Sabtu, 28 Mei 2016

RAHWANA PUN MENGUTUK PEMERKOSA YUYUN DAN ENO




RAHWANA PUN MENGUTUK PEMERKOSA YUYUN DAN ENO

Belum hilang dari ingatan kita, betapa biadabnya pemerkosaan terhadap Yuyun, gadis ingusan tak berdosa, siswi kelas VIII sebuah sekolah di Rejang Lebong, Bengkulu. Ia meregang nyawa dengan tragis, setelah kesuciannya dicabik-cabik sekawanan binatang (baca lelaki amoral).

Empat belas ABG secara brutal menjelma sebagai Begawan Yomodiphati (Dewa Pencabut Nyawa) lalu dengan beringas mencabut nyawa Yuyun. Lantas menggagahinya secara bergiliran. Bahkan, kawanan binatang itu ada yang mengulangi 2-3 kali (Liputan6, 04 Mei 2016). Miris!

Indonesia bereaksi!
Kegeraman masyarakat saat itu, terutama kaum Hawa sontak memuncak. Berbagai tuntutan agar para pelaku itu dihukum seberat-beratnya bermunculan di berbagai media. Banyak yang mengatakan, hukuman mati pun belum sepadan dengan penderitaan Yuyun.

Alih-alih kemarahan publik mereda, yang ada justru kita disuguhi berita yang lebih sadis. Eno Farina, seorang buruh pabrik terbunuh secara lebih biadab di kamar kostnya setelah menolak ajakan berbuat asusila. Organ intim wanita malang ini hancur hingga tembus ke paru-paru setelah dimasuki gagang cangkul. Sungguh biadab!

Entah iblis mana yang merasuki otak sekawanan binatang-binatang itu. Seorang penjahat semacam Kangsa dan Duryudana pun tak sekejam mereka.

Dalam sebuah diskusi di acara Talk Show sebuah stasiun televisi, Mensos RI Ibu Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa penyebab terjadinya serangkaian kejahatan seksual terhadap perempuan, khususnya anak dibawah umur itu karena tiga hal. Video porno, Minuman Keras dan Narkoba.

Pendapat ibu menteri ada benarnya. Namun, menurut  saya faktor utama maraknya tindakan kebrutalan seks di negeri ini karena Degradasi Moral. Terjadi kemerosotan moral pada generasi kita sekarang, akibat semakin jauhnya mereka dari ajaran budaya luhur nenek moyang kita.

Dalam budaya etnis saya dari garis ibu (Jawa), ajaran moral selalu didakwahkan melalui media pagelaran Wayang. Banyak pelajaran yang bisa diteladani dari kesenian yang sempat digunakan sebagai media syiar Islam oleh Kanjeng Sunan Kalijogo ini.

Adalah Rahwana, seorang tokoh antagonis dalam pewayangan yang pernah berperilaku amoral.

Demi menuruti rasa cinta sesatnya, raja Alengka itu nekad menculik Shinta yang notabene istri Ramawijaya. Menyekap dan mengurung di istananya selama bertahun tahun.

Dengan kekuatan dan kedigdayaannya, sebenarnya sangatlah mudah bagi Rahwana ketika untuk merenggut kesucian Shinta. Tapi selama dalam penyekapan itu, tak ada sedikitpun bagian tubuh Shinta yang tersentuh oleh Rahwana.

Kenapa?

“Merenggut kesucian Shinta itu semudah membalikkan telapak tanganku. Tetapi berada di sampingnya selama tiga tahun tanpa menodai, itu soal moralitas!” Ucap Rahwana. Merinding mendengarnya.

Moralitaslah yang membuat seorang lelaki durjana dan kejam seperti Rahwana tidak mengumbar syahwatnya. Andai ia mau, dengan mudah Shinta sudah digagahinya. Tapi kebiadaban itu tak pernah dilakukannya.

Mari belajar dari penggalan syiar moralitas pewayangan ini.

Lalu, apa yang sekarang harus kita lakukan untuk menyelamatkan generasi penerus dari “monster kejahatan seksual” ini?

Ada dua hal yang menjadi kunci pemecahnya.

1.       Agama.
Ajaran agama apapun di bumi ini, tidak ada yang membenarkan perbuatan amoral seperti yang dilakukan para pelaku pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun dan Eno.

Arahkan anak-anak, adik dan keluarga kita untuk senantiasa memegang teguh norma agama masing-masing. Insya Allah keluarga kita akan senantiasa dalam lindungan-NYA.

2.      Budaya.
Semakin lunturnya minat anak-anak sekarang terhadap kesenian dan budaya peninggalan nenek moyang, membuat generasi penerus semakin mudah terjebak dalam degradasi moral.

Seni dan budaya suku manapun di Indonesia, semua membentuk generasi yang berkarakter.

Tidak ada salahnya jika kita mulai memperkenalkan atau mengarahkan anak-anak, adik dan keluarga kita untuk mencintai atau bahkan menggeluti seni budaya bangsa. Niscaya nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya akan tertanam ke pribadi mereka.



Berbicara mengenai seni dan budaya Jawa (khususnya wayang kulit) dan tragedi kejahatan seksual, andai raja Alengka Rahwana mendengar penderitaan yang menimpa Yuyun dan Eno, pasti ia akan murka dan mengutuk pelakunya.
-
-
-
Surabaya, 28 Mei 2016
(Heru Sang Mahadewa)

7 komentar:

  1. Maknyus dah pokoknya.. Penggemar wayang banget nih kayaknya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang, sy lahir dan besar di klrga seniman wayang.
      Terima kasih udh membimbing.

      Hapus
  2. empat jempol buat heru...jempol liyane nyilih yooo..hehehe

    BalasHapus
  3. empat jempol buat heru...jempol liyane nyilih yooo..hehehe

    BalasHapus

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *