Sabtu, 15 Juli 2017

BERSIKAP ARIF MENYIKAPI KONTROVERSI KEHANCURAN MAJAPAHIT (RESENSI NOVEL AHANGKARA)



Judul Buku: Ahangkara, Sengketa Kekuasaan dan Agama
Penulis: Makinuddin Samin
Penerbit: Javanica
Ukuran: 14×21 cm.
Jumlah Halaman: 500 halaman.soft cover.
ISBN: 978-602-6799-13-5
Genre: Novel Sejarah
Berat: 500 gram

sumber gambar: kaurama.co.id


Serat Pararaton, kitab para raja menyebutkan bahwa Sirna Ilang Kerta Ning Bhumi (1400 Saka) menjadi penutup dari kisah Majapahit. Berbagai Babad menyebutkan bahwa raja terakhir kerajaan bercorak Syiwa Buddha di Brang Wetan ini, Brawijaya V (besar kemungkinan adalah Raden Alit/Kertabhumi) menjadi penguasa pamungkas di Trowulan. Majapahit jatuh oleh serangan Panembahan Fattah (Raden Patah), adipati Demak yang tak lain adalah putra Kertabhumi sendiri.

Kisah ini banyak mendapat bantahan dari para pemerhati sejarah, terutama kalangan Islam. Ada misi untuk mendiskreditkan agama tertentu. Demak yang merupakan kekhalifahan kedua di tanah Jawa setelah Giri Kedhaton yang gagal, disudutkan dengan membentuk persepsi publik bahwa ajaran Islam pada masa itu disebarkan dengan berdarah-darah. Cerita yang merujuk pada berbagai Babad itu pun disangsikan keabsahan kisahnya. Ada misi penguasa, yaitu pemerintah kolonial Belanda untuk mengaburkan sejarah.

Faktanya, pada tahun 1400 Saka (1478 M) Majapahit di Trowulan memang jatuh. Penyebabnya ada dua kemungkinan: serbuan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang menjadi penguasa Daha, atau memang benar-benar digempur oleh laskar Demak.

Kang Makinuddin Samin, penulis novel Ahangkara, santri asal Tuban, mencoba memaparkan jatuhnya Majapahit dari sudut pandang lain. Saya menyebutnya sebagai kearifan dalam menyikapi kontroversi sejarah. Seolah ingin mengakomodir dua pendapat yang berbeda, novelis berlatar belakang pendidikan pesantren ini menghadirkan kisah yang memukau saya: Demaklah yang menyapu bersih Majapahit beserta kadipaten-kadipaten yang menjadi loyalisnya, bukan di masa pemerintahan Panembahan Fattah, tetapi di era Panembahan Trenggana. Dan, Majapahit yang dihancurkan pasukan pimpinan Kangjeng Sunan Kudus ini bukanlah Trowulan, tetapi Daha.

Membaca Ahangkara, kita akan terpukau dengan terobosan Kang Makinuddin Samin yang belum saya temui pada novel sejenis, yaitu mengangkat sisik melik pasukan sandibhaya (teliksandi/intelijen) seperti Dugda dan Ki Garga. Keberadaan sebuah candi misterius di Ambulu, Tuban, juga menjadi segmen yang tidak boleh dikesampingkan. Bagian inilah yang kembali mengetuk rasa penasaran saya. Pada Pararaton dan Nagarakertagama, banyak disebutkan nama-nama candi beserta tempatnya, sebagai pendharmaan raja dan kerabat. Uniknya, candi-candi itu banyak yang belum ditemukan kebaradaannya hingga sekarang. Nah, candi Ambulu yang ada dalam novel Ahangkara, bisa jadi adalah salah satu yang belum ditemukan itu.

Keberanian lain Kang Makinuddin Samin adalah menampilkan dua wajah islam sudah ada sejak era Demak. Ki Ngabdul Basyier, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, adalah tokoh-tokoh yang berbeda cara dalam mendakwahkan islam.

Terlepas dari genre Kang Makinuddin Samin yang berkutat dalam zona sejarah bernapas religius, novel Ahangkara tetap wajib untuk dikoleksi para pecinta kisah romance. Iya, ada epik perjalanan asmara Ayu Arinjani yang akan mencabik-cabik perasaan kita.

Sidoarjo, 15 Juli 2017
(Heru Sang Mahadewa)
Member of One Day One Post






3 komentar:

  1. Wow...ulasan tentang sejarah memang selalu menarik diikuti.

    BalasHapus
  2. Mau baca Heru... Sejarah selalu punya data tarik tersendiri untuk ditelusuri.

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *