Jumat, 14 Juli 2017

PENUTURAN ULANG SERAT CENTHINI JILID I (14)



ilustrasi gambar: Yayasan Wacana


GAMBUH 1
Telah sampailah perjalanan, Alap-Alap menemui Surengkewuh, menuju ke pedukuhan, Pangeran Pekik tergopoh-gopoh, menemui utusan sang raja.

GAMBUH 2
Setelah dipersilahkan duduk, Pangeran Pekik tampak tenang, kuhaturkan kabar baik paman, Alap-Alap berterima kasih, (lalu) menyampaikan panggilan sang raja.

GAMBUH 3
Kangjeng Pangeran kehadiran hamba, diutus oleh kakanda raja, Gusti Kangjeng Sultan di Mataram, memberi doa restu, kepada paduka berdua.

GAMBUH 4
Kangjeng Pangeran menyampaikan terima kasih, setelah memberikan doa restu (balik), berkata bahwa raja kita memanggil paduka, beserta istri anak dan kerabat, hamba yang diperintahkan untuk menjemput.

GAMBUH 5
Jawab Kangjeng Pangeran, duh paman sungguh tiada kusangka, Kangjeng Sultan bersedia menjalin silaturrahmi dengan orang miskin, yang tidak punya apa-apa di desa, tiada pernah sekali pun aku bermimpi.

GAMBUH 6
Tanpa bisa menolak sedikitpun, (bahagiaku) bagai buih di lautan, terhadap kehendak Kangjeng Sultan hamba menurut, tiada niat untuk membantah, perkataan sang raja.

GAMBUH 7
Terdengar oleh Ki Tumenggung, perkataannya manis dan lembut, hatinya berfirasat tidak enak lalu cepat-cepat berkata kepada sang Pekik, jika menyerahkan sang putra, berangkat besok pagi-pagi saja.

GAMBUH 8
Kangjeng Pangeran menatap pelan, aku pasrah kelak bagaimana baiknya paman Tumenggung, aku akan bersiap-sipa sekarang, paman dan para sahabat, hendaknya beristirahatlah dulu di pondok.

GAMBUH 9
Kangjeng Pangeran lalu berkata, kepada istri dan keluarganya, agar semua berdandan rapi, akan diajak ke Mataram, sontak semua langsung berdandan.

GAMBUH 10
Ki Alap-Alap gugup, menuduh kerabat memanggil Tumenggung, Subaya, Ki Sapanjang yang harum namanya, tidak dipanggil tetapi tiba-tiba datang, Ki Sapanjang berkata.

GAMBUH 11
Menghadapnya Kangjeng Pangeran, ke Mataram berangkatlah pagi-pagi, paduka semuanya harus dikawal, dan dijaga dari belakang, serahkan semua kepada hamba.

GAMBUH 12
Ki Sapanjang khawatir, lalu memerintahkan kepada semua prajurit, kebanyakan dari pasukan Surabaya, semua telah menanti, lalu pagi-pagi mereka berangkat.

GAMBUH 13
Pelan-pelan berjalan, selama dalam perjalanan tiada pernah berhenti, hingga di dusun Butuh hari telah malam, Kangjeng Pangeran memutuskan menginap, di istana dusun Butuh.

GAMBUH 14
Bersamaan dengan doa, kepada Hyang (Allah SWT) ketika malam telah tiba, Ki Pekik mendengar suara, kata suara yang tidak diketahui (siapa itu), bahwa Ki Pekik telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

GAMBUH 15
Ketahuilah kelak engkau, memiliki cucu yang tampan dan gagah perkasa, menjadi raja besar di tanah Jawa, membawahi rakyat dan pasukan besar, tetapi akan berpindah kedhaton/istana.

GAMBUH 16
Dari tanah Pajang itu, letaknya di sebalah baratnya kota, bernama dukuh Wanakerta yang kelak menjadi, negeri Kartasura yang mahsyur, sedangkan gelar raja.

GAMBUH 17
Kangjeng Susuhunan Mangku, -rat Senapatai Ing Alaga, Ngabdurrahman Sayidin Panatagama berhentinya suara seketika membuatnya terkejut dan terbangun, ketika malam menjelang Subuh.

GAMBUH 18
Mimpinya telah diketahui, oleh juru kunci yang menjaga pintu, Pangeran Pekik menceritakan kepada juru kunci, bahwa mendapatkan petunjuk semalam, juru kunci pun terbelangak.

GAMBUH 19
Bersujud dan berkata, sungguh bahagia hati hamba, syukur syukur Alhamdulillahirobbil Aalaamiin, sang surya telah menyembul, Kangjeng Pangeran lalu berangkat.

GAMBUH 20
Tiada rintangan di jalan, mereka telah menginjakkan kaki di kota Mataram, Ki Tumenggung Alap-Alap mendahului, memberi kabar kepada sang prabu, mereka pun istirahat bergantian.

GAMBUH 21
Sang Prabu di Mataram, menghadap di tanah leluhur ini, Panembahan Purabaya telah tiba, bersama seluruh punggawanya, bersiap menghadap sang raja.

GAMBUH 22
Tidak berselang lama, Tumenggung Ki Alap-Alap berkata, haturkan sembah untuk memanggil, Pangeran Pekik Surengkewuh, maka menghadaplah (mereka) kepada sang raja.

GAMBUH 23
Beserta istri dan anaknya, Ki Sapanjang bersama seluruh pasukannya juga mengikuti (menghadap), senangnya hati sang prabu lalu berkata lembut, Oh Uwakku Purabaya, seperti apa nanti yang dijalani.

GAMBUH 24
Nanti setibanya, dimas Pekik kuberikan bhaktiku, atau sebaliknya dia yang berbhakti kepadaku, Purabaya menghaturkan sembah, kembali (mengatur posisi duduk) dan terlihat sangat bahagia.

..................

BERSAMBUNG

-o0o-

Bagian sebelumnya, baca [ DI SINI ]
Bagian selanjutnya, baca [ DI SINI ]

Judul asli:
Suluk Tambangraras

Pengarang:
KGPAA Amengkunegara III (Sunan Pakubuwana V)
Raden Ngabehi Yasadipura II (Ranggawarsita I)
Raden Ngabehi Sastradipura (Ahmad Ilham)
Raden Ngabehi Ranggasutrasna

Dituturkan ulang oleh:
Heru Sang Mahadewa
(Member Of One Day One Post)

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *