristirahat sejenak, Kangjeng Pangeran menuju pendopo, diiringi para punggawa.

DHANDHANGGULA 22
Pangeran Pekik berkata kepada para abdinya, hai seluruh anak Surabaya, dengarkan semuanya, perintah dari sang prabu, maka aku pulang, ke Surabaya, bersma istriku, diperintahkan untuk mengibarkan perang, beradu kesaktian bertaruh nyawa, menghancurkan musuh leluhur.

DHANDHANGGULA 23
Kehadiran Sunan Giri Prapen, diserahkan kepada namaku, tapi keinginanku nanti, anakmas Giri itu, semoga bisa menghadap baik-baik, kepada raja Mataram, tanpa adanya kesulitan, semua selamat tidak ada yang mati, namun jika keras kepala maka perang (tidak bisa dihindarkan) , akan banyak nyawa yang melayang.

..................

BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *